Cast/pairing : Key/Amber
Genre : Comdy/Friendship/Family/Romance
Rated : T
Length: Multichap 2737 words
Summary : Amber itu tomboy dan ia dipaksa oleh ayahnya
untuk berperan sebagai laki-laki untuk menyenangkan hati seorang kakek yang
sama sekali belum ia kenal.
Disclaimer: No one is mine, they’re belong to their self.
“Kau kenapa, sih?” tanya Luna, tangan kirinya
ia gunakan untuk menyingkirkan bantal yang menutupi wajah Amber, dan tangan
satunya menaruh majalahnya di sebuah bufet kecil di sampingnya.
Amber tidak merespon dan hanya memejamkan
matanya, gurat frustasi terpampang jelas di wajahnya. Duh, sekali lagi Amber ingin berteriak
rasanya. Menggapai-gapaikan kedua
tangannya mencari bantal yang tadi ia gunakan untuk meredam suaranya, namun
Luna sudah bertindak, ia menjauhkan bantal tersebut dengan kedua tangannya yang
ia sembunyikan di balik punggungnya. Sambil tertawa kecil melihat Amber yang
terlihat semakin frustasi karena tidak mendapatkan bantal yang ia inginkan.
“Gah! Bantalnya Luna!” seru Amber, ia
mendudukan badannya dengan wajah kacau dan kedua mata yang melotot karena
kesal. Luna terkikik melihat kelakuan
sahabatnya itu, jarang sekali melihat Amber yang terlihat begitu frustasi
seperti ini. Amber merupakan gadis yang
cukup tangguh, bisa meredam emosinya dan bertingkah seolah tidak ada masalah
–walaupun malah jelas terlihat seperti ketidak pedulian. Namun tetap saja Luna kagum dengan Amber, ia
berasumsi bisa jadi Amber seperti ini karena sikapnya yang seperti laki-laki
itu. Rambut yang dipotong menyerupai
model rambut laki-laki dengan dicat highlight,
juga isi lemari yang keseluruhan berisi pakaian laki-laki. Tidak jarang orang lain salah mengira Amber
sebagai anak laki-laki.
“Bantalnya Lunaaaa!!” seru Amber lagi, ia
menoleh ke kanan dan kiri Luna mencari bantal yang di sembunyikan Luna. Kemudian mencoba meraihnya dengan kedua
tangannya.
“Tidak mau! Ceritakan dulu kau kenapa!” balas
Luna, ia berkelit dengan berdiri dari duduknya dan berlari menuju ranjangnya.
Duduk di sana sambil memeluk bantal yang diinginkan Amber, dan menatap Amber
lurus dari tempatnya.
“Katakan padaku kenapa kau bilang kau kabur
dari rumahmu dan malah kesini? Dan jelaskan apa alasanmu seperti itu?” dengan
penuh penekanan Luna bertanya lagi, tanpa sengaja malah menakuti Amber dengan
seringaian Luna.
Amber memutuskan untuk terlihat tidak peduli
dengan mengalihkan pandangannya, memperhatikan jendela kamar Luna yang
menghadap bagian timur gunung belakang sekolah mereka. Ah –segar sekali kalau bisa kabur kesana,
bukannya malah kesini! –Amber meruntuk
dalam hati sambil melirik Luna yang masih menunggunya untuk cerita. Astaga!
Bukannya apa-apa, tapi..malunya itu loh!
Akan ditertawai berapa jam kalau ia menceritakan semuanya pada
Luna? Belum lagi Luna yang ratu gosip,
bisa jadi cerita Amber ini malah akan berkembang pesat di seantero sekolah
kemudian merembet ke sekolah-sekolah lain (tentu saja karena koneksi Luna
sebagai Ratu Gosip tersebar luas), perlahan-lahan menyebar ke satu kota dan
akhirnya seluruh negeri akan tahu mengenai hal ini! Gaaaahhhh!!
Amber ingin loncat dari jendela rasanya..tunggu..Loncat?! oh –astaga, sepertinya keputusannya lari ke
rumah Luna tidak sepenuhnya salah.
“Woy!
Ya! Kau –apa yang kau
lakukan?!” Luna bergegas loncat berdiri
dari tempat tidurnya dan menerkam Amber yang sudah meletakan kaki kirinya di atas
bingkai jendela dan siap untuk loncat.
Keduanya terjatuh di lantai kamar Luna (yang untungnya dilapisi karpet
tebal, saking tebalnya mereka bisa tenggelam ke dalam karpetnya itu)
dengan Amber sebagai korban pertama yang mencium lantai.
“Kau kenapa sih?! Gila!”
Luna mengumpat, bukannya khawatir dengan keadaan Amber kalau jatuh dari
kamarnya sih, mending bagi Luna kalau Amber langsung mati di tempat, –Luna mau
saja sih menanggung biaya pemakaman Amber, tapi kalau Amber musti dirawat ini
itu karena patah tulang atau hilang ingatan atau koma bagaimana? Duh –siapa yang mau sih?
“Siapa yang mau bunuh diri, tolol!” Amber menjitak Luna karena gemas, si Ratu
Gosip ini enak sekali mengganggu
rencanannya.
“Habis apalagi?
Kau ingin aku masuk penjara karena dikira sudah mendorongmu?! Kalau itu sampai terjadi, aku memilih cara
yang lebih keren untuk membunuhmu. Lebih
baik ku mutilasi –eh tidak, itu bisa mengotori tanganku. Lebih baik aku memberi merkuri dalam jus
buahmu saja!” Luna berbicara ngelantur
sambil melotot, astaga –Amber sampai bergidik karenanya, bukan karena rencana
Luna, tapi karena matanya Luna yang horor sekali!
“Hoy!”
“Eh!
Ganggu nih!” Amber memilih untuk
berdiri dan mengurungkan niatnya untuk loncat menuju gunung belakang sekolah,
bisa-bisa dia diduga hilang karena dimakan oleh penunggu hutan. Apalagi kalau Luna yang bicara –ugh!
“Heh, siapa yang lari-lari sampai ngos-ngosan
terus buat rusuh disini?!” Luna
lagi-lagi melotot pada Amber. Amber yang
sudah setengah berdiri dan setengah jongkok menghentikan niatnya, melihat pada
Luna kemudian mengangguk membenarkan.
Benar juga, kan yang punya rumah dia –pikir Amber.
Lagipula; Amber berpikir lagi –astaga! Bisa-bisanya aku berpikir? –Amber sendiri yang menganggu pikiran
briliannya. Eh, ku lanjutkan,
lagipula..untuk apa repot-repot loncat dari kamar Luna untuk pergi ke gunung
belakang sekolah? Pamit baik-baik pada
Luna kan gampang? Ya Tuhan, Amber
menepuk jidatnya sendiri. Bodoh sekali?!
“Heh, bulan memanggilmu tahu!” Luna menarik tangan Amber yang terkulai di
samping kanan-kiri badannya menuju sofa yang tadi ditempati Amber untuk
berteriak.
“Sekarang ceritakan padaku.”
Amber memandang Luna dengan wajah tidak tahu
apa-apa, pandangan matanya kosong.
Pikirannya masih berkutat pada kenapa dia harus repot-repot loncat dari
kamar Luna untuk pergi ke gunung belakang sekolah. Aduh Amber!!
“Kupanggil Cheondung oppa bisa kujamin kau akan
kejang-kejang sekarang Amber!” Luna
mengancam dengan ancaman andalannya.
Semua orang di sekolah tahu kalau Amber itu dekat dengan keluarga Luna
bukan karena rumah mereka yang berdekatan, tapi karena orangtua Amber dan Luna
adalah sahabat bagai kepompong dari dulu sampai sekarang. Mereka ingin anak-anak mereka bisa ikut
bersahabat sampai tua seperti mereka, padahal mereka tidak tahu kalau Amber
sebenarnya ogah dekat-dekat dengan Luna kalau bukan karena kakaknya yang kece
sekali.
Tapi alasan hinanya itu kini berubah semenjak
tahu ketulusan hati Luna, saat ulang tahun Amber yang ke 17, Luna repot-repot
datang tengah malam ke kamarnya dan menggotongnya dengan gagah ke kebun
belakang rumah Amber dan mengikatnya di pohon kelapa sampai pagi. Keesokan paginya Amber sudah seperti boneka
salju kesambet roh badut dengan wajah pucat pasi dan hidung yang merona merah
datang ke sekolah untuk menghajar Luna.
Tapi Luna dengan mata anak anjing –yang ditularkan oleh pacarnya;
Jonghyun, sambil tersenyum dan menyodorkan sebuah kotak berisi kalung
mengucapkan,”Selamat Ulang Tahun Amber sayang..” oh –demi Tuhan, tidak ada sahabat sebaik Luna
–pikir Amber. Tapi selain itu, Luna juga
tahu alasan kenapa Amber mau berteman dengannya, iya, Luna tahu ide hina Amber
semenjak melihat Amber yang kejang-kejang di kamar mandi setelah makan malam
bersama keluarga Luna dan Amber. Amber
suka pada Cheondung –kakaknya.
“Eh jangan!
Kau apa-apaan sih?” Amber
mendadak sadar dan langsung memeluk Luna.
“Aku sayang Park Luna!”
Luna ingin muntah, tapi mengingat Amber yang
sedang frustasi dan ia sedang menunggu penjelasan Amber, ia menahan
keinginannya tersebut.
“Sekarang mau cerita?” Luna menurukan suaranya, maklum, ia hampir
kelepasan mengeluarkan high pitch dan power pitchnya itu. Amber mengangguk ragu, kemudian melepaskan
pelukannya perlahan. Dia menunduk, ingin
membuat suasana menjadi serius dan mendebarkan.
“Hahhh..”
“Hahhh..?”
“Iya, hahhh..”
“Kenapa hahhhh..?”
“Bodoh!
Aku sedang menghela nafas tahu!”
Amber ingin menjitak Luna lagi tapi Luna sudah keburu melindungi
kepalanya dengan bantal hijau-bulat-gendutnya.
“I..iya iya.
Santai Amber, santai.” Luna ngeri
juga lama-lama bersama Amber, kadang machonya lupa ia sembunyikan. Suka keluar begitu saja, horor. Keduanya hening. Hening.
Sampai Luna sadar kalau ada suara desisan di
sekitar mereka. Luna menoleh pada Amber
yang mukanya sudah hampir ungu.
“Gila! Kau kentut?!” Luna melempar bantal hijau-bulat-gendutnya
tepat di wajah Amber. Amber yang mukanya
sudah normal hanya nyengir, hidungnya jadi makin lebar. Luna sempat teringat dengan hidung pacarnya
sesaat tadi.
“Maaf, terbawa suasana Luna sayang.”
Dan kali ini Luna benar-benar menunjukan
ekspresi ingin muntah di hadapan Amber, siapa sih yang tidak ingin muntah kalau
ada teman sesama jenis habis kentut kemudian nyengir dan memanggil kita
sayang? Luna benar-benar setuju, 1000
kali setuju!
“Kalau kebelet bilang! Dasar bodoh!”
umpat Luna, ia berdiri menjauh dari Amber dan memilih untuk tiduran di
kasurnya, ogah dekat-dekat dengan Amber.
“Hehehehe.. kelepasan.” Amber nyengir, setelah itu mengubah posisi
duduknya agar lebih nyaman. Memeluk
bantal hijau-bulat-gendut Luna, ah –aku suka bantal ini! –pikir Amber.
Dia menatap lurus Luna, begitu juga dengan Luna. “Sekarang cerita.”
Amber mengangguk, ia menghela nafas lagi
sebelum berbicara. Masih ragu-ragu
dengan keputusannya berbicara pada Luna mengenai masalah yang dialami olehnya
karena ayahnya Amber.
“Ayah..”
Luna tampak mulai tertarik, dia mencondongkan
badannya ke depan. Entah darimana,
boneke pemberian Jonghyun sudah ada di pelukan Luna sekarang. Ngomong-ngomong tentang boneka, kamar Luna
dulu tidak seperti ini bentuknya. Manis
seperti putri dengan boneka-boneka yang begitu banyak. Tentu saja setelah ia resmi menjadi pacar
Jonghyun, Luna yang sporty berubah menjadi princess. Jonghyun selalu memberikan Luna hadiah dan
boneka setiap ada peringatan; peringatan hari jadi yang ke satu bulan,
peringatan hari jadi yang ke 2 bulan, peringatan kencan pertama, peringatan
hari pemberian boneka pertama, peringatan hari masak bersama, peringatan hari
bermain di taman bermain bersama, peringatan duet bersama, peringatan makan
malam keluarga pertama, dan masih banyak peringatan-peringatan lainnya yang selalu mereka rayakan. Norak –kalau Amber bilang, tapi Luna tidak
peduli dengan Amber. Dia bilang, –Amber
hanya iri karena dia jomblo. Amber sih
terlihat cuek, tapi kalau tahu, Amber pasti bilang oh –nusuk sekali Park Luna!
“Ayah..menyuruhku ke rumah seseorang..tapi
orang itu bukanlah teman ayah atau siapa-siapa.
Dia hanya seorang kakek yang bertemu dengan ayah di jalan. Menuruti keinginan si Kakek itu, ayah
memaksaku..” Amber menghela nafas, ia
bisa merasakan bulu kuduknya meremang saking gugupnya.
“Si Kakek itu ingin aku menjadi..eh –menyamar
menjadi laki-laki, dan ayah menyetujuinya.
Makanya aku–“
“Amber, kau tahu apa yang kupikirkan?” Luna mendadak bolot, dia memandang kosong ke
lantai kamarnya, tidak peduli kalau ocehan Amber belum selesai. Amber meliriknya kesal, pasti dia mau ketawa,
kan? –pikir Amber.
“Ya ya ya, tertawa sepuasmu sana!” Amber tampak begitu frustasi dan mengubah
posisinya menjadi tengkurap. Tapi belum
ada tanda-tanda kalau Luna akan tertawa, lalu Amber memberanikan diri untuk
melihat Luna. Luna masih duduk termanggu
di kasurnya.
“Luna?”
“Ya?”
“Apa yang kau pikirkan?”
“Aku?
Aku mau ketawa! HAHAHAHAHAHA
AMBER KAU KEREN! HAHAHAHAHA!!” Luna tertawa dengan bringasnya, sambil
memukul-mukulkan boneka yang tadi di peluknya ke kasur. Tanpa sadar suaranya meninggi dengan drastis,
membuat Amber yang tadi ingin membekap mulut Luna, ciut.
“Ya ya, aku sudah tahu kau pasti akan
menertawaiku, kan? Dasar!” gerutu Amber, dia sudah benar-benar
kehilangan moodnya sekarang.
“Bukan..bukan..Hahhahah..aduh –maksudku bukan
begitu, hahahahhhh..maksudku kau keren Amber!
Kau keren!” sambil masih tertawa
Luna mejelaskan dan mengacungkan 2 jempolnya untuk Amber. Amber tidak peduli, itu hanya akal-akalan
Luna saja, membuat perasaan Amber melambung, istilahnya sih menyenangkan hati
Amber sih.
“Serius Amber sayang.. Kau keren sekali! Eh –yang keren maksudku ayahmu sih. Om Donghae kesambet apa sih? Keren sekali, menyuruhmu jadi laki-laki? Tuhan.. apa jangan-jangan sebenarnya Om
Donghae sedang menjodohkanmu dengan cucu si Kakek itu?” ucapan Luna kini sudah terdengar ngelantur
menurut Amber, yang benar saja, dijodohkan?
Astaga! Amber tahu tipe ayahnya
untuk jadi suami Amber itu horor, laki-laki dengan tubuh tinggi besar, otot
disana sini, juga bulu dada yang lebat.
Dulu saat Luna dan Jonghyun; pacarnya datang ke rumah Amber dan mereka
bertemu dengan ayahnya Amber, ayahnya sempat tertarik dengan Jonghyun,
menurutnya Jonghyun sudah ‘hampir’ memenuhi standar. Hampir karena tinggi badannya Jonghyun tidak
sampai dengan kriterianya. Dalam hati
Amber bersyukur, dia ogah punya pacar seperti Jonghyun. Lebih baik seperti Ok Taecyeon atau Lee Joon
–temannya kakaknya Luna.
“Dijodohkan?
Bicaramu sudah kemana-mana Luna!”
“Aku serius!
Siapa tahu ini taktik ayahmu, yah –mungkin saja laki-laki yang
dijodohkan denganmu tetap tinggi-besar-berotot-dan berbulu dada tapi dia
pemalu..” kata Luna sambil memutar bola
matanya, tapi diam-diam Luna mati-matian menahan tawanya.
“Yaiks!”
Amber mau muntah, sangat mau muntah.
Tinggi-besar-berotot-dan berbulu dada tapi pemalu, sangat menjijikan. Sangat sangat.
“Jangan ngomong hal tolol bodoh!” umpat Amber, dan Luna hanya tertawa. Tapi otak briliannya keburu bekerja sebelum
tawanya itu berhenti. Dia melihat Amber
yang masih kesal dan tengkurap di sofanya dengan serius.
“Jadi kau kabur kesini karena itu?” tanya Luna.
Amber menanggapinya dengan mendesah, tapi percuma, Luna tidak mungkin
dengar. Amber mengangguk-anggukan
kepalanya. Membuatnya terlihat seperti
ulat bulu yang sedang berjalan di daun, kepalanya saja yang bergerak.
“Jangan ceritakan siapapun, kumohon..” pinta Amber.
Luna kemudian mengerling padanya, ide jahilnya kumat.
“Kalau ku ceritakan bagaimana? Ini kan seru, apalagi kalau kutambahi
bumbu-bumbu supaya terlihat lebih keren?”
tawar Luna, dia berjalan mendekati Amber dan menyentuh pundaknya.
“Tidak mau!
Kau mau imejku hancur di depan anak-anak? Apalagi kalau kau yang menyebarkan, bisa-bisa
satu negeri yang tahu!” seru Amber sambil
loncat, kini berdiri di depan Luna. Luna
sampai terjungkang ke belakang karenanya.
“Aduh Amber!”
gerutu Luna, sambil memegangi pantatnya yang sakit gara-gara
terjungkang.
“Habisnya kau sih..”
“Iya iya, aku Cuma bercanda tahu! Aku mengerti perasaanmu, tapi apa salahnya
mencoba sih? Siapa tahu ayahmu
menyiapkan sebuah hadiah besar, mobil Alphard yang kau impi-impikan atau –apa
salahnya mencoba sih?” omel Luna, sikap
ibu-ibunya datang, aduh punya teman bergolongan darah AB itu repot. Mereka punya berapa kepribadian sih? –omel Amber dalam hati, tapi di satu sisi dia
mengagumi kata-kata bijak Luna dan menyetujuinya meski enggan sih.
“Iya tapi kalau–“
“Kau tidak akan tahu kalau belum mencoba!”
“Tapi ini tidak masuk akal tahu!”
“Tidak masuk akal bagaimana? Kau kan hanya berubah jadi laki-laki demi
kakek itu, mungkin saja dia ingin punya cucu laki-laki tapi tidak kesampaian!”
“Maki tidak masuk akal tahu!”
“Ah –yang penting dicoba dulu! Atau kau mau aku menyebarkan hal ini ke
anak-anak?” Luna mulai mengancam, dan
Amber cuma menelan ludahnya sendiri.
Ancaman Luna kini terdengar horor dibanding ancama-ancamannya yang
dulu. Martabatnya bisa hancur kalau
orang lain tahu!
“I –iya deh, tapi jangan kasih tahu
siapa-siapa! Termasuk pacarmu itu!” setelah lama berpikir dan Luna akhirnya
keluar dari toilet karena mulas, Amber memutuskan.
“Ahhh –baiklah Amber sayang! Tapi kalau Jonghyun oppa aku tidak tahu ya,
kau tahu kan aku cepat luluh kalau di dekatnya?” Luna terlihat gembira (Amber sebenarnya
bingung, kenapa justru Luna yang kesenangan) dan memulai aksi Drama Queennya.
“Yah!”
-
Hari ini hari keberangkatan Amber ke rumah
kakek yang ditemui ayahnya beberapa waktu lalu itu. Dandanan Amber tidak ada bedanya sih dengan
yang dulu-dulu, tetap rambut pendek dan pakaian yang boyish, tapi ada yang
berbeda dengan rambutnya. Kemarin yang
berwarna putih sekarang lebih gelap. Tas
ransel besarnya sudah siap di punggungny, ayahnya sedang mengeluarkan mobil
dari garasi dan siap untuk dipanaskan.
Sementara itu Luna baru keluar dari rumah Amber bersama ibunya Amber dan
Jonghyun. Wajahnya begitu cerah, ceria,
bahagia, senang, gembira, tidak seperti Amber yang suram, mendung. Pantas saja, setelah ayahnya Amber tahu kalau
Luna berhasil membujuk (sebenarnya mengancam) Amber untuk menuruti
ultimatumnya, ayahnya Amber memberikan Luna banyak sekali uang jajan. Hadiah karena berhasil membujuk anaknya
–katanya sih begitu. Dan sukses membuat
Amber gondok setengah mati, itu berarti dia dijadikan barang taruhan buat Luna
kan? Huh! Sahabat bagai kepompong seperti apa itu?
“Amber sayang..jangan murung dong.” Ibunya, tante Yoona menyapa Amber, Amber
mendongak melihat ibunya yang sedang tersenyum bak malaikat. Mirip dengan pemain Yoonhee dan Hana di
serial Love Rain kesukaan ayahnya. Oh
–Amber mendadak luluh, kadang dia bersyukur (kadang loh ya) punya ibu seperti
Yoona. Cantik, manis, punya senyum yang
menawan, tapi gokil, bersama suaminya, Yoona sering sekali mengerjai
Amber. Uh –horor sekali.
“Gimana tidak murung, sih?” gerutu Amber.
Yoona tertawa kecil sementara tangannya mengelus kepala anak perempuan
satu-satunya itu. “Ayahmu pasti dapat
karma kok, tenang saja,” Kata ibunya
lagi. Amber sampai tidak percaya dengan
ucapannya itu, kini ibunya memihak padanya?
“Tapi karena ayahmu tampan, Tuhan pasti tidak
tega.”
Dan muka Amber pun kembali mendung.
“Hoy saudara kembarku!” panggil Jonghyun, dia menarik bahu Amber dan
memeluknya dengan tangan kirinya, raja skinship –pikir Amber.
“Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi ku harap
kau bahagia disana.”
“Ngomong apa sih?” gerutu Amber, dia menonjok perut keras
Jonghyun tapi sedikit tertawa.
“Nah –Amber sayang, baik-baik ya. Aku akan merindukanmu..” Luna ikut nimbrung dengan ikut masuk ke
pelukan tangan kanan Jonghyun. Ya Tuhan,
sekarang Jonghyun terlihat seperti pemuda yang punya pacar laki-laki dan
perempuan sekaligus. Dari dalam mobil
Donghae melihat mereka lewat spion dengan ekspresi mau muntah.
Meski Amber sedang gondok dengan Luna, tapi
kalau Luna bilang begitu pasti Amber juga akan merindukan Luna. Maklum sih, mereka tidak terpisahkan sejak
jaman ingus mereka tidak mau berhenti keluar.
“Aku juga.”
Jawab Amber. Mereka kemudian
melepaskan pelukannya, dan Amber memberikan pelukan terakhir untuk Luna dan
ibunya, setelah itu bergegas menuju kursi penumpang di samping Donghae. Donghae akan mengantar Amber ke rumah kakek
yang akan menjadi kakek ‘sementara’ buat Amber.
“Hati-hati di jalan sayang!” ibunya melambai lebih dulu ketika mobil yang
dikemudikan Donghae mulai berjalan.
“Aku akan merindukanmu Amber!” high pitch Luna melengking merusak suasana
tenang pagi para tetangga.
“Kembaran hidung besarku cepat pulang ya! Dan bawakan aku ipar!” suara Jonghyun pun tidak kalah melengking
dari Luna. Amber bisa lihat dari spion
kalau mereka berdua sedang dihajar oleh Yoona.
Ibuku beringas –pikir Amber. Tapi
Amber tidak yakin dengan kata-kata terakhir Jonghyun, bawakan ipar? Ah –mungkin dia salah dengar. Dia lupa mengorek telinganya tadi malam.
Ah –sepertinya petualangannya akan segera
dimulai.
TBC
A/N: Huahahaha!! FF dengan gaya baru ya? Lucu ga?
Aku masih coba-coba buat ff dengan gaya bahasa kayak gini, cocok
ga? Rame ga? Kalau rame aku lanjutin nih hahaha. Tapi kayaknya untuk part 2nya bakal
laaaaaammmaaaaaa sekali. Soalnya aku mau
Hiatus without any reasonable things.
Hohohohohoho~ yaudah, nikmatin
ya~ maaf juga karena disini semua
castnya aku nistakan ._.v and sorry for any typo, I’ve no edited yet actually
hahaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar