Kamis, 27 Desember 2012

FICTION : BROKEN WINGS


Kedua entitas ini dari luar tampak seperti pasangan sahabat yang lain.  Yang kemana-mana selalu berdua, yang jika ada salah satu dari mereka di suatu tempat maka yang lainnya juga ada di sana, atau jika salah satu mempunyai barang ini dan yang lainnya juga akan memiliki barang yang sama.  Sama seperti pasangan sahabat yang lain.  Jika yang satu memerlukan bantuan, maka yang lainnya akan berada di sana untuk membantunya.  Iya.. seperti itu..
Bukan waktu yang singkat –kalau boleh dikatakan untuk mewakilkan berapa lama persahabatan mereka dimulai.  Bermula dari mulainya semester dan tahun ajaran baru, mereka dipertemukan sebagai teman sebangku.  Sebagai murid baru yang belum mengenal siapa saja teman-temannya, kontradiksi dengan yang lain yang merupakan murid terkenal dengan jumlah teman-teman yang tidak sedikit kemudian dipersatukan namun masih canggung satu sama lain.  Tapi sepertinya si Penentu Takdir tidak berpendapat seperti itu.  Mereka penyuka suatu aliran musik yang sama, apa saja yang disukai oleh yang satu maka secara kebetulan yang lain juga menyukai hal tersebut.  Tidak heran, dalam waktu yang cepat keduanya sudah menjadi teman sebangku yang akrab. 
Namun siapa yang tahu, jika badai distopia itu bisa datang kapan saja?  Persahabatan itu tidak semanis seperti apa yang dibayangkan oleh pikiran polos mereka.
-
Sebagai anak yang tertarik dengan bahasa, mereka dianugerahi kemampuan untuk mengarang tulisan.  Dan sampai sekarang keduanya masih memiliki hobi yang sama.  Mengarang cerita, cerita apa saja.  Keduanya akan saling mengkoreksi atau bersama-sama membuat sebuah cerita dengan daya imajinasi tinggi dan kemudian akan memajang tulisan mereka di blog pribadi masing-masing.
Ah –indah sekali.
Namun seiring bertambahnya umur dan kesibukan mereka, keduanya menjadi kekurangan waktu untuk saling berkomunikasi.  Dan badai distopia itu bermula dari berpisahnya mereka menjadi teman sekelas.  Anak kecil ingusan yang dulunya mudah saja berbaikan ketika ada masalah yang terselip dalam hubungan mereka kini berbanding terbalik.  Keduanya menjadi lebih egois hanya untuk saling memafaakan.  Pikiran mereka berkembang dengan sangat pesat dan saling memiliki masalah yang berbeda sehingga membuat mereka memiliki jalan pikiran masing-masing.
Yang satu tidak mau yang ini, tapi yang lain hendak yang ini.
Yang satu tidak mau seperti itu, tapi yang lain harus menjadi seperti itu.
Cekcok.
Kadang-kadang yang salah satu dari mereka akan merindukan pasangan sahabatnya, tapi terlalu gengsi untuk menyatakan bahwa ia sedang merindukannya karena mereka sedang terlibat perang dingin.  Yang memulai siapa?  Begitu pikir mereka.
Tapi jika suatu saat ketika ego mereka sedang turun, mereka akan berpikir lagi, seandainya bisa menahan diri, tentu kejadian konyol seperti ini tidak akan terjadi, kan?
Egois.
Keduanya egois.  Persahabatan yang sudah mereka bangun rusak begitu saja dengan keegoisan masing-masing.  Saling menyalahkan.  Dia yang salah, bukan –tapi dia.  Tidak ada yang salah.  Karena masing-masing memiliki tuntutan dan pembelaan atas diri masing-masing.  Yang satu itu yang salah, tapi tidak mau merasa dan menyalahkan yang lain.  Tapi yang lain tentu menolak dijadikan tersangka, ia juga menyalahkan satunya.  Tidak ada yang mau meminta maaf.  Terlalu naif.
Tapi apalagi?  Mereka yang memutus benang takdir itu.  Dengan enggannya berbicara satu sama lain, dan menolak ketika pandangan mereka tidak sengaja bertemu, sudah menjadi bukti bahwa mereka sudah memutus benang takdir itu.  Tapi bukanlah si Pemilik Takdir, jika tidak mempunyai rencana B.  Benang takdir yang mereka kira sudah putus ternyata tidak seburuk itu jadinya, benang itu masih ada.  Masih utuh, meski dengan kondisi yang tidak layak.  Keduanya dipertemukan lagi di tempat yang sama, dengan lingkungan yang sama.
Dan ironis, walaupun masih dipertemukan mereka tetap bersikap seperti orang asing satu sama lain.  Berlaku seperti orang yang tidak saling mengenal kita berpapasan, dan saling membuang muka.  Bukan.  Bukan seperti ini yang dikehendaki si Pemilik Takdir ketika menjaga benang takdir mereka, tapi siapa yang mau tahu jika mereka saja sudah tidak menginginkan benang takdir ini masih utuh?
Mereka.  Dua entitas yang dulunya saling tersenyum dan bergandengan tangan dengan bahagia.  Tidak mempersalahkan etikat konyol yang mereka lakukan, dan hanya menganggap semuanya lelucon belaka, lucu jika dibandingkan dengan kondisi mereka sekarang.
Mereka.  Yang jika diibaratkan satu kini hanyalah sepasang sayap yang patah.  Lepas, dan tidak berhubungan.  Tapi benang takdir tetap persisten untuk menyelubungi mereka.  Merekalah sang Sayap Patah.

 END

A/N : ini sebenarnya cerpen untuk lomba mading di sekolah.  Dengan suka rela aku menawarkan diri untuk membuat cerpen (tapi tetap saja kalah -____-)..  untuk memperingati Bulan Bahasa, tapi aku o’on banget kalau disuruh bikin cerita pakai tema.  Untuk Bulan Bahasa aku sama sekali ‘nggak’ punya ide buat cerita seperti itu, yang kepikiran dan lancar bikinnya malah cerita seperti ini.  Well, sebenarnya asal bukan bertema romance, cerita ini masih bisa diterima kan seharusnya?  Hahahaha!  Karena sayang kalau cuma mengendap di laptop, mendingan aku post aja, kan?  Hihihihi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar