Cast : Boy and Girl
BGM : What is Love - EXO
Summary : “ –Hal yang kau anggap manis ketika mengingat orang tersebut. Katakan, apa itu cinta?”
Tidak terasa ya, aku sudah memperhatikanmu
selama itu. 3 tahun yang lalu ketika aku
melihatmu pertama kali dengan senyumanmu itu, tidak ada hal menarik lainnya
dari dirimu selain senyummu –yang kutahu pada saat itu. Senyum lebar yang terkembang saat itu sudah
sanggup membuat banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutku.
Padahal kau juga sudah pernah melihatku, tapi
kenapa tidak mau meneruskan melihat ke arahku saja? Apa saat itu aku belum
menarik hatimu? Kau memang tidak berada dekat denganku, ada beberapa yang
menghalangimu –tepatnya aku untuk mendekat padamu. Tapi tidak masalah, meskipun sudah 3 tahun
aku menyimpan rasa seperti ini padamu diam-diam, perasaan ini seperti baru saja kurasakan kemarin. Aku masih menahan senyum dan pipiku yang
memerah ketika kau tidak sengaja melihatku.
Tapi 3 tahunku ini tidak sia-sia sama sekali,
meskipun kau dan aku tidak sedekat yang ku harapkan tapi kau menunjukan
sinyal-sinyal kalau kau mau aku dekati.
Senang sekali ketika mengetahui hal tersebut, seperti film, aku selalu
saja siap untuk menolongmu. Seperti
ketika gantungan ponselmu hilang, aku ada disana untuk membantumu. Dan kita berada di kelas berdua sampai sore
hanya untuk menemukan gantungan ponselmu yang ternyata kau letakan di dalam
tempat pensilmu. Kau menatapku dengan
pandangan penuh rasa bersalah karena telah merepotkanku, tapi aku hanya
tersenyum dan menggeleng. Tidak masalah
kalau kau terus membutuhkan bantuanku, dengan senang hati. Sama sekali bukan masalah, justru aku merasa
sangat bahagia. Terlebih hanya aku
laki-laki yang dekat denganmu. Kau tahu
apa rasanya? Lebih nyata dari film. Aku pemain utama dalam hidupmu, kan? Ku
anggap seperti itu.
Dan lambat laun, kau menunjukan hal
lainnya. Seperti magic box, kau memperlihatkan banyak kejutan selain
senyuman-senyumanmu itu. Sifat mencintai
coklat dan biru mu itu yang paling membuat pipiku selalu bersemu. Melihatmu kesenangan setelah sebelumnya
merengek ketika menunjuk-nunjuk ratusan coklat di dalam sebuah toko yang kita
lewati. Kau membeli satu dan aku
membelikanmu 5, tidak bisa kulupakan ketika melihat senyum lebar serta mata
berbinarmu saat itu. Padahal kau tahu kalau
kau tidak boleh banyak memakan coklat, esoknya kau tidak datang karena alergi
dan flu-mu mencegahmu untuk datang. Kau
tahu bagaimana perasaanku? Panik luar
biasa, kau membuatku merasa bersalah dan takut, takut kalau aku tidak bisa
melihat senyummu lagi. Takut kalau aku
tidak bisa mendengar candaanmu lagi, dan takut untuk kehilanganmu.
Tapi besoknya kau datang, membuatku merasa
begitu lega saat melihatmu tidak apa-apa setelah sebelumnya aku merasa frustasi
seharian. Kau datang dengan senyummu
yang manis itu. Sangat melegakan.
.
Melihatmu sekarang aku menjadi ragu
dan..penasaran. Kini kau banyak berubah,
tidak banyak bicara seperti dulu, saat kau bisa saja menunjukan sikap manjamu
itu. Kini kau banyak berubah, kau
seperti..menghindariku. Apa aku pernah
menyakiti hatimu? Kau sungguh membuatku
penasaran, sepertinya magic box-mu
itu masih belum sepenuhnya ku bongkar.
Kau masih memiliki rahasia mengejutkan lainnya, ya?
Aku pernah menanyakan hal itu padamu
bukan? Kau menjawabku tidak sejelas
biasanya, kau menjawabnya dengan sangat panjang, dan berputar-putar serta
terbata-bata. Aku tahu kau sedang
berbohong saat itu, kau tidak bisa menyembunyikannya dariku. Dan saat itu aku melepaskanmu begitu saja
bukan, membiarkanmu menganggap bahwa aku sudah puas dengan jawabanmu itu. Padahal di belakangmu, aku berusaha mencari
tahu. Aku ingin tahu apa yang membuatmu
menghindariku, apa aku salah? Atau
kau..pernah tidak sengaja melakukan kesalahan di belakangku dan berusaha
menyembunyikannya? Kalau bukan, lalu
apa?
Kau tahu, hal itu kadang bisa membuatku tidak
bisa berkonsentrasi. Hal itu membuatku
lalai, teman-temanku sering mengeluh karena aku sering melamun ketika bersama
mereka. Mereka meledeku dan menggodaku,
mereka menuduhku sedang jatuh cinta. Aku
tidak bisa mengelak, tapi aku ragu..apa benar aku sedang jatuh cinta? Pada siapa?
Kau?
Kau..gadis yang selalu masuk ke dalam alam
bawah sadarku, dengan sejuta imajinasi yang bisa ku bayangkan. Tapi kau tahu tidak, bayangan apa yang paling
membuatku sejenak lupa bagaimana caranya bernafas ketika memikirkanmu? Ketika melihatmu duduk berdua bersamaku, aku
menggenggam tanganmu dan kau tersenyum di sampingku dengan kostum musim
panasmu. Lalu kau menyodorkan jari
kelingking kananmu seraya tersenyum malu padaku, kau berjanji padaku untuk
saling menyayangi, melindungi, dan mengerti.
Kemudian aku tertawa lebar dan menyambut jari kelingkingmu dengan jari
kelingkingku, serta menambahkan sebuah janji.
Untuk saling percaya, setelah itu kita saling tersenyum sambil
menggoyangkan jari kelingking masing-masing.
Saat itu kau tahu, aku lupa bagaimana caranya
bernafas. Hanya karena membayangkanmu
seperti itu, aku tidak berani membayangkan kalau ternyata aku bisa seperti itu
denganmu. Di masa depan, aku sungguh
penasaran dan tidak sabar menunggu.
Meskipun aku tidak tahu apakah aku benar-benar
jatuh cinta padamu dan..mengharapkan bayangan-bayangan seperti itu benar-benar
terjadi, aku ingin mengetahui hal yang sebenarnya. Selama kebohonganmu dan berubahnya kau padaku
bukan karena hal menakutkan yang pernah ku bayangkan, aku benar-benar tidak
sabar..
.
Sekarang kau berperan seperti apa dalam
hidupku? Awalnya kupikir peranmu adalah
seorang putri, dan aku adalah pangeran berkuda putihnya. Tapi setelah melihatmu tadi, kupikir kau
hanyalah seorang peri hutan. Yang tidak
akan pernah bersatu dengan pangeran berkuda putih. Tentu saja aku tetap menjadi pangeran berkuda
putih, tapi kau bukanlah lagi putrinya.
Kau menghalangi orang lain yang ingin berteman denganku, dan kau
membentak orang tersebut. Mengusirnya
seakan kau seratus persen mengatur hidupku, kemudian menghampiriku dengan
pandangan menyesal karena telah berbuat seperti itu. Tidak benar, seandainya aku benar-benar
menyukaimu pasti saat itu seharusnya aku merasa senang. Terlebih ketika kau mengatakan bahwa aku
adalah milikmu. Seharusnya jantungku akan langsung berdebar keras dan ribuan kupu-kupu yang pernah menggelitik
perutku akan keluar lagi. Tapi saat itu
aku hanya melihatmu tidak suka, seakan kau melakukan hal yang benar-benar
salah. Dan kau memang salah, melarang
orang lain untuk dekat denganku.
Setelah mengatakan hal yang cukup pedas, kau
melihatku tidak percaya. Menatap lurus
ke dalam mataku, kau memang tidak pernah bilang padaku kalau kau menyukaiku
atau sebaliknya. Dan aku sendiri pun
ragu, sampai sekarang kita hanya berteman, kan?
Serta ditambah melihatmu tadi membuatku makin ragu. Kita hanya benar-benar berteman, bukan? Kau meninggalkanku, dan mulai lagi
menghindariku. Seharusnya yang
menghindar seperti itu adalah aku, bukan?
Bukannya kau. Aku melihatmu dari
jauh, sekarang kita tidak pernah lagi berdua.
Kau menghindariku dan aku pun begitu.
Mungkin karena hal itu pula, orang yang pernah kau larang untuk berteman
denganku kini yang selalu berada di sampingku.
Berada di dekatnya aku merasa lebih baik daripada ketika bersamamu, ia
sering menyanyikan lagu-lagu manis ketika bersamaku. Menghiburku yang sekarang sering sekali
termenung –entah karena apa.
Tidak pernah menunjukan celah yang membuat
orang lain merasa risih, nyaris sempurna.
Melihatnya memejamkan matanya ketika bernyanyi, atau ketika kami pulang
bersama dan menghabiskan waktu berdua kedai coklat kesukaanmu. Aku merasa lebih baik, dan kau pun ku lupakan
begitu saja. Kabar kedekatan kami pun
berkembang luas, membuatnya sering menunjukan senyum malu ketika digoda oleh
teman-teman kami saat kami terpergok sedang jalan berdua.
Kau pun tidak terlihat lagi, dan bisa
kuputuskan kalau kau hanyalah peri hutan yang melengkapi cerita mengenai
pangeran dan puterinya. Kau menghilang
–meskipun tidak benar-benar menghilang, kau tetap ada di sekelilingku. Tapi kau tidak lagi melihat ke arahku, dan
tersenyum lagi padaku. Terakhir aku
melihatmu sedang melihat ke arahku, kau melihatku dengan ekspresi yang sama
sekali tidak pernah ku lihat darimu.
Bahkan ekspresi panikmu yang berlebihan tidak sama seperti ekspresimu
yang kulihat waktu itu. tapi aku tersenyum
padamu, tidak tahu harus berbuat apa selain tersenyum. Kupikir kau tidak akan membalas senyumanku
itu, tapi ternyata kau membalasnya.
Meskipun itu merupakan senyum terburuk yang pernah kulihat darimu, hanya
sedetik kemudian kau sudah tidak melihatku lagi. mengalihkan arah pandanganmu, dan aku masih
berada di dalam masa trance-ku.
Memikirkan senyum itu membuat dadaku terasa sesak, ekspresi macam apa
itu? membuatku tidak yakin kalau yang ku
lihat tadi adalah kau, kau yang selalu memperlihatkan senyum super ceria dan
tadi aku melihatmu tersenyum seperti itu.
Sampai seseorang yang ku anggap puteri –sekarang datang, menarik
tanganku untuk memainkan gitarku sementara ia bernyanyi. Tentu saja tidak ku tolak, kami berdua larut
dalam permainan musik itu. Ia bernyanyi
dengan indahnya sementara aku duduk di sampingnya memainkan gitarku. Menikmati semua melodi yang ku hasilkan dan
yang ia perdengarkan, suara itu benar-benar membuatku tenang. Tidak seperti suara..mu yang memekakan
telinga, yang suka sekali berteriak padaku jika aku berpenampilan seperti yang
kau sukai. Aku tersentak, kenapa
ini? lagi-lagi aku memikirkan tentangmu
lagi, kulihat sekelilingku. Kau ada
disana juga seperti yang lain, menonton kami.
Tapi dengan posisi paling belakang, kau menonton kami dengan dinding
yang kau jadikan senderan. Masih tetap memainkan gitar dan memainkan lagu
kedua, aku memperhatikanmu yang kini bertepuk tangan karena suara tinggi
penyanyi kami itu. dan ikut bersorak
lagi. kenapa menunjukan kebohongan seperti
itu lagi?
Kau berbohong lagi, kan? Berpura-pura menikmati permainan musik kami,
aku bisa melihatnya. Kenapa
berbohong? Kau melihatku dengan rasa sakit,
eh? Selama ini saat aku bersama dengan
yang sekarang ku anggap puteri. Kau
berbohong?
Dan sungguh, aku merasa sedih kali itu. Bukan hanya ribuan kupu-kupu, tapi kini aku
merasa di tampar. Tamparan yang
menyadarkanku. Kau bukanlah peri hutan
yang berperan hanya sebagai pelengkap, tapi kau merupakan peri hutan yang
menjelma menjadi puteri. Meski tanpa
mendengarmu mengatakan hal sejujurnya, aku bisa mengetahuinya. Kau menyukaiku, kan? Aku bodoh sekali tidak menyadarinya ketika
melihatmu melarang seseorang-yang-kuanggap-puteri ingin menjadi temanku,
alasanmu ternyata ini kah? Dan aku malah
menuduhmu sebagai orang jahat dan melupakanmu begitu saja. Walaupun aku meminta maaf padamu, kau mau
tidak memafaankanku?
Setiap malam aku selalu berdiri di beranda
kamarku untuk melihat bintang yang selalu kau puji-puji itu, setiap malam
ketika aku meneleponmu kau akan berbicara dengan cepat dan tidak jelas karena
terlalu bersemangat menceritakan bintang kesukaanmu itu. Dan kau selalu mengajakku untuk ikut juga
memperhatikan bintang terang itu. Manis
sekali.
Aku pernah bertanya padamu, apakah kau percaya
pada bintang jatuh. Dan kau langsung
menggeleng dengan tegas, kau tidak percaya.
Kemudian kau mengutarakan teori-teori mengenai bintang jatuh itu. Dan aku menyadari kalau kau bukanlah gadis
yang menyukai hal-hal berbau tidak-nyata seperti itu. Ketika aku memaksamu untuk mengucapkan
permintaan pada bintang jatuh –yang terlihat oleh kita berdua meskipun saat itu
aku tidak berada di sisimu, kau menolak dengan keras dan mengatakan bahwa itu
adalah dongeng untuk anak kecil. Aku
bisa menebak bahwa raut wajahmu keras saat itu, aku selalu bisa menebak air
mukamu, bukan? Tapi untuk yang tadi,
tidak untuk menebak, untuk membayangkan kau akan memasang wajah seperti itu
saja aku tidak berani, dan kau menunjukannya tadi padaku. Aku menyesal.
Dan sekarang, aku juga ingin melihat bintang
yang sama di bawah langit yang sama juga bersamamu meski tidak dalam posisi aku
di sampingmu atau meneleponmu. Aku ingin
merasakan kau ada di sisiku dan berpura-pura mendengar suara bersemangatmu. Ah, aku melihat bintang jatuh!
Kalau kau benar-benar berada di sisiku atau aku
sedang meneleponmu, kupikir kau pasti akan langsung menarik kerah belakang
kausku dan menghentikanku untuk memohon pada bintang jatuh. Iya, kan?
Tapi untuk kali ini, aku ingin melakukannya. Mengindahkan ucapanmu.
Aku berharap bisa memperbaiki semuanya. Semua yang telah ku lakukan dan terjadi. Aku ingin kau berada di sisiku lagi. aku ingin mendengar suara melengking dan
falsmu itu lagi, aku ingin menjadi satu-satunya laki-laki yang dekat denganmu
lagi.
Kuharap kau bisa mendegar permohonanku ini,
besok, semuanya akan kuperbaiki. Akan
aku mulai dari awal untuk mendekatimu lagi.
Janji.
.
Sekarang kau sudah tidak menghindariku lagi,
sekarang kau berada di sisiku lagi.
meski tanpa ku beri tahu dan kau beri tahu, kita berdua sudah saling
mengetahui perasaan masing-masing, kan?
Kau bilang kau sangat suka dengan kedua mataku, hal itulah yang
membuatmu setiap hari melirik ke arah mataku.
Saat kau bilang seperti itu, aku tidak tahu harus melakukan apa. Ribuan kupu-kupu yang ada di perutku serasa
menggelitikku lagi, kau sungguh cheesy saat itu. dengan senyum malu kau menyesap
mochaccino-mu, dan kau tidak sadar bahwa sedikit dari minumanmu itu mengotori
sudut-sudut bibirmu. Saat ku beri tahu
kau hanya melihatku tidak mengerti, wajar saja.
Aku hanya menunjuk-nunjuk ragu ke arah bibirmu tanpa mengucapkan
sesuatu. Dan kau nyaris tersedak saat
aku membersihkan bekas minumanmu menggunakan ibu jariku. Saat itu aku tertawa sangat lepas melihat
ekspresimu yang seperti itu.
Coba saja saat itu aku membawa kamera, kau
mungkin akan mengamuk ketika melihat hasil dari foto yang kuambil. Tapi apa gunanya kamera kalau setiap hari aku
selalu menyimpan gambaran dirimu di pikiranku?
Ah, aku terdengar cheesy sekarang.
Kau mungkin tidak menyadarinya, saat ini aku
sedang bersiap-siap untuk mewujudkan bayanganku dahulu. Menyiapkan seluruh mentalku untuk melakukan
hal ini, meski kau sudah mengetahuinya tapi tetap saja hal ini begitu mendebarkan
sekaligus menegangkan. Setiap malam aku
berlatih untuk mengatakan hal itu kepadamu, meski sudah berlatih jika melihatmu
dan tiba-tiba teringat dengan apa yang ingin kulakukan, semuanya seakan kembali
seperti awal. Ah, aku tidak berharap kau
akan melihat apa yang sudah kulakukan selama ini. Kurasa kau akan tertawa terbahak ketika
melihatku yang sedang berlatih.
Memalukan.
“Sedang
apa?”
Aku terlonjak ketika ponsel yang ku genggam
tiba-tiba berdering dan aku tidak sengaja menekan tombol answer dan langsung mendengar ocehanmu.
“Se..sedang ingin
makan, iya makan. Kau sendiri?”
Kau pasti tahu dengan kebiasaanku ketika
berbohong, kan?
“Malam malam seperti
ini ingin makan? Tidak baik untuk
kesehatan!”
Ah, mau tidak mau aku tersenyum karena
ucapanmu. Sangat cerewet jika orang lain
melakukan hal yang tidak kau suka. Tapi
itulah kekuranganmu, kau yang kupikir sudah hafal dengan sifat dan kebiasaanku
ternyata tidak sama sekali. Kau merupakan
gadis paling cuek dan tidak peka, iya, kan?
Tapi kau selalu menyangkalnya dan mengatakan kalau itu membuatmu menjadi
tidak suka untuk ikut bergosip bersama gadis-gadis yang lain. Dasar bodoh!
“Iya aku tahu, karena
itu aku kelaparan sekarang.”
Kau tidak menjawab untuk beberapa detik dan
kemudian kau berseru sehingga membuatku
harus menjauhkan ponsel dari telingaku.
“Kalau begitu tidur
saja! Kalau kau tidur pasti tidak akan
terasa laparnya!”
Gadis ini..memang sleeping beauty. Kapanpun kalau bisa kau pasti akan tidur,
entah dimana saja. Termasuk di depanku,
kau bisa saja tertidur jika aku sedang berbicara padamu. Itu terjadi ketika kau berpura-pura untuk
mendengarkan topik yang tidak kau sukai, dan kau malah tertidur karenanya. Aku tidak tahu harus marah atau tertawa kalau
seperti itu, bagaimanapun kau tetap berusaha menyanangkanku dengan berpura-pura
mendengarkanku, kan?
“Tapi aku tidak sedang
mengantuk, lagipula..”
“Lagipula apa?”
“Mautidakbesokbertemudengankuditamanyangbiasakaulewatiketikapulangdarisekolah?”
Sial!
Apa yang kukatakan tadi?!
“Oh..apa?!”
Tuh kan, kau pasti tidak akan mengerti apa yang
kukatakan tadi. Bahkan aku sendiri tidak
tahu apa yang sudah kukatakan tadi. Dan
untuk mengulanginya lagi aku terlalu malu..
“Ti..tidak apa-apa,”
Kau diam sejenak, mungkin masih mencerna apa
yang ku katakana tadi. Ah sudahlah,
mungkin bukan saatnya aku melakukan hal
ini.
“Lupakan saja.”
“Tidak..tidak..rasanya
tadi aku mendengar taman yang selalu ke lewati, kenapa dengan taman itu
memang?”
BAM!
Bagaimana ini?
Kalau aku mengatakan hal lainnya kau pasti akan tahu kalau aku sedang
berbohong, tapi kalau aku mengatakan aku ingin mengajakmu..uhm..kencan, kau
pasti akan tertawa dan mempermalukanku.
“Aaa..aa..mautidakbesokbertemu
disana?” kataku
sedikit lebih lambat dari yang tadi.
“Uh..apa?”
Kenapa kau tidak mengerti sih maksudku?!
“Be..besok bertemu
disana,” kataku
pelan.
“Besok? Bertemu disana? Boleh saja, ada apa?” tanyamu dengan riang, bisa ku
bayangkan kau menjawabku dengan senyum ceriamu seperti biasa.
“Uh, ada yang ingin
kubicarakan.”
Jawabku asal sambil memutar mataku.
Ingin cepat-cepat mengakhiri pembicaraan ini. Karena aku terlalu gugup kalau kau bertanya
hal-hal lainnya dan aku tidak tahu harus menjawab apa agar kau tidak curoga dengan
rencana –mendadakku ini.
“Bicara apa? Di sini tidak bisa?”
Nah, kan, kau pati bertanya hal lainnya. Kenapa kau tidak menurut saja, sih? Kemudian memutuskan sambungan ini, dan kita
bertemu besok.
“Tidak bisa, kalau
bicara disini hidupku –bisa terancam!!!” jawabku ngawur, tidak peduli apa tanggapanmua,
yang penting pembicaraan ini harus segera selesai sekarang.
“O –ohh, tapi kenapa
hidup-“
“Kalau kau terus
bertanya aku akan makan sekarang dan membuatmu melihatku yang semakin gendut!” sekali lagi aku berbicara melantur,
tidak mungkin aku akan langsung gendut hanya karena makan malam selarut ini
sekali.
“A –apa?! Ya sudahlah, kalau begitu akan
kumatikan. Besok pukul berapa?” katamu pelan dan ragu-ragu. Tapi akhirnya kau akan memutuskan sambungan juga.
“Sore bagaimana?”
Dan syukurlah, jarak rumahku menuju taman yang
ku maksud tidak begitu jauh. Jika
berjalan kaki tidak akan menghabiskan banyak waktu.
“Err..baiklah. Nanti kukabari kalau aku sudah siap,” jawabmu dan setelah itu lagi
terdengar suara helaan nafasmu.
“Kalau begitu, selamat
malam. Jangan tidur larut malam, kau
tahu?” lanjutmu
lagi. Diam-diam aku tersenyum disini,
mendengarmu yang masih saja mengkhawatirkanku sungguh membuatku bangga.
“Iya, kau juga. Selamat malam..” balasku tidak kalah khawatir denganmu. Tapi sebenarnya yang ku khawatirkan bukanlah
kau yang tidur larut malam, tapi kau yang tertidur di beranda ketika sedang
melihat bintang yang kau puji itu.
“Selamat malam..” dan kemudian tidak terdengar
suaramu lagi. Kau mematikan sambungan
dan aku masih saja memandang layar ponselku dengan senyum yang lagi-lagi ku
kembangkan. Melihat layar wallpaper-ku
yang menampakan wajahmu damaimu ketika tertidur di meja. Aku mengambil gambarmu ketika kau sedang bosan
mendengar suara guru dan menaruh kepalamu di atas meja. Dasar.
Tapi malam ini ku harap berakhir lebih cepat,
meski aku masih belum sepenuhnya percaya diri untuk melihatmu besok, aku sudah
benar-benar merindukanmu dan ingin mendengar jawabanmu nanti.
.
Aku sudah sampai di tempat yang sudah kita janjikan sejak setengah jam lalu, tidak tahu apa yang
kupikirkan. Bahkan untuk mengatakan
waktu bertemu padamu saja aku tidak ingat, dan lebih buruknya, aku lupa membawa
ponselmu. Untuk kembali lagi aku sudah
terlalu malas, takut takut kau tiba disini sementara aku dalam perjalananku
menuju rumahku. Kau pasti akan kesal dan
menganggapku sedang bermain-main.
Tapi tidak ku sangkal juga, bahwa hari ini sejak tadi malam aku merasa
tidak bisa berpikir dengan baik.
Semuanya terasa buntu dan tidak bisa ku hentikan, aku bertindak layaknya
orang bodoh. Yang kupikirkan hanyalah
saat ini dan melihatmu berjalan kesini di dalam lingkaran cahaya dan semuanya
bergerak layaknya film diperlambat. Kau
tersenyum padaku dan berlari kecil ke arahku.
Dan yang kulihat hanyalah kau dan aku yang sedang duduk di kursi taman,
melihatmu berlari dengan gaya diperlambat dan hanya ada kau di dalam lingkaran
cahaya. Kau memakai kostum musim panas
–yang lagi-lagi seperti kostum yang ku bayangkan dulu. Topi lebar yang mentupi sebagian wajahmu dan
membiarkan rambut hitam-kecoklatanmu tergerai di punggungmu, dan kau memakai
pakaian yang sama sekali tidak pernah kulihat, gaun musim panas. Menunjukan kulit putihmu itu, dan kaki
jenjangmu. Hanya itu yang kubayangkan.
“Hai,” bahkan aku bisa membayangkan kau sedang menyapaku. Kumohon sadarkan aku sekarang.
“Eh?
Hai?” aku bisa merasakan
tanganmu sedang menarik-narik ujung lengan kausku dan tanganmu yang lain
bergoyang-goyang di depan mataku.
Kenapa bayanganmu bisa begitu nyata seperti ini? Apa kau benar-benar bukan lagi hidup di dunia
dan masuk ke dalam bayang-bayanganku?
“Hei!
Kau kenapa sih?!” serumu
keras. Membuatku tersadar tiba-tiba,
memfokuskan pandangan mataku dan bertemu dengan sorot mata heran serta
khawatirmu.
Jadi tadi bukanlah sekedar imajinasiku saja? Kau benar-benar berlari kecil ke arahku
dengan gaya diperlambat seperti tadi?
Ah, tidak mungkin. Bagian itu pasti
memang imajinasiku.
“Kenapa apa?” tanyaku, aku menyilahkannya duduk di sampingku. Tapi kau tetap bergeming dan malah
memperhatikan wajahku.
“Kau yang kenapa? Seperti orang idiot seperti tadi.” Jawabku pelan, tapi..menusuk. Kebiasaanmu yang lain. Aku hanya tersenyum samar dan mengabaikannya.
Sudah harus dimulai, tidak usah pakai basa basi. Itu hanya akan membuatku semakin gugup.
“Ayo duduk,” kataku sambil membawa lengannya dan menariknya untuk duduk di
sampingku. Aku memperhatikan dirinya
sejenak, manis sekali. Kenapa memakai
kostum seperti itu? Cantik.
“Apa?”
“Y..ya?” tanyaku, dan memasang senyum tipisku.
“Kau bilang apa tadi? Kenapa sekarang suka sekali bicara tidak
jelas seperti itu, sih?” protesmu, ah
lucu sekali. Kau membuat sudut dengan
bibirmu itu, membuatku mengulurkan kedua tanganku dan menarik bibirmu ke
samping. Tidak membuatmu harus
mengerucutkan bibirmu seperti itu.
“Jangan pernah menunjukan wajah seperti
itu lagi, lebih baik tersenyum seperti ini.” kataku, aw cheesy sekali.
Kau tampak salah tingkah dan menyembunyikan senyum simpulmu, “Jangan bicara macam-macam.” Kau
mengingatkanku. Ah, lucu sekali.
“Jadi, ingin bicara apa? Kau tepat sekali mengajakku keluar, aku baru
saja membeli baju ini. Lucu tidak? Tapi rok ini sedikit mengganggu,” katamu sambil menarik ujung bawah rokmu, tidak, sama
sekali tidak mengganggu. Kau cantik
sekali.
“Ada apa sampai kau membeli pakaian
seperti ini?” tanyaku, sekedar
ingin membuat wajahmu kembali memerah.
Kau menoleh padaku sebentar dan kembali melihat ujung rokmu.
“Tidak tahu, tiba-tiba aku ingin saja
memiliki baju ini. Bagus tidak?” jawabmu, ah, tidak usah kau tanya pun kau itu cocok
memakai baju apapun. Aku mengangguk
dengan senyumku membuatnya ikut tersenyum dan mengibaskan tangannya di samping
lehernya. Kau kepanasan, eh?
“Tunggu, kenapa mengalihkan
pembicaraan? Kau ingin bicara apa?” tanyamu lagi, tujuan utamaku mengajakmu kesini sampai
sempat terlupakan karena melihatmu tampil berbeda seperti ini. Aku tersenyum kering dan menatap lurus
kedepan. Sepertinya akan dimulai..
“Kau harus bertanggung jawab,” aku menghentikan ucapanku dan melirik ke arahmu. Kau hanya diam dan menunggu ucapanku
selanjutnya. Tapi ekspresi wajah yang
kau lukiskan itu menunjukan kalau kau sudah merasa ketakutan.
“Aku bukanlah tipe laki-laki yang setia,
jujur saja. Kau tahu, kan?” kulihat kau mengangguk pelan dan ragu.
“Tapi kau membuatku selama 3 tahun terus
saja melihatmu, aku tidak tahu kenapa.
Bahkan ketika melihat ibuku menanam bunga matahari di halaman seperti
sedang melihat cerminan diriku. Melihat
bunga yang selalu mengikuti arah bergerak matahari dan tampak layu ketika malam
hari. Aku seperti melihat refleksi
diriku dari bunga itu. Apa aku menyadari
bahwa aku telah menjelma menjadi bunga matahari yang selalu saja melihat ke
satu arah, melihat matahari itu sendiri,” aku menghentikan ucapanku dan menunggu reaksimu. Tapi kau hanya diam dengan kepala menunduk,
dan rambutmu itu menutup sisi dimana aku bisa melihat wajahmu.
“Apa kau bisa menebak kenapa aku
menganggap diriku seperti bunga matahari?
Dan kenapa aku bisa terus melihat ke arah matahari yang sama dan
mengindahkan matahari-matahari yang lain, walaupun tidak kupungkiri aku juga
sempat tergoda dengan matahari lainnya.
Kau tahu kenapa?” lanjutku dan
malah seperti sedang berbicara pada diriku sendiri.
“Aku..tidak tahu” jawabmu pelan.
Aku tersenyum samar.
“Kau pasti tahu, karena matahari itu
adalah kau. Matahari yang sanggup
membuatku terus melihat ke arahnya selama 3 tahun terakhir. Tidak peduli berapa kali matahari itu terlalu
besar memancarkan cahaya yang membuat bunga matahari itu terlalu kepanasan atau
ketika sinar matahari itu meredup. Kau
pasti tahu,” tidak kusangka aku
bisa mengatakan hal seperti ini dengan lancar, dan santai. Seperti sudah ku persiapkan sebelumnya,
padahal sama sekali tidak terpikirkan untuk berbicara dengan tema Bunga Matahari dan Matahari seperti
ini. Aku menoleh ke arahnya, melihatnya
yang sudah duduk tegak dan ikut memandang lurus ke depan.
“Kalau kau merasa kau adalah bunga
matahari, apa kau tahu dengan peri hutan yang selalu memperhatikan pemburu
hutan dari jauh meski kadang si pemburu berbuat jahat pada hutannya?”
Ah, aku tahu arah pembicaraan ini.
Aku tersenyum getir.
“Tapi tetap saja ketika sekali lagi peri
hutan dan pemburu hutan bertemu, si pemburu berusaha mencari maaf dari si peri
dan membangun hutan seperti sedia kala, meski kadang peri hutan menunjukan
sikap ‘kehutanannya’ pada si pemburu.”
Aku terkekeh kecil, “Begitu juga
bunga matahari dan mataharinya, meski kadang sinar matahari dan matahari tidak
selalu menunjukan dirinya pada bunga matahari, bunga matahari selalu tahu
dimana dan kapan melihat matahari itu lagi.”
Kulihat kau tertawa dengan kedua pipimu memerah, ah kau tersipu dan
menutupinya dengan tawamu.
“Aku..menyukaimu. Tidak –mencintaimu.” Kataku, dan membuatmu menoleh kepadaku. Lama kita berdua saling terdiam, dan kau
tiba-tiba mengacungkan jari kelingkingmu.
“Aku..juga. Kalau begitu kita buat janji,”
“Untuk saling menyayangi,”
Kau berhenti sejenak untuk melihat kedua mataku, sambil tersenyum kau
membiarkan semburat-semburat merah di kedua pipimu menyebar.
“Saling melindungi, dan saling
mengerti.” Katamu membuatku sedikit terkejut, ini semua persis seperti yang
pernah ku bayangkan dulu. Bagaimana
bisa?
Tapi tanpa membuatnya lama menahan kelingkingnya bergantung di udara,
aku menyambutnya dengan senyum lebar.
“Satu lagi, untuk saling percaya.”
Kau tersenyum lebar seraya mengangguk dan menggoyang-goyangkan jari
kelingkingmu. Ah, katakan padaku apa itu
cinta?
End
PS : No edited, sorry for awkward sentences .______.
romantis ga? Kurang ya kurang? Sesuai judulnya, aku bikinnya karena
terispirasi lagu What is Love-nya EXO pas nyuci piring O___o well, ini
fiksi. Bukan fanfiksi, jadi aku make
castnya boy and girl. Kalau mau diganti
pake nama sendiri pas bacanya juga boleh xD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar