Minggu, 09 Februari 2014

[FICTION] Dumb & Dumber

Rapuh. Ia merasa begitu rapuh.  Bahkan ia rasa cangkang yang telah rapih ia bentuk saja tidak cukup kuat.  Terlalu pedih.  Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah ini.  Well, bisa saja masalah ini terselesaikan begitu saja.  Tanpa tahu apa yang terjadi satu sama lain.  Tidak tidak.  Hanya satu yang tidak tahu.  Tentu saja ia tahu apa yang terjadi dengan yang satu itu.  Tidak mungkin berubah.  Dia bisa bilang apa?

"Aku menantimu, bahkan jika hanya mengatakan hal itu bohong."
Konyol.  Ia juga tahu tidak mungkin.  Ini nyata.  Tidak ada kebohongan.  Sedari awal memang salahnya.  Bahkan sampai sekarang, kesalahannya bukan hanya ketidak jujuran, namun keegoisan.  Ia yang menyakiti di awal, kemudian meratapi dan merintih bahwa semua yang terjadi sekarang hanyalah  palsu dan berharap orang itu akan melihat padanya sekali lagi.  Dan meski sudah merasakan kepedihan itu, hanya orang itu yang bisa ia lihat.  Bahkan di tengah kerumunan, ia bisa dengan mudahnya menemukan orang itu di kejauhan.  Lalu ia bisa apa?
Konyol sekali kalau ia datang dengan berlinang air mata.  Ia ingat dan tahu betul bahwa orang itu sudah mendapatkan yang jauh lebih kuat darinya.  Apa hebatnya?
Apa karena waktu itu makanya ia berhak mendapatkan pembalasan seperti ini?  Lalu kenapa bisa semudah itu mendapatkan yang baru?  Ia juga tahu kalau ia tidak sempurna.  Well, wajahnya tidak begitu buruk.  Namun ukuran badannya tidak bisa dikatakan cantik, ia sedikit lebih besar dari gadis lain.  Jelas saja ia merasa tersanjung karena ada laki-laki yang suka dengannya.  Tapi seandainya laki-laki itu paham maksudnya, ia ingin laki-laki itu menunggunya.  Seandainya ia paham, kalau ia berusaha mati-matian mengabaikan perasaannya sendiri.  Seandainya..  Tapi buktinya tidak.  Ingin jadi manusia seegois apa jika saat itu ia bilang, "Tunggu aku beberapa tahun lagi." Hah!  Memang laki-laki itu tidak bisa disalahkan.  Sedari awal ia yang salah.  Dan ketika semuanya terjadi, ia bisa apa?  Bercerita pada orang-orang pun tidak berpengaruh.  Menangis sekencang dan semiris apapun tidak akan didengar, meski kau berharap laki-laki itu tahu kau menangis karenanya.
Tidak akan ada yang berubah, meski ingatan tentang masa lalu seakan terus berputar di kepalamu dengan jelas.  Bahkan beberapa tempat serta waktu bisa mengingatkanmu dengannya.  Tidak, sama sekali tidak ada niatan untuk berhenti.  Satu-satunya jalan hanyalah berharap.  Konyol.  Mau berapa kali omong kosong itu dikumandangkan?  Tidak ada harapan.  Bahkan mungkin sekarang laki-laki itu memikirkannya sedikit saja tidak ada.  Untuk apa?  Mengingat gadis cengeng sepertinya?
Tidak ada kesimpulan dalam cerita ini.  Hanya bercerita tentang seorang gadis yang jatuh dalam kerapuhannya sendiri.  Bertindak seperti badut.  Sama sekali bersikap seperti tidak ada masalah.

Nb: okay, aku sendiri gak ngerti ini apa, tiba-tiba masuk ke pikiran (uhuk hati) trus jadi gini. Well, mungkin ini berbasis dari true story ㅎㅁㅎ dan maaf kalau judulnya gak sesuai. Sebenernya aku bingung mau ngasih judul apa dan kenapa malah jadi fiksi ㅍ_ㅍ jadi jangan protes, dan selamat galau ><

Tidak ada komentar:

Posting Komentar