Well, coba tebak, kenapa aku
memposting hal seperti ini lagi?
Bertopik “Bipolar” atau “Bipolar Disorder” lagi? Kenapa coba?
Sebenarnya cita-citaku kepingin jadi Psikolog, jadi yah –kalo membaca
hal-hal berbau penyakit kejiwaan atau apalah itu..aku suka, dan aku
penasaran. Dan lagi, hobi yang baru-baru
aja aku lakukan adalah, baca sinopsis-sinopsis drama-drama Korea. Sebenarnya karena aku tidak punya kasetnya
sih -___-“
Terus, kemarin aku baca
sinopsis Wild Romance. Pasti tahu kan
ya? Jelas dong, itu loh dramanya Oom Lee
Dongwook sama Mba Jessica.
Nah, terus apa hubungannya?
Hubungannya adalah, disana
Jessica memerankan tokoh seorang cewek yang menjadi mantan pacarnya Lee
Dongwook. Dan ternyata dia punya
penyakit jiwa gitu –yah bukan gila sih -_-a dan penyakitnya itu ya Bipolar, aku
jadi penasaran. Soalnya dijelaskan di
sinopsisnya itu, Jessica itu cewek yang riang, bahagia, kaya, cantik, tapi
sebenarnya dia itu mudah berganti mood.
Ya Bipolar itu, pernah suatu kali; kucing peliharaannya mati, dan dia
sedih bukan main. Bahkan sampai
gigit-gigitin tangannya sendiri.
Jadi karena itu aku
penasaran, apakah Bipolar itu sejenis ‘Kepribadian Ganda’ atau bukan? Dan makanya juga aku share disini. Hahaha~ Well, check this out..
Setiap orang pada umumnya pernah mengalami suasana hati yang baik (mood high) dan suasana hati yang buruk (mood low). Akan tetapi , seseorang yang menderita bipolar disorder memilikimood swings yang ekstrim yaitu pola perasaan yang mudah berubah secara drastis. Suatu ketika, seorang pengidap bipolar disorder bisa merasa sangat antusias dan bersemangat (mania). Namun, ketika mood-nya berubah buruk, ia bisa sangat depresi, pesimis, putus asa, bahkan sampai mempunyai keinginan untuk bunuh diri (depresi). Dahulu, penyakit ini disebut dengan"manic-depressive". Suasana hati meningkat secara klinis disebut sebagai mania atau, jika ringan, hypomania . Individu yang mengalami episode manik juga sering mengalami episode depresi, atau gejala, atau episode campuran dimana kedua fitur mania dan depresi hadir pada waktu yang sama. Episode ini biasanya dipisahkan oleh periode "normal" suasana hati (mood) , tetapi, dalam beberapa depresi, individu dan mania mungkin berganti dengan sangat cepat, yang dikenal sebagai “rapid-cycle”. Manic episode Ekstrim kadang-kadang dapat menyebabkan gejalapsikotik seperti delusi dan halusinasi .Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara dua minggu sampai lima bulan. Sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama. Episode hipomanik mempunyai derajat yang lebih ringan daripada manik. Gangguan tersebut telah dibagi menjadi bipolar I , bipolar II, cyclothymia , dan jenis lainnya, berdasarkan sifat dan pengalaman tingkat keparahan episode mood; kisaran sering digambarkan sebagai spektrum bipolar.
Bisa dikatakan bahwa insiden gangguan bipolar tidak tinggi antara 0,3-1,5 persen. Tapi angka tersebut belum termasuk yang misdiagnosis (biasa terdiagnosis sebagai skizofrenia). Gangguan jiwa bipolar saat ini sudah menjangkiti sekitar 10 hingga 12 persen remaja di luar negeri. Di beberapa kota di Indonesia juga mulai dilaporkan penderita berusia remaja. Resiko kematian terus membayangi penderita bipolar dan itu lebih karena mereka mengambil jalan pintas.
Episode pertama bisa timbul mulai dari masa kanak-kanak sampai tua. Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita bipolar, risiko penyakit akan lebih berat, berkepanjangan, bahkan sering kambuh. Sementara anak-anak berpotensi mengalami perkembangan gangguan ini ke dalam bentuk yang lebih parah dan sering bersamaan dengan gangguan hiperaktif defisit atensi. Orang yang berisiko mengalami gangguan bipolar adalah mereka yang mempunyai anggota keluarga mengidap penyakit bipolar.
Tanda dan gejala Bipolar Disorder
Bipolar disorder dapat terlihat sangat berbeda pada
orang yang berbeda. Gejala bervariasi dalam pola mereka, keparahan, dan
frekuensi. Beberapa orang lebih rentan terhadap baik mania atau depresi,
sementara yang lain bergantian sama antara dua jenis episode. Beberapa gangguan
mood sering, sementara yang lain hanya mengalami sedikit selama seumur hidup.
Ada empat jenis mood episode dalam Bipolar Disorder: mania, hypomania, depresi, dan episode campuran. Setiap jenis mood episode bipolar disorder memiliki gejala yang unik.
a.Tanda dan Gejala Mania
Gejala-gejala dari tahap mania bipolar disorder adalah sebagai berikut:
1.
Gembira
berlebihan
2.
Mudah tersinggung
sehingga mudah marah
3.
Merasa
dirinya sangat penting
4.
Merasa
kaya atau memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain
5.
Penuh ide
dan semangat baru
6.
Cepat
berpindah dari satu ide ke ide lainnya
7.
Seperti
mendengar suara yang orang lain tak dapat mendengar
8.
Nafsu
seksual meningkat
9.
Menyusun
rencana yang tidak masuk akal
10. Sangat aktif dan bergerak sangat cepat
11.
Berbicara
sangat cepat sehingga sukar dimengerti apa yang dibicarakan
12.
Menghamburkan
uang
13.
Membuat
keputusan aneh dan tiba-tiba, namun cenderung membahayakan
14. Merasa sangat mengenal orang lain
15.
Mudah
melempar kritik terhadap orang lain
16. Sukar menahan diri dalam perilaku sehari-hari
17.
Sulit
tidur
18. Merasa sangat bersemangat, seakan-akan 1 hari tidak
cukup 24 jam
b.Tanda dan Gejala Hypomania
Hypomania adalah
bentuk kurang parah mania. Orang-orang dalam keadaan hypomanic merasa
gembira, energik, dan produktif, tetapi mereka mampu meneruskan kehidupan
mereka sehari-hari dan mereka tidak pernah kehilangan kontak dengan realitas.
Untuk yang lain, mungkin tampak seolah-olah orang dengan hypomania hanyalah
dalam suasana hati yang luar biasa baik. Namun, hypomania dapat menghasilkan
keputusan yang buruk yang membahayakan hubungan, karier, dan reputasi. Selain
itu, hypomania sering kali dapat "naik kelas" untuk
mania penuh dan terkadang dapat diikuti oleh episode depresi besar.
Tahap hipomania mirip dengan mania. Perbedaannya adalah penderita yang berada pada tahap ini merasa lebih tenang seakan-akan telah kembali normal serta tidak mengalami halusinasi dan delusi. Hipomania sulit untuk didiagnosis karena terlihat seperti kebahagiaan biasa, tapi membawa resiko yang sama dengan mania.Gejala-gejala dari tahap hipomania bipolar disorder adalah sebagai berikut: 1. Bersemangat dan penuh energi, muncul kreativitas. 2. Bersikap optimis, selalu tampak gembira, lebih aktif, dan cepat marah. 3. Penurunan kebutuhan untuk tidur.
c. Tanda dan Gejala Depresi Bipolar
Gejala-gejala dari tahap depresi bipolar disorder
adalah sebagai berikut:
1.
Suasana
hati yang murung dan perasaan sedih yang berkepanjangan
2.
Sering
menangis atau ingin menangis tanpa alasan yang jelas
3.
Kehilangan
minat untuk melakukan sesuatu
4.
Tidak
mampu merasakan kegembiraan
5.
Mudah
letih, tak bergairah, tak bertenaga
6.
Sulit
konsentrasi
7.
Merasa tak
berguna dan putus asa
8.
Merasa
bersalah dan berdosa
9.
Rendah
diri dan kurang percaya diri
10. Beranggapan masa depan suram dan pesimistis
11.
Berpikir
untuk bunuh diri
12.
Hilang
nafsu makan atau makan berlebihan
13.
Penurunan
berat badan atau penambahan berat badan
14. Sulit tidur, bangun tidur lebih awal, atau tidur
berlebihan
15.
Mual,
mulut kering, Susah BAB, dan terkadang diare
16. Kehilangan gairah seksual
17.
Menghindari
komunikasi dengan orang lain
Hampir semua penderita bipolar disorder mempunyai
pikiran tentang bunuh diri dan 30% diantaranya berusaha untuk merealisasikan
niat tersebut dengan berbagai cara.
d. Tanda dan Gejala Episode Campuran
Sebuah episode bipolar disorder campuran dari kedua fitur gejala mania atau hypomania dan depresi. Tanda-tanda umum episode campuran termasuk depresi dikombinasikan dengan agitasi, iritabilitas, kegelisahan, insomnia, distractibility, dan pikiran berlomba (Flight of idea). Kombinasi energi tinggi dan rendah membuat suasana hati (mood) penderita beresiko yang sangat tinggi untuk bunuh diri.
Dalam konteks bipolar disorder, episode campuran
(mixed state) adalah suatu kondisi dimana tahap mania dan depresi terjadi
bersamaan. Pada saat tertentu, penderita mungkin bisa merasakan energi yang
berlebihan, tidak bisa tidur, muncul ide-ide yang berlal-lalang di kepala,
agresif, dan panik (mania). Akan tetapi, beberapa jam kemudian, keadaan itu
berubah menjadi sebaliknya. Penderita merasa kelelahan, putus asa, dan
berpikiran negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Hal itu terjadi bergantian
dan berulang-ulang dalam waktu yang relatif cepat. Alkohol, narkoba, dan
obat-obat antipedresan sering dikonsumsi oleh penderita saat berada pada epiode
ini. Mixed state bisa menjadi episode yang paling membahayakan penderita
bipolar disorder. Pada episode ini, penderita paling banyak memiliki keinginan
untuk bunuh diri karena kelelahan, putus asa, delusion, dan hallucination.
Gejala-gejala yang diperlihatkan jika penderita akan melakukan bunuh diri
antara lain sebagai berikut. 1. Selalu berbicara tentang kematian dan keinginan
untuk mati kepada orang-orang di sekitarnya. 2. Memiliki pandangan pribadi
tentang kematian. 3. Mengkonsumsi obat-obatan secara berlebihan dan alkohol. 4.
Terkadang lupa akan hutang atau tagihan seperti; tagihan listrik, telepon.
Penderita yang mengalami gejala-gejala tersebut atau siapa saja yang
mengetahuinya sebaiknya segera menelepon dokter atau ahli jiwa, jangan
meninggalkan penderita sendirian, dan jauhkan benda-benda atau peralatan yang
beresiko dapat membahayakan penderita atau orang-orang disekelilingnya.
Faktor Penyebab Bipolar Disorder
§
Genetik
Gen bawaan adalah faktor umum penyebab bipolar
disorder. Seseorang yang lahir dari orang tua yang salah satunya merupakan
pengidap bipolar disorder memiliki resiko mengidap penyakit yang sama sebesar
15%-30% dan bila kedua orang tuanya mengidap bipolar disorder, maka 50%-75%.
anak-anaknya beresiko mengidap bipolar disorder. Kembar identik dari seorang
pengidap bipolar disorder memiliki resiko tertinggi kemungkinan berkembangnya
penyakit ini daripada yang bukan kembar identik. Penelitian mengenai pengaruh
faktor genetis pada bipolar disorder pernah dilakukan dengan melibatkan
keluarga dan anak kembar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10-15%
keluarga dari pasien yang mengalami gangguan bipolar disorder pernah mengalami
satu episode gangguan mood.
§
Fisiologis
1. Sistem Neurochemistry dan Mood Disorders
Salah satu faktor utama penyebab seseorang mengidap
bipolar disorder adalah terganggunya keseimbangan cairan kimia utama di dalam
otak.
Sebagai organ yang berfungsi menghantarkan rangsang, otak membutuhkan neurotransmitter (saraf pembawa pesan atau isyarat dari otak ke bagian tubuh lainnya) dalam menjalankan tugasnya.
Norepinephrin, dopamine, dan serotonin adalah beberapa jenis neurotransmitter yang penting dalam penghantaran impuls syaraf. Pada penderita bipolar disorder, cairan-cairan kimia tersebut berada dalam keadaan yang tidak seimbang.
Sebagai contoh, suatu ketika seorang pengidap bipolar disorder dengan kadar dopamine yang tinggi dalam otaknya akan merasa sangat bersemangat, agresif, dan percaya diri. Keadaan inilah yang disebut fase mania. Sebaliknya dengan fase depresi.
Fase ini terjadi ketika kadar cairan kimia utama otak itu menurun di bawah normal, sehingga penderita merasa tidak bersemangat, pesimis, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri yang besar.
Seseorang yang menderita bipolar disorder menandakan adanya gangguan pada sistem motivasional yang disebut dengan behavioral activation system (BAS).
BAS memfasilitasi kemampuan manusia untuk memperoleh reward (pencapaian tujuan) dari lingkungannya.
Hal ini dikaitkan dengan positive emotional states, karakteristik kepribadian seperti ekstrovert(bersifat terbuka), peningkatan energi, dan berkurangnya kebutuhan untuk tidur.
Secara biologis, BAS diyakini terkait dengan jalur saraf dalam otak yang melibatkan dopamine dan perilaku untuk memperoleh reward.
Peristiwa kehidupan yang melibatkan reward atau keinginan untuk mencapai tujuan diprediksi meningkatkan episode mania tetapi tidak ada kaitannya dengan episode depresi.
Sedangkan peristiwa positif lainnya tidak terkait dengan perubahan pada episode mania.
Sebagai organ yang berfungsi menghantarkan rangsang, otak membutuhkan neurotransmitter (saraf pembawa pesan atau isyarat dari otak ke bagian tubuh lainnya) dalam menjalankan tugasnya.
Norepinephrin, dopamine, dan serotonin adalah beberapa jenis neurotransmitter yang penting dalam penghantaran impuls syaraf. Pada penderita bipolar disorder, cairan-cairan kimia tersebut berada dalam keadaan yang tidak seimbang.
Sebagai contoh, suatu ketika seorang pengidap bipolar disorder dengan kadar dopamine yang tinggi dalam otaknya akan merasa sangat bersemangat, agresif, dan percaya diri. Keadaan inilah yang disebut fase mania. Sebaliknya dengan fase depresi.
Fase ini terjadi ketika kadar cairan kimia utama otak itu menurun di bawah normal, sehingga penderita merasa tidak bersemangat, pesimis, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri yang besar.
Seseorang yang menderita bipolar disorder menandakan adanya gangguan pada sistem motivasional yang disebut dengan behavioral activation system (BAS).
BAS memfasilitasi kemampuan manusia untuk memperoleh reward (pencapaian tujuan) dari lingkungannya.
Hal ini dikaitkan dengan positive emotional states, karakteristik kepribadian seperti ekstrovert(bersifat terbuka), peningkatan energi, dan berkurangnya kebutuhan untuk tidur.
Secara biologis, BAS diyakini terkait dengan jalur saraf dalam otak yang melibatkan dopamine dan perilaku untuk memperoleh reward.
Peristiwa kehidupan yang melibatkan reward atau keinginan untuk mencapai tujuan diprediksi meningkatkan episode mania tetapi tidak ada kaitannya dengan episode depresi.
Sedangkan peristiwa positif lainnya tidak terkait dengan perubahan pada episode mania.
2. Sistem Neuroendokrin
Area limbik di otak berhubungan dengan emosi dan
mempengaruhi hipotalamus.Hipotalamus berfungsi mengontrol kelenjar endokrin dan
tingkat hormon yang dihasilkan. Hormon yang dihasilkan hipotalamus juga
mempengaruhi kelenjar pituarity. Kelenjar ini terkait dengan gangguan depresi
seperti gangguan tidur dan rangsangan selera. Berbagai temuan mendukung hal
tersebut, bahwa orang yang depresi memiliki tingkat dari cortisol (hormon
adrenocortical) yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh produksi yang berlebih
dari pelepasan hormon rotropin oleh hipotalamus. Produksi yang berlebih dari
cortisol pada orang yang depresi juga menyebabkan semakin banyaknya kelenjar
adrenal. Banyaknya cortisol tersebut juga berhubungan dengan kerusakan pada
hipoccampus dan penelitian juga telah membuktikan bahwa pada orang depresi
menunjukkan hipoccampal yang tidak normal. Penelitian mengenai Cushing’s
Syndrome juga dikaitkan dengan tingginya tingkat cortisol pada gangguan depresi
§
Lingkungan
Bipolar Disorder tidak memiliki penyebab tunggal.
Tampaknya orang-orang tertentu secara genetik cenderung untuk bipolar disorder.
Namun tidak semua orang dengan kerentanan mewarisi penyakit berkembang,
menunjukkan bahwa gen bukanlah satu-satunya penyebab. Beberapa studi pencitraan
otak menunjukkan perubahan fisik pada otak orang dengan bipolar disorder. Dalam
penelitian lain disebutkan, poin ketidakseimbangan neurotransmitter, fungsi
tiroid yang abnormal, gangguan ritme sirkadian, dan tingkat tinggi hormon stres
kortisol. Faktor eksternal lingkungan dan psikologis juga diyakini terlibat
dalam pengembangan bipolar disorder. Faktor-faktor eksternal yang disebut
pemicu. Pemicu dapat memulai episode baru mania atau depresi atau membuat
gejala yang ada buruk. Namun, banyak episode gangguan bipolar terjadi tanpa
pemicu yang jelas.
Penderita penyakit ini cenderung mengalami faktor
pemicu munculnya penyakit yang melibatkan hubungan antar perseorangan atau
peristiwa-peristiwa pencapaian tujuan (reward) dalam hidup. Contoh dari
hubungan perseorangan antara lain jatuh cinta, putus cinta, dan kematian
sahabat. Sedangkan peristiwa pencapaian tujuan antara lain kegagalan untuk
lulus sekolah dan dipecat dari pekerjaan. Selain itu, seorang penderita bipolar
disorder yang gejalanya mulai muncul saat masa ramaja kemungkinan besar
mempunyai riwayat masa kecil yang kurang menyenangkan seperti mengalami banyak
kegelisahan atau depresi. Selain penyebab diatas, alkohol, obat-obatan, dan
penyakit lain yang diderita juga dapat memicu munculnya bipolar disorder.
Di sisi lain, keadaan lingkungan di sekitarnya yang
baik dapat mendukung penderita gangguan ini sehingga bisa menjalani kehidupan
dengan normal. Berikut ini adalah faktor lingkungan yang dapat memicu
terjadinya BD, antara lain:
1.
Stress -
peristiwa kehidupan Stres dapat memicu gangguan bipolar pada seseorang dengan
kerentanan genetik. Peristiwa ini cenderung melibatkan perubahan drastis atau
tiba-tiba-baik atau buruk-seperti akan menikah, akan pergi ke perguruan tinggi,
kehilangan orang yang dicintai, dipecat.
2.
Penyalahgunaan
Zat - Meskipun penyalahgunaan zat tidak menyebabkan gangguan bipolar, itu dapat
membawa pada sebuah episode dan memperburuk perjalanan penyakit. Obat-obatan
seperti kokain, ekstasi, dan amphetamine dapat memicu mania, sedangkan alkohol
dan obat penenang dapat memicu depresi.
3.
Obat -
obat tertentu, terutama obat-obatan antidepresan, bisa memicu mania. Obat lain
yang dapat menyebabkan mania termasuk obat flu over-the-counter, penekan nafsu
makan, kafein, kortikosteroid, dan obat tiroid.
4.
Perubahan
Musiman - Episode mania dan depresi sering mengikuti pola musiman. Manic
episode lebih sering terjadi selama musim panas, dan episode depresif lebih
sering terjadi selama musim dingin, musim gugur, dan musim semi (untuk negara
dengan 4 musim).
5.
Kurang
Tidur - Rugi tidur-bahkan sesedikit melewatkan beberapa jam istirahat-bisa
memicu episode mania
Self-help untuk bipolar disorder
Sementara berurusan dengan bipolar disorder tidak
selalu mudah, tidak harus menjalankan kehidupan Anda. Tetapi untuk sukses
mengelola bipolar disorder, Anda harus membuat pilihan cerdas. gaya hidup Anda
dan kebiasaan sehari-hari memiliki dampak yang signifikan terhadap suasana hati
Anda. Baca terus untuk cara-cara untuk membantu diri Anda sendiri:
1. Dapatkan pendidikan tentang cara mengatasi
gangguan.
Pelajari sebanyak yang Anda bisa tentang bipolar.
Semakin banyak Anda tahu, semakin baik Anda akan berada dalam membantu
pemulihan Anda sendiri.
2. Jauhkan stress.
Hindari stres tinggi dengan menjaga situasi
keseimbangan antara pekerjaan dan hidup sehat, dan mencoba teknik relaksasi
seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam.
3. Mencari dukungan
Sangat penting untuk memiliki orang yang dapat Anda
berpaling untuk meminta bantuan dan dorongan. Cobalah bergabung dengan kelompok
pendukung atau berbicara dengan teman yang dipercaya.
4. Buatlah pilihan yang sehat.
Sehat tidur, makan, dan berolahraga kebiasaan dapat
membantu menstabilkan suasana hati Anda. Menjaga jadwal tidur yang teratur
sangat penting.
5. Monitor suasana hati Anda.
Melacak gejala Anda dan perhatikan tanda-tanda bahwa
suasana hati Anda berayun di luar kendali sehingga Anda dapat menghentikan
masalah sebelum dimulai.
(Source: Wikipedia)
Nah –ketahuan kan apa itu Bipolar Disorder? Kalau ‘Bi’ itu artinya Ganda atau banyak, dan
‘Polar’ itu berarti ‘Kutub’ –kalau menurut kamus, berarti juga
‘Berlawanan’. Jadi bisa disimpulkan
sendiri kan bagaimana karakteristik peranan yang Jessica peranin di dalam drama
barunya dia?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar