Minggu, 29 April 2012

FANFICTION : TRAIN [1/?]




TRAIN


Cast : Sulli/Infinite

Genre : Fantasy, Friendship

Rated : PG

Summary : “..The train makes new world for them..”

Disclamer : I only have the plot, Wings only have the plot. Only the plot!




.

Keterangan:
§  Sungkyu (INFINITE) 23 tahun
§  Dongwoo (INFINITE) 22 tahun
§  Woohyun (INFINITE) 21 tahun
§  Howon/Hoya (INFINITE) 21 tahun
§  Seungyeol (INFINITE) 21 tahun
§  Myungsoo (INFINITE) 20 tahun
§  Sungjong (INFINITE) 19 tahun
§  Sulli (f(x)) 18 tahun
.

Ia merasa kalau bukan disini tempatnya, klise sekali sebenarnya.
Ia hanya tidak menyukai kehidupannya disini, bersama keluarganya sekarang.
Ini bukan dirinya..
Ini hanya topeng –anggap saja begitu.
Ia tidak suka, dan ia kesal..
Ia kabur, ia pergi..

Ke sebuah stasiun kereta api, tidak tahu apa yang membawanya kesini.  Dengan sebuah ransel di punggungnya, dan sweater musim dinginnya, ia menunggu di sebuah peron dan duduk disana.

Menggantungkan kakinya di sebuah kursi dan meletakan ranselnya di lantai.  Gelap –hanya ada sebuah lampu di setiap peronnya.  Dan berbicara tentang stasiun, stasiun ini sepertinya baru ia kunjungi kali ini.  Sebelumnya ia belum pernah kesini –tahu saja tidak.  Dan ia pikir stasiun ini tidak begitu terawat, terlebih sepertinya jarang ada orang kesini.  Hanya ada 3 peron –serta 3 lampu.

Wajar saja ia tidak pernah mengetahui sebelumnya, tempat ini hampir tidak pernah terjamah orang. Dan walaupun disini sepi –pasti cocok untuk anak berandalan berada disini, tapi ia tidak menemukan itu, dan ia bersyukur akan hal itu.

Ia menyenderkan punggungnya ke belakang, dan memandang rel-rel kereta di depannya dengan kosong.  Ada yang aneh, ia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Ia menoleh ke arah kirinya ketika mendengar suara kereta mendekat, tidak perlu tahu tujuan kereta itu kemana, yang penting ia harus pergi dari sini.

Lampu kereta itu menyorot ke arahnya dan membuatnya mengernyit silau.  Ia masih duduk disana, mendadak ada pemikiran lain datang.

Ayahnya sendirian, dan ia akan meninggalkannya?

Ia belum pernah berpergian jauh sebelumnya –apalagi tanpa tujuan seperti ini.
Dan kemana kereta itu akan membawanya?

Ia meraih tas ranselnya, memeluknya di pangkuannya.  Kereta semakin mendekat ke arahnya, dan makin menyorot matanya dengan lampu kereta itu.

Itu bukan urusannya, memang ayahnya pernah merawatnya dengan baik?  Dengan layak? Jawabannya satu, tidak pernah  –pernah tapi hanya sehari setelah ibunya meninggal.
Tidak apa-apa kalau ia tersesat, ia akan mendapatkan pelajaran untuk hidupnya.  Walaupun ia rasa pelajaran hidupnya selama tinggal dengan ayahnya itu sudah lebih dari sekedar pelajaran.  Siapa tahu ia akan menemukan teman baru?

Kereta itu jelas punya tujuan, walaupun ia tidak tahu akan kemana.  Toh ia tetap warga Korea, pasti jelas mengetahui kota apa yang mungkin dituju oleh kereta itu.  Masalah bahasa?  Tidak masalah..

Ia masih duduk di kursinya –menimbang-nimbang sampai kereta itu berhenti di depannya, dan membuka pintunya otomatis.

Oh –ayolah, ia sudah sejauh ini..

Ia mengangkat kepalanya dan beranjak berdiri dari duduknya.  Dengan menyeret tas ranselnya ia berjalan menuju pintu kereta itu, dan masuk kesana.

Menoleh sebentar sebelum pintunya tertutup otomatis lagi, oh –tidak, ia sekarang merasa melakukan kesalahan setelah seutuhnya berada di dalam kereta ini.

Lebih baik ia berada dirumahnya, bersama ayahnya.

Disini..jauh berbeda dari dirumahnya..jauh berbeda..

Ia berjalan lurus menuju pintu gerbong di depannya, dirasanya gerbong disini kurang nyaman.  Terlalu gelap dan tidak ada penumpang disana.

Ia memegang puncak sandaran kursi di kanan dan kirinya untuk menjaga keseimbangannya saat berjalan, terlalu bergoncang.  Ia terus berjalan sambil melihat-lihat setiap kursi penumpang –siapa tahu ada penumpang tersembunyi disana.  Sekedar untuk berbicara –menemaninya menghilangkan bosan selama perjalanan.

Tapi sampai ia mencapai pintu gerbong pertama –ia berada di gerbong terakhir, ia tidak menemukan siapapun disini.  Dan ia pun membuka pintu gerbong itu sambil menoleh ke belakang, ia merasa kesepian.
Ia berjalan di gerbong kedua yang bentuknya persis dengan gerbong pertama tadi –kereta dengan model kelas ekonomi.

Ia menghela nafas, disini cukup terang.  Dan membuatnya sedikit lega, namun tetap tidak ada penumpang satupun.

Kemudian duduk di salah satu kursi penumpang yang menghadap pintu menuju gerbong kedua, sambil menopang kepala di tangan kiri ia memandang keluar jendela.  Tidak ada yang ia lihat disana, hanya kegelapan.

Ia berpikir ulang mengenai tindakannya hari ini, mungkin memang orang yang mengatakan bahwa kesabaran seseorang ada batasnya itu benar adanya.  Mulanya ia tidak berpikir kalau ia akan seperti itu, namun kini ia mempercayai orang yang membuat pepatah seperti itu.

Ia –Choi Sulli, seorang piatu dan hanya tinggal bersama ayahnya.  Tidak masalah baginya saat di awal sepeninggal ibunya, ia rasa ia bisa mengurus dirinya sendiri dan ayahnya.
Tapi tidak semudah itu –bayangkan saja, kau ditinggalkan ibumu dengan beban keluarga yang ternyata sangat banyak.

Dengan ayah yang mengalami gangguan jiwa semenjak tahu kalau dirinya mengidap AIDS –dan untungnya Sulli tidak menderita penyakit itu juga. Terlebih ibunya ternyata memiliki seorang simpanan seorang mahasiswa suatu universitas.

Sulli belum tahu semua itu sampai ibunya meninggal karena bunuh diri, ia sempat menyalahkan ibunya saat tahu kejadian itu. Seharusnya dimana saat sang suami sedang sakit, ia malah memiliki dunia sendiri dengan simpanannya.

Dan ayahnya, karena biaya yang tidak mencukupi, ia tidak bisa membawa ayahnya ke rumah sakit jiwa. Walaupun sebenarnya ia tidak ingin membawa ayahnya kesana, di tambah dengan ayahnya yang mengidap AIDS –bodoh sekali jika ia membiarkan ayahnya terkekang di rumah sakit jiwa sementara ia bebas berada di luar.

Dan tadi siang, ayahnya mendadak menyalahkan dirinya kenapa hadir di dunia ini. Ia berpikir, apa hubungannya ia lahir di dunia ini dengan ayahnya?
Kalau ia tidak mau Sulli lahir, untuk apa ia menikahi ibunya?

“Karena ibumu bodoh kau tahu!” ayahnya membentak dirinya ketika ia menanyakan hal itu sambil memukulnya dengan sebuah kamus.

Dan ia rasa itu saja sudah cukup untuk dijadikan alas an untuk meninggalkan ayahnya,sudah waktunya ia bebas. Sudah waktunya ia membenahi dirinya.

Ia tersentak ketika tiba-tiba kereta berhenti mendadak,oh –ia ketiduran rupanya. Ia menolehkan kepalanya ke kanan,ke tempat dimana ada sedikit cahaya disana. Ia menyebrang menuju kursi berbaris di samping kanannya,menumpukan kedua lututnya dan menempelkan kepalanya ke kaca jendela.

Gelap. Lalu datang darimana cahaya tersebut? Ada penumpang lainnya kah? Syukurlah kalau begitu,ia tidak akan sendiri.
Kereta mulai berjalan lagi,tapi tidak ada satupun orang masuk ke gerbong ini. Mungkinkah orang tadi ada di gerbong lainnya?

Ia menoleh ke belakang,tidak mungkin. Seharusnya jika benar orang itu masuk ke gerbong di belakangnya,orang itu akan buru-buru masuk ke gerbong satunya –gerbong tempat ia berada kini.
Ia mengambil tas ranselnya dan berjalan dengan sedikit terburu-buru di tengah goncangan kereta. Ia membuka pintu gerbong dan masuk ke gerbong selanjutnya.

Masih seperti gerbong sebelumnya,disini hanya di tambah beberapa kipas angin di langit-langitnya. Tetap remang-remang,dan sepi.
Ia duduk di kursi penumpang nomor 5 dari pintu gerbong selanjutnya dan tetap menghadap ke depan –menghadap pintu gerbong.

Ia menyerah,mungkin tadi bukan penumpang baru,tapi hanya salah satu kondektur yang sedang memeriksa kereta. Kemudian menyenderkan punggungya ke belakang, ia melihat pergelangan kirinya. Sebuah jam tangan sederhana melingkar disana.  Pukul 11.25, hampir tengah malam.

Ia memutuskan untuk tidur kembali, mungkin saat ia terbangun nanti ia bisa mendapati banyak penumpang disini.
Ia kemudian merebahkan badannya ke kursi penumpang,sebuah pikiran melintas di kepalanya.  Disini –di gerbong ini ia hanya sendirian, ia bebas melakukan apa saja kan?

Ia tersenyum senang dan mencoba untuk memejamkan matanya.

1..

2..

3..

Ia membuka matanya dengan cepat, ia tidak mungkin sendirian disini.  Pasti ada penumpang lain kan? Walaupun bukan di gerbong ini, dan kalau begitu pasti ada kondektur yang akan memeriksa karcis kan?
Tapi sampai ia berada di gerbong ketiga ini ia tidak menemui satu kondektur pun yang menagihnya dengan karcis.  Apa mungkin di tengah malam begini para kondektur merasa lelah hanya untuk memeriksa karcis-karcis dari penumpang?
Ia menggelengkan kepalanya, pasti begitu.  Tidak mungkin sebuah kereta tidak memiliki kondektur ataupun penumpang kan?
Ia sedikit lega dengan pikiran terakhirnya, yah –mungkin benar.  Dan seharusnya ia tidur saja sekarang. Menenangkan pikirannya, untuk memikirkan kemana tujuannya?
Mungkin lebih baik nanti saja ketika ia bangun nanti, ia sudah terlalu lelah dengan kejadian hari ini.

Ia kembali memejamkan matanya, untuk masalah tidur seperti ini bukan masalah untuknya.  Tidur dimanapun ia bisa.
Ia memeluk tas ranselnya sebagai guling kemudian memikirkan hal-hal yang mungkin akan dilakukannya setelah ia bangun nanti.

Mungkin ia akan berjalan menuju gerbong terkahir, tempat dimana masinis berada.  Dan menanyakan akan kemana tujuan mereka.  Atau ia akan mencari sesuatu yang bisa ia makan untuk makan siang nantinya?

Bisa saja, dan mungkin saja nanti ia bisa menemukan penumpang lainnya di gerbong sana.  Untuk saat ini ia tidak berani untuk terlalu menjelajah kereta ‘misterius’ ini.  Terlalu gelap, memang hanya pikirannya sendiri atau memang kereta ini tidak memiliki listrik? Bahkan untuk lampu saja kereta ini tidak sanggup untuk menyediakannya? Ia bisa melihat kalau ada lampu-lampu memanjang di setiap gerbongnya, tapi ia tidak bisa menemukan dimana saklarnya –kalaupun kereta ini memiliki saklar.  Dan ia juga bisa melihat kalau di gerbong selanjutnya sama seperti disini, tidak ada penerangan.

Dan mungkin juga itu yang membuatnya menamai kereta ini misterius.  Walaupun begitu ia tetap merasa senang dengan adanya kereta ini,dan juga merasa kesepian karena sudah jauh meninggalkan rumahnya.

.

“Ah –akhirnya ada orang lain,” ia mendengar ada suara lain di dekatnya.
Ia tetap berusaha untuk tetap tertidur, masih belum sadar sepenuhnya kalau ia bukan berada dirumahnya kali ini.

“Ayah..” gumamnya.

Orang yang memanggilnya tadi mengerutkan keningnya,”Ayah?”
Ia mengurungkan membangunkan Sulli, sangat tidak sopan untuk membangungkan orang yang tidak dikenalnya terlebih orang itu adalah wanita.

Ia memutuskan untuk duduk di kursi penumpang di depan Sulli, bersender di jendela sambil memandang keluar.  Melamun tepatnya.

Ah –mungkin jika Sulli tidak selelah ini, ia akan sangat gembira mengetahui ada penumpang lainnya selain dirinya.  Dan pemikirannya mengenai ada penumpang lainnya saat kereta ini berhenti tadi adalah benar.
Penumpang baru itu menoleh sejenak ke arah Sulli, dan tersenyum.
Ia –Myungsoo, seorang model baru.  Model majalah-majalah murahan untuk kalangan orang bawah, kabur dari pekerjaannya setelah ia di perlakukan dengan semena-mena oleh bosnya sendiri.

Ia memang tampan, dengan kesan angkuh, juga tubuh yang atletis dan kulit yang putih.  Tidak akan ada yang akan menyesal jika menerimanya menjadi model.
Mata yang begitu tajam mempesona, siapa yang tidak akan tergiur dengan dirinya?

Begitu pula bosnya, bos dari agensinya sendiri.  Walaupun ia sendiri tahu, hanya dengan kabur seperti ini tidak akan menyelesaikan masalahnya dengan bos agensinya.

Ia memejamkan matanya ketika bayangan itu kembali memaksa masuk ke dalam pikirannya.
Kalaupun ia di laporkan ke pengadilan karena tuduhan melanggar kontrak kerja, maka ia pun akan balas melaporkan bos agensinya itu dengan tuduhan penganiayaan seksual.

Hari itu, ia datang ke kantor agensi seperti biasa.  Dengan janji untuk pemotretan cover sebuah majalah baru, ia menepati janjinya dan datang ke kantor agensinya.

Ketika ia masuk ke kantor tersebut sudah banyak pasang mata yang memandangnya curiga.  Oh –bukan hanya curiga, ada pandangan lainnya ,heran, penasaran dan..jijik.  Ia hanya mengacuhkannya dan memutuskan untuk mengunjungi ruangan bosnya terlebih dahulu setelah sebelumnya mendapat panggilan dari bosnya untuk datang ke ruangannya dulu.

Ia melangkahi dua anak tangga sekaligus, jengah dengan semua pandangan staf-staf di bawah sana padanya. Ada apa? Ada yang terjadi dan itu melibatkan dirinya?

Ia mengahapus pikirannya itu dan segera saja berlari menuju ruangan bosnya.  Tapi ternyata pandangan penuh arti itu bukan hanya terjadi di bawah sana, disini pun ia tetap mendapatkannya.

Dan pikiran-pikiran negatif lainnya mulai bermunculan di otaknya.  Ada apa? Ia di pecat? Atau ia ketahuan sudah mengencani seorang model wanita lain?

Ia menggelengkan kepalanya ketika sampai di depan pintu ruangan bosnya, ia harus kelihatan keren sekarang –begitu pikirnya.

Dan ia pun mengetuk pintu tersebut.

“Hey,kau orang baru?” ia tersentak dan kembali ke dalam dirinya sekarang.  Sulli duduk di hadapannya, oh gadis ini sudah bangun rupanya.

Sulli tersenyum padanya,”Kau orang baru –maksudku penumpang lainnya?” tanya Sulli lagi.  Ia terperangah sejenak dan kemudian mengangguk.

“Kau berasal dari gerbong mana? Disana? Atau disana?” Sulli bertanya lagi –sepertinya ia begitu senang dengan hadirnya Myungsoo disini, sambil menunjuk pintu gerbong di belakangnya dan pintu gerbong di depannya dengan ibu jarinya.

Myungsoo tersenyum,”Aku dari sana, maaf jika aku mengejutkanmu,”

Sulli tersentak,”Oh –kau dari depan sana? Bagaimana keadaan disana? Ramaikah? Disini terlalu sepi, dan aku tidak berani untuk berjalan pindah kesana,”

Ia terkekeh melihat Sulli yang begitu bersemangat bertanya dengan bermacam-macam ekspresinya,”Sama saja, sama seperti disini.  Dan beruntung sekali aku bertemu denganmu, kupikir aku sendirian,”
Sulli menggeleng lemah,”Benarkah?” tanyanya kecewa kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Myungsoo tersenyum melihat Sulli, menebak-nebak berapa usia Sulli.

Seumuran dengannya? Tidak mungkin, terlalu manis jika berumur sama sepertinya.  Lebih muda? Mungkin saja, 15 tahun? Atau 16?
Ia menyadarkan dirinya, lancang sekali ia berpikir seperti itu dengan orang yang baru saja di kenalnya. Myungsoo kemudian memutuskan untuk berbicara lagi dengan Sulli.

“Kalau begitu,kita bisa jadi teman disini, kan?”

Sulli mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan Myungsoo, dan memandangnya heran,”Tentu saja! Aku Sulli, kau?”

Sulli kemudian mengulurukan tangan kanannya ke hadapan Myungsoo, dan Myungsoo pun menjabatnya,”Aku Myungsoo,”
 Sulli tersenyum,”Senang bertemu denganmu Myungsoo,”

Myungsoo mengangguk.  Keduanya diam sekarang.  Tidak ada yang memulai pembicaraan, Myungsoo hanya memandang keluar jendela dengan tangan kanannya sebagai tumpuan.  Sedangkan Sulli menyender di kursinya dan terlihat akan tertidur kembali.  Ia meregangkan tangannya kedepan dan menempelkan kepalanya di kaca jendela.

Sepertinya ia begitu lelah, keduanya begitu lelah.

Dan kemudian Myungsoo menyadari kalau Sulli sudah tertidur kembali, ia tersenyum lagi.  Dan kemudian pikiran mengenai dirinya kembali memaksa masuk.

Setelah ia berada di dalam ruangan bosnya, ia di persilakan untuk duduk di hadapan bosnya.  Dengan pembatas sebuah meja kerja.

Myungsoo merasa kalau ada yang aneh dengan hari ini, semua staf memandangnya campur dan bosnya kali ini, memberikan sebuah senyum yang lain dari biasanya.  Ada apa?
Myungsoo pun berinisiatif untuk memulai pembicaraan karena dirinya sudah merasa tidak nyaman dengan senyuman sang bos padanya.

“Ada apa memanggilku?” tanyanya.

Yang ditanya hanya tersenyum –sekali lagi aneh menurutnya.

“Menurutmu apa yang kau pikirkan tentang dirimu sendiri?” heh? Apa maksud bosnya ini bertanya seperti itu?

Ia mengangguk sopan sejenak,”Tampan,dan baik hati,” jawabnya, terlalu percaya diri, tapi itu yang dipirkirkannya sejak dulu.

Ia tidak sombong, hanya sedikit merasa kalau dialah manusia paling sempurna di dunia ini –menurutnya. Wajah tampan, tinggi, dan tubuh atletis.  Ia merasa bangga dengan dirinya sendiri –meskipun ia hanyalah seorang model untuk majalah-majalah murahan.  Tapi ia yakin ia bisa menjadi model terkenal nanti.

Bosnya mengangguk, kemudian menumpu kepalanya dengan kedua tangannya di atas meja.  Menatapnya serius,”Kalau begitu, bisa terus hasilkan uang untukku, kan?”

Myungsoo memandangnya curiga, apa maksudnya?
“Hey bos, apa maksudmu?”

“Tapi hanya dengan tubuhmu yang seperti itu, kau tidak bisa terus menghasilkan uang untukku,” bosnya mengacuhkan pertanyaannya.

“Apa kau sadar sekarang kau sudah kalah bersaing dengan model-model baru lainnya?”
Ia menggeleng,”Bos?”

“Dan tidak mungkin kau terus begini, aku butuh uang, kau juga begitu,”

“Bos? Apa maksudmu?”

“Kurasa kau harus melakukan operasi,”

“Apa?! Hey boss, jangan bercanda!” Myungsoo beranjak berdiri dari kursinya dan mendekat menuju bosnya.

Operasi? Operasi plastik maksudnya? Hey –meskipun ia menganggap dirinya nyaris sempurna dan bangga dengan dirinya, ia tidak terobsesi dengan kesempurnaa sampai seperti itu.

“Apa maksudmu? Aku harus operasi plastik begitu?”

Bosnya menggeleng,”Bukan –bukan, bukan operasi plastik,”

“Tapi operasi transgender, kau tidak bisa terus begini.  Kalau kau mengubah gendermu, ku yakin kau akan terkenal.  Masalah suara tidak masalah, banyak suara wanita yang juga hampir mirip dengan laki-laki, kan?” bosnya tersenyum ketika mengatakan hal itu.

Myungsoo mundur perlahan,”Kau gila bos,”
“Kau gila!”

Myungsoo mundur semakin cepat kemudian berbalik dan berlari keluar dari sana.  Ini gila, hanya karena uang bosnya menginginkan ia mengganti gendernya? Tidak masuk akal!

Ia tidak segila itu dalam hal uang dan melakukan apa saja –termasuk menganggit gendernya.  Tidak! Tidak! Ia tidak akan mau melakukan hal itu.
Ia bisa mendengar kalau dari dalam sana bosnya berteriak memanggil namanya, ia tidak peduli.  Dan ia takut, ia hanya bisa berlari keluar dari gedung agensinya.  Kemana saja, tapi tidak kerumah.
Bosnya dan anak buahnya pasti akan tahu dimana letak rumahnya, ia tidak sebodoh itu.  Kemana saja, asal tidak disini.  Disini gila! Bukan tempatnya, ia tidak mau hidup bahkan tinggal lagi di kota mengerikan ini. Tidak mau!

Kereta berhenti lagi, Myungsoo yang masih melamun mengingat kejadian tadi siang kini memuatar kepalanya ke kiri.  Ke arah jendela di seberangnya, mencari tahu kira-kira dimana kini ia –dan Sulli berhenti.  Ia menoleh sejenak ke arah Sulli yang masih tertidur, tidak mungkin ia membangunkannya.  Sepertinya gadis itu terlalu lelah, dilihat dari begitu pulasnya ia tertidur.

Myungsoo pun beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kursi penumpang di samping kirinya.  Sama seperti Sulli tadi, tidak kelihatan apapun.  Yang ia lihat hanya kegelapan.  Tapi tunggu –rasanya tadi ia tidak pernah pergi ke stasiun.

Ia hanya berlari mengikuti langkah kakinya, tapi ia ingat betul kalau ia tidak berlari menuju stasiun. Mungkinkah kereta ini sebenarnya bukan kereta yang terdaftar oleh perusahaan kereta api –ilegal? Tapi bagaimana mungkin?

Semakin lama semakin banyak pikiran-pikiran lainnya yang bermunculan sehingga membuatnya pusing.    Tidak –dia tidak mau berpikir lagi.

Kereta akhirnya berhenti, Myungsoo masih berusaha melihat ke sisi luar jendela, siapa tahu ada seseorang lagi yang bisa ditemuinya selain –Sulli untuk saat ini.  Ia menumpu tubuhnya dengan lutut kirinya di kursi penumpang, dan kaki kanannya yang tetap berpijak di lantai.

Masih tidak menemukan apapun, ia pun kembali menuju kursinya bersama Sulli tadi.  Dan hampir berteriak ketika Sulli sudah menatapnya bertanya-tanya,”Berhenti lagi? Apakah ada penumpang lainnya?” tanyanya begitu Myungsoo kembali duduk di hadapannya.

Myungsoo menggeleng,”Tidak tahu, diluar gelap,”

Sulli menghela nafasnya,kemudian teringat sesuatu,”Hey –sewaktu kau naik ke kereta ini juga aku tidak melihat apapun diluar sana.  Hanya gelap.  Tetapi sewaktu aku melihat kereta ini di kejauhan, saat itu aku berada di stasiun –tidak dikenal, aku melihat lampu sorot kereta ini mengenai tubuhku.  Sangat silau, tapi kenapa saat kita melihat keluar tidak kelihatan apapun?”

Myungsoo tersentak mendengar pernyataan Sulli, yang di katakan gadis itu benar.  Bahkan yang di alaminya sebelum ia menaiki kereta ini sama persis –bedanya ia tidak di stasiun saat itu.
Lampu panjang kereta ini menyorot tubuhnya, tapi ketika ia berada di dalam sini ia tidak bisa melihat apapun di luar sana, bahkan lampu di dalam sini saja tidak ada.

“Kau tahu, saat itu,ketika aku melihat kereta ini,aku tidak berada di stasiun,” kata Myungsoo pelan.

Sulli menoleh ke arahnya,”Maksudmu?”

Myungsoo menghela nafasnya berusaha meyakinkan dirinya kalau saat ia melihat kereta ini serta masuk ke dalamnya ia bukan berada di sebuah stasiun.

“Aku kabur dari pekerjaanku, dan aku tidak berniat untuk pulang kerumah.  Mereka pasti mengetahui dimana letak rumahku.  Maka dari itu aku tidak pulang kerumah, dan lari kemana saja.  Tapi bukan ke stasiun, bahkan berpikir untuk pergi ke stasiun saja tidak,”
Myungsoo mengentikan ucapannya, melihat reaksi Sulli.  Sulli hanya memandangnya tidak percaya, namun ia tahu kalau Sulli ingin ia melanjutkan ceritanya.

“Aku berhenti di sebuah gudang penyimpanan barang dekat sungai, disana gelap, dan tidak ada orang.  Lalu saat aku sudah hampir pingsan karena kelelahan, aku melihat sebuah cahaya menuju ke arahku.  Awalnya ku kira itu adalah sebuah kapal pengangkut barang, tapi ketika melihat cahaya itu berhenti di depanku, itu adalah lampu sebuah kereta api,”

Sulli memandangnya kosong, ia meraih ujung sweater rajut panjangnya dan menggenggamnya.

“Kau tidak bercanda, kan?”

“Untuk apa bercanda? Menakut-nakutimu?”
Sulli mengangguk.


Tidak mungkin,” balas Myungsoo sambil mendengus dan memuatar kedua bola matanya.

“Jadi sebenarnya ada apa ini?”

Myungsoo menggeleng, ia sendiri tidak tahu sebenarnya apa yang di alaminya sekarang.

Ia hanya masuk kereta ini karena ada dorongan di dalam hatinya –dan benar saja, hati dan otaknya tidak bekerja sama saat itu.

Keduanya diam, tidak ada yang berusaha untuk memulai pembicaraan, masing-masing berada dalam pikirannya sendiri.

Sulli membuang wajahnya ke arah jendela, tahu begini ia  tidak akan memilih masuk ke kereta ini kalau jadinya begini.  Baginya ini mengerikan.  Ia memang bukan anak manja, tapi masuk ke kereta ini dan menjadi penumpangnya bersama dengan orang asing yang baru saja di kenalnya –dan berdiam diri di suatu gerbong yang tidak memiliki lampu begitu pula gerbong-gerbong lainnya.  Tanpa tujuan, tanpa penumpang lainnya –selain mereka berdua.  Membuatnya ketakutan.

Seandainya saja ia tidak segila itu untuk kabur dari rumah hanya karena ayahnya tidak menyukai dirinya, seharusnya ia ingat kalau ayahnya itu sedang mengalami gangguan jiwa,s eharusnya ia memakluminya saja. Otak serta mental ayahnya itu sedang bermasalah sekarang.

Sulli menitikan air matanya, dan merasakan kalau air bening itu mengalir di kedua pipinya.  Apa yang terjadi padanya tadi? Ia mengingat-ingat, saat ia membereskan barang-barangnya sebelum ia pergi ke stasiun, dan saat ia berada di stasiun dan masuk ke kereta ini, pikirannya kosong.  Hanya ada sedikit pemikiran lain yang menyangkal keputusannya itu yang masuk, namun itu pun ia abaikan.

Ia menyesal, ia ingin pulang.  Ia ingin bersama ayahnya lagi.
Ia tidak mau disini.

Myungsoo menyadari perubahan ekspresi Sulli yang tadinya takut kini berubah menjadi cemas, ia berpikir –apakah lancang baginya untuk bertanya mengapa gadis itu bisa berada disini? Tapi ia penasaran kalaupun itu adalah pertanyaan terlancang yang pernah ia ajukan pada seorang gadis.  Tapi ia rasa ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya hal seperti itu pada Sulli, mungkin gadis itu juga sama sepertinya.

Memiliki masalah dalam hidupnya dan memutuskan untuk memulai suatu pelarian.  Dan kereta inilah solusinya, kereta ini bisa mengerti siapa saja yang kesulitan dan membawanya.

Myungsoo mengangguk, kali ini ia yakin dengan pemikirannya.  Meskipun mungkin tidak sepenuhnya benar, tapi ia yakin dengan hal itu.

“Kenapa menangis?” tanyanya pada Sulli.

Sulli mengusap pipinya dan mengangkat kepalanya,”Tidak apa-apa,”

Myungsoo tersenyum lagi, tapi di balik senyumnya itu ia berpikir, sejak kapan ia jadi suka tersneyum seperti ini? Ia adalah seorang laki-laki yang dingin, hanya cukup membuka matanya saja maka fotografer akan langsung mengambil gambarnya.

Dan hari ini, ketika ia masuk ke kereta ini, dan bertemu dengan Sulli, ia jadi mudah tersenyum? Oh –pendapatnya mengenai kereta ini bertambah lagi, kereta ini mungkin memberikan perubahan pada perangai si penumpang.

“Kau mendadak rindu pada ayahmu?” tanyanya.

Sulli memandangnya sendu,”Yeah –ini terlalu mengerikan,”

Myungsoo terkekeh,”Tenang saja, pasti akan ada penumpang lainnya, seperti kau tadi.  Lagipula sekarang kau tidak sendiri, ada aku, kan?” ia mencoba untuk menghibur Sulli sekarang.

Sulli masih memandangnya sendu, sepertinya ada yang salah dengan gadis ini,”Masih banyak yang belum aku mengerti, kereta ini terlalu membingungkan,”

Myungsoo terdiam kali ini, ia sendiri masih bingung mengenai kereta ini –begitu misterius.  Dan ia terlalu malas untuk mengatakan pada Sulli mengenai pendapatnya tadi.

“Kalau begitu tidak usah dipikirkan, kita tunggu sampai banyak penumpang yang berkumpul . Dan kita pikirkan bersama,”

Sulli perlahan tersenyum,”Benar juga, mungkin di gerbong depan sana ada penumpang lainnya yang juga sama sepertimu.  Mencari penumpang lainnya, dan jika ia tidak datang kesini juga.  Maka kita yang akan menghampirinya,” jawab Sulli.

Myungsoo mengangguk setuju,”Dan sekarang pukul 2 pagi, kau ingin tidur lagi atau bagaimana?” tanya Myungsoo sambil memeriksa jam tangannya.

Sulli menggeleng,”Kurasa aku sudah cukup tidur tadi, kau?”

“Entahlah, aku tidak sedang mengantuk sekarang,”

Sulli memandangnya heran,”Tidak mengantuk?”

Myungsoo mengangguk sambil tersenyum,”Tidak, hari ini terlalu mengejutkan.  Aku tidak bisa tidur karenanya,”

Sulli mengangguk mengerti, kemudian ia pun menyentuh jendela dengan tangan kirinya.  Menyentuh bayangannya sendiri yang terpantul di jendela itu.

Hah –mungkin ia harus berterimakasih pada Myungsoo, ia sudah menemaninya –meskipun ia bertemu dengan Myungsoo disini karena ketidak sengajaan.  Ia menghela nafas lemah, ah –ia teringat sesuatu.
Tidak mungkin ia disini, bertemu dengan Myungsoo karena ketidak sengajaan.  Bahkan mereka bertemu di gerbong kereta ini mungkin sudah ada yang mengaturnya.  Bukan –bukan, ia kemudian melirik Myungsoo yang juga sedang memandang keluar lewat jendela.

“Tidak mungkin,” gumamnya.

“Apa?”
“Eh-“

“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Myungsoo, kemudian Sulli tersenyum kikuk padanya.

“Tidak, kau salah dengar,” jawabnya, Myungsoo tersenyum padanya, dan memberanikan diri mengelus puncak kepala Sulli lembut.

“Eh?”

“Ah –maaf,” kata Myungsso kaget, ugh –apa yang dilakukannya tadi? Memalukan sekali.

“Tidak apa-apa,” jawab Sulli, ia tersenyum padanya kemudian terkikik pelan.
“Ah –ada orang lain disini!”

Mereka berdua terlonjak ketika mendapati orang lain berdiri di antara mereka, memegang kedua puncak kursi sambil terengah-engah.

“Penumpang baru,” gumam Sulli senang.

Myungsoo yang mendengarnya menoleh sekilas padanya, kemudian mendongak lagi melihat penumpang baru tersebut.
.

TO BE CONTINUED


Gahhhhhh!!! No edited, jangan bash ya.  Tau kok kalo ada yang baca ini, pasti langsung bawaannya buat ngina.  Iya kan? Ngaku deh .__.v sekali lagi, no edited.  sorry for typo and awkward sentences -_____-v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar