- Kim Kibum (SHINee)
- Kim Jonghyun (SHINee)
- Lee Eunsook (girl!Jinki SHINee)
ps : Sorry, this story contain in Bahasa
Jonghyun
dan Kibum tidak pernah tidak bertengkar meski mereka adalah saudara. Orangtua Kibum bercerai sejak ia berumur 8
tahun, sejak saat itu ia tidak pernah mendengar ibunya bercerita tentang pria
lain selain ayahnya. Dan sejak saat itu
ia tidak pernah melihat ibunya menangis.
Ia tinggal bersama ibunya di sebuah apartemen di pusat kota, dan ibunya
seorang desainer. Hingga Kibum berusia
19 tahun, ia tidak pernah mendengar atau melihat ibunya berkencan dengan pria
lain. Namun Kibum tidak pernah bertanya,
baginya ada ayah atau tidak, itu sama saja.
Sedangkan Jonghyun, ketika berumur 10 tahun, ibunya meninggal dunia
karena kecelakaan. Keluarganya sangat terpuruk,
apalagi ayahnya. Ayahnya seorang
pemusik, kakak perempuannya seorang juru masak di sebuah kedai makan, dan ia
hanyalah seorang siswa SD biasa.
Keluarganya nyaris hancur kalau tidak ayahnya bangkit dari
keterpurukannya. Selama keterpurukannya
itu, pendapatan keluarga mereka hanya didapat dari penghasilan kakak perempuan
Jonghyun. Namun ketika Jonghyun sudah
memasuki SMP, ayahnya perlahan-lahan bangkit.
Ayah Jonghyun dan Ibu Kibum saling memperkenalkan keluarga mereka ketika
Kibum berumur 20 dan Jonghyun 21. Kakak
perempuan Jonghyun tengah dalam perjalanan tur memasaknya di Itali saat
itu. Kemudian orangtua mereka menikah,
bahkan sebelum orangtua mereka menikah, benih-benih pertengkaran sudah tumbuh
dalam diri Jonghyun dan Kibum.
“Demi Tuhan Kim Kibum! Bagaimana bisa kau mengotori semua
pakaianku?!” jerit Jonghyun di pagi pertama mereka liburan sebagai satu
keluarga di suatu lembah. Ia merangkak
keluar dari tendanya sambil menggenggam kaos-kaosnya yang sudah berlumuran lumpur. Keempat anggota keluarga lainnya langsung
menoleh ke arahnya. Ayahnya sedang
memancing bersama Kibum, sedangkan Ibu baru dan kakak perempuannya sedang
membakar sesuatu di atas pemanggang.
“Ada
apa Jonghyun?” tanya Ibunya. Tanpa
melepaskan tatapannya dari Kibum –yang sekarang berpura-pura tidak tahu, ia
mendekat. “Lihat, baju-bajuku. Siapa lagi yang berani melakukan ini kecuali
anak itu?” tuduhnya sambil menunjuk Kibum.
Ayahnya tampak terganggu dengan keributan yang dibuatnya pagi ini lalu segera
beranjak dari kursi lipatnya, kemudian mengampiri anak tengahnya,”Nak.”
“Ayah! Siapa lagi kalau bukan dia? Dia memang terlihat tidak menyukaiku ikut
dalam liburan ini!” katanya, jelas
sekali terdengar memprovokasi ayahnya agar ikut menyalahkan Kibum.
“Take
it easy, Brother. Aku kira tadi itu
tendaku, tanpa sadar aku masuk dan mengotori baju-bajumu. Sorry.. That’s really an accident.” Kibum menimpali, dengan wajah tanpa
bersalahnya. Ia menepuk pundak Jonghyun
dan ditepis dengan kasar oleh Jonghyun.
“Oh
ayolaaahh, kau membawa lebih dari 1 ransel berisi baju. Jangan hanya karena beberapa bajumu kotor kau
merusak liburan kita.” Kakak perempuan mereka menambahkan. Ia memutar bola matanya dengan malas,
menyesal dengan sikap kekanak-kanakan adik laki-lakinya itu.
“Jonghyun,
biar Ibu yang mencucinya.” Sahut Ibunya sambil tersenyum, Jonghyun tampak
tercengang. Sudah lama ia tidak melihat
wanita tersenyum selembut itu padanya selain ibunya sendiri. Tanpa sadar ia menganggukan kepalanya dan
kembali masuk ke tendanya. Kibum
tersenyum jahil. “That boy, really funny..”
-
Kalau Eunsook bisa marah, saat
itu juga ia akan meledak dan mengamuk.
Tapi itu bukan gayanya sama sekali.
Lee Eunsook merupakan seorang gadis yang lembut, dan ceria. Tidak akan ada yang percaya kalau dia
mengamuk seperti orang kesetanan sekarang.
Keadaannya benar-benar terjepit.
Ia menyesal kenapa tidak mengajak orang tuanya ikut dalam acara ini. Minho, tunangannya hanya menggenggam
tangannya di bawah meja, juga tidak berkomentar. Ia tahu pacarnya itu sedang menahan emosinya,
meski ia sendiri yakin kalau Eunsook tidak akan meledak dan bisa mengatur
emosinya, namun omongan orang tuanya kali ini memang benar-benar keterlaluan.
“Kami
tahu kau bukan berasal dari keluarga berada, Eunsook. Tapi bisakah kau memakai pakaian yang lebih
pantas lagi? Atau pakaian terbaikmu
hanya itu?” Ibu Minho bahkan mengatakannya sesaat sebelum ia meminum anggurnya,
tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan dari Eunsook yang berusaha memotong steaknya.
“Maaf?”
“Pakaianmu
Eunsook. Apa kau tidak malu datang ke
hotel mewah seperti ini, dan makan malam bersama kami hanya dengan memakai
sweater rajutan seperti itu?” Bahkan Minho hampir tersedak dengan ucapannya
itu. Ibunya tidak pernah
mempermasalahkan pakaian yang dikenakan Eunsook sebelumnya, dan tidak diucapkan
langsung seperti itu. “Ibu!” Tapi genggaman Eunsook menghentikannya.
“Maaf
sebelumnya, tapi saya tidak menemukan alasan kenapa saya harus malu. Ini pakaian yang bisa saya beli sendiri. Tidak.
Tidak. Saya tidak akan memakai
baju mewah, itu bukan selera saya, Ma’am. Tapi kalau maksud Tante saya harus memakai dress, saya punya satu di rumah. Kalau tidak keberatan, bisakah Tante
memberitahu saya sebelumnya pakaian jenis apa yang seharusnya Saya
kenakan?” ucap Eunsook tanpa
ekspresi. Kuku-kuku jarinya
menusuk-nusuk telapak tangan Minho, dan pacarnya itu hanya bisa menunduk
mendengar perang dingin antara orang tua dan tunangannya.
“Eunsook,
Sayang, maafkan aku.” Ucap Minho setelah
mematikan mesin mobilnya di depan gang menuju rumah Eunsook. Dan gadis itu tampak mengerti ada yang harus
dibicarakan, ia menoleh ke arah sang kekasih.
“Kau
tidak salah, Minho.” Jawabnya lembut, sambil menyelipkan anak rambutnya di
balik telinganya. Tapi justru yang ia
lihat Minho menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalau begitu
maafkan orang tuaku. Aku tidak tahu
kenapa mereka menjadi seperti itu.
Aku...” ia belum menyelesaikan
ucapannya, namun Eunsook mendahuluinya dengan mengecup pipinya. “Kalau begitu ingatkan mereka agar tidak
seperti itu lagi.” Eunsook
berbisik. Bagaimana Minho tidak akan
semakin jatuh cinta dengan gadis seperti Eunsook?
Itu
dulu. Sebelum mereka memutuskan untuk
mengakhiri hubungan mereka. Dan alasan
yang melandasi putusnya hubungan mereka adalah perbedaan status. Entah kapan hal tersebut menjadi masalah
besar bagi mereka. Tepatnya bagi
Minho. Eunsook yang sederhana, Eunsook
yang tidak suka kemewahan, Eunsook yang tidak suka keributan justru menjadi
masalah bagi Minho. Mereka mengakhiri
hubungan mereka secara baik-baik, dan Eunsook tidak akan pernah menunjukkan
rasa sedihnya pada orang lain, termasuk Minho.
Ia hanya tersenyum di pertemuan terakhir mereka, meraih cincin yang
diletakkan Minho di atas meja, dan membawanya.
Sama seperti hatinya yang telah ia berikan pada Minho, ia ambil lagi.
-
“Kim
Kibum! Aku bersumpah demi menu makan
siangku, kau akan habis kali ini!” geram
Jonghyun ketika melihat isi kotak bekalnya.
Kemudian Jonghyun menggebrak meja di hadapnnya dan berlalu begitu saja
dari kantin kantornya. Taemin hanya
terkesiap dan mengintip isi kotak bekal Jonghyun yang tadi ditinggalkan, lalu
ia pun tertawa, bagaimana bisa isi kotak bekal Jonghyun yang bisanya dihiasi
begitu banyak makanan enak berubah menjadi sandwich isi cacing?
“Keterlaluan kau Kibum, dari
dulu aku membiarkan dirimu berulah dan bersabar dengan segala tingkah
bodohmu. Namun kali ini, kau benar-benar
mengajakku perang!” tanpa sadar ia menendang
tong sampah di depan lift sembari menunggu lift berikutnya terbuka. Namun ketika bunyi keras yang dihasilkan tong
sampah, pintu lift terbuka, menampilkan seorang wanita yang terlihat sama
terkejutnya dengan Jonghyun. Wanita itu
segera keluar dari lift dan membereskan kekacauan yang tidak sengaja ia
sebabkan.
“Ya Tuhan, kau tidak perlu
melakukannya. Aku yang salah, biar aku
saja.” Jonghyun ikut membungkuk,
mencegah wanita itu untuk menyentuh sampah yang berserakan. Wanita itu ia ajak mundur beberapa langkah ke
belakang sebelum ia yang membereskan.
Tapi karena itu, lift yang sudah ia tunggu justru menutup lagi dan
wanita yang seharusnya berada di dalam lift itu terkesiap.
“Oh.”
“Astaga,
liftnya menutup lagi. Maafkan aku.” Sahut Jonghyun saat sadar kalau pintu lift sudah
menutup, dan wanita itu hanya mengangguk.
Jonghyun pun hanya tersenyum untuk membalasnya kemudian melanjutkan
mengembalikan sampah-sampah itu ke tempatnya.
Dan belum sempat ia mengangkat tubuhnya, sebungkus tisu basah sudah
disodorkan di depan wajahnya. Jonghyun
pun mendongak dan melihat kalau wanita itu yang menyerahkannya. Sambil tersenyum kaku ia pun meraihnya dan
mengambil beberapa lembar tisu basah dan mengelapkannya di kedua telapak
tangannya.
“Terimakasih.”
Ucapnya, namun wanita itu lagi-lagi hanya mengangguk sopan, dan memencet tombol
naik di samping pintu lift. Jonghyun pun
memutuskan untuk berdiri di samping wanita itu.
Benaknya mulai mengawang-awang, sepertinya ia belum pernah melihat
wanita itu di gedung kantor ini.
Meskipun gedung tempatnya ia bekerja terdiri dari 11 lantai, ia nyaris
hafal seluruh karyawan yang berada di setiap lantai berbeda. Apa wanita ini berada di divisi lain
dengannya? Atau ia merupakan seorang
petinggi dalam perusahaan ini? Tapi
penampilannya tidak seperti petinggi-petinggi seperti yang biasa ia lihat. Penampilan wanita ini begitu sederhana,
dengan blazer dan rok celana panjang berwarna senada, serta sepatu berhak 3
senti yang dikenakannya. Tapi siapa tahu
kalau wanita ini benar-benar salah satu petinggi di perusahaan ini? Dengan pikiran itu membuat Jonghyun gemetar,
ya Tuhan, ia telah berbuat konyol di hadapan wanita ini
“Apa
kau perlu menatapku seperti itu?” wanita
itu menegurnya. Dan Jonghyun pun ingin
memukul kepalanya saat itu juga.
Menyesali kenapa ia bisa terus berbuat konyol.
“Ma..maafkan aku.”
“Tidak
apa-apa.” Wanita itu membalasnya sambil tersenyum ke arahnya. Jonghyun terpaku ketika melihat senyuman itu,
ia seperti pernah melihat senyuman itu di suatu tempat dan suatu waktu. Dan tanpa sadar Jonghyun kembali menatap
wanita itu sampai ketika pintu lift terbuka dan wanita itu mendahuluinya masuk.
“Permisi,
apa kau ingin masuk? Aku sedikit
terburu-buru.” Wanita itu lagi-lagi
menegurnya, dan Jonghyun dengan salah tingkah mengikuti wanita itu masuk.
“Ah. Aku Kim Jonghyun dari bagian
marketting.” Dengan segera Jonghyun
memperkenalkan dirinya sambil membungkuk di hadapan wanita itu. Namun perkiraannya salah ketika wanita itu
malah terkekeh. “Aku tahu,
Jonghyun. Tertulis dengan jelas di kartu
pengenalmu.” Sahut wanita itu sambil
menunjuk kartu pengenal yang tergantung di kantung kemejanya.
“Oh? Astaga.”
Ia pun ikut terkekeh atas kebodohannya, namun ia segera teringat kalau
wanita itu belum memberi tahukan namanya.
Dan seperti bisa membaca pikiran Jonghyun, wanita itu menyebutkan
namanya.
“Aku
Lee Eunsook, dari bagian promosi.
Ah! Aku sudah sampai. Senang bertemu denganmu, Jonghyun.”
Dan
Jonghyun bersumpah ia tidak akan melupakan wajah itu, senyum itu, dan...nama
itu. Lee Eunsook.
-
Kim Kibum, meski sudah berusia
23 tahun, namun dalam 23 tahun hidupnya ia belum pernah semarah ini. Bahkan pernikahan ayahnya yang kedua, yang
sebenarnya sangat ia tidak setujui, atau saudara laki-laki tirinya yang begitu
menyebalkan, tidak mampu membuat Kibum semarah ini. Ingin rasanya ia memukul dan mengata-ngatai
kedua pria yang tengah berbicara dengan ibunya.
Ia dan ibunya sudah mengelola toko buku ini sejak bertahun-tahun lalu, dan
sejak Kibum sudah bisa membaca. Ayahnya
yang mengelola toko ini sebelumnya, dan setelah beliau meninggal, ibunya
melanjutkan selagi menjadi desainer. Dan
Kibum, sebagai anak laki-laki satu-satunya merasa begitu bertanggung jawab
untuk mencintai serta melanjutkan toko buku milik mendiang ayahnya ini. Tapi sejak 3 minggu lalu, silih berganti
pria-pria berbadan besar datang menemui ibunya dan berbicara serius
dengannya. Suatu kali Kibum menemani
ibunya menghadapi pria berbadan besar lainnya, dan ingin rasanya ia berteriak
menyuruh pria itu pergi dari toko milik keluarganya. Seperti hari ini, lagi-lagi pria-pria
berbadan besar lainnya datang, dan kali ini ia sendiri yang menghadapi kedua
orang itu.
“Sudah
saya dan Ibu saya katakan berkali-kali, kami sama sekali tidak berniat untuk
menjual toko ini. Berapa pun tawaran
yang kalian berikan, kami tidak akan terpengaruh!” ucap Kibum dengan tekanan pada setiap kata
yang ia ucapkan. Kedua pria di
hadapannya tampak tidak menyukai kata-kata Kibum, padahal mereka sendiri belum
berbicara apa-apa.
“Kalau
begitu akan kami naikkan lagi harga tanah ini, mungkin kau dan ibumu itu tidak
akan sanggup untuk mendapatkan uang sebanyak tu.”
Tampak tersinggung,
Kibum mengeratkan genggaman tangannya di celana jeansnya.
“Dengar
ya, sebelum aku melakukan sesuatu yang membuat kalian terluka, lebih baik kalian
pergi! Atau kalau ingin memberi
penawaran, berikanlah sesuatu yang bisa membuatku tergiur! Dan lagi, selain menjaga toko tua ini, Ibuku
adalah seorang desainer terkenal, dan aku adalah seorang fotografer
profesional! Kalian tidak perlu
menyombongkan diri kalian dengan mengataiku atau Ibuku! Sekarang kalian pergi! Atau akan kutelpon polisi!” Kibum berucap dengan kasar, kesabarannya benar-benar
diuji, dan sebenarnya ia tidak begitu serius saat mengatakan akan membuat kedua
priaitu terluka. Kibum sadar diri dengan
perbandingan ukuran badannya dengan kedua pria di hadapannya itu.
Seperti
menganggap itu adalah keputusan terakhir Kibum untuk hari ini, kedua pria itu
beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Kibum. Sementara Kibum tampak semakin kesal, ia
tidak menyangka kalau para tetangga di sekitar tokonya itu berbondong-bondong
untuk menjual tanah mereka pada suatu perusahaan yang ia sendiri tidak mengerti
apa untuk dijadikan sebuah pusat perbelanjaan dan dibayar dengan tinggi. Tapi masalah ini bukanlah mengenai harga,
namun kenangan yang terjadi di toko ini ketika bersama ayah dan ibunya, serta
masa kecilnya. Dan Kibum tidak akan
membiarkan hal itu terjadi. Ia akan
terus mempertahankan toko ini, meski dengan nyawanya sendiri.
.
.
.
(To
Be Continued)
PS : I'm really sorry due to the title. hehehehe.. what do you think?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar