Kedua entitas
ini dari luar tampak seperti pasangan sahabat yang lain. Yang kemana-mana selalu berdua, yang jika ada
salah satu dari mereka di suatu tempat maka yang lainnya juga ada di sana, atau
jika salah satu mempunyai barang ini dan yang lainnya juga akan memiliki barang
yang sama. Sama seperti pasangan sahabat
yang lain. Jika yang satu memerlukan
bantuan, maka yang lainnya akan berada di sana untuk membantunya. Iya.. seperti itu..
Namun siapa
yang tahu, jika badai distopia itu bisa datang kapan saja? Persahabatan itu tidak semanis seperti apa
yang dibayangkan oleh pikiran polos mereka.
-
Sebagai anak
yang tertarik dengan bahasa, mereka dianugerahi kemampuan untuk mengarang
tulisan. Dan sampai sekarang keduanya
masih memiliki hobi yang sama. Mengarang
cerita, cerita apa saja. Keduanya akan
saling mengkoreksi atau bersama-sama membuat sebuah cerita dengan daya
imajinasi tinggi dan kemudian akan memajang tulisan mereka di blog pribadi
masing-masing.
Ah –indah
sekali.
Namun seiring
bertambahnya umur dan kesibukan mereka, keduanya menjadi kekurangan waktu untuk
saling berkomunikasi. Dan badai distopia
itu bermula dari berpisahnya mereka menjadi teman sekelas. Anak kecil ingusan yang dulunya mudah saja
berbaikan ketika ada masalah yang terselip dalam hubungan mereka kini
berbanding terbalik. Keduanya menjadi
lebih egois hanya untuk saling memafaakan.
Pikiran mereka berkembang dengan sangat pesat dan saling memiliki
masalah yang berbeda sehingga membuat mereka memiliki jalan pikiran
masing-masing.
Yang satu
tidak mau yang ini, tapi yang lain hendak yang ini.
Yang satu
tidak mau seperti itu, tapi yang lain harus menjadi seperti itu.
Cekcok.
Kadang-kadang
yang salah satu dari mereka akan merindukan pasangan sahabatnya, tapi terlalu
gengsi untuk menyatakan bahwa ia sedang merindukannya karena mereka sedang
terlibat perang dingin. Yang memulai
siapa? Begitu pikir mereka.
Tapi jika
suatu saat ketika ego mereka sedang turun, mereka akan berpikir lagi,
seandainya bisa menahan diri, tentu kejadian konyol seperti ini tidak akan
terjadi, kan?
Egois.
Keduanya egois. Persahabatan yang sudah mereka bangun rusak
begitu saja dengan keegoisan masing-masing.
Saling menyalahkan. Dia yang
salah, bukan –tapi dia. Tidak ada yang
salah. Karena masing-masing memiliki
tuntutan dan pembelaan atas diri masing-masing.
Yang satu itu yang salah, tapi tidak mau merasa dan menyalahkan yang
lain. Tapi yang lain tentu menolak
dijadikan tersangka, ia juga menyalahkan satunya. Tidak ada yang mau meminta maaf. Terlalu naif.
Tapi
apalagi? Mereka yang memutus benang
takdir itu. Dengan enggannya berbicara
satu sama lain, dan menolak ketika pandangan mereka tidak sengaja bertemu,
sudah menjadi bukti bahwa mereka sudah memutus benang takdir itu. Tapi bukanlah si Pemilik Takdir, jika tidak mempunyai
rencana B. Benang takdir yang mereka
kira sudah putus ternyata tidak seburuk itu jadinya, benang itu masih ada. Masih utuh, meski dengan kondisi yang tidak
layak. Keduanya dipertemukan lagi di
tempat yang sama, dengan lingkungan yang sama.
Dan ironis, walaupun
masih dipertemukan mereka tetap bersikap seperti orang asing satu sama
lain. Berlaku seperti orang yang tidak
saling mengenal kita berpapasan, dan saling membuang muka. Bukan.
Bukan seperti ini yang dikehendaki si Pemilik Takdir ketika menjaga
benang takdir mereka, tapi siapa yang mau tahu jika mereka saja sudah tidak
menginginkan benang takdir ini masih utuh?
Mereka. Dua entitas yang dulunya saling tersenyum dan
bergandengan tangan dengan bahagia.
Tidak mempersalahkan etikat konyol yang mereka lakukan, dan hanya
menganggap semuanya lelucon belaka, lucu jika dibandingkan dengan kondisi
mereka sekarang.
Mereka. Yang jika diibaratkan satu kini hanyalah
sepasang sayap yang patah. Lepas, dan
tidak berhubungan. Tapi benang takdir
tetap persisten untuk menyelubungi mereka.
Merekalah sang Sayap Patah.
END
A/N : ini sebenarnya cerpen untuk lomba mading di sekolah. Dengan suka rela aku menawarkan diri untuk
membuat cerpen (tapi tetap saja kalah -____-)..
untuk memperingati Bulan Bahasa, tapi aku o’on banget kalau disuruh
bikin cerita pakai tema. Untuk Bulan
Bahasa aku sama sekali ‘nggak’ punya ide buat cerita seperti itu, yang
kepikiran dan lancar bikinnya malah cerita seperti ini. Well, sebenarnya asal bukan bertema romance,
cerita ini masih bisa diterima kan seharusnya?
Hahahaha! Karena sayang kalau
cuma mengendap di laptop, mendingan aku post aja, kan? Hihihihi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar