Kamis, 26 Juli 2012

FANFICTION: DONGSAENG-AH, SARANGHAE!


Cast : Kai (EXO)
YOU

Genre : Friendship/Romance

Rated : T

Summary : “ –Dia saja terlihat seperti menghindar dariku, aku gila!”

Disclaimer : No one mine, they own their self ^^ 

Sekali lagi kau hanya bisa mengulum senyummu melihat kelakuan anak kecil itu di depanmu.  Kau sedang duduk di depan kelasmu, saat ini sudah tidak ada lagi proses belajar di tingkat kelas sepertimu.  Yang ada hanya menyelesaikan administrasi atau sekedar bermain-main bersama teman-teman sekelas untuk menghabiskan waktu dan untuk yang terakhir kali.  Dan kau memilih untuk duduk di depan kelasmu, sekedar membuang rasa bosanmu di kelas.  Kau melirik ke samping kirimu dan menemukan temanmu yang sedang asyik bermain dengan tabletnya.  Ah –kau diacuhkan, kadang memiliki teman yang suka dengan game itu menjengkelkan juga.  Kau jadi lebih sering melamun walaupun kadang temanmu itu mengajakmu berbicara sambil memainkan gamenya dengan berteriak.  Tentu kau bisa memakluminya, sejak mempunyai tablet, temanmu itu sedikit lebih suka untuk berteriak.

Lalu kau berjengit dan menahan senyummu yang ingin melebar, anak itu terlihat lagi di sudut matamu.  Tentu saja diam-diam kau melakukannya, di sekolah mana mungkin kau berani untuk terang-terangan sedang mengagumi anak itu.  Anak itu sedang bermain dengan teman-temannya di tangga, tertawa lebar saja dia ketika tidak sengaja tersandung salah satu anak tangga.  Kau yang melihatnya terlonjak sedikit menahan dirimu tapi berpura-pura sedang menertawainya.

“Kenapa?” ups, rupanya temanmu menyadarinya.

Kau menggeleng sambil berpura-pura sedang tertawa geli,”Junior itu tersandung di tangga,”

Temanmu tidak merespon apapun selain bergumam, acuh tak acuh kau melanjutkan lagi.

“Dia bodoh ya?”

Temanmu sepertinya mulai tertarik,”Siapa?”

“Jongin, dia berlari di tangga tanpa memperhatikan langkah kakinya.” Kau terkikik ketika melihat anak yang ia sebut Jongin itu ditertawai teman-temannya.

“Kau memperhatikannya?” tanpa menoleh temanmu bertanya sambil menggerakan tabletnya ke kanan dan ke kiri.  “Oh ayolah, dia tersandung di depan mataku.”

Temanmu tertawa dan kau pun tertawa meski kau tidak mengerti apa yang lucu dari jawabanmu itu.  Tidak mendengar tanggapan lagi dari temanmu, kau memilih untuk berdiri dan masuk ke kelas.  Ah –tiba-tiba sebuah gagasan mencuri perhatianmu.  Sebentar lagi kau akan meninggalkan kelas ini, kau yang berada di kelas 3 sebentar lagi akan resmi menjadi seorang mahasiswa `bukan?  Kau akan melepas teman-temanmu dan kemudian mendapatkan teman-teman baru nantinya.  Oh –astaga, bahkan kau lupa dengan ujian universitas!  Bagaimana kabarnya, ya?  Kau langsung merasa gemetaran dan berdebar-debar saat ini.

“Mau kemana?”  temanmu bertanya dan kau menghentikan langkahmu.  Mengulum senyum –tentu saja tanpa diketahui temanmu yang sedang menggoyangkan tabletnya ke kanan dan kiri.

“Mengambil kamera, tunggu sebentar ya.”  Jawabmu kemudian masuk ke kelas diiringi riuhan kecil dari kelas sebelah.  Berisik sekali –pikirmu seperti itu.  Kau pun segera mengambil kamera kecil milikmu dan membawanya keluar.

“Kau mau kufoto?”  sekedar berbasa-basi, kau menawarkan temanmu untuk difoto.  Temanmu tertegun sejenak tetapi langsung mengiyakan dengan bergaya menaruh kaki kanannya di atas kaki kirinya dan menumpukan kedua tangannya kedepan.

“Tunjukan tabletnya, ya!”  pintanya sebelum kau mengambil fotonya.  Dalam hati kau hanya terkekeh, bisa saja temanmu itu meminta hal seperti itu saat ia sedang tersneyum dan berpose.

Ah!

Kau tertegun ketika melihat hasilnya.  Anak itu; Jongin ada di kameraku! –kau nyaris berseru kegirangan saat mengetahuinya.  Ah –belum saja ia melaksanakan rencananya, ia malah tidak sengaja mengambil foto Jongin.  Pipimu bersemu sekarang.  Kau mengangkat kepalamu untuk melihat dimana kelas Jongin berada.  Pintunya terbuka, tapi sepertinya anak itu sudah masuk ke kelasnya.  Uh –sayang sekali.  Seandainya sedari tadi kau mengambil kameramu..

“Kenapa tidak mengambil fotoku lagi, ayo foto!”  temanmu menyadarkanmu, dan kau memilih untuk duduk di samping kanan temanmu itu.  “Iya, ayo!”

“Foto sekarang, ceritanya aku tidak tahu kalau sedang difoto.  Oke?”
Ah –permintaan lainnya.

“Iya..iya..kau ini.”

“Tapi..sudah 2 kali aku mengambil fotomu, gentian.”  Pintamu sambil menyodorkan kameramu pada temanmu.  “Aih –aku sudah sering mengambil fotomu tahu!”

“Biar saja!”  kau menjulurkan lidahmu kemudian tertawa geli, temanmu juga, tapi tidak menolak untuk mengambil fotomu.  “Lagi!”

“Lagi!”

“Lagi!”                                          

“Hey!  Sudah berapa banyak hah?”  temanmu segera berseru ketika ia sudah mengambil fotomu beberapa kali.  Kau membalasnya dengan tersenyum getir, sambil melihat-lihat hasilnya.  Hasilnya; Jongin sama sekali tidak masuk dalam kameramu lagi.

“Aku pinjam tabletmu!”  kau berseru, tidak memedulikan temanmu yang sekarang malah asyik memakai kameramu untuk memfoto sekeliling.  Teman-teman segerombolan laki-laki kalian yang sedang bermain bola di kelas, segerombolan perempuan yang juga teman-teman kalian yang asik bercengkrama di bawah pohon depan kelas kalian, atau sesekali memfoto junior-junior kalian yang mendapat keuntungan tidak mengikuti proses belajar karena guru-guru yang sudah terlalu lelah membimbing angkatan kalian saat sebelum ujian.

Kau sudah tidak peduli, mood-mu sedang berada di bawah garis normal karena junior yang kau kagumi sama sekali –satu sebenarnya, berada di kameramu.  Kau memainkan tablet temanmu dengan brutal, bersyukur si pemilik sedang asyik dengan kamera milikmu sehingga tidak menyadari perbuatanmu pada tabletnya.

Sial sial sial sial sial!  Dasar anak menyebalkan! –kau mengumpat dalam hati sambil menggerakan jari telunjukmu seirama dengan umpatanmu di atas layar tablet milik temanmu.

Kau mengagumi junior, itu berarti kau menyukai anak berusia di bawahmu.  Dan itu berarti  kau menyukai anak kecil.  As.ta.ga.

“Astaga!”  kau memekik tanpa sadar.

“Apa?”  temanmu bertanya dari jarak yang cukup jauh.

“Tidak apa-apa, aku kalah tadi!”  kau membalasnya, dan tidak sengaja melihat Jongin yang juga melihatmu saat ia keluar dari kelasnya.  Ya Tuhan!

Kau menelan ludahmu dengan susah payah, kamera!  Kau butuh kamera sekarang!  Jongin sedang melanjutkan bermain dengan teman-temannya di tangga sekarang, dan tadi kalian saling melihat!  Ya Tuhan!  Pipimu bersemu sekarang.  Kau melihat ke arah temanmu dengan menyesal, kameramu ada di tangannya..

Sialan!  Jongin sialan! –kau memekik dalam hati.  Saat anak itu berada di kelasnya dan tidak terlihat, kau menenteng kameramu, tapi saat ia berada di luar seperti sekarang, mengetahui dimana kameramu saja kau tidak tahu!  Sialan!

Bagaimana bisa imajinasimu selama ini akan terwujud kalau anak itu saja sekali-sekali berada di kawasan penglihatanmu?  Belum lagi, belum tentu juga Jongin melihatmu.  Dan yang terpenting, kalian berbeda 2 tahun!  Sebentar lagi kau akan meninggalkan sekolah ini, melanjutkan ke universitas.  Memutuskan untuk menunggu selama 3 tahun?  Bodoh sekali!  Memangnya ada yang menjamin kalau Jongin akan masuk universitas yang sama seperti dirimu?  Membuang-buang waktumu saja!

Tolol sekali, dan ketololanmu ini bermula setengah tahun yang lalu.  Ckck –siapa yang berani bertaruh kalau perasaanmu ini cinta sungguhan?  Siapa tahu kau hanya mengagumi ketampanan dan keimutan Jongin –di saat tertentu.  Apalagi kau tahu kalau Jongin hanya menganggapmu sebagai seniornya biasa.  Ah –dia saja terlihat seperti menghindar dariku, aku gila! –kau mengumpat lagi.

“Nih!”  temanmu menyerahkan kameramu dan membuatmu kembali lagi dari pikiranmu.

“Sudah selesai?”  temanmu hanya mengangguk kemudian duduk di sampingmu.  “Aku akan merindukan sekolah ini.”  Lanjut temanmu sebelum meneguk kopi kalengnya.  Kau mengangguk tanda setuju, tapi kemudian mengerutkan keningmu sambil melihat temanmu.

“Apa?  Kenapa?”  tanya temanmu dengan risih.

“Kenapa beli kopi tidak bilang-bilang?!”

“Memangnya butuh dengan izinmu, ya?”

“Tapi aku kan juga mau!”

“Beli saja sendiri.”

“Ah –curang!”  kau melihat temanmu yang meneguk kopi kalengnya dengan mimik sedih yang dibuat-buat.  

“Astaga, aku bersumpah, berapa umurmu, sih?”

Kau membrengut, ”Tidak ada hubungannya.”

“Memang tidak.”  Temanmu menjawab dengan acuh tak acuh.  Astaga.

“Huh!”  kau memutuskan untuk beranjak berdiri dari dudukmu.

“E-eh, mau kemana?”

“Beli kopi!”  jawabmu cuek dan pergi dari sana.  Sebenarnya ada alasan lain dari jawabanmu itu, untuk menuju kantin, kau harus melewati kelas Jongin.  Dan baru beberapa saat tadi kau melihat Jongin masuk ke kelasnya.  Mungkin kau bisa saja melihatnya sedikit saat melewatinya.

“Tidak mau lihat hasil fotoku?”  tanya temanmu sebelum kau benar-benar pergi.  “Nanti saja.”

Huh!  Lagi –mood-mu hancur karena saat melewati kelas Jongin kau tidak melihat bahkan menemukannya di dalam kelasnya.  Kau sudah berpura-pura melongok ke dalam kelasnya sampai-sampai dilihati oleh junior-juniormu karena tingkah itu, tapi kelihatan hidungnya saja tidak.  Dasar bocah!  Kau memutuskan untuk melongok lagi ke dalam kelas Jongin, yah –setidaknya kau bisa menjawab ingin meninggalkan kenangan-kenanganmu selama berada di sekolah ini kalau ditanya oleh juniormu atau temanmu itu.

Saat kau bersiap akan menoleh ke dalam kelas Jongin, baru saja ingin melongok ke dalam kelasnya, anak yang kau tunggu-tunggu keluar dengan sendirinya.  Menabrakmu sisi kiri badanmu sampai sedikit oleng dan membuat kopi kaleng di tanganmu nyaris jatuh.

“Astaga!  Maaf Sunbae!  Aku tidak sengaja, maaf Sunbae..”  Jongin melihatmu dengan pandangan menyesal kemudian membungkuk 2 kali.  Kau hanya ternganga di tempatmu.  A-apa?  –Kau hanya bisa berpikir seperti itu saat melihat Jongin meminta maaf padanya.

“A-apa?”

“Maaf Sunbae, kopimu tidak tumpah, kan?  Aku minta maaf, ya..”  katanya lalu berlalu dari hadapanmu setelah memastikan kau tidak apa-apa.  “Iya!”  kau sedikit berseru saat menjawabnya.  Jongin terlihat menoleh padamu dan tersenyum sopan padamu.  Astaga..

“Sudah lihat hasil fotoku?”  temanmu langsung bertanya ketika kau datang.  Kau menoleh dengan tidak sadar, pikiranmu masih tertuju pada kejadian singkat tadi.  Jongin; yang kau sebut-sebut sebagai bocah sialan itu, bukan hanya melihatmu, tapi juga berbicara bahkan meminta maaf padamu!  Kau ingin saja cepat-cepat pulang dan berteriak hiseris di rumahmu sekarang.

“Kenapa?  Tidak mau lihat?”

"Memangnya ada apa, sih?  Menyuruhku terus.”  kini kau benar-benar sadar menanggapi pertanyaan temanmu itu.

“Aku tidak menyuruhmu.  Kalau tidak mau juga tidak apa-apa, aku bisa menghapusnya.  Mana?  Sini sini!”  elak temanmu,  kemudian berusaha mengambil kameramu yang tergantung di lehermu.  Kau tampak terkejut dan berusaha menghindar dari temanmu.

“E-eh!  Apa sih?  Iya aku lihat!”  katamu sambil menghindar, menyalakan kameramu dan melihat-lihat hasil foto temanmu.

1..2..3..4..5..kau tertegun.  Kau memencet tombol sebelumnya tapi sudah tidak ada.  Hanya 5.  Foto Jongin!  Kau punya foto Jongin sekarang!  Ekspresimu langsung berubah melihat foto-foto itu, senyummu merekah sempurna..Jongin..TUNGGU!

Bagaimana temanmu bisa mendapatkan foto-foto Jongin?  Dan apa alasannya?

“Simpan di file rahasia, jangan sampai ketahuan, ya.”  Temanmu member pesan padamu.  “Ba..bagaimana..?”

“Kau kau sempat bilang dulu..”  temanmu tersenyum jenaka padamu.  Astaga!  Tahu begitu kau tidak akan sembunyi-sembunyi seperti tadi!  Dasar!

Kau melihat ke arah Jongin yang sedang bermain dengan teman-temannya, well, siapa yang tahu 3 tahun kemudian, kan?  Kalau kau mau, kau bisa menunggunya.  Tapi terserahmu, untuk Jongin.  Biar saja dia anak-anak, nanti saat 3 tahun lagi –atau saat kalian –mungkin– bertemu lagi, Jongin sudah besar dan bisa saja lebih dewasa darimu.  Lebih penting lagi, anak itu pasti akan lebih tampan.  Kau tersenyum ketika memperhatikannya. Uh –kau berharap 3 tahun itu cepat berlalu!   Dongsaeng-ah, saranghae!!  --kau memekik dalam hatimu lagi.

END

A/N: Igeo mwogayo?!!  Apa-apaan ini?!  Ya Tuhan -_____-“  Ini Cuma ff lama kok, kepikiran aja kalau Kai itu ditaksir noona hahaha.  Habisnya dia ganteng gitu sih!  Tapi sebenarnya ada ceritaku dikit yang nemplok disitu.  Maklum..sama-sama penyuka brondong. XD well, how’s it?  Jangan kemakan judulnya ya, ga mutu banget soalnya hihihi.  Eh iya, bagi visitor yang muslim, Minal Aidzin ya~  Kan bulan puasa nih, mmaf ya kalau ada kata-kata di dalam semua artikel di blog ini yang nyelekit atau menyinggung atau juga ff yang sama persis dengan kehidupan kalian.  Hihihi~  well, Selamat Berpuasa ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar