TRAIN
Cast : Sulli/Infinite
Genre : Fantasy, Friendship
Rated : PG
Summary : “..The train makes new world for
them..”
Disclamer : I only have the plot, Wings only
have the plot. Only the plot!
.
Keterangan:
§ Sungkyu
(INFINITE) 23 tahun
§ Dongwoo
(INFINITE) 22 tahun
§ Woohyun
(INFINITE) 21 tahun
§ Howon/Hoya
(INFINITE) 21 tahun
§ Seungyeol
(INFINITE) 21 tahun
§ Myungsoo
(INFINITE) 20 tahun
§ Sungjong
(INFINITE) 19 tahun
§ Sulli (f(x))
18 tahun
.
Ia merasa kalau bukan disini tempatnya, klise sekali sebenarnya.
Ia hanya tidak menyukai kehidupannya disini, bersama keluarganya sekarang.
Ini bukan dirinya..
Ini hanya topeng –anggap saja begitu.
Ia tidak suka, dan ia kesal..
Ia kabur, ia pergi..
Ke sebuah stasiun kereta api, tidak tahu apa yang membawanya kesini. Dengan sebuah ransel di punggungnya, dan sweater musim dinginnya, ia menunggu di sebuah peron dan duduk disana.
Menggantungkan kakinya di sebuah kursi dan meletakan ranselnya di lantai. Gelap –hanya ada sebuah lampu di setiap peronnya. Dan berbicara tentang stasiun, stasiun ini sepertinya baru ia kunjungi kali ini. Sebelumnya ia belum pernah kesini –tahu saja tidak. Dan ia pikir stasiun ini tidak begitu terawat, terlebih sepertinya jarang ada orang kesini. Hanya ada 3 peron –serta 3 lampu.
Wajar saja ia tidak pernah mengetahui sebelumnya, tempat ini hampir tidak pernah terjamah orang. Dan walaupun disini sepi –pasti cocok untuk anak berandalan berada disini, tapi ia tidak menemukan itu, dan ia bersyukur akan hal itu.
Ia menyenderkan punggungnya ke belakang, dan memandang rel-rel kereta di depannya dengan kosong. Ada yang aneh, ia tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Ia menoleh ke arah kirinya ketika mendengar suara kereta mendekat, tidak perlu tahu tujuan kereta itu kemana, yang penting ia harus pergi dari sini.
Lampu kereta itu menyorot ke arahnya dan membuatnya mengernyit silau. Ia masih duduk disana, mendadak ada pemikiran lain datang.
Ayahnya sendirian, dan ia akan meninggalkannya?
Ia belum pernah berpergian jauh sebelumnya –apalagi tanpa tujuan seperti ini.
Dan kemana kereta itu akan membawanya?
Ia meraih tas ranselnya, memeluknya di pangkuannya. Kereta semakin mendekat ke arahnya, dan makin menyorot matanya dengan lampu kereta itu.
Itu bukan urusannya, memang ayahnya pernah merawatnya dengan baik? Dengan layak? Jawabannya satu, tidak pernah –pernah tapi hanya sehari setelah ibunya meninggal.
Tidak apa-apa kalau ia tersesat, ia akan mendapatkan pelajaran untuk hidupnya. Walaupun ia rasa pelajaran hidupnya selama tinggal dengan ayahnya itu sudah lebih dari sekedar pelajaran. Siapa tahu ia akan menemukan teman baru?
Kereta itu jelas punya tujuan, walaupun ia tidak tahu akan kemana. Toh ia tetap warga Korea, pasti jelas mengetahui kota apa yang mungkin dituju oleh kereta itu. Masalah bahasa? Tidak masalah..
Ia masih duduk di kursinya –menimbang-nimbang sampai kereta itu berhenti di depannya, dan membuka pintunya otomatis.
Oh –ayolah, ia sudah sejauh ini..
Ia mengangkat kepalanya dan beranjak berdiri dari duduknya. Dengan menyeret tas ranselnya ia berjalan menuju pintu kereta itu, dan masuk kesana.
Menoleh sebentar sebelum pintunya tertutup otomatis lagi, oh –tidak, ia sekarang merasa melakukan kesalahan setelah seutuhnya berada di dalam kereta ini.
Lebih baik ia berada dirumahnya, bersama ayahnya.
Disini..jauh berbeda dari dirumahnya..jauh berbeda..
Ia berjalan lurus menuju pintu gerbong di depannya, dirasanya
gerbong disini kurang nyaman. Terlalu
gelap dan tidak ada penumpang disana.
Ia memegang puncak sandaran kursi di kanan dan
kirinya untuk menjaga keseimbangannya saat berjalan, terlalu bergoncang. Ia terus berjalan sambil melihat-lihat setiap
kursi penumpang –siapa tahu ada penumpang tersembunyi disana. Sekedar untuk berbicara –menemaninya
menghilangkan bosan selama perjalanan.
Tapi sampai ia mencapai pintu gerbong pertama
–ia berada di gerbong terakhir, ia tidak menemukan siapapun disini. Dan ia pun membuka pintu gerbong itu sambil
menoleh ke belakang, ia merasa kesepian.
Ia berjalan di gerbong kedua yang bentuknya
persis dengan gerbong pertama tadi –kereta dengan model kelas ekonomi.
Ia menghela nafas, disini cukup terang. Dan membuatnya sedikit lega, namun tetap
tidak ada penumpang satupun.
Kemudian duduk di salah satu kursi penumpang yang
menghadap pintu menuju gerbong kedua, sambil menopang kepala di tangan kiri ia
memandang keluar jendela. Tidak ada yang
ia lihat disana, hanya kegelapan.
Ia berpikir ulang mengenai tindakannya hari
ini, mungkin memang orang yang mengatakan bahwa kesabaran seseorang ada
batasnya itu benar adanya. Mulanya ia
tidak berpikir kalau ia akan seperti itu, namun kini ia mempercayai orang yang
membuat pepatah seperti itu.
Ia –Choi Sulli, seorang piatu dan hanya tinggal
bersama ayahnya. Tidak masalah baginya
saat di awal sepeninggal ibunya, ia rasa ia bisa mengurus dirinya sendiri dan
ayahnya.
Tapi tidak semudah itu –bayangkan saja, kau
ditinggalkan ibumu dengan beban keluarga yang ternyata sangat banyak.
Dengan ayah yang mengalami gangguan jiwa
semenjak tahu kalau dirinya mengidap AIDS –dan untungnya Sulli tidak menderita
penyakit itu juga. Terlebih ibunya ternyata memiliki seorang simpanan seorang
mahasiswa suatu universitas.
Sulli belum tahu semua itu sampai ibunya
meninggal karena bunuh diri, ia sempat menyalahkan ibunya saat tahu kejadian
itu. Seharusnya dimana saat sang suami sedang sakit, ia malah memiliki dunia
sendiri dengan simpanannya.
Dan ayahnya, karena biaya yang tidak mencukupi,
ia tidak bisa membawa ayahnya ke rumah sakit jiwa. Walaupun sebenarnya ia tidak
ingin membawa ayahnya kesana, di tambah dengan ayahnya yang mengidap AIDS
–bodoh sekali jika ia membiarkan ayahnya terkekang di rumah sakit jiwa
sementara ia bebas berada di luar.
Dan tadi siang, ayahnya mendadak menyalahkan
dirinya kenapa hadir di dunia ini. Ia berpikir, apa hubungannya ia lahir di
dunia ini dengan ayahnya?
Kalau ia tidak mau Sulli lahir, untuk apa ia
menikahi ibunya?
“Karena ibumu bodoh kau tahu!” ayahnya
membentak dirinya ketika ia menanyakan hal itu sambil memukulnya dengan sebuah
kamus.
Dan ia rasa itu saja sudah cukup untuk
dijadikan alas an untuk meninggalkan ayahnya,sudah waktunya ia bebas. Sudah
waktunya ia membenahi dirinya.
Ia tersentak ketika tiba-tiba kereta berhenti
mendadak,oh –ia ketiduran rupanya. Ia menolehkan kepalanya ke kanan,ke tempat
dimana ada sedikit cahaya disana. Ia menyebrang menuju kursi berbaris di
samping kanannya,menumpukan kedua lututnya dan menempelkan kepalanya ke kaca
jendela.
Gelap. Lalu datang darimana cahaya tersebut?
Ada penumpang lainnya kah? Syukurlah kalau begitu,ia tidak akan sendiri.
Kereta mulai berjalan lagi,tapi tidak ada
satupun orang masuk ke gerbong ini. Mungkinkah orang tadi ada di gerbong
lainnya?
Ia menoleh ke belakang,tidak mungkin.
Seharusnya jika benar orang itu masuk ke gerbong di belakangnya,orang itu akan
buru-buru masuk ke gerbong satunya –gerbong tempat ia berada kini.
Ia mengambil tas ranselnya dan berjalan dengan
sedikit terburu-buru di tengah goncangan kereta. Ia membuka pintu gerbong dan
masuk ke gerbong selanjutnya.
Masih seperti gerbong sebelumnya,disini hanya
di tambah beberapa kipas angin di langit-langitnya. Tetap remang-remang,dan
sepi.
Ia duduk di kursi penumpang nomor 5 dari pintu
gerbong selanjutnya dan tetap menghadap ke depan –menghadap pintu gerbong.
Ia menyerah,mungkin tadi bukan penumpang
baru,tapi hanya salah satu kondektur yang sedang memeriksa kereta. Kemudian menyenderkan punggungya ke belakang, ia melihat
pergelangan kirinya. Sebuah jam tangan sederhana melingkar disana. Pukul
11.25, hampir tengah malam.
Ia memutuskan untuk tidur kembali, mungkin saat
ia terbangun nanti ia bisa mendapati banyak penumpang disini.
Ia kemudian merebahkan badannya ke kursi
penumpang,sebuah pikiran melintas di kepalanya. Disini –di gerbong ini ia hanya
sendirian, ia bebas melakukan apa saja kan?
Ia tersenyum senang dan mencoba untuk
memejamkan matanya.
1..
2..
3..
Ia membuka matanya dengan cepat, ia tidak
mungkin sendirian disini. Pasti ada penumpang lain kan? Walaupun bukan di
gerbong ini, dan kalau begitu pasti ada kondektur yang akan memeriksa karcis
kan?
Tapi sampai ia berada di gerbong ketiga ini ia
tidak menemui satu kondektur pun yang menagihnya dengan karcis. Apa mungkin di
tengah malam begini para kondektur merasa lelah hanya untuk memeriksa
karcis-karcis dari penumpang?
Ia menggelengkan kepalanya, pasti begitu. Tidak
mungkin sebuah kereta tidak memiliki kondektur ataupun penumpang kan?
Ia sedikit lega dengan pikiran terakhirnya, yah
–mungkin benar. Dan seharusnya ia tidur saja sekarang. Menenangkan
pikirannya, untuk memikirkan kemana tujuannya?
Mungkin lebih baik nanti saja ketika ia bangun
nanti, ia sudah terlalu lelah dengan kejadian hari ini.
Ia kembali memejamkan matanya, untuk masalah
tidur seperti ini bukan masalah untuknya. Tidur dimanapun ia bisa.
Ia memeluk tas ranselnya sebagai guling
kemudian memikirkan hal-hal yang mungkin akan dilakukannya setelah ia bangun
nanti.
Mungkin ia akan berjalan menuju gerbong
terkahir, tempat dimana masinis berada. Dan menanyakan akan kemana tujuan
mereka. Atau ia akan mencari sesuatu yang bisa ia makan untuk makan siang
nantinya?
Bisa saja, dan mungkin saja nanti ia bisa
menemukan penumpang lainnya di gerbong sana. Untuk saat ini ia tidak berani
untuk terlalu menjelajah kereta ‘misterius’ ini. Terlalu gelap, memang hanya
pikirannya sendiri atau memang kereta ini tidak memiliki listrik? Bahkan untuk
lampu saja kereta ini tidak sanggup untuk menyediakannya? Ia bisa melihat kalau
ada lampu-lampu memanjang di setiap gerbongnya, tapi ia tidak bisa menemukan
dimana saklarnya –kalaupun kereta ini memiliki saklar. Dan ia juga bisa melihat
kalau di gerbong selanjutnya sama seperti disini, tidak ada penerangan.
Dan mungkin juga itu yang membuatnya menamai
kereta ini misterius. Walaupun begitu ia tetap merasa senang dengan adanya
kereta ini,dan juga merasa kesepian karena sudah jauh meninggalkan rumahnya.
.
“Ah –akhirnya ada orang lain,” ia mendengar ada
suara lain di dekatnya.
Ia tetap berusaha untuk tetap
tertidur, masih belum sadar sepenuhnya kalau ia bukan berada dirumahnya kali
ini.
“Ayah..” gumamnya.
Orang yang memanggilnya tadi mengerutkan
keningnya,”Ayah?”
Ia mengurungkan membangunkan Sulli, sangat tidak
sopan untuk membangungkan orang yang tidak dikenalnya terlebih orang itu adalah
wanita.
Ia memutuskan untuk duduk di kursi penumpang di
depan Sulli, bersender di jendela sambil memandang keluar. Melamun tepatnya.
Ah –mungkin jika Sulli tidak selelah ini, ia
akan sangat gembira mengetahui ada penumpang lainnya selain dirinya. Dan pemikirannya
mengenai ada penumpang lainnya saat kereta ini berhenti tadi adalah benar.
Penumpang baru itu menoleh sejenak ke arah
Sulli, dan tersenyum.
Ia –Myungsoo, seorang model baru. Model majalah-majalah murahan untuk kalangan orang bawah, kabur dari
pekerjaannya setelah ia di perlakukan dengan semena-mena oleh bosnya sendiri.
Ia memang tampan, dengan kesan angkuh, juga tubuh
yang atletis dan kulit yang putih. Tidak akan ada yang akan menyesal jika
menerimanya menjadi model.
Mata yang begitu tajam mempesona, siapa yang
tidak akan tergiur dengan dirinya?
Begitu pula bosnya, bos dari agensinya sendiri. Walaupun ia sendiri tahu, hanya dengan kabur seperti ini tidak akan
menyelesaikan masalahnya dengan bos agensinya.
Ia memejamkan matanya ketika bayangan itu
kembali memaksa masuk ke dalam pikirannya.
Kalaupun ia di laporkan ke pengadilan karena
tuduhan melanggar kontrak kerja, maka ia pun akan balas melaporkan bos agensinya
itu dengan tuduhan penganiayaan seksual.
Hari itu, ia datang ke kantor agensi seperti
biasa. Dengan janji untuk pemotretan cover sebuah majalah baru, ia menepati
janjinya dan datang ke kantor agensinya.
Ketika ia masuk ke kantor tersebut sudah banyak
pasang mata yang memandangnya curiga. Oh –bukan hanya curiga, ada pandangan
lainnya ,heran, penasaran dan..jijik. Ia hanya mengacuhkannya dan
memutuskan untuk mengunjungi ruangan bosnya terlebih dahulu setelah sebelumnya mendapat
panggilan dari bosnya untuk datang ke ruangannya dulu.
Ia melangkahi dua anak tangga sekaligus, jengah dengan semua pandangan staf-staf di bawah sana padanya. Ada apa?
Ada yang terjadi dan itu melibatkan dirinya?
Ia mengahapus pikirannya itu dan segera saja
berlari menuju ruangan bosnya. Tapi ternyata pandangan penuh arti itu bukan
hanya terjadi di bawah sana, disini pun ia tetap mendapatkannya.
Dan pikiran-pikiran negatif lainnya mulai
bermunculan di otaknya. Ada apa? Ia di pecat? Atau ia ketahuan sudah mengencani
seorang model wanita lain?
Ia menggelengkan kepalanya ketika sampai di
depan pintu ruangan bosnya, ia harus kelihatan keren sekarang –begitu pikirnya.
Dan ia pun mengetuk pintu tersebut.
“Hey,kau orang baru?” ia tersentak dan kembali
ke dalam dirinya sekarang. Sulli duduk di hadapannya, oh gadis ini sudah bangun
rupanya.
Sulli tersenyum padanya,”Kau orang baru
–maksudku penumpang lainnya?” tanya Sulli lagi. Ia terperangah sejenak dan
kemudian mengangguk.
“Kau berasal dari gerbong mana? Disana? Atau
disana?” Sulli bertanya lagi –sepertinya ia begitu senang dengan hadirnya
Myungsoo disini, sambil menunjuk pintu gerbong di belakangnya dan pintu gerbong
di depannya dengan ibu jarinya.
Myungsoo tersenyum,”Aku dari sana, maaf jika aku
mengejutkanmu,”
Sulli tersentak,”Oh –kau dari depan sana?
Bagaimana keadaan disana? Ramaikah? Disini terlalu sepi, dan aku tidak berani
untuk berjalan pindah kesana,”
Ia terkekeh melihat Sulli yang begitu
bersemangat bertanya dengan bermacam-macam ekspresinya,”Sama saja, sama seperti
disini. Dan beruntung sekali aku bertemu denganmu, kupikir aku sendirian,”
Sulli menggeleng lemah,”Benarkah?” tanyanya
kecewa kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Myungsoo tersenyum melihat Sulli, menebak-nebak
berapa usia Sulli.
Seumuran dengannya? Tidak mungkin, terlalu manis
jika berumur sama sepertinya. Lebih muda? Mungkin saja, 15 tahun? Atau 16?
Ia menyadarkan dirinya, lancang sekali ia
berpikir seperti itu dengan orang yang baru saja di kenalnya. Myungsoo kemudian
memutuskan untuk berbicara lagi dengan Sulli.
“Kalau begitu,kita bisa jadi teman disini, kan?”
Sulli mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan
Myungsoo, dan memandangnya heran,”Tentu saja! Aku Sulli, kau?”
Sulli kemudian mengulurukan tangan kanannya ke
hadapan Myungsoo, dan Myungsoo pun menjabatnya,”Aku Myungsoo,”
Sulli tersenyum,”Senang bertemu denganmu
Myungsoo,”
Myungsoo mengangguk. Keduanya diam sekarang. Tidak ada yang memulai pembicaraan, Myungsoo hanya memandang keluar jendela
dengan tangan kanannya sebagai tumpuan. Sedangkan Sulli menyender di kursinya
dan terlihat akan tertidur kembali. Ia meregangkan tangannya kedepan dan
menempelkan kepalanya di kaca jendela.
Sepertinya ia begitu lelah, keduanya begitu
lelah.
Dan kemudian Myungsoo menyadari kalau Sulli
sudah tertidur kembali, ia tersenyum lagi. Dan kemudian pikiran mengenai dirinya
kembali memaksa masuk.
Setelah ia berada di dalam ruangan bosnya, ia di
persilakan untuk duduk di hadapan bosnya. Dengan pembatas sebuah meja kerja.
Myungsoo merasa kalau ada yang aneh dengan hari
ini, semua staf memandangnya campur dan bosnya kali ini, memberikan sebuah senyum
yang lain dari biasanya. Ada apa?
Myungsoo pun berinisiatif untuk memulai
pembicaraan karena dirinya sudah merasa tidak nyaman dengan senyuman sang bos
padanya.
“Ada apa memanggilku?” tanyanya.
Yang ditanya hanya tersenyum –sekali lagi aneh
menurutnya.
“Menurutmu apa yang kau pikirkan tentang dirimu
sendiri?” heh? Apa maksud bosnya ini bertanya seperti itu?
Ia mengangguk sopan sejenak,”Tampan,dan baik
hati,” jawabnya, terlalu percaya diri, tapi itu yang dipirkirkannya sejak dulu.
Ia tidak sombong, hanya sedikit merasa kalau
dialah manusia paling sempurna di dunia ini –menurutnya. Wajah tampan, tinggi, dan tubuh
atletis. Ia merasa bangga dengan dirinya sendiri –meskipun ia hanyalah seorang
model untuk majalah-majalah murahan. Tapi ia yakin ia bisa menjadi model
terkenal nanti.
Bosnya mengangguk, kemudian menumpu kepalanya
dengan kedua tangannya di atas meja. Menatapnya serius,”Kalau begitu, bisa terus
hasilkan uang untukku, kan?”
Myungsoo memandangnya curiga, apa maksudnya?
“Hey bos, apa maksudmu?”
“Tapi hanya dengan tubuhmu yang seperti itu, kau
tidak bisa terus menghasilkan uang untukku,” bosnya mengacuhkan pertanyaannya.
“Apa kau sadar sekarang kau sudah kalah
bersaing dengan model-model baru lainnya?”
Ia menggeleng,”Bos?”
“Dan tidak mungkin kau terus begini, aku butuh
uang, kau juga begitu,”
“Bos? Apa maksudmu?”
“Kurasa kau harus melakukan operasi,”
“Apa?! Hey boss, jangan bercanda!” Myungsoo
beranjak berdiri dari kursinya dan mendekat menuju bosnya.
Operasi? Operasi plastik maksudnya? Hey
–meskipun ia menganggap dirinya nyaris sempurna dan bangga dengan dirinya, ia
tidak terobsesi dengan kesempurnaa sampai seperti itu.
“Apa maksudmu? Aku harus operasi plastik
begitu?”
Bosnya menggeleng,”Bukan –bukan, bukan operasi
plastik,”
“Tapi operasi transgender, kau tidak bisa terus
begini. Kalau kau mengubah gendermu, ku yakin kau akan terkenal. Masalah suara
tidak masalah, banyak suara wanita yang juga hampir mirip dengan laki-laki, kan?”
bosnya tersenyum ketika mengatakan hal itu.
Myungsoo mundur perlahan,”Kau gila bos,”
“Kau gila!”
Myungsoo mundur semakin cepat kemudian berbalik
dan berlari keluar dari sana. Ini gila, hanya karena uang bosnya menginginkan ia
mengganti gendernya? Tidak masuk akal!
Ia tidak segila itu dalam hal uang dan
melakukan apa saja –termasuk menganggit gendernya. Tidak! Tidak! Ia tidak akan
mau melakukan hal itu.
Ia bisa mendengar kalau dari dalam sana bosnya
berteriak memanggil namanya, ia tidak peduli. Dan ia takut, ia hanya bisa berlari
keluar dari gedung agensinya. Kemana saja, tapi tidak kerumah.
Bosnya dan anak buahnya pasti akan tahu dimana
letak rumahnya, ia tidak sebodoh itu. Kemana saja, asal tidak disini. Disini
gila! Bukan tempatnya, ia tidak mau hidup bahkan tinggal lagi di kota mengerikan
ini. Tidak mau!
Kereta berhenti lagi, Myungsoo yang masih
melamun mengingat kejadian tadi siang kini memuatar kepalanya ke kiri. Ke arah
jendela di seberangnya, mencari tahu kira-kira dimana kini ia –dan Sulli berhenti. Ia menoleh sejenak ke arah
Sulli yang masih tertidur, tidak mungkin ia membangunkannya. Sepertinya gadis
itu terlalu lelah, dilihat dari begitu pulasnya ia tertidur.
Myungsoo pun beranjak dari kursinya dan
berjalan menuju kursi penumpang di samping kirinya. Sama seperti Sulli
tadi, tidak kelihatan apapun. Yang ia lihat hanya kegelapan. Tapi tunggu
–rasanya tadi ia tidak pernah pergi ke stasiun.
Ia hanya berlari mengikuti langkah kakinya, tapi
ia ingat betul kalau ia tidak berlari menuju stasiun. Mungkinkah kereta ini
sebenarnya bukan kereta yang terdaftar oleh perusahaan kereta api –ilegal? Tapi
bagaimana mungkin?
Semakin lama semakin banyak pikiran-pikiran
lainnya yang bermunculan sehingga membuatnya pusing. Tidak –dia tidak mau
berpikir lagi.
Kereta akhirnya berhenti, Myungsoo masih
berusaha melihat ke sisi luar jendela, siapa tahu ada seseorang lagi yang bisa
ditemuinya selain –Sulli untuk saat ini. Ia menumpu tubuhnya dengan lutut
kirinya di kursi penumpang, dan kaki kanannya yang tetap berpijak di lantai.
Masih tidak menemukan apapun, ia pun kembali
menuju kursinya bersama Sulli tadi. Dan hampir berteriak ketika Sulli sudah
menatapnya bertanya-tanya,”Berhenti lagi? Apakah ada penumpang lainnya?”
tanyanya begitu Myungsoo kembali duduk di hadapannya.
Myungsoo menggeleng,”Tidak tahu, diluar gelap,”
Sulli menghela nafasnya,kemudian teringat
sesuatu,”Hey –sewaktu kau naik ke kereta ini juga aku tidak melihat apapun
diluar sana. Hanya gelap. Tetapi sewaktu aku melihat kereta ini di
kejauhan, saat itu aku berada di stasiun –tidak dikenal, aku melihat lampu sorot
kereta ini mengenai tubuhku. Sangat silau, tapi kenapa saat kita melihat keluar
tidak kelihatan apapun?”
Myungsoo tersentak mendengar pernyataan Sulli, yang di katakan gadis itu benar. Bahkan yang di alaminya sebelum ia
menaiki kereta ini sama persis –bedanya ia tidak di stasiun saat itu.
Lampu panjang kereta ini menyorot tubuhnya, tapi
ketika ia berada di dalam sini ia tidak bisa melihat apapun di luar sana, bahkan
lampu di dalam sini saja tidak ada.
“Kau tahu, saat itu,ketika aku melihat kereta
ini,aku tidak berada di stasiun,” kata Myungsoo pelan.
Sulli menoleh ke arahnya,”Maksudmu?”
Myungsoo menghela nafasnya berusaha meyakinkan
dirinya kalau saat ia melihat kereta ini serta masuk ke dalamnya ia bukan
berada di sebuah stasiun.
“Aku kabur dari pekerjaanku, dan aku tidak
berniat untuk pulang kerumah. Mereka pasti mengetahui dimana letak rumahku. Maka dari itu aku tidak pulang kerumah, dan lari kemana saja. Tapi bukan ke
stasiun, bahkan berpikir untuk pergi ke stasiun saja tidak,”
Myungsoo mengentikan ucapannya, melihat reaksi
Sulli. Sulli hanya memandangnya tidak percaya, namun ia tahu kalau Sulli ingin
ia melanjutkan ceritanya.
“Aku berhenti di sebuah gudang penyimpanan
barang dekat sungai, disana gelap, dan tidak ada orang. Lalu saat aku sudah
hampir pingsan karena kelelahan, aku melihat sebuah cahaya menuju ke arahku. Awalnya ku kira itu adalah sebuah kapal pengangkut barang, tapi ketika melihat
cahaya itu berhenti di depanku, itu adalah lampu sebuah kereta api,”
Sulli memandangnya kosong, ia meraih ujung
sweater rajut panjangnya dan menggenggamnya.
“Kau tidak bercanda, kan?”
“Untuk apa bercanda? Menakut-nakutimu?”
Sulli mengangguk.
“Tidak mungkin,” balas Myungsoo sambil mendengus
dan memuatar kedua bola matanya.
“Jadi sebenarnya ada apa ini?”
Myungsoo menggeleng, ia sendiri tidak tahu
sebenarnya apa yang di alaminya sekarang.
Ia hanya masuk kereta ini karena ada dorongan
di dalam hatinya –dan benar saja, hati dan otaknya tidak bekerja sama saat itu.
Keduanya diam, tidak ada yang berusaha untuk
memulai pembicaraan, masing-masing berada dalam pikirannya sendiri.
Sulli membuang wajahnya ke arah jendela, tahu
begini ia tidak akan memilih masuk ke kereta ini kalau jadinya begini. Baginya
ini mengerikan. Ia memang bukan anak manja, tapi masuk ke kereta ini dan menjadi
penumpangnya bersama dengan orang asing yang baru saja di kenalnya –dan berdiam
diri di suatu gerbong yang tidak memiliki lampu begitu pula gerbong-gerbong
lainnya. Tanpa tujuan, tanpa penumpang lainnya –selain mereka berdua. Membuatnya
ketakutan.
Seandainya saja ia tidak segila itu untuk kabur
dari rumah hanya karena ayahnya tidak menyukai dirinya, seharusnya ia ingat
kalau ayahnya itu sedang mengalami gangguan jiwa,s eharusnya ia memakluminya
saja. Otak serta mental ayahnya itu sedang bermasalah sekarang.
Sulli menitikan air matanya, dan merasakan kalau
air bening itu mengalir di kedua pipinya. Apa yang terjadi padanya tadi? Ia
mengingat-ingat, saat ia membereskan barang-barangnya sebelum ia pergi ke
stasiun, dan saat ia berada di stasiun dan masuk ke kereta ini, pikirannya
kosong. Hanya ada sedikit pemikiran lain yang menyangkal keputusannya itu yang masuk, namun itu pun ia abaikan.
Ia menyesal, ia ingin pulang. Ia ingin bersama
ayahnya lagi.
Ia tidak mau disini.
Myungsoo menyadari perubahan ekspresi Sulli
yang tadinya takut kini berubah menjadi cemas, ia berpikir –apakah lancang
baginya untuk bertanya mengapa gadis itu bisa berada disini? Tapi ia penasaran
kalaupun itu adalah pertanyaan terlancang yang pernah ia ajukan pada seorang
gadis. Tapi ia rasa ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya hal seperti itu
pada Sulli, mungkin gadis itu juga sama sepertinya.
Memiliki masalah dalam hidupnya dan
memutuskan untuk memulai suatu pelarian. Dan kereta inilah solusinya, kereta ini
bisa mengerti siapa saja yang kesulitan dan membawanya.
Myungsoo mengangguk, kali ini ia yakin dengan
pemikirannya. Meskipun mungkin tidak sepenuhnya benar, tapi ia yakin dengan hal
itu.
“Kenapa menangis?” tanyanya pada Sulli.
Sulli mengusap pipinya dan mengangkat
kepalanya,”Tidak apa-apa,”
Myungsoo tersenyum lagi, tapi di balik senyumnya
itu ia berpikir, sejak kapan ia jadi suka tersneyum seperti ini? Ia adalah
seorang laki-laki yang dingin, hanya cukup membuka matanya saja maka fotografer
akan langsung mengambil gambarnya.
Dan hari ini, ketika ia masuk ke kereta ini, dan
bertemu dengan Sulli, ia jadi mudah tersenyum? Oh –pendapatnya mengenai kereta ini bertambah lagi, kereta ini mungkin memberikan perubahan pada perangai si penumpang.
“Kau mendadak rindu pada ayahmu?” tanyanya.
Sulli memandangnya sendu,”Yeah –ini terlalu
mengerikan,”
Myungsoo terkekeh,”Tenang saja, pasti akan ada
penumpang lainnya, seperti kau tadi. Lagipula sekarang kau tidak sendiri, ada
aku, kan?” ia mencoba untuk menghibur Sulli sekarang.
Sulli masih memandangnya sendu, sepertinya ada
yang salah dengan gadis ini,”Masih banyak yang belum aku mengerti, kereta ini
terlalu membingungkan,”
Myungsoo terdiam kali ini, ia sendiri masih
bingung mengenai kereta ini –begitu misterius. Dan ia terlalu malas untuk
mengatakan pada Sulli mengenai pendapatnya tadi.
“Kalau begitu tidak usah dipikirkan, kita tunggu
sampai banyak penumpang yang berkumpul . Dan kita pikirkan bersama,”
Sulli perlahan tersenyum,”Benar juga, mungkin di
gerbong depan sana ada penumpang lainnya yang juga sama sepertimu. Mencari
penumpang lainnya, dan jika ia tidak datang kesini juga. Maka kita yang akan
menghampirinya,” jawab Sulli.
Myungsoo mengangguk setuju,”Dan sekarang pukul
2 pagi, kau ingin tidur lagi atau bagaimana?” tanya Myungsoo sambil memeriksa
jam tangannya.
Sulli menggeleng,”Kurasa aku sudah cukup tidur
tadi, kau?”
“Entahlah, aku tidak sedang mengantuk
sekarang,”
Sulli memandangnya heran,”Tidak mengantuk?”
Myungsoo mengangguk sambil
tersenyum,”Tidak, hari ini terlalu mengejutkan. Aku tidak bisa tidur karenanya,”
Sulli mengangguk mengerti, kemudian ia pun menyentuh
jendela dengan tangan kirinya. Menyentuh bayangannya sendiri yang terpantul di
jendela itu.
Hah –mungkin ia harus berterimakasih pada
Myungsoo, ia sudah menemaninya –meskipun ia bertemu dengan Myungsoo disini
karena ketidak sengajaan. Ia menghela nafas lemah, ah –ia teringat sesuatu.
Tidak mungkin ia disini, bertemu dengan Myungsoo
karena ketidak sengajaan. Bahkan mereka bertemu di gerbong kereta ini mungkin sudah ada yang mengaturnya. Bukan –bukan, ia kemudian melirik Myungsoo yang
juga sedang memandang keluar lewat jendela.
“Tidak mungkin,” gumamnya.
“Apa?”
“Eh-“
“Kau mengatakan sesuatu?” tanya
Myungsoo, kemudian Sulli tersenyum kikuk padanya.
“Tidak, kau salah dengar,” jawabnya, Myungsoo
tersenyum padanya, dan memberanikan diri mengelus puncak kepala Sulli lembut.
“Eh?”
“Ah –maaf,” kata Myungsso kaget, ugh –apa yang
dilakukannya tadi? Memalukan sekali.
“Tidak apa-apa,” jawab Sulli, ia tersenyum
padanya kemudian terkikik pelan.
“Ah –ada orang lain disini!”
Mereka berdua terlonjak ketika mendapati orang
lain berdiri di antara mereka, memegang kedua puncak kursi sambil
terengah-engah.
“Penumpang baru,” gumam Sulli senang.
Myungsoo yang mendengarnya menoleh sekilas padanya, kemudian
mendongak lagi melihat penumpang baru tersebut.
.
TO
BE CONTINUED
Gahhhhhh!!! No edited, jangan bash ya. Tau kok kalo ada yang baca ini, pasti langsung bawaannya buat ngina. Iya kan? Ngaku deh .__.v sekali lagi, no edited. sorry for typo and awkward sentences -_____-v
Tidak ada komentar:
Posting Komentar