Senin, 30 Juli 2012

SERIES: PETUALANGAN AMBER


Cast/pairing : Key/Amber

Genre : Comdy/Friendship/Family/Romance

Rated : T

Length: Multichap 2737 words

Summary : Amber itu tomboy dan ia dipaksa oleh ayahnya untuk berperan sebagai laki-laki untuk menyenangkan hati seorang kakek yang sama sekali belum ia kenal.

Disclaimer: No one is mine, they’re belong to their self.

Amber merebahkan tubuhnya di sofa hijau toska milik Luna, kemudian menutup wajahnya dengan sebuah bantal yang sama warnanya, setelah itu berteriak sekencang-kencangnya disana.  Luna yang melihat tingkahnya dari balik majalah ilmiahnya hanya menggeleng pelan kemudian beranjak dari posisinya menghampiri Amber.

“Kau kenapa, sih?” tanya Luna, tangan kirinya ia gunakan untuk menyingkirkan bantal yang menutupi wajah Amber, dan tangan satunya menaruh majalahnya di sebuah bufet kecil di sampingnya.

Amber tidak merespon dan hanya memejamkan matanya, gurat frustasi terpampang jelas di wajahnya.  Duh, sekali lagi Amber ingin berteriak rasanya.  Menggapai-gapaikan kedua tangannya mencari bantal yang tadi ia gunakan untuk meredam suaranya, namun Luna sudah bertindak, ia menjauhkan bantal tersebut dengan kedua tangannya yang ia sembunyikan di balik punggungnya. Sambil tertawa kecil melihat Amber yang terlihat semakin frustasi karena tidak mendapatkan bantal yang ia inginkan.

“Gah! Bantalnya Luna!” seru Amber, ia mendudukan badannya dengan wajah kacau dan kedua mata yang melotot karena kesal.  Luna terkikik melihat kelakuan sahabatnya itu, jarang sekali melihat Amber yang terlihat begitu frustasi seperti ini.  Amber merupakan gadis yang cukup tangguh, bisa meredam emosinya dan bertingkah seolah tidak ada masalah –walaupun malah jelas terlihat seperti ketidak pedulian.  Namun tetap saja Luna kagum dengan Amber, ia berasumsi bisa jadi Amber seperti ini karena sikapnya yang seperti laki-laki itu.  Rambut yang dipotong menyerupai model rambut laki-laki dengan dicat highlight, juga isi lemari yang keseluruhan berisi pakaian laki-laki.  Tidak jarang orang lain salah mengira Amber sebagai anak laki-laki.

“Bantalnya Lunaaaa!!” seru Amber lagi, ia menoleh ke kanan dan kiri Luna mencari bantal yang di sembunyikan Luna.  Kemudian mencoba meraihnya dengan kedua tangannya.

“Tidak mau! Ceritakan dulu kau kenapa!” balas Luna, ia berkelit dengan berdiri dari duduknya dan berlari menuju ranjangnya. Duduk di sana sambil memeluk bantal yang diinginkan Amber, dan menatap Amber lurus dari tempatnya.

“Katakan padaku kenapa kau bilang kau kabur dari rumahmu dan malah kesini? Dan jelaskan apa alasanmu seperti itu?” dengan penuh penekanan Luna bertanya lagi, tanpa sengaja malah menakuti Amber dengan seringaian Luna.

Amber memutuskan untuk terlihat tidak peduli dengan mengalihkan pandangannya, memperhatikan jendela kamar Luna yang menghadap bagian timur gunung belakang sekolah mereka.  Ah –segar sekali kalau bisa kabur kesana, bukannya malah kesini!  –Amber meruntuk dalam hati sambil melirik Luna yang masih menunggunya untuk cerita.  Astaga!  Bukannya apa-apa, tapi..malunya itu loh!  Akan ditertawai berapa jam kalau ia menceritakan semuanya pada Luna?  Belum lagi Luna yang ratu gosip, bisa jadi cerita Amber ini malah akan berkembang pesat di seantero sekolah kemudian merembet ke sekolah-sekolah lain (tentu saja karena koneksi Luna sebagai Ratu Gosip tersebar luas), perlahan-lahan menyebar ke satu kota dan akhirnya seluruh negeri akan tahu mengenai hal ini!  Gaaaahhhh!!  Amber ingin loncat dari jendela rasanya..tunggu..Loncat?!  oh –astaga, sepertinya keputusannya lari ke rumah Luna tidak sepenuhnya salah.
“Woy!  Ya!  Kau –apa yang kau lakukan?!”  Luna bergegas loncat berdiri dari tempat tidurnya dan menerkam Amber yang sudah meletakan kaki kirinya di atas bingkai jendela dan siap untuk loncat.  Keduanya terjatuh di lantai kamar Luna (yang untungnya dilapisi karpet tebal, saking tebalnya mereka bisa tenggelam ke dalam karpetnya itu) dengan Amber sebagai korban pertama yang mencium lantai.

“Kau kenapa sih?!  Gila!”  Luna mengumpat, bukannya khawatir dengan keadaan Amber kalau jatuh dari kamarnya sih, mending bagi Luna kalau Amber langsung mati di tempat, –Luna mau saja sih menanggung biaya pemakaman Amber, tapi kalau Amber musti dirawat ini itu karena patah tulang atau hilang ingatan atau koma bagaimana?  Duh –siapa yang mau sih?

“Siapa yang mau bunuh diri, tolol!”  Amber menjitak Luna karena gemas, si Ratu Gosip ini enak sekali mengganggu  rencanannya.

“Habis apalagi?  Kau ingin aku masuk penjara karena dikira sudah mendorongmu?!  Kalau itu sampai terjadi, aku memilih cara yang lebih keren untuk membunuhmu.  Lebih baik ku mutilasi –eh tidak, itu bisa mengotori tanganku.  Lebih baik aku memberi merkuri dalam jus buahmu saja!”  Luna berbicara ngelantur sambil melotot, astaga –Amber sampai bergidik karenanya, bukan karena rencana Luna, tapi karena matanya Luna yang horor sekali!

“Hoy!”

“Eh!  Ganggu nih!”  Amber memilih untuk berdiri dan mengurungkan niatnya untuk loncat menuju gunung belakang sekolah, bisa-bisa dia diduga hilang karena dimakan oleh penunggu hutan.  Apalagi kalau Luna yang bicara –ugh!

“Heh, siapa yang lari-lari sampai ngos-ngosan terus buat rusuh disini?!”  Luna lagi-lagi melotot pada Amber.  Amber yang sudah setengah berdiri dan setengah jongkok menghentikan niatnya, melihat pada Luna kemudian mengangguk membenarkan.  Benar juga, kan yang punya rumah dia –pikir Amber.

Lagipula; Amber berpikir lagi –astaga!  Bisa-bisanya aku berpikir?  –Amber sendiri yang menganggu pikiran briliannya.  Eh, ku lanjutkan, lagipula..untuk apa repot-repot loncat dari kamar Luna untuk pergi ke gunung belakang sekolah?  Pamit baik-baik pada Luna kan gampang?  Ya Tuhan, Amber menepuk jidatnya sendiri.  Bodoh sekali?!

“Heh, bulan memanggilmu tahu!”  Luna menarik tangan Amber yang terkulai di samping kanan-kiri badannya menuju sofa yang tadi ditempati Amber untuk berteriak.

“Sekarang ceritakan padaku.”

Amber memandang Luna dengan wajah tidak tahu apa-apa, pandangan matanya kosong.  Pikirannya masih berkutat pada kenapa dia harus repot-repot loncat dari kamar Luna untuk pergi ke gunung belakang sekolah.  Aduh Amber!!

“Kupanggil Cheondung oppa bisa kujamin kau akan kejang-kejang sekarang Amber!”  Luna mengancam dengan ancaman andalannya.  Semua orang di sekolah tahu kalau Amber itu dekat dengan keluarga Luna bukan karena rumah mereka yang berdekatan, tapi karena orangtua Amber dan Luna adalah sahabat bagai kepompong dari dulu sampai sekarang.  Mereka ingin anak-anak mereka bisa ikut bersahabat sampai tua seperti mereka, padahal mereka tidak tahu kalau Amber sebenarnya ogah dekat-dekat dengan Luna kalau bukan karena kakaknya yang kece sekali.

Tapi alasan hinanya itu kini berubah semenjak tahu ketulusan hati Luna, saat ulang tahun Amber yang ke 17, Luna repot-repot datang tengah malam ke kamarnya dan menggotongnya dengan gagah ke kebun belakang rumah Amber dan mengikatnya di pohon kelapa sampai pagi.  Keesokan paginya Amber sudah seperti boneka salju kesambet roh badut dengan wajah pucat pasi dan hidung yang merona merah datang ke sekolah untuk menghajar Luna.  Tapi Luna dengan mata anak anjing –yang ditularkan oleh pacarnya; Jonghyun, sambil tersenyum dan menyodorkan sebuah kotak berisi kalung mengucapkan,”Selamat Ulang Tahun Amber sayang..”  oh –demi Tuhan, tidak ada sahabat sebaik Luna –pikir Amber.  Tapi selain itu, Luna juga tahu alasan kenapa Amber mau berteman dengannya, iya, Luna tahu ide hina Amber semenjak melihat Amber yang kejang-kejang di kamar mandi setelah makan malam bersama keluarga Luna dan Amber.  Amber suka pada Cheondung –kakaknya.

“Eh jangan!  Kau apa-apaan sih?”  Amber mendadak sadar dan langsung memeluk Luna.  “Aku sayang Park Luna!”

Luna ingin muntah, tapi mengingat Amber yang sedang frustasi dan ia sedang menunggu penjelasan Amber, ia menahan keinginannya tersebut.

“Sekarang mau cerita?”  Luna menurukan suaranya, maklum, ia hampir kelepasan mengeluarkan high pitch dan power pitchnya itu.  Amber mengangguk ragu, kemudian melepaskan pelukannya perlahan.  Dia menunduk, ingin membuat suasana menjadi serius dan mendebarkan.

“Hahhh..”

“Hahhh..?”

“Iya, hahhh..”

“Kenapa hahhhh..?”

“Bodoh!  Aku sedang menghela nafas tahu!”  Amber ingin menjitak Luna lagi tapi Luna sudah keburu melindungi kepalanya dengan bantal hijau-bulat-gendutnya.

“I..iya iya.  Santai Amber, santai.”  Luna ngeri juga lama-lama bersama Amber, kadang machonya lupa ia sembunyikan.  Suka keluar begitu saja, horor.  Keduanya hening.  Hening.

Sampai Luna sadar kalau ada suara desisan di sekitar mereka.  Luna menoleh pada Amber yang mukanya sudah hampir ungu.  “Gila!  Kau kentut?!”  Luna melempar bantal hijau-bulat-gendutnya tepat di wajah Amber.  Amber yang mukanya sudah normal hanya nyengir, hidungnya jadi makin lebar.  Luna sempat teringat dengan hidung pacarnya sesaat tadi.

“Maaf, terbawa suasana Luna sayang.”

Dan kali ini Luna benar-benar menunjukan ekspresi ingin muntah di hadapan Amber, siapa sih yang tidak ingin muntah kalau ada teman sesama jenis habis kentut kemudian nyengir dan memanggil kita sayang?  Luna benar-benar setuju, 1000 kali setuju!

“Kalau kebelet bilang!  Dasar bodoh!”  umpat Luna, ia berdiri menjauh dari Amber dan memilih untuk tiduran di kasurnya, ogah dekat-dekat dengan Amber.

“Hehehehe.. kelepasan.”  Amber nyengir, setelah itu mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman.  Memeluk bantal hijau-bulat-gendut Luna, ah –aku suka bantal ini!  –pikir Amber.  Dia menatap lurus Luna, begitu juga dengan Luna.  “Sekarang cerita.”

Amber mengangguk, ia menghela nafas lagi sebelum berbicara.  Masih ragu-ragu dengan keputusannya berbicara pada Luna mengenai masalah yang dialami olehnya karena ayahnya Amber.

“Ayah..”

Luna tampak mulai tertarik, dia mencondongkan badannya ke depan.  Entah darimana, boneke pemberian Jonghyun sudah ada di pelukan Luna sekarang.  Ngomong-ngomong tentang boneka, kamar Luna dulu tidak seperti ini bentuknya.  Manis seperti putri dengan boneka-boneka yang begitu banyak.  Tentu saja setelah ia resmi menjadi pacar Jonghyun, Luna yang sporty berubah menjadi princess.  Jonghyun selalu memberikan Luna hadiah dan boneka setiap ada peringatan; peringatan hari jadi yang ke satu bulan, peringatan hari jadi yang ke 2 bulan, peringatan kencan pertama, peringatan hari pemberian boneka pertama, peringatan hari masak bersama, peringatan hari bermain di taman bermain bersama, peringatan duet bersama, peringatan makan malam keluarga pertama, dan masih banyak peringatan-peringatan lainnya  yang selalu mereka rayakan.  Norak –kalau Amber bilang, tapi Luna tidak peduli dengan Amber.  Dia bilang, –Amber hanya iri karena dia jomblo.  Amber sih terlihat cuek, tapi kalau tahu, Amber pasti bilang oh –nusuk sekali Park Luna!

“Ayah..menyuruhku ke rumah seseorang..tapi orang itu bukanlah teman ayah atau siapa-siapa.  Dia hanya seorang kakek yang bertemu dengan ayah di jalan.  Menuruti keinginan si Kakek itu, ayah memaksaku..”  Amber menghela nafas, ia bisa merasakan bulu kuduknya meremang saking gugupnya.

“Si Kakek itu ingin aku menjadi..eh –menyamar menjadi laki-laki, dan ayah menyetujuinya.  Makanya aku–“
“Amber, kau tahu apa yang kupikirkan?”  Luna mendadak bolot, dia memandang kosong ke lantai kamarnya, tidak peduli kalau ocehan Amber belum selesai.  Amber meliriknya kesal, pasti dia mau ketawa, kan?  –pikir Amber.

“Ya ya ya, tertawa sepuasmu sana!”  Amber tampak begitu frustasi dan mengubah posisinya menjadi tengkurap.  Tapi belum ada tanda-tanda kalau Luna akan tertawa, lalu Amber memberanikan diri untuk melihat Luna.  Luna masih duduk termanggu di kasurnya.

“Luna?”

“Ya?”

“Apa yang kau pikirkan?”

“Aku?  Aku mau ketawa!  HAHAHAHAHAHA AMBER KAU KEREN!  HAHAHAHAHA!!”  Luna tertawa dengan bringasnya, sambil memukul-mukulkan boneka yang tadi di peluknya ke kasur.  Tanpa sadar suaranya meninggi dengan drastis, membuat Amber yang tadi ingin membekap mulut Luna, ciut.

“Ya ya, aku sudah tahu kau pasti akan menertawaiku, kan?  Dasar!”  gerutu Amber, dia sudah benar-benar kehilangan moodnya sekarang.

“Bukan..bukan..Hahhahah..aduh –maksudku bukan begitu, hahahahhhh..maksudku kau keren Amber!  Kau keren!”  sambil masih tertawa Luna mejelaskan dan mengacungkan 2 jempolnya untuk Amber.  Amber tidak peduli, itu hanya akal-akalan Luna saja, membuat perasaan Amber melambung, istilahnya sih menyenangkan hati Amber sih.

“Serius Amber sayang.. Kau keren sekali!  Eh –yang keren maksudku ayahmu sih.  Om Donghae kesambet apa sih?  Keren sekali, menyuruhmu jadi laki-laki?  Tuhan.. apa jangan-jangan sebenarnya Om Donghae sedang menjodohkanmu dengan cucu si Kakek itu?”  ucapan Luna kini sudah terdengar ngelantur menurut Amber, yang benar saja, dijodohkan?  Astaga!  Amber tahu tipe ayahnya untuk jadi suami Amber itu horor, laki-laki dengan tubuh tinggi besar, otot disana sini, juga bulu dada yang lebat.  Dulu saat Luna dan Jonghyun; pacarnya datang ke rumah Amber dan mereka bertemu dengan ayahnya Amber, ayahnya sempat tertarik dengan Jonghyun, menurutnya Jonghyun sudah ‘hampir’ memenuhi standar.  Hampir karena tinggi badannya Jonghyun tidak sampai dengan kriterianya.  Dalam hati Amber bersyukur, dia ogah punya pacar seperti Jonghyun.  Lebih baik seperti Ok Taecyeon atau Lee Joon –temannya kakaknya Luna.

“Dijodohkan?  Bicaramu sudah kemana-mana Luna!”

“Aku serius!  Siapa tahu ini taktik ayahmu, yah –mungkin saja laki-laki yang dijodohkan denganmu tetap tinggi-besar-berotot-dan berbulu dada tapi dia pemalu..”  kata Luna sambil memutar bola matanya, tapi diam-diam Luna mati-matian menahan tawanya.

“Yaiks!”  Amber mau muntah, sangat mau muntah.  Tinggi-besar-berotot-dan berbulu dada tapi pemalu, sangat menjijikan.  Sangat sangat.

“Jangan ngomong hal tolol bodoh!”  umpat Amber, dan Luna hanya tertawa.  Tapi otak briliannya keburu bekerja sebelum tawanya itu berhenti.  Dia melihat Amber yang masih kesal dan tengkurap di sofanya dengan serius.

“Jadi kau kabur kesini karena itu?”  tanya Luna.  Amber menanggapinya dengan mendesah, tapi percuma, Luna tidak mungkin dengar.  Amber mengangguk-anggukan kepalanya.  Membuatnya terlihat seperti ulat bulu yang sedang berjalan di daun, kepalanya saja yang bergerak.

“Jangan ceritakan siapapun, kumohon..”  pinta Amber.  Luna kemudian mengerling padanya, ide jahilnya kumat.

“Kalau ku ceritakan bagaimana?  Ini kan seru, apalagi kalau kutambahi bumbu-bumbu supaya terlihat lebih keren?”  tawar Luna, dia berjalan mendekati Amber dan menyentuh pundaknya.

“Tidak mau!  Kau mau imejku hancur di depan anak-anak?  Apalagi kalau kau yang menyebarkan, bisa-bisa satu negeri yang tahu!”  seru Amber sambil loncat, kini berdiri di depan Luna.  Luna sampai terjungkang ke belakang karenanya.

“Aduh Amber!”  gerutu Luna, sambil memegangi pantatnya yang sakit gara-gara terjungkang.

“Habisnya kau sih..”

“Iya iya, aku Cuma bercanda tahu!  Aku mengerti perasaanmu, tapi apa salahnya mencoba sih?  Siapa tahu ayahmu menyiapkan sebuah hadiah besar, mobil Alphard yang kau impi-impikan atau –apa salahnya mencoba sih?”  omel Luna, sikap ibu-ibunya datang, aduh punya teman bergolongan darah AB itu repot.  Mereka punya berapa kepribadian sih?  –omel Amber dalam hati, tapi di satu sisi dia mengagumi kata-kata bijak Luna dan menyetujuinya meski enggan sih.

“Iya tapi kalau–“

“Kau tidak akan tahu kalau belum mencoba!”

“Tapi ini tidak masuk akal tahu!”

“Tidak masuk akal bagaimana?  Kau kan hanya berubah jadi laki-laki demi kakek itu, mungkin saja dia ingin punya cucu laki-laki tapi tidak kesampaian!”

“Maki tidak masuk akal tahu!”

“Ah –yang penting dicoba dulu!  Atau kau mau aku menyebarkan hal ini ke anak-anak?”  Luna mulai mengancam, dan Amber cuma menelan ludahnya sendiri.  Ancaman Luna kini terdengar horor dibanding ancama-ancamannya yang dulu.  Martabatnya bisa hancur kalau orang lain tahu!

“I –iya deh, tapi jangan kasih tahu siapa-siapa!  Termasuk pacarmu itu!”  setelah lama berpikir dan Luna akhirnya keluar dari toilet karena mulas, Amber memutuskan.

“Ahhh –baiklah Amber sayang!  Tapi kalau Jonghyun oppa aku tidak tahu ya, kau tahu kan aku cepat luluh kalau di dekatnya?”  Luna terlihat gembira (Amber sebenarnya bingung, kenapa justru Luna yang kesenangan) dan memulai aksi Drama Queennya.

“Yah!”

-


Hari ini hari keberangkatan Amber ke rumah kakek yang ditemui ayahnya beberapa waktu lalu itu.  Dandanan Amber tidak ada bedanya sih dengan yang dulu-dulu, tetap rambut pendek dan pakaian yang boyish, tapi ada yang berbeda dengan rambutnya.  Kemarin yang berwarna putih sekarang lebih gelap.  Tas ransel besarnya sudah siap di punggungny, ayahnya sedang mengeluarkan mobil dari garasi dan siap untuk dipanaskan.  Sementara itu Luna baru keluar dari rumah Amber bersama ibunya Amber dan Jonghyun.  Wajahnya begitu cerah, ceria, bahagia, senang, gembira, tidak seperti Amber yang suram, mendung.  Pantas saja, setelah ayahnya Amber tahu kalau Luna berhasil membujuk (sebenarnya mengancam) Amber untuk menuruti ultimatumnya, ayahnya Amber memberikan Luna banyak sekali uang jajan.  Hadiah karena berhasil membujuk anaknya –katanya sih begitu.  Dan sukses membuat Amber gondok setengah mati, itu berarti dia dijadikan barang taruhan buat Luna kan?  Huh!  Sahabat bagai kepompong seperti apa itu?

“Amber sayang..jangan murung dong.”  Ibunya, tante Yoona menyapa Amber, Amber mendongak melihat ibunya yang sedang tersenyum bak malaikat.  Mirip dengan pemain Yoonhee dan Hana di serial Love Rain kesukaan ayahnya.  Oh –Amber mendadak luluh, kadang dia bersyukur (kadang loh ya) punya ibu seperti Yoona.  Cantik, manis, punya senyum yang menawan, tapi gokil, bersama suaminya, Yoona sering sekali mengerjai Amber.  Uh –horor sekali.

“Gimana tidak murung, sih?”  gerutu Amber.  Yoona tertawa kecil sementara tangannya mengelus kepala anak perempuan satu-satunya itu.  “Ayahmu pasti dapat karma kok, tenang saja,”  Kata ibunya lagi.  Amber sampai tidak percaya dengan ucapannya itu, kini ibunya memihak padanya?

“Tapi karena ayahmu tampan, Tuhan pasti tidak tega.”

Dan muka Amber pun kembali mendung.

“Hoy saudara kembarku!”  panggil Jonghyun, dia menarik bahu Amber dan memeluknya dengan tangan kirinya, raja skinship –pikir Amber.

“Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi ku harap kau bahagia disana.”

“Ngomong apa sih?”  gerutu Amber, dia menonjok perut keras Jonghyun tapi sedikit tertawa.

“Nah –Amber sayang, baik-baik ya.  Aku akan merindukanmu..”  Luna ikut nimbrung dengan ikut masuk ke pelukan tangan kanan Jonghyun.  Ya Tuhan, sekarang Jonghyun terlihat seperti pemuda yang punya pacar laki-laki dan perempuan sekaligus.  Dari dalam mobil Donghae melihat mereka lewat spion dengan ekspresi mau muntah.

Meski Amber sedang gondok dengan Luna, tapi kalau Luna bilang begitu pasti Amber juga akan merindukan Luna.  Maklum sih, mereka tidak terpisahkan sejak jaman ingus mereka tidak mau berhenti keluar.

“Aku juga.”  Jawab Amber.  Mereka kemudian melepaskan pelukannya, dan Amber memberikan pelukan terakhir untuk Luna dan ibunya, setelah itu bergegas menuju kursi penumpang di samping Donghae.  Donghae akan mengantar Amber ke rumah kakek yang akan menjadi kakek ‘sementara’ buat Amber.

“Hati-hati di jalan sayang!”  ibunya melambai lebih dulu ketika mobil yang dikemudikan Donghae mulai berjalan.

“Aku akan merindukanmu Amber!”  high pitch Luna melengking merusak suasana tenang pagi para tetangga.

“Kembaran hidung besarku cepat pulang ya!  Dan bawakan aku ipar!”  suara Jonghyun pun tidak kalah melengking dari Luna.  Amber bisa lihat dari spion kalau mereka berdua sedang dihajar oleh Yoona.  Ibuku beringas –pikir Amber.  Tapi Amber tidak yakin dengan kata-kata terakhir Jonghyun, bawakan ipar?  Ah –mungkin dia salah dengar.  Dia lupa mengorek telinganya tadi malam.
Ah –sepertinya petualangannya akan segera dimulai.

TBC

A/N: Huahahaha!!  FF dengan gaya baru ya?  Lucu ga?  Aku masih coba-coba buat ff dengan gaya bahasa kayak gini, cocok ga?  Rame ga?  Kalau rame aku lanjutin nih hahaha.  Tapi kayaknya untuk part 2nya bakal laaaaaammmaaaaaa sekali.  Soalnya aku mau Hiatus without any reasonable things.  Hohohohohoho~  yaudah, nikmatin ya~  maaf juga karena disini semua castnya aku nistakan ._.v and sorry for any typo, I’ve no edited yet actually hahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar