Cast : Kai (EXO)
YOU
Genre : Friendship/Romance
Rated : T
Summary : “ –Dia saja terlihat seperti
menghindar dariku, aku gila!”
Disclaimer : No one mine, they own their self ^^
Lalu kau berjengit dan menahan senyummu yang
ingin melebar, anak itu terlihat lagi di sudut matamu. Tentu saja diam-diam kau melakukannya, di
sekolah mana mungkin kau berani untuk terang-terangan sedang mengagumi anak
itu. Anak itu sedang bermain dengan
teman-temannya di tangga, tertawa lebar saja dia ketika tidak sengaja
tersandung salah satu anak tangga. Kau
yang melihatnya terlonjak sedikit menahan dirimu tapi berpura-pura sedang
menertawainya.
“Kenapa?” ups, rupanya temanmu menyadarinya.
Kau menggeleng sambil berpura-pura sedang
tertawa geli,”Junior itu tersandung di
tangga,”
Temanmu tidak merespon apapun selain bergumam,
acuh tak acuh kau melanjutkan lagi.
“Dia bodoh ya?”
Temanmu sepertinya mulai tertarik,”Siapa?”
“Jongin, dia berlari
di tangga tanpa memperhatikan langkah kakinya.” Kau terkikik ketika melihat anak yang ia sebut
Jongin itu ditertawai teman-temannya.
“Kau
memperhatikannya?”
tanpa menoleh temanmu bertanya sambil menggerakan tabletnya ke kanan dan ke
kiri. “Oh ayolah, dia tersandung di depan mataku.”
Temanmu tertawa dan kau pun tertawa meski kau
tidak mengerti apa yang lucu dari jawabanmu itu. Tidak mendengar tanggapan lagi dari temanmu,
kau memilih untuk berdiri dan masuk ke kelas.
Ah –tiba-tiba sebuah gagasan mencuri perhatianmu. Sebentar lagi kau akan meninggalkan kelas
ini, kau yang berada di kelas 3 sebentar lagi akan resmi menjadi seorang
mahasiswa `bukan? Kau akan melepas
teman-temanmu dan kemudian mendapatkan teman-teman baru nantinya. Oh –astaga, bahkan kau lupa dengan ujian
universitas! Bagaimana kabarnya,
ya? Kau langsung merasa gemetaran dan
berdebar-debar saat ini.
“Mau kemana?”
temanmu bertanya dan kau menghentikan langkahmu. Mengulum senyum –tentu saja tanpa diketahui
temanmu yang sedang menggoyangkan tabletnya ke kanan dan kiri.
“Mengambil kamera,
tunggu sebentar ya.” Jawabmu kemudian masuk ke kelas diiringi
riuhan kecil dari kelas sebelah. Berisik
sekali –pikirmu seperti itu. Kau pun
segera mengambil kamera kecil milikmu dan membawanya keluar.
“Kau mau kufoto?”
sekedar berbasa-basi, kau menawarkan temanmu untuk difoto. Temanmu tertegun sejenak tetapi langsung
mengiyakan dengan bergaya menaruh kaki kanannya di atas kaki kirinya dan
menumpukan kedua tangannya kedepan.
“Tunjukan tabletnya,
ya!” pintanya sebelum kau mengambil fotonya. Dalam hati kau hanya terkekeh, bisa saja
temanmu itu meminta hal seperti itu saat ia sedang tersneyum dan berpose.
Ah!
Kau tertegun ketika melihat hasilnya. Anak itu; Jongin ada di kameraku! –kau nyaris
berseru kegirangan saat mengetahuinya.
Ah –belum saja ia melaksanakan rencananya, ia malah tidak sengaja
mengambil foto Jongin. Pipimu bersemu
sekarang. Kau mengangkat kepalamu untuk
melihat dimana kelas Jongin berada.
Pintunya terbuka, tapi sepertinya anak itu sudah masuk ke kelasnya. Uh –sayang sekali. Seandainya sedari tadi kau mengambil
kameramu..
“Kenapa tidak
mengambil fotoku lagi, ayo foto!” temanmu menyadarkanmu, dan kau
memilih untuk duduk di samping kanan temanmu itu. “Iya,
ayo!”
“Foto sekarang,
ceritanya aku tidak tahu kalau sedang difoto.
Oke?”
Ah –permintaan lainnya.
“Iya..iya..kau ini.”
“Tapi..sudah 2 kali
aku mengambil fotomu, gentian.” Pintamu sambil menyodorkan
kameramu pada temanmu. “Aih –aku sudah sering mengambil fotomu
tahu!”
“Biar saja!”
kau menjulurkan lidahmu kemudian tertawa geli, temanmu juga, tapi tidak
menolak untuk mengambil fotomu. “Lagi!”
“Lagi!”
“Lagi!”
“Hey! Sudah berapa banyak hah?”
temanmu segera berseru ketika ia sudah mengambil fotomu beberapa kali. Kau membalasnya dengan tersenyum getir,
sambil melihat-lihat hasilnya. Hasilnya;
Jongin sama sekali tidak masuk dalam kameramu lagi.
“Aku pinjam tabletmu!”
kau berseru, tidak memedulikan temanmu yang sekarang malah asyik memakai
kameramu untuk memfoto sekeliling.
Teman-teman segerombolan laki-laki kalian yang sedang bermain bola di
kelas, segerombolan perempuan yang juga teman-teman kalian yang asik
bercengkrama di bawah pohon depan kelas kalian, atau sesekali memfoto
junior-junior kalian yang mendapat keuntungan tidak mengikuti proses belajar
karena guru-guru yang sudah terlalu lelah membimbing angkatan kalian saat
sebelum ujian.
Kau sudah tidak peduli, mood-mu sedang berada
di bawah garis normal karena junior yang kau kagumi sama sekali –satu sebenarnya,
berada di kameramu. Kau memainkan tablet
temanmu dengan brutal, bersyukur si pemilik sedang asyik dengan kamera milikmu
sehingga tidak menyadari perbuatanmu pada tabletnya.
Sial sial sial sial sial! Dasar anak menyebalkan! –kau mengumpat dalam
hati sambil menggerakan jari telunjukmu seirama dengan umpatanmu di atas layar
tablet milik temanmu.
Kau mengagumi junior, itu berarti kau menyukai
anak berusia di bawahmu. Dan itu
berarti kau menyukai anak kecil. As.ta.ga.
“Astaga!”
kau memekik tanpa sadar.
“Apa?”
temanmu bertanya dari jarak yang cukup jauh.
“Tidak apa-apa, aku
kalah tadi!” kau membalasnya, dan tidak sengaja melihat
Jongin yang juga melihatmu saat ia keluar dari kelasnya. Ya Tuhan!
Kau menelan ludahmu dengan susah payah,
kamera! Kau butuh kamera sekarang! Jongin sedang melanjutkan bermain dengan
teman-temannya di tangga sekarang, dan tadi kalian saling melihat! Ya Tuhan!
Pipimu bersemu sekarang. Kau
melihat ke arah temanmu dengan menyesal, kameramu ada di tangannya..
Sialan!
Jongin sialan! –kau memekik dalam hati.
Saat anak itu berada di kelasnya dan tidak terlihat, kau menenteng
kameramu, tapi saat ia berada di luar seperti sekarang, mengetahui dimana
kameramu saja kau tidak tahu! Sialan!
Bagaimana bisa imajinasimu selama ini akan
terwujud kalau anak itu saja sekali-sekali berada di kawasan
penglihatanmu? Belum lagi, belum tentu
juga Jongin melihatmu. Dan yang
terpenting, kalian berbeda 2 tahun!
Sebentar lagi kau akan meninggalkan sekolah ini, melanjutkan ke
universitas. Memutuskan untuk menunggu
selama 3 tahun? Bodoh sekali! Memangnya ada yang menjamin kalau Jongin akan
masuk universitas yang sama seperti dirimu?
Membuang-buang waktumu saja!
Tolol sekali, dan ketololanmu ini bermula
setengah tahun yang lalu. Ckck –siapa
yang berani bertaruh kalau perasaanmu ini cinta sungguhan? Siapa tahu kau hanya mengagumi ketampanan dan
keimutan Jongin –di saat tertentu.
Apalagi kau tahu kalau Jongin hanya menganggapmu sebagai seniornya biasa. Ah –dia saja terlihat seperti menghindar
dariku, aku gila! –kau mengumpat lagi.
“Nih!”
temanmu menyerahkan kameramu dan membuatmu kembali lagi dari pikiranmu.
“Sudah selesai?”
temanmu hanya mengangguk kemudian duduk di sampingmu. “Aku
akan merindukan sekolah ini.” Lanjut
temanmu sebelum meneguk kopi kalengnya.
Kau mengangguk tanda setuju, tapi kemudian mengerutkan keningmu sambil
melihat temanmu.
“Apa? Kenapa?” tanya
temanmu dengan risih.
“Kenapa beli kopi
tidak bilang-bilang?!”
“Memangnya butuh dengan
izinmu, ya?”
“Tapi aku kan juga
mau!”
“Beli saja sendiri.”
“Ah –curang!”
kau melihat temanmu yang meneguk kopi kalengnya dengan mimik sedih yang
dibuat-buat.
“Astaga, aku bersumpah, berapa umurmu, sih?”
Kau membrengut, ”Tidak ada hubungannya.”
“Memang tidak.”
Temanmu menjawab dengan acuh tak acuh.
Astaga.
“Huh!”
kau memutuskan untuk beranjak berdiri dari dudukmu.
“E-eh, mau kemana?”
“Beli kopi!”
jawabmu cuek dan pergi dari sana.
Sebenarnya ada alasan lain dari jawabanmu itu, untuk menuju kantin, kau
harus melewati kelas Jongin. Dan baru
beberapa saat tadi kau melihat Jongin masuk ke kelasnya. Mungkin kau bisa saja melihatnya sedikit saat
melewatinya.
“Tidak mau lihat hasil
fotoku?” tanya temanmu sebelum kau benar-benar
pergi. “Nanti saja.”
Huh!
Lagi –mood-mu hancur karena saat melewati kelas Jongin kau tidak melihat
bahkan menemukannya di dalam kelasnya.
Kau sudah berpura-pura melongok ke dalam kelasnya sampai-sampai dilihati
oleh junior-juniormu karena tingkah itu, tapi kelihatan hidungnya saja
tidak. Dasar bocah! Kau memutuskan untuk melongok lagi ke dalam
kelas Jongin, yah –setidaknya kau bisa menjawab ingin meninggalkan
kenangan-kenanganmu selama berada di sekolah ini kalau ditanya oleh juniormu
atau temanmu itu.
Saat kau bersiap akan menoleh ke dalam kelas
Jongin, baru saja ingin melongok ke dalam kelasnya, anak yang kau tunggu-tunggu
keluar dengan sendirinya. Menabrakmu
sisi kiri badanmu sampai sedikit oleng dan membuat kopi kaleng di tanganmu
nyaris jatuh.
“Astaga! Maaf Sunbae!
Aku tidak sengaja, maaf Sunbae..” Jongin
melihatmu dengan pandangan menyesal kemudian membungkuk 2 kali. Kau hanya ternganga di tempatmu. A-apa?
–Kau hanya bisa berpikir seperti itu saat melihat Jongin meminta maaf
padanya.
“A-apa?”
“Maaf Sunbae, kopimu
tidak tumpah, kan? Aku minta maaf, ya..”
katanya lalu berlalu dari hadapanmu setelah
memastikan kau tidak apa-apa. “Iya!”
kau sedikit berseru saat menjawabnya.
Jongin terlihat menoleh padamu dan tersenyum sopan padamu. Astaga..
“Sudah lihat hasil
fotoku?” temanmu langsung bertanya ketika kau
datang. Kau menoleh dengan tidak sadar,
pikiranmu masih tertuju pada kejadian singkat tadi. Jongin; yang kau sebut-sebut sebagai bocah
sialan itu, bukan hanya melihatmu, tapi juga berbicara bahkan meminta maaf
padamu! Kau ingin saja cepat-cepat
pulang dan berteriak hiseris di rumahmu sekarang.
“Kenapa? Tidak mau lihat?”
"Memangnya ada apa,
sih? Menyuruhku terus.”
kini kau benar-benar sadar menanggapi pertanyaan temanmu itu.
“Aku tidak menyuruhmu. Kalau tidak mau juga tidak apa-apa, aku bisa
menghapusnya. Mana? Sini sini!” elak
temanmu, kemudian berusaha mengambil
kameramu yang tergantung di lehermu. Kau
tampak terkejut dan berusaha menghindar dari temanmu.
“E-eh! Apa sih?
Iya aku lihat!” katamu sambil menghindar,
menyalakan kameramu dan melihat-lihat hasil foto temanmu.
1..2..3..4..5..kau tertegun. Kau memencet tombol sebelumnya tapi sudah
tidak ada. Hanya 5. Foto Jongin!
Kau punya foto Jongin sekarang!
Ekspresimu langsung berubah melihat foto-foto itu, senyummu merekah
sempurna..Jongin..TUNGGU!
Bagaimana temanmu bisa mendapatkan foto-foto
Jongin? Dan apa alasannya?
“Simpan di file
rahasia, jangan sampai ketahuan, ya.” Temanmu
member pesan padamu. “Ba..bagaimana..?”
“Kau kau sempat bilang
dulu..” temanmu tersenyum jenaka padamu. Astaga!
Tahu begitu kau tidak akan sembunyi-sembunyi seperti tadi! Dasar!
Kau melihat ke arah Jongin yang sedang bermain
dengan teman-temannya, well, siapa yang tahu 3 tahun kemudian, kan? Kalau kau mau, kau bisa menunggunya. Tapi terserahmu, untuk Jongin. Biar saja dia anak-anak, nanti saat 3 tahun
lagi –atau saat kalian –mungkin– bertemu lagi, Jongin sudah besar dan bisa saja
lebih dewasa darimu. Lebih penting lagi,
anak itu pasti akan lebih tampan. Kau
tersenyum ketika memperhatikannya. Uh –kau berharap 3 tahun itu cepat
berlalu! Dongsaeng-ah, saranghae!! --kau memekik dalam hatimu lagi.
END
A/N: Igeo mwogayo?!!
Apa-apaan ini?! Ya Tuhan
-_____-“ Ini Cuma ff lama kok, kepikiran
aja kalau Kai itu ditaksir noona hahaha.
Habisnya dia ganteng gitu sih!
Tapi sebenarnya ada ceritaku dikit yang nemplok disitu. Maklum..sama-sama penyuka brondong. XD
well, how’s it? Jangan kemakan judulnya ya, ga mutu banget soalnya hihihi. Eh iya, bagi visitor
yang muslim, Minal Aidzin ya~ Kan bulan
puasa nih, mmaf ya kalau ada kata-kata di dalam semua artikel di blog ini yang
nyelekit atau menyinggung atau juga ff yang sama persis dengan kehidupan kalian. Hihihi~
well, Selamat Berpuasa ya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar