Jumat, 07 Februari 2014

[FICTION] : LITTLE THINGS

                “I’m in love with you, and your little things..”


                Hey, lihat dirimu.  Tidak usah merasa malu, apalagi padaku.  Memangnya apa yang salah denganmu?  Kau sama seperti yang lain, tidak ada yang aneh denganmu.  Kalau tertawa kau tetap terlihat manis.  Bahkan aku harus menahan diri agar tidak terus-terusan mencubit pipmiu ketika kau tersenyum.  Karena kau terlihat sangat menggemaskan ketika tersenyum.  Matamu tinggal segaris dan tulang pipimu terangkat seperti itu.  Makanya tersenyum lagi.  Dan ketika kau tertawa, sampai menjelang waktu tidurku, suara tawamu itu masih bergaung di pikiranku.  Ya Tuhan, jangan cemberut seperti itu.  Aku tidak sedang merayumu..
                Tuh kan, kau cemberut lagi.  Tidak ada manusia lain bisa sejelekmu jika cemberut seperti itu.  Dan.. Hey!  Hentikan, jangan memukulku lagi!  Aku belum selesai bicara!  Meski tidak semua orang bisa melihat senyumu dan wajah cemberutmu yang jelek sekali –berani memukulku lagi, kau akan kutinggal.  Bagus– dan aku yang beruntung salah satunya, kau tidak perlu malu, sayang.  Kau sempurna.  Jangan takut.
                Aku bersamamu.  Sampai kau tidak bisa tersenyum lagi, tertawa lagi, memainkan gitarmu lagi, dan bernyanyi lagi.  Aku bersamamu, selalu.  Jangan menunjukan wajah seperti mau muntah seperti itu, aku serius.  Salahmu kenapa mengejarku saat itu, aku jadi penasaran denganmu.  Jangan kesal begitu.  Kalau bukan kau duluan yang mengejarku, mana mungkin kita bisa seperti sekarang, kan?  Nah bagus, tersenyum seperti itu..
                Terus bernyanyi, aku akan merindukan penampilanmu.  Makanya jangan menangis, kenapa tiba-tiba kau menangis, sih?
                Ah, aku sangat menyukaimu.  Jangan putus asa, ya?

-

                Di sinilah aku.  Menemanimu.  Di sampingmu.  Kau manis sekali, tidak biasanya kau semanis ini, meski biasanya kau memang manis, sih.  Dengan bunga matahari yang kau sukai mengelilingimu, bahkan tubuhmu sampai tidak kelihatan.  Benar-benar manis.  Ingin sekali aku mengabadikan keadaanmu saat ini, tapi aku tidak mau wajahku jadi jelek karena ayahmu memukulku karena berani memfotomu di saat seperti ini.
                Terakhir kita bertemu, ketika kau ingin sekali di foto di siang hari.  Ya Tuhan, kau bisa sebodoh itu ternyata, ya?  Maka dengan bantuan sahabatmu, kau memakai baju ‘wajib’mu.  Meski aku hanya bisa melihat wajahmu saja, kau masih terlihat manis.  Jalanmu menjadi sangat kikuk.  Mungkin karena bajumu yang kelihatan sangat tidak nyaman itu, atau karena kondisimu sendiri.  Lalu ketika aku menggandeng lengan kirimu dan sahabtmu di lengan satunya, ibumu datang membawa sekeranjang bekal, sambil tersenyum pada kita.  Ayahmu kemudian masuk dan membawa keranjang bekal itu ke mobil.  Ya, kita akan piknik saat itu.  Senyummu yang begitu lebar saat itu, kutuk aku kalau berani melupakannya.
                Kau terlihat kepanasan setelah memakan bekalmu.  Tentu saja, bahkan aku sendiri tidak akan tahan memakai baju seperti itu di musim panas seterik ini.  Tapi kau tidak mengeluh.  Kau tetap tersenyum dan tertawa sambil bermain.  Kau sungguh kuat.
                 Kupikir, tidak ada salahnya waktu itu kami menuruti kemauanmu.  Itu merupakan piknik pertama dan terakhir bagimu, uhm?  Setelah itu kau hanya bisa berbaring.  Kau menangis untuk bisa keluar walau di malam hari sekalipun, tapi tidak ada yang memperbolehkanmu.  Bahkan aku.  Maka kau hanya boleh duduk di depan jendela, menikmati malam seperti yang kau lakukan sebelumnya.  Ketika kau masih memainkan gitar dan bernyanyi di pinggir jalan.  Kadang aku merindukan semuanya.  Tapi apa gunanya mengenang masa lalu kalau hanya itu akan membuatmu sedih, iya kan?
                Selamat tinggal sayangku.  Semoga kita bisa bertemu lagi..  Aku suka denganmu.  Sangat suka..  Selamat beristirahat.  Di sana, kau bisa menikmati matahari sebanyak yang kau mau tanpa takut akan merasa sakit lagi.  Yeah, ini yang terbaik, bukan?


Nb          : ehehehe, ada yang nyambung sama ceritanya, ga?  Setelah aku nonton taiyou no uta.  Pasti tau kan?  YUI yang main, ceritanya dia jadi remaja yang kena XP.  Penyakit ga boleh kena cahaya matahari.  Itu penyakit keturunan.  Dan cerita ini juga berbasis dari film itu.  Yang buat masalah, yang kubayangin sebagai ‘aku’ di sini adalah Minho, kupikir itu bukan masalah.  Dan ‘kau’ itu Jinki alias si Onew -__-  *run, hide behind Minho*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar