Jumat, 05 September 2014

COTTONMOUTH, SILKY AND LEATHERY



  • Kim Kibum (SHINee)
  • Kim Jonghyun (SHINee)
  • Lee Eunsook (girl!Jinki SHINee)
PG-15 (of the theme and language)
ps : Sorry, this story contain in Bahasa




Jonghyun dan Kibum tidak pernah tidak bertengkar meski mereka adalah saudara.  Orangtua Kibum bercerai sejak ia berumur 8 tahun, sejak saat itu ia tidak pernah mendengar ibunya bercerita tentang pria lain selain ayahnya.  Dan sejak saat itu ia tidak pernah melihat ibunya menangis.  Ia tinggal bersama ibunya di sebuah apartemen di pusat kota, dan ibunya seorang desainer.  Hingga Kibum berusia 19 tahun, ia tidak pernah mendengar atau melihat ibunya berkencan dengan pria lain.  Namun Kibum tidak pernah bertanya, baginya ada ayah atau tidak, itu sama saja.  Sedangkan Jonghyun, ketika berumur 10 tahun, ibunya meninggal dunia karena kecelakaan.  Keluarganya sangat terpuruk, apalagi ayahnya.  Ayahnya seorang pemusik, kakak perempuannya seorang juru masak di sebuah kedai makan, dan ia hanyalah seorang siswa SD biasa.  Keluarganya nyaris hancur kalau tidak ayahnya bangkit dari keterpurukannya.  Selama keterpurukannya itu, pendapatan keluarga mereka hanya didapat dari penghasilan kakak perempuan Jonghyun.  Namun ketika Jonghyun sudah memasuki SMP, ayahnya perlahan-lahan bangkit.  Ayah Jonghyun dan Ibu Kibum saling memperkenalkan keluarga mereka ketika Kibum berumur 20 dan Jonghyun 21.  Kakak perempuan Jonghyun tengah dalam perjalanan tur memasaknya di Itali saat itu.  Kemudian orangtua mereka menikah, bahkan sebelum orangtua mereka menikah, benih-benih pertengkaran sudah tumbuh dalam diri Jonghyun dan Kibum.
                “Demi Tuhan Kim Kibum!  Bagaimana bisa kau mengotori semua pakaianku?!” jerit Jonghyun di pagi pertama mereka liburan sebagai satu keluarga di suatu lembah.  Ia merangkak keluar dari tendanya sambil menggenggam kaos-kaosnya yang sudah berlumuran lumpur.  Keempat anggota keluarga lainnya langsung menoleh ke arahnya.  Ayahnya sedang memancing bersama Kibum, sedangkan Ibu baru dan kakak perempuannya sedang membakar sesuatu di atas pemanggang.
“Ada apa Jonghyun?” tanya Ibunya.  Tanpa melepaskan tatapannya dari Kibum –yang sekarang berpura-pura tidak tahu, ia mendekat.  “Lihat, baju-bajuku.  Siapa lagi yang berani melakukan ini kecuali anak itu?” tuduhnya sambil menunjuk Kibum.  Ayahnya tampak terganggu dengan keributan yang dibuatnya pagi ini lalu segera beranjak dari kursi lipatnya, kemudian mengampiri anak tengahnya,”Nak.”
“Ayah!  Siapa lagi kalau bukan dia?  Dia memang terlihat tidak menyukaiku ikut dalam liburan ini!”  katanya, jelas sekali terdengar memprovokasi ayahnya agar ikut menyalahkan Kibum.
“Take it easy, Brother.  Aku kira tadi itu tendaku, tanpa sadar aku masuk dan mengotori baju-bajumu.  Sorry.. That’s really an accident.”  Kibum menimpali, dengan wajah tanpa bersalahnya.  Ia menepuk pundak Jonghyun dan ditepis dengan kasar oleh Jonghyun.
“Oh ayolaaahh, kau membawa lebih dari 1 ransel berisi baju.  Jangan hanya karena beberapa bajumu kotor kau merusak liburan kita.” Kakak perempuan mereka menambahkan.  Ia memutar bola matanya dengan malas, menyesal dengan sikap kekanak-kanakan adik laki-lakinya itu.
“Jonghyun, biar Ibu yang mencucinya.” Sahut Ibunya sambil tersenyum, Jonghyun tampak tercengang.  Sudah lama ia tidak melihat wanita tersenyum selembut itu padanya selain ibunya sendiri.  Tanpa sadar ia menganggukan kepalanya dan kembali masuk ke tendanya.  Kibum tersenyum jahil. “That boy, really funny..”
-
                Kalau Eunsook bisa marah, saat itu juga ia akan meledak dan mengamuk.  Tapi itu bukan gayanya sama sekali.  Lee Eunsook merupakan seorang gadis yang lembut, dan ceria.  Tidak akan ada yang percaya kalau dia mengamuk seperti orang kesetanan sekarang.  Keadaannya benar-benar terjepit.  Ia menyesal kenapa tidak mengajak orang tuanya ikut dalam acara ini.  Minho, tunangannya hanya menggenggam tangannya di bawah meja, juga tidak berkomentar.  Ia tahu pacarnya itu sedang menahan emosinya, meski ia sendiri yakin kalau Eunsook tidak akan meledak dan bisa mengatur emosinya, namun omongan orang tuanya kali ini memang benar-benar keterlaluan.
“Kami tahu kau bukan berasal dari keluarga berada, Eunsook.  Tapi bisakah kau memakai pakaian yang lebih pantas lagi?  Atau pakaian terbaikmu hanya itu?” Ibu Minho bahkan mengatakannya sesaat sebelum ia meminum anggurnya, tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan dari Eunsook yang berusaha memotong steaknya.
“Maaf?”
“Pakaianmu Eunsook.  Apa kau tidak malu datang ke hotel mewah seperti ini, dan makan malam bersama kami hanya dengan memakai sweater rajutan seperti itu?” Bahkan Minho hampir tersedak dengan ucapannya itu.  Ibunya tidak pernah mempermasalahkan pakaian yang dikenakan Eunsook sebelumnya, dan tidak diucapkan langsung seperti itu.  “Ibu!”  Tapi genggaman Eunsook menghentikannya.
“Maaf sebelumnya, tapi saya tidak menemukan alasan kenapa saya harus malu.  Ini pakaian yang bisa saya beli sendiri.  Tidak.  Tidak.  Saya tidak akan memakai baju mewah, itu bukan selera saya, Ma’am.  Tapi kalau maksud Tante saya harus memakai dress, saya punya satu di rumah.  Kalau tidak keberatan, bisakah Tante memberitahu saya sebelumnya pakaian jenis apa yang seharusnya Saya kenakan?”  ucap Eunsook tanpa ekspresi.  Kuku-kuku jarinya menusuk-nusuk telapak tangan Minho, dan pacarnya itu hanya bisa menunduk mendengar perang dingin antara orang tua dan tunangannya.
“Eunsook, Sayang, maafkan aku.”  Ucap Minho setelah mematikan mesin mobilnya di depan gang menuju rumah Eunsook.  Dan gadis itu tampak mengerti ada yang harus dibicarakan, ia menoleh ke arah sang kekasih.
“Kau tidak salah, Minho.” Jawabnya lembut, sambil menyelipkan anak rambutnya di balik telinganya.  Tapi justru yang ia lihat Minho menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalau begitu maafkan orang tuaku.  Aku tidak tahu kenapa mereka menjadi seperti itu.  Aku...”  ia belum menyelesaikan ucapannya, namun Eunsook mendahuluinya dengan mengecup pipinya.  “Kalau begitu ingatkan mereka agar tidak seperti itu lagi.”  Eunsook berbisik.  Bagaimana Minho tidak akan semakin jatuh cinta dengan gadis seperti Eunsook?
Itu dulu.  Sebelum mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.  Dan alasan yang melandasi putusnya hubungan mereka adalah perbedaan status.  Entah kapan hal tersebut menjadi masalah besar bagi mereka.  Tepatnya bagi Minho.  Eunsook yang sederhana, Eunsook yang tidak suka kemewahan, Eunsook yang tidak suka keributan justru menjadi masalah bagi Minho.  Mereka mengakhiri hubungan mereka secara baik-baik, dan Eunsook tidak akan pernah menunjukkan rasa sedihnya pada orang lain, termasuk Minho.  Ia hanya tersenyum di pertemuan terakhir mereka, meraih cincin yang diletakkan Minho di atas meja, dan membawanya.  Sama seperti hatinya yang telah ia berikan pada Minho, ia ambil lagi.
-
“Kim Kibum!  Aku bersumpah demi menu makan siangku, kau akan habis kali ini!”  geram Jonghyun ketika melihat isi kotak bekalnya.  Kemudian Jonghyun menggebrak meja di hadapnnya dan berlalu begitu saja dari kantin kantornya.  Taemin hanya terkesiap dan mengintip isi kotak bekal Jonghyun yang tadi ditinggalkan, lalu ia pun tertawa, bagaimana bisa isi kotak bekal Jonghyun yang bisanya dihiasi begitu banyak makanan enak berubah menjadi sandwich isi cacing?
                “Keterlaluan kau Kibum, dari dulu aku membiarkan dirimu berulah dan bersabar dengan segala tingkah bodohmu.  Namun kali ini, kau benar-benar mengajakku perang!”  tanpa sadar ia menendang tong sampah di depan lift sembari menunggu lift berikutnya terbuka.  Namun ketika bunyi keras yang dihasilkan tong sampah, pintu lift terbuka, menampilkan seorang wanita yang terlihat sama terkejutnya dengan Jonghyun.  Wanita itu segera keluar dari lift dan membereskan kekacauan yang tidak sengaja ia sebabkan.
                “Ya Tuhan, kau tidak perlu melakukannya.  Aku yang salah, biar aku saja.”  Jonghyun ikut membungkuk, mencegah wanita itu untuk menyentuh sampah yang berserakan.  Wanita itu ia ajak mundur beberapa langkah ke belakang sebelum ia yang membereskan.  Tapi karena itu, lift yang sudah ia tunggu justru menutup lagi dan wanita yang seharusnya berada di dalam lift itu terkesiap.
“Oh.”
“Astaga, liftnya menutup lagi.  Maafkan aku.”  Sahut Jonghyun saat sadar kalau pintu lift sudah menutup, dan wanita itu hanya mengangguk.  Jonghyun pun hanya tersenyum untuk membalasnya kemudian melanjutkan mengembalikan sampah-sampah itu ke tempatnya.  Dan belum sempat ia mengangkat tubuhnya, sebungkus tisu basah sudah disodorkan di depan wajahnya.  Jonghyun pun mendongak dan melihat kalau wanita itu yang menyerahkannya.  Sambil tersenyum kaku ia pun meraihnya dan mengambil beberapa lembar tisu basah dan mengelapkannya di kedua telapak tangannya.
“Terimakasih.” Ucapnya, namun wanita itu lagi-lagi hanya mengangguk sopan, dan memencet tombol naik di samping pintu lift.  Jonghyun pun memutuskan untuk berdiri di samping wanita itu.  Benaknya mulai mengawang-awang, sepertinya ia belum pernah melihat wanita itu di gedung kantor ini.  Meskipun gedung tempatnya ia bekerja terdiri dari 11 lantai, ia nyaris hafal seluruh karyawan yang berada di setiap lantai berbeda.  Apa wanita ini berada di divisi lain dengannya?  Atau ia merupakan seorang petinggi dalam perusahaan ini?  Tapi penampilannya tidak seperti petinggi-petinggi seperti yang biasa ia lihat.  Penampilan wanita ini begitu sederhana, dengan blazer dan rok celana panjang berwarna senada, serta sepatu berhak 3 senti yang dikenakannya.  Tapi siapa tahu kalau wanita ini benar-benar salah satu petinggi di perusahaan ini?  Dengan pikiran itu membuat Jonghyun gemetar, ya Tuhan, ia telah berbuat konyol di hadapan wanita ini
“Apa kau perlu menatapku seperti itu?”  wanita itu menegurnya.  Dan Jonghyun pun ingin memukul kepalanya saat itu juga.  Menyesali kenapa ia bisa terus berbuat konyol.
“Ma..maafkan aku.”
“Tidak apa-apa.” Wanita itu membalasnya sambil tersenyum ke arahnya.  Jonghyun terpaku ketika melihat senyuman itu, ia seperti pernah melihat senyuman itu di suatu tempat dan suatu waktu.  Dan tanpa sadar Jonghyun kembali menatap wanita itu sampai ketika pintu lift terbuka dan wanita itu mendahuluinya masuk.
“Permisi, apa kau ingin masuk?  Aku sedikit terburu-buru.”  Wanita itu lagi-lagi menegurnya, dan Jonghyun dengan salah tingkah mengikuti wanita itu masuk.
“Ah.  Aku Kim Jonghyun dari bagian marketting.”  Dengan segera Jonghyun memperkenalkan dirinya sambil membungkuk di hadapan wanita itu.  Namun perkiraannya salah ketika wanita itu malah terkekeh.  “Aku tahu, Jonghyun.  Tertulis dengan jelas di kartu pengenalmu.”  Sahut wanita itu sambil menunjuk kartu pengenal yang tergantung di kantung kemejanya.
“Oh?  Astaga.”  Ia pun ikut terkekeh atas kebodohannya, namun ia segera teringat kalau wanita itu belum memberi tahukan namanya.  Dan seperti bisa membaca pikiran Jonghyun, wanita itu menyebutkan namanya.
“Aku Lee Eunsook, dari bagian promosi.  Ah!  Aku sudah sampai.  Senang bertemu denganmu, Jonghyun.”
Dan Jonghyun bersumpah ia tidak akan melupakan wajah itu, senyum itu, dan...nama itu.  Lee Eunsook.
-
                Kim Kibum, meski sudah berusia 23 tahun, namun dalam 23 tahun hidupnya ia belum pernah semarah ini.  Bahkan pernikahan ayahnya yang kedua, yang sebenarnya sangat ia tidak setujui, atau saudara laki-laki tirinya yang begitu menyebalkan, tidak mampu membuat Kibum semarah ini.  Ingin rasanya ia memukul dan mengata-ngatai kedua pria yang tengah berbicara dengan ibunya.  Ia dan ibunya sudah mengelola toko buku ini sejak bertahun-tahun lalu, dan sejak Kibum sudah bisa membaca.  Ayahnya yang mengelola toko ini sebelumnya, dan setelah beliau meninggal, ibunya melanjutkan selagi menjadi desainer.  Dan Kibum, sebagai anak laki-laki satu-satunya merasa begitu bertanggung jawab untuk mencintai serta melanjutkan toko buku milik mendiang ayahnya ini.  Tapi sejak 3 minggu lalu, silih berganti pria-pria berbadan besar datang menemui ibunya dan berbicara serius dengannya.  Suatu kali Kibum menemani ibunya menghadapi pria berbadan besar lainnya, dan ingin rasanya ia berteriak menyuruh pria itu pergi dari toko milik keluarganya.  Seperti hari ini, lagi-lagi pria-pria berbadan besar lainnya datang, dan kali ini ia sendiri yang menghadapi kedua orang itu.
“Sudah saya dan Ibu saya katakan berkali-kali, kami sama sekali tidak berniat untuk menjual toko ini.  Berapa pun tawaran yang kalian berikan, kami tidak akan terpengaruh!”  ucap Kibum dengan tekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.  Kedua pria di hadapannya tampak tidak menyukai kata-kata Kibum, padahal mereka sendiri belum berbicara apa-apa.
“Kalau begitu akan kami naikkan lagi harga tanah ini, mungkin kau dan ibumu itu tidak akan sanggup untuk mendapatkan uang sebanyak tu.”
Tampak tersinggung, Kibum mengeratkan genggaman tangannya di celana jeansnya.
“Dengar ya, sebelum aku melakukan sesuatu yang membuat kalian terluka, lebih baik kalian pergi!  Atau kalau ingin memberi penawaran, berikanlah sesuatu yang bisa membuatku tergiur!  Dan lagi, selain menjaga toko tua ini, Ibuku adalah seorang desainer terkenal, dan aku adalah seorang fotografer profesional!  Kalian tidak perlu menyombongkan diri kalian dengan mengataiku atau Ibuku!  Sekarang kalian pergi!  Atau akan kutelpon polisi!”  Kibum berucap dengan kasar, kesabarannya benar-benar diuji, dan sebenarnya ia tidak begitu serius saat mengatakan akan membuat kedua priaitu terluka.  Kibum sadar diri dengan perbandingan ukuran badannya dengan kedua pria di hadapannya itu.
Seperti menganggap itu adalah keputusan terakhir Kibum untuk hari ini, kedua pria itu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Kibum.  Sementara Kibum tampak semakin kesal, ia tidak menyangka kalau para tetangga di sekitar tokonya itu berbondong-bondong untuk menjual tanah mereka pada suatu perusahaan yang ia sendiri tidak mengerti apa untuk dijadikan sebuah pusat perbelanjaan dan dibayar dengan tinggi.  Tapi masalah ini bukanlah mengenai harga, namun kenangan yang terjadi di toko ini ketika bersama ayah dan ibunya, serta masa kecilnya.  Dan Kibum tidak akan membiarkan hal itu terjadi.  Ia akan terus mempertahankan toko ini, meski dengan nyawanya sendiri.
.
.
.
(To Be Continued)


PS : I'm really sorry due to the title.  hehehehe.. what do you think?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar