Cast/Pairing: Luhan/Sulli
Genre : Comfort/General/Romance
Rated: T
Summary: “ –Luhan sekali lagi mengangguk. Ia tersenyum lagi dan lagi. Tentu saja, ia tidak akan mau melewatkan kesempatan bisa mengenal gadis itu lebih dalam."
Disclaimer: I just own the plot, the casts are
their.
Suatu hari pemuda yang kita bicarakan ini
sedang berjalan di suatu stasiun.
Seperti hari-hari biasa lainnya, ia berencana untuk menanyi atau menari
sebentar kemudian ikut menjadi penumpang kereta jurusan.
Tas gitarnya ia angkut di punggungnya, ah
sekilas ia terlihat seperti musisi saja.
Ia sering terkekeh jika orang-orang menyebutnya musisi. Baiklah, mimpinya tidak setinggi itu juga
kalau dipikir-pikir. Suasana hiruk pikuk
stasiun tidak membuatnya resah, ia sudah sering berada dalam situasi seperti
ini.
Suara-suara peluit yang melengking menandakan
adanya kereta yang akan berangkat atau datang, atau suara dengungan dan
gesekan-gesekan roda-roda kereta yang baru saja sampai atau pergi, atau suara
ribut yang dihasilkan oleh orang-orang yang berlalu lalang di depannya; tidak
masalah. Ia sudah biasa.
Ia sudah siap dengan gitar yang sudah
dikalungkan di lehernya, membenarkan letak topinya dulu kemudian mulai
bernyanyi.
My life is brilliant.
My life is brilliant
My love is pure
I saw an angel, of that I’m sure,
She smiled at me on the subway,
she was with another man
but I won't lose any sleep on that
cause I got a plan.
My life is brilliant
My love is pure
I saw an angel, of that I’m sure,
She smiled at me on the subway,
she was with another man
but I won't lose any sleep on that
cause I got a plan.
Ah, tanpa sadar matanya terpaku pada seorang gadis yang baru saja turun
dari kereta. Gadis itu memakai sweater
putih, dan dalaman terusan berwarna putih juga.
Rambut hitam panjangnya jatuh begitu saja di punggungnya. Cantik sekali.
Ia baru saja sadar ketika gadis itu mengalihkan senyuman yang ditujukan
untuknya untuk seorang pria yang juga baru saja turun dari kereta di
belakangnya. Mereka berdua tersenyum,
dan ia benar-benar sadar sekarang.
Ia terkekeh malu atas apa yang sudah dilakukannya barusan. Seperti orang bodoh saja. Lagi-lagi ia tertawa, tapi tetap dengan
matanya mengikuti kemana gadis –dan pria lain yang bersama gadis itu
pergi. Gadis itu menoleh ke belakang,
dan ketika mata mereka berdua bertemu lagi; gadis itu tersenyum lagi padanya.
Kemudian entah darimana asalnya, sebuah rencana membuatnya tidak akan
tidur berhari-hari ketika memikirkan gadis itu.
-
Yes she caught my eye, as I walked on by
She could see from my face
that I was fucking high
and I don’t think that I'll see her again
but we shared a moment
that will last til the end.
She could see from my face
that I was fucking high
and I don’t think that I'll see her again
but we shared a moment
that will last til the end.
Xi Luhan; penyanyi jalan yang sedari tadi berjalan hilir mudik di
stasiun itu kelihatan begitu resah.
Gitarnya sudah tidak tergantung lagi di lehernya tapi sudah berada di
punggungnya. Sebenarnya ia sudah berniat
untuk pulang, lagipula langit sudah mulai gelap. Tapi ia begitu enggan untuk masuk kedalam
kereta, ada sesuatu yang ditunggunya. Oh
–bukan-bukan, seseorang yang ditunggunya.
Sudah 3 hari ia melihat gadis yang sama turun dari kereta dengan jurusan
yang sama setiap paginya. Dan 3 hari
pula ia melihat gadis itu pulang kembali dengan kereta dengan jurusan yang sama
seperti saat pagi tadi. Ia ingin melihat
gadis itu lagi, sebagai pengantar pulang untuknya, mungkin? Lagi-lagi berpikir bodoh.
Well, sebenarnya ia tidak berharap akan bertemu gadis itu lagi. 3 hari yang lalu, kali pertama ia melihat
gadis itu lewat dan tersenyum padanya, jelas sudah mencuri penglihatannya. Yang ia lihat hanya bayangan gadis itu
saja. Ketika tersenyum padanya, dan
tersneyum padanya lagi untuk yang kedua kalinya –minus pria yang bersama gadis
itu. Ah –tidak mungkin bertemu.
Ia pun melangkah maju menuju pintu gerbong, berdiri sejenak disana.
Berharap –sedikit saja bisa melihat gadis itu. Dan ketika peluit sudah melengking dan kereta
mulai bergerak maju, seseorang berlari dengan rok terusan dan rambutnya berkibar. Awalnya ia tidak tahu dan peduli itu siapa,
tapi ketika gadis itu makin mempercepat larinya ia baru mengetahui gadis yang
berlari itu adalah gadis yang ditunggunya sejak beberapa saat lalu. Wajahnya merah karena berlari dan ia bernapas
lewat mulutnya.
Luhan yang segera tersadar segera mengulurkan tangannya.
“Ayo cepat! Ulurkan tanganmu!”
seru Luhan. Gadis itu mengangguk dengan
wajah kepayahan, mengangkat tangannya kedepan dan mempercepat larinya sementara
kereta semakin cepat bergerak.
“Ya! Cepat!” Luhan menjulurkan badannya untuk memudahkan
gadis itu menjabat tangannya. Gadis itu
benar-benar kepayahan, tapi mau bagaimana lagi?
Atau ia akan ketinggalan kereta dan terpaksa menunggu sampai besok.
“Ah –akhirnya.” Desah Luhan ketika ia sudah menarik tangan gadis itu,
dan tanpa ia sadari gadis itu sudah berada dalam pelukannya dan wajahnya sudah
begitu dekat dengan wajahnya.
“Aa..maaf.” bisik Luhan, ia
segera menjauhkan badannya dan tersenyum pada gadis itu. “Well, tidak masalah.” Balas gadis itu dan ikut tersenyum
padanya. Sial! Luhan sendiri bisa mendengar suara gemuruh
jantungnya. Ia memutuskan untuk berjalan
mendahului gadis itu dan memilihkan kursi yang masih kosong.
“Tidak apa-apa, ada temanku yang sudah menungguku.” Kata gadis itu sebelum Luhan sempat
mempersilahkan dirinya untuk duduk.
Luhan mengangguk ragu dulu sebelum menjawab,”Ngg..baiklah. Lain kali jangan telat lagi,” pesan Luhan sebelum gadis itu benar-benar
berjalan menuju gerbong selanjutnya.
Gadis itu mengangguk,”Terimakasih.”
Jawabnya dan ia benar-benar menghilang di balik pintu gerbong.
-
You’re beautiful
You’re beautiful
You’re beautiful it’s true
I saw your face in a crowded place
And I don’t know what to do
cause I'll never be with you.
You’re beautiful
You’re beautiful it’s true
I saw your face in a crowded place
And I don’t know what to do
cause I'll never be with you.
Untuk beberapa hari Luhan hanya meruntuki kebodohannya sendiri. Kenapa disaat ia dan gadis itu dekat untuk
beberapa menit, ia bukannya bertanya nama gadis itu? Bodoh.
Dan lagi, Luhan tidak mengerti, kenapa gadis itu bolak-balik memakai
kereta yang sama setiap harinya, bukannya bertanya, ia malah membiarkan saja
gadis itu pergi.
Lalu apa gunanya sekarang ia menginap disini? Untung saja disini ada beberapa kenalannya,
jadi ia bisa menumpang untuk tinggal beberapa lama sampai ia bisa menjernihkan
pikiran bodohnya itu.
Tapi kalau teman yang ia tumpangi rumahnya selalu bekerja dari pagi
hingga sore dan meninggalkannya di rumah sendirian, tentu akan membuatnya
frustasi perlahan, kan? Oleh karena itu,
beberapa hari ini Luhan memutuskan untuk bernyanyi di taman dekat sebuah café
di tengah kota. Hasilnya pun lumayan,
banyak yang menyukai penampilannya.
Kali ini gads yang selalu ditunggu oleh Luhan berjalan menuju café
tempatnya bekerja. Dengan terusan putih
panjang kesukaannya dan vest putihnya, ia berjalan dengan agak terburu-buru. Ia terlambat bangun pagi ini, dan waktu
bekerjanya sudah lewat 20 menit. Jelas
ini berbahaya.
Ia mengabaikan kerumunan di seberang cafénya, yang penting sampai di
café dulu. Begitu pikirnya. Ia memutar lewat pinut belakang agar langsung
menuju ruang ganti karyawan. Memakai
seragam apron coklatnya dan memakai topi di kepalanya, sebelumnya ia mengikat
dulu rambutnya ke belakang.
Melewati sepasang kekasih yang duduk di meja terdekat ruang karyawan
menuju balik meja mesin pembuat kopi. Uh
–masih sepi. Ia lirik pintu ruang kerja
manajernya, ia intip sedikit. Belum
datang. Tahu begitu ia lambat-lambat
saja saat berjalan kesini. Ia edarkan
lagi pandangannya. Kini ia melihat di
balik jendela besar cafénya, orang-orang membuat suatu kerumunan melingkar. Ada apa sih?
Ramai sekali?
Ia berjalan mendekat menuju jendela, tertegun sejenak. Uh –ada penyanyi jalan disana. Ia hampir saja membalikan badannya untuk
kembali ke mejanya tapi berhenti ketika ia berpikir, kenapa penyanyi jalanan
saja sebegitu terkenalnya sampai seperti ini?
Ia berjalan terburu-buru menuju ruang karyawan, melepas apron dan
topinya dan meletakannya di dalam lokernya.
Kemudian melesat keluar, sambil berharap semoga ia tidak melewatkan
bagian menariknya.
Sesampainya di luar, suasanan benar-benar ramai. Ia tidak pernah melihat penyanyi jalanan
seperti itu memiliki penonton sebanyak itu.
Mendesak orang-orang di depannya agar memberikannya jalan.
“Maaf! Permisi! Maaf, aku ingin lewat Tuan..”
“Oh –terimakasih..aduh!” yah
–lumayan, walaupun bukan barisan paling depan, tapi cukuplah bagi badannya yang
tinggi untuk melihat penyanyi itu.
Seorang laki-laki tengah duduk di tengah kerumunan dengan gitarnya di
pangkuannya. Laki-laki itu memakai topi
hingga hanya setengah wajahnya saja yang terlihat, belum lagi sesaknya penonton
yang melihat penampian penyanyi jalanan itu.
Meski ramai begini ia bisa saja mendengar suara merdu laki-laki
itu. Ah –ia kenal lagu yang dinyanyikan
laki-laki, tapi sayangnya lagu ini sudah hampir menyelesaikan klimkasnya. Ia mendesah pelan, sayang sekali. Padahal ia ingin melihat seseorang yang
menyanyikan lagu seperti ini secara langsung selain penyanyi aslinya.
You’re beautiful
You’re beautiful
You’re beautiful it’s true
You must be an angel, with smile on her face
You’re beautiful
You’re beautiful it’s true
You must be an angel, with smile on her face
when she thougt up that I should be with you.
But it’s time face the
truth
I will never be with
you..
Dengan sentuhan jari-jari lihai penyanyi itu memainkan gitar membuatnya
semakin terpesona dengan permainannya.
Padahal hanya sebait yang ia dengar, tapi sudah membuatnya semakin jatuh
cinta dengan lagu ini.
Orang-orang di sekelilingnya mulai melemparkan uang receh mereka ke
hadapan penyanyi yang sudah tentu adalah Luhan sambil bertepuk tangan
riuh. Sementara gadis itu, yang sudah
menyadari kalau penyanyi jalanan yang menyanyikan lagu kesukaannya adalah penyanyi
yang sama yang dilihatnya beberapa waktu lalu di stasiun dan laki-laki yang
sama dengan penolongnya saat ia hampir ketinggalan kereta. Ia berdiri saja di dalam kerumunan, menunggu
sampai semuanya pergi. Memperhatikan
Luhan yang sambil tersenyum memunguti uang-uang receh –maupun lembar dan
mengumpulkannya di topinya. Kaos lengan
panjang hitamnya ia tarik sampai siku membuatnya bisa melihat setengah dari
tangan yang pernah menolongnya dulu.
Laki-laki ini..
Ah –sayang sekali, ia tiba-tiba teringat seorang pria yang menunggunya
di rumah. Tidak-tidak, ia hanya jatuh
cinta dengan permainan dan lagunya saja, kan?
Saat Luhan sudah selesai memunguti semua uang yang dilemparkan ke
arahnya, ia mengangkat kepalanya dan merasakan sebuah aliran listrik di seluruh
tubuhnya. Matanya membulat ketika
melihat gadis yang dicari-cari dan ditunggunya berdiri di depannya.
Jadi, dia sempat melihatku bernyanyi?
Luhan meruntuki lagi pikiran bodohnya.
Kemudian ia beranjak berdiri sementara gadis itu berjalan maju ke arahnya. Oh –sial.
Canggung sekali! Luhan tersenyum
canggung sementara gadis itu tersenyum lebar padanya.
“Penampilanmu bagus.” Puji gadis
itu. Luhan mengangguk canggung sambil
tersenyum. “Te-terimakasih,”
“Tapi aku tidak bisa melemparkan uang seperti yang dilakukan yang
lainnya, uangku tertinggal di tas,”
gadis itu melanjutkan. Luhan
langsung menggeleng,”Tidak apa-apa, kau menontonnya saja itu sudah bagus.”
Jawabnya, uh –Luhan bisa merasakan wajahnya
memanas sekarang.
Gadis itu terkikik dengan jawaban Luhan tadi,”Sebelumnya..kita pernah
bertemu, kan? Di stasiun, kau yang
menolongku waktu itu.”
Luhan mengangguk lagi,”Ya, tidak kusangka kita bertemu lagi.” Gadis itu mengangguk setuju, ia sempat
terpesona juga dengan senyum Luhan.
Tidak dipungkiri, senyum Luhan adalah yang termanis yang pernah dilihat olehnya.
“Well, selama kau bernyanyi disini dan aku bekerja disana, tentu saja
kita bisa bertemu.” Jawab gadis
itu. Luhan mengikuti arah tunjukan gadis
itu dan menemukan sebuah café sebagai tempat bekerja gadis di depannya
ini. “Kau bekerja disana?”
“Aku pembuat kopi disana, sesekali datang ya!”
Luhan sekali lagi mengangguk. Ia tersenyum lagi dan lagi. Tentu saja, ia
tidak akan mau melewatkan kesempatan bisa mengenal gadis itu lebih dalam.
“Eungg..sebelumnya..aku..”
“Namaku Sulli, Choi Sulli.” Gadis
itu memotong ucapan Luhan dengan memperkenalkan namanya sambil mengulurkan
tangannya ke hadapan Luhan. Luhan sempat
melongo sebentar sebelum sadar bahwa gadis itu sendiri yang memberi tahu
namanya. Setelah itu ia membalas uluran
tangan gadis; yang kini dia ketahui bernama Sulli dan menjabatnya dengan
erat. Keduanya saling melemparkan senyum
sebelum Luhan membalas memberi tahukan namanya.
“Luhan, Xi Luhan..”
Well, walaupun begitu Luhan tetap berpikir bahwa ia memang harus menghadapi kenyataan kalau Sulli tidak mungkin ia miliki, kan?
END
A/N: Setelah beberapa lama tidak membuat
karya tulis seperti ini, rasanya sulit sekali untuk membuat fanfiksi atau fiksi
baru dan melanjutkan fanfiksi yang sudah terbengkalai -___-“ dan maaf kalau
songfic ini terlalu panjang, karena aku sengaja membuat sonfic ini seperti
menjadi Music Video dari lagu di atas. Dan
kalau aku membuatnya pendek, aku yang tidak bisa merealisasikannya,
hahaha. Oh iya, tahu kan lagu apa yang
dimaksud? You’re Beautiful by James
Blunt ya, bukan Cherry Belle -_____-“
maaf untuk kesalahan yang ada di dalam cerita ._.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar