Kamis, 03 Mei 2012

FIKSI : WHAT IS LOVE


Cast : Boy and Girl

BGM : What is Love - EXO

Summary :  “ –Hal yang kau anggap manis ketika mengingat orang tersebut.  Katakan, apa itu cinta?”



Tidak terasa ya, aku sudah memperhatikanmu selama itu.  3 tahun yang lalu ketika aku melihatmu pertama kali dengan senyumanmu itu, tidak ada hal menarik lainnya dari dirimu selain senyummu –yang kutahu pada saat itu.  Senyum lebar yang terkembang saat itu sudah sanggup membuat banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutku.

Padahal kau juga sudah pernah melihatku, tapi kenapa tidak mau meneruskan melihat ke arahku saja? Apa saat itu aku belum menarik hatimu? Kau memang tidak berada dekat denganku, ada beberapa yang menghalangimu –tepatnya aku untuk mendekat padamu.  Tapi tidak masalah, meskipun sudah 3 tahun aku menyimpan rasa seperti ini padamu diam-diam, perasaan ini seperti  baru saja kurasakan kemarin.  Aku masih menahan senyum dan pipiku yang memerah ketika kau tidak sengaja melihatku.

Tapi 3 tahunku ini tidak sia-sia sama sekali, meskipun kau dan aku tidak sedekat yang ku harapkan tapi kau menunjukan sinyal-sinyal kalau kau mau aku dekati.  Senang sekali ketika mengetahui hal tersebut, seperti film, aku selalu saja siap untuk menolongmu.  Seperti ketika gantungan ponselmu hilang, aku ada disana untuk membantumu.  Dan kita berada di kelas berdua sampai sore hanya untuk menemukan gantungan ponselmu yang ternyata kau letakan di dalam tempat pensilmu.  Kau menatapku dengan pandangan penuh rasa bersalah karena telah merepotkanku, tapi aku hanya tersenyum dan menggeleng.  Tidak masalah kalau kau terus membutuhkan bantuanku, dengan senang hati.  Sama sekali bukan masalah, justru aku merasa sangat bahagia.  Terlebih hanya aku laki-laki yang dekat denganmu.  Kau tahu apa rasanya?  Lebih nyata dari film.  Aku pemain utama dalam hidupmu, kan? Ku anggap seperti itu.

Dan lambat laun, kau menunjukan hal lainnya.  Seperti magic box, kau memperlihatkan banyak kejutan selain senyuman-senyumanmu itu.  Sifat mencintai coklat dan biru mu itu yang paling membuat pipiku selalu bersemu.  Melihatmu kesenangan setelah sebelumnya merengek ketika menunjuk-nunjuk ratusan coklat di dalam sebuah toko yang kita lewati.  Kau membeli satu dan aku membelikanmu 5, tidak bisa kulupakan ketika melihat senyum lebar serta mata berbinarmu saat itu.  Padahal kau tahu kalau kau tidak boleh banyak memakan coklat, esoknya kau tidak datang karena alergi dan flu-mu mencegahmu untuk datang.  Kau tahu bagaimana perasaanku?  Panik luar biasa, kau membuatku merasa bersalah dan takut, takut kalau aku tidak bisa melihat senyummu lagi.  Takut kalau aku tidak bisa mendengar candaanmu lagi, dan takut untuk kehilanganmu.

Tapi besoknya kau datang, membuatku merasa begitu lega saat melihatmu tidak apa-apa setelah sebelumnya aku merasa frustasi seharian.  Kau datang dengan senyummu yang manis itu.  Sangat melegakan.


.


Melihatmu sekarang aku menjadi ragu dan..penasaran.  Kini kau banyak berubah, tidak banyak bicara seperti dulu, saat kau bisa saja menunjukan sikap manjamu itu.  Kini kau banyak berubah, kau seperti..menghindariku.  Apa aku pernah menyakiti hatimu?  Kau sungguh membuatku penasaran, sepertinya magic box-mu itu masih belum sepenuhnya ku bongkar.  Kau masih memiliki rahasia mengejutkan lainnya, ya?

Aku pernah menanyakan hal itu padamu bukan?  Kau menjawabku tidak sejelas biasanya, kau menjawabnya dengan sangat panjang, dan berputar-putar serta terbata-bata.  Aku tahu kau sedang berbohong saat itu, kau tidak bisa menyembunyikannya dariku.  Dan saat itu aku melepaskanmu begitu saja bukan, membiarkanmu menganggap bahwa aku sudah puas dengan jawabanmu itu.  Padahal di belakangmu, aku berusaha mencari tahu.  Aku ingin tahu apa yang membuatmu menghindariku, apa aku salah?  Atau kau..pernah tidak sengaja melakukan kesalahan di belakangku dan berusaha menyembunyikannya?  Kalau bukan, lalu apa?

Kau tahu, hal itu kadang bisa membuatku tidak bisa berkonsentrasi.  Hal itu membuatku lalai, teman-temanku sering mengeluh karena aku sering melamun ketika bersama mereka.  Mereka meledeku dan menggodaku, mereka menuduhku sedang jatuh cinta.  Aku tidak bisa mengelak, tapi aku ragu..apa benar aku sedang jatuh cinta?  Pada siapa?  Kau?

Kau..gadis yang selalu masuk ke dalam alam bawah sadarku, dengan sejuta imajinasi yang bisa ku bayangkan.  Tapi kau tahu tidak, bayangan apa yang paling membuatku sejenak lupa bagaimana caranya bernafas ketika memikirkanmu?  Ketika melihatmu duduk berdua bersamaku, aku menggenggam tanganmu dan kau tersenyum di sampingku dengan kostum musim panasmu.  Lalu kau menyodorkan jari kelingking kananmu seraya tersenyum malu padaku, kau berjanji padaku untuk saling menyayangi, melindungi, dan mengerti.  Kemudian aku tertawa lebar dan menyambut jari kelingkingmu dengan jari kelingkingku, serta menambahkan sebuah janji.  Untuk saling percaya, setelah itu kita saling tersenyum sambil menggoyangkan jari kelingking masing-masing.

Saat itu kau tahu, aku lupa bagaimana caranya bernafas.  Hanya karena membayangkanmu seperti itu, aku tidak berani membayangkan kalau ternyata aku bisa seperti itu denganmu.  Di masa depan, aku sungguh penasaran dan tidak sabar menunggu.

Meskipun aku tidak tahu apakah aku benar-benar jatuh cinta padamu dan..mengharapkan bayangan-bayangan seperti itu benar-benar terjadi, aku ingin mengetahui hal yang sebenarnya.  Selama kebohonganmu dan berubahnya kau padaku bukan karena hal menakutkan yang pernah ku bayangkan, aku benar-benar tidak sabar..



.


Sekarang kau berperan seperti apa dalam hidupku?  Awalnya kupikir peranmu adalah seorang putri, dan aku adalah pangeran berkuda putihnya.  Tapi setelah melihatmu tadi, kupikir kau hanyalah seorang peri hutan.  Yang tidak akan pernah bersatu dengan pangeran berkuda putih.  Tentu saja aku tetap menjadi pangeran berkuda putih, tapi kau bukanlah lagi putrinya.  Kau menghalangi orang lain yang ingin berteman denganku, dan kau membentak orang tersebut.  Mengusirnya seakan kau seratus persen mengatur hidupku, kemudian menghampiriku dengan pandangan menyesal karena telah berbuat seperti itu.  Tidak benar, seandainya aku benar-benar menyukaimu pasti saat itu seharusnya aku merasa senang.  Terlebih ketika kau mengatakan bahwa aku adalah milikmu.  Seharusnya jantungku akan langsung berdebar keras dan ribuan kupu-kupu yang pernah menggelitik perutku akan keluar lagi.  Tapi saat itu aku hanya melihatmu tidak suka, seakan kau melakukan hal yang benar-benar salah.  Dan kau memang salah, melarang orang lain untuk dekat denganku.

Setelah mengatakan hal yang cukup pedas, kau melihatku tidak percaya.  Menatap lurus ke dalam mataku, kau memang tidak pernah bilang padaku kalau kau menyukaiku atau sebaliknya.  Dan aku sendiri pun ragu, sampai sekarang kita hanya berteman, kan?  Serta ditambah melihatmu tadi membuatku makin ragu.  Kita hanya benar-benar berteman, bukan?  Kau meninggalkanku, dan mulai lagi menghindariku.  Seharusnya yang menghindar seperti itu adalah aku, bukan?  Bukannya kau.  Aku melihatmu dari jauh, sekarang kita tidak pernah lagi berdua.  Kau menghindariku dan aku pun begitu.  Mungkin karena hal itu pula, orang yang pernah kau larang untuk berteman denganku kini yang selalu berada di sampingku.  Berada di dekatnya aku merasa lebih baik daripada ketika bersamamu, ia sering menyanyikan lagu-lagu manis ketika bersamaku.  Menghiburku yang sekarang sering sekali termenung –entah karena apa.

Tidak pernah menunjukan celah yang membuat orang lain merasa risih, nyaris sempurna.  Melihatnya memejamkan matanya ketika bernyanyi, atau ketika kami pulang bersama dan menghabiskan waktu berdua kedai coklat kesukaanmu.  Aku merasa lebih baik, dan kau pun ku lupakan begitu saja.  Kabar kedekatan kami pun berkembang luas, membuatnya sering menunjukan senyum malu ketika digoda oleh teman-teman kami saat kami terpergok sedang jalan berdua.

Kau pun tidak terlihat lagi, dan bisa kuputuskan kalau kau hanyalah peri hutan yang melengkapi cerita mengenai pangeran dan puterinya.  Kau menghilang –meskipun tidak benar-benar menghilang, kau tetap ada di sekelilingku.  Tapi kau tidak lagi melihat ke arahku, dan tersenyum lagi padaku.  Terakhir aku melihatmu sedang melihat ke arahku, kau melihatku dengan ekspresi yang sama sekali tidak pernah ku lihat darimu.  Bahkan ekspresi panikmu yang berlebihan tidak sama seperti ekspresimu yang kulihat waktu itu.  tapi aku tersenyum padamu, tidak tahu harus berbuat apa selain tersenyum.  Kupikir kau tidak akan membalas senyumanku itu, tapi ternyata kau membalasnya.  Meskipun itu merupakan senyum terburuk yang pernah kulihat darimu, hanya sedetik kemudian kau sudah tidak melihatku lagi.  mengalihkan arah pandanganmu, dan aku masih berada di dalam masa trance-ku.  Memikirkan senyum itu membuat dadaku terasa sesak, ekspresi macam apa itu?  membuatku tidak yakin kalau yang ku lihat tadi adalah kau, kau yang selalu memperlihatkan senyum super ceria dan tadi aku melihatmu tersenyum seperti itu.  Sampai seseorang yang ku anggap puteri –sekarang datang, menarik tanganku untuk memainkan gitarku sementara ia bernyanyi.  Tentu saja tidak ku tolak, kami berdua larut dalam permainan musik itu.  Ia bernyanyi dengan indahnya sementara aku duduk di sampingnya memainkan gitarku.  Menikmati semua melodi yang ku hasilkan dan yang ia perdengarkan, suara itu benar-benar membuatku tenang.  Tidak seperti suara..mu yang memekakan telinga, yang suka sekali berteriak padaku jika aku berpenampilan seperti yang kau sukai.  Aku tersentak, kenapa ini?  lagi-lagi aku memikirkan tentangmu lagi, kulihat sekelilingku.  Kau ada disana juga seperti yang lain, menonton kami.  Tapi dengan posisi paling belakang, kau menonton kami dengan dinding yang kau jadikan senderan. Masih tetap memainkan gitar dan memainkan lagu kedua, aku memperhatikanmu yang kini bertepuk tangan karena suara tinggi penyanyi kami itu.  dan ikut bersorak lagi.  kenapa menunjukan kebohongan seperti itu lagi?

Kau berbohong lagi, kan?  Berpura-pura menikmati permainan musik kami, aku bisa melihatnya.  Kenapa berbohong?  Kau melihatku dengan rasa sakit, eh?  Selama ini saat aku bersama dengan yang sekarang ku anggap puteri.  Kau berbohong?

Dan sungguh, aku merasa sedih kali itu.  Bukan hanya ribuan kupu-kupu, tapi kini aku merasa di tampar.  Tamparan yang menyadarkanku.  Kau bukanlah peri hutan yang berperan hanya sebagai pelengkap, tapi kau merupakan peri hutan yang menjelma menjadi puteri.  Meski tanpa mendengarmu mengatakan hal sejujurnya, aku bisa mengetahuinya.  Kau menyukaiku, kan?  Aku bodoh sekali tidak menyadarinya ketika melihatmu melarang seseorang-yang-kuanggap-puteri ingin menjadi temanku, alasanmu ternyata ini kah?  Dan aku malah menuduhmu sebagai orang jahat dan melupakanmu begitu saja.  Walaupun aku meminta maaf padamu, kau mau tidak memafaankanku?

Setiap malam aku selalu berdiri di beranda kamarku untuk melihat bintang yang selalu kau puji-puji itu, setiap malam ketika aku meneleponmu kau akan berbicara dengan cepat dan tidak jelas karena terlalu bersemangat menceritakan bintang kesukaanmu itu.  Dan kau selalu mengajakku untuk ikut juga memperhatikan bintang terang itu.  Manis sekali.

Aku pernah bertanya padamu, apakah kau percaya pada bintang jatuh.  Dan kau langsung menggeleng dengan tegas, kau tidak percaya.  Kemudian kau mengutarakan teori-teori mengenai bintang jatuh itu.  Dan aku menyadari kalau kau bukanlah gadis yang menyukai hal-hal berbau tidak-nyata seperti itu.  Ketika aku memaksamu untuk mengucapkan permintaan pada bintang jatuh –yang terlihat oleh kita berdua meskipun saat itu aku tidak berada di sisimu, kau menolak dengan keras dan mengatakan bahwa itu adalah dongeng untuk anak kecil.  Aku bisa menebak bahwa raut wajahmu keras saat itu, aku selalu bisa menebak air mukamu, bukan?  Tapi untuk yang tadi, tidak untuk menebak, untuk membayangkan kau akan memasang wajah seperti itu saja aku tidak berani, dan kau menunjukannya tadi padaku.  Aku menyesal.

Dan sekarang, aku juga ingin melihat bintang yang sama di bawah langit yang sama juga bersamamu meski tidak dalam posisi aku di sampingmu atau meneleponmu.  Aku ingin merasakan kau ada di sisiku dan berpura-pura mendengar suara bersemangatmu.  Ah, aku melihat bintang jatuh!

Kalau kau benar-benar berada di sisiku atau aku sedang meneleponmu, kupikir kau pasti akan langsung menarik kerah belakang kausku dan menghentikanku untuk memohon pada bintang jatuh.  Iya, kan?  Tapi untuk kali ini, aku ingin melakukannya.  Mengindahkan ucapanmu.

Aku berharap bisa memperbaiki semuanya.  Semua yang telah ku lakukan dan terjadi.  Aku ingin kau berada di sisiku lagi.  aku ingin mendengar suara melengking dan falsmu itu lagi, aku ingin menjadi satu-satunya laki-laki yang dekat denganmu lagi.

Kuharap kau bisa mendegar permohonanku ini, besok, semuanya akan kuperbaiki.  Akan aku mulai dari awal untuk mendekatimu lagi.  Janji.


.


Sekarang kau sudah tidak menghindariku lagi, sekarang kau berada di sisiku lagi.  meski tanpa ku beri tahu dan kau beri tahu, kita berdua sudah saling mengetahui perasaan masing-masing, kan?  Kau bilang kau sangat suka dengan kedua mataku, hal itulah yang membuatmu setiap hari melirik ke arah mataku.  Saat kau bilang seperti itu, aku tidak tahu harus melakukan apa.  Ribuan kupu-kupu yang ada di perutku serasa menggelitikku lagi, kau sungguh cheesy saat itu.  dengan senyum malu kau menyesap mochaccino-mu, dan kau tidak sadar bahwa sedikit dari minumanmu itu mengotori sudut-sudut bibirmu.  Saat ku beri tahu kau hanya melihatku tidak mengerti, wajar saja.  Aku hanya menunjuk-nunjuk ragu ke arah bibirmu tanpa mengucapkan sesuatu.  Dan kau nyaris tersedak saat aku membersihkan bekas minumanmu menggunakan ibu jariku.  Saat itu aku tertawa sangat lepas melihat ekspresimu yang seperti itu.

Coba saja saat itu aku membawa kamera, kau mungkin akan mengamuk ketika melihat hasil dari foto yang kuambil.  Tapi apa gunanya kamera kalau setiap hari aku selalu menyimpan gambaran dirimu di pikiranku?  

Ah, aku terdengar cheesy sekarang.

Kau mungkin tidak menyadarinya, saat ini aku sedang bersiap-siap untuk mewujudkan bayanganku dahulu.  Menyiapkan seluruh mentalku untuk melakukan hal ini, meski kau sudah mengetahuinya tapi tetap saja hal ini begitu mendebarkan sekaligus menegangkan.  Setiap malam aku berlatih untuk mengatakan hal itu kepadamu, meski sudah berlatih jika melihatmu dan tiba-tiba teringat dengan apa yang ingin kulakukan, semuanya seakan kembali seperti awal.  Ah, aku tidak berharap kau akan melihat apa yang sudah kulakukan selama ini.  Kurasa kau akan tertawa terbahak ketika melihatku yang sedang berlatih.  Memalukan.

Sedang apa?”

Aku terlonjak ketika ponsel yang ku genggam tiba-tiba berdering dan aku tidak sengaja menekan tombol answer dan langsung mendengar ocehanmu.

“Se..sedang ingin makan, iya makan.  Kau sendiri?”

Kau pasti tahu dengan kebiasaanku ketika berbohong, kan?
“Malam malam seperti ini ingin makan?  Tidak baik untuk kesehatan!”

Ah, mau tidak mau aku tersenyum karena ucapanmu.  Sangat cerewet jika orang lain melakukan hal yang tidak kau suka.  Tapi itulah kekuranganmu, kau yang kupikir sudah hafal dengan sifat dan kebiasaanku ternyata tidak sama sekali.  Kau merupakan gadis paling cuek dan tidak peka, iya, kan?  Tapi kau selalu menyangkalnya dan mengatakan kalau itu membuatmu menjadi tidak suka untuk ikut bergosip bersama gadis-gadis yang lain.  Dasar bodoh!

“Iya aku tahu, karena itu aku kelaparan sekarang.”

Kau tidak menjawab untuk beberapa detik dan kemudian  kau berseru sehingga membuatku harus menjauhkan ponsel dari telingaku.

“Kalau begitu tidur saja!  Kalau kau tidur pasti tidak akan terasa laparnya!”

Gadis ini..memang sleeping beauty.  Kapanpun kalau bisa kau pasti akan tidur, entah dimana saja.  Termasuk di depanku, kau bisa saja tertidur jika aku sedang berbicara padamu.  Itu terjadi ketika kau berpura-pura untuk mendengarkan topik yang tidak kau sukai, dan kau malah tertidur karenanya.  Aku tidak tahu harus marah atau tertawa kalau seperti itu, bagaimanapun kau tetap berusaha menyanangkanku dengan berpura-pura mendengarkanku, kan?

“Tapi aku tidak sedang mengantuk, lagipula..”

“Lagipula apa?”

“Mautidakbesokbertemudengankuditamanyangbiasakaulewatiketikapulangdarisekolah?”

Sial!  Apa yang kukatakan tadi?!

“Oh..apa?!”

Tuh kan, kau pasti tidak akan mengerti apa yang kukatakan tadi.  Bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang sudah kukatakan tadi.  Dan untuk mengulanginya lagi aku terlalu malu..

“Ti..tidak apa-apa,”

Kau diam sejenak, mungkin masih mencerna apa yang ku katakana tadi.  Ah sudahlah, mungkin bukan saatnya aku  melakukan hal ini.
“Lupakan saja.”

Tidak..tidak..rasanya tadi aku mendengar taman yang selalu ke lewati, kenapa dengan taman itu memang?”

BAM!

Bagaimana ini?  Kalau aku mengatakan hal lainnya kau pasti akan tahu kalau aku sedang berbohong, tapi kalau aku mengatakan aku ingin mengajakmu..uhm..kencan, kau pasti akan tertawa dan mempermalukanku.

“Aaa..aa..mautidakbesokbertemu disana?” kataku sedikit lebih lambat dari yang tadi.

“Uh..apa?”

Kenapa kau tidak mengerti sih maksudku?!

“Be..besok bertemu disana,” kataku pelan.

“Besok?  Bertemu disana?  Boleh saja, ada apa?” tanyamu dengan riang, bisa ku bayangkan kau menjawabku dengan senyum ceriamu seperti biasa.

“Uh, ada yang ingin kubicarakan.” Jawabku asal sambil memutar mataku.  Ingin cepat-cepat mengakhiri pembicaraan ini.  Karena aku terlalu gugup kalau kau bertanya hal-hal lainnya dan aku tidak tahu harus menjawab apa agar kau tidak curoga dengan rencana –mendadakku ini.

“Bicara apa?  Di sini tidak bisa?”

Nah, kan, kau pati bertanya hal lainnya.  Kenapa kau tidak menurut saja, sih?  Kemudian memutuskan sambungan ini, dan kita bertemu besok.

“Tidak bisa, kalau bicara disini hidupku –bisa terancam!!!” jawabku ngawur, tidak peduli apa tanggapanmua, yang penting pembicaraan ini harus segera selesai sekarang.

“O –ohh, tapi kenapa hidup-“

“Kalau kau terus bertanya aku akan makan sekarang dan membuatmu melihatku yang semakin gendut!” sekali lagi aku berbicara melantur, tidak mungkin aku akan langsung gendut hanya karena makan malam selarut ini sekali.

“A –apa?!  Ya sudahlah, kalau begitu akan kumatikan.  Besok pukul berapa?” katamu pelan dan ragu-ragu.  Tapi akhirnya kau akan memutuskan sambungan juga.

“Sore bagaimana?”

Dan syukurlah, jarak rumahku menuju taman yang ku maksud tidak begitu jauh.  Jika berjalan kaki tidak akan menghabiskan banyak waktu.

“Err..baiklah.  Nanti kukabari kalau aku sudah siap,” jawabmu dan setelah itu lagi terdengar suara helaan nafasmu.

“Kalau begitu, selamat malam.  Jangan tidur larut malam, kau tahu?” lanjutmu lagi.  Diam-diam aku tersenyum disini, mendengarmu yang masih saja mengkhawatirkanku sungguh membuatku bangga. 

“Iya, kau juga.  Selamat malam..” balasku tidak kalah khawatir denganmu.  Tapi sebenarnya yang ku khawatirkan bukanlah kau yang tidur larut malam, tapi kau yang tertidur di beranda ketika sedang melihat bintang yang kau puji itu.

“Selamat malam..” dan kemudian tidak terdengar suaramu lagi.  Kau mematikan sambungan dan aku masih saja memandang layar ponselku dengan senyum yang lagi-lagi ku kembangkan.  Melihat layar wallpaper-ku yang menampakan wajahmu damaimu ketika tertidur di meja.  Aku mengambil gambarmu ketika kau sedang bosan mendengar suara guru dan menaruh kepalamu di atas meja.  Dasar.

Tapi malam ini ku harap berakhir lebih cepat, meski aku masih belum sepenuhnya percaya diri untuk melihatmu besok, aku sudah benar-benar merindukanmu dan ingin mendengar jawabanmu nanti.


.


Aku sudah sampai di tempat yang sudah kita janjikan sejak setengah  jam lalu, tidak tahu apa yang kupikirkan.  Bahkan untuk mengatakan waktu bertemu padamu saja aku tidak ingat, dan lebih buruknya, aku lupa membawa ponselmu.  Untuk kembali lagi aku sudah terlalu malas, takut takut kau tiba disini sementara aku dalam perjalananku menuju rumahku.  Kau pasti akan kesal dan menganggapku sedang bermain-main.

Tapi tidak ku sangkal juga, bahwa hari ini sejak tadi malam aku merasa tidak bisa berpikir dengan baik.  Semuanya terasa buntu dan tidak bisa ku hentikan, aku bertindak layaknya orang bodoh.  Yang kupikirkan hanyalah saat ini dan melihatmu berjalan kesini di dalam lingkaran cahaya dan semuanya bergerak layaknya film diperlambat.  Kau tersenyum padaku dan berlari kecil ke arahku.  Dan yang kulihat hanyalah kau dan aku yang sedang duduk di kursi taman, melihatmu berlari dengan gaya diperlambat dan hanya ada kau di dalam lingkaran cahaya.  Kau memakai kostum musim panas –yang lagi-lagi seperti kostum yang ku bayangkan dulu.  Topi lebar yang mentupi sebagian wajahmu dan membiarkan rambut hitam-kecoklatanmu tergerai di punggungmu, dan kau memakai pakaian yang sama sekali tidak pernah kulihat, gaun musim panas.  Menunjukan kulit putihmu itu, dan kaki jenjangmu.  Hanya itu yang kubayangkan.

“Hai,” bahkan aku bisa membayangkan kau sedang menyapaku.  Kumohon sadarkan aku sekarang.

“Eh?  Hai?” aku bisa merasakan tanganmu sedang menarik-narik ujung lengan kausku dan tanganmu yang lain bergoyang-goyang di depan mataku.

Kenapa bayanganmu bisa begitu nyata seperti ini?  Apa kau benar-benar bukan lagi hidup di dunia dan masuk ke dalam bayang-bayanganku?

“Hei!  Kau kenapa sih?!” serumu keras.  Membuatku tersadar tiba-tiba, memfokuskan pandangan mataku dan bertemu dengan sorot mata heran serta khawatirmu.

Jadi tadi bukanlah sekedar imajinasiku saja?  Kau benar-benar berlari kecil ke arahku dengan gaya diperlambat seperti tadi?  Ah, tidak mungkin.  Bagian itu pasti memang imajinasiku.

“Kenapa apa?” tanyaku, aku menyilahkannya duduk di sampingku.  Tapi kau tetap bergeming dan malah memperhatikan wajahku.

“Kau yang kenapa?  Seperti orang idiot seperti tadi.” Jawabku pelan, tapi..menusuk.  Kebiasaanmu yang lain.  Aku hanya tersenyum samar dan mengabaikannya.

Sudah harus dimulai, tidak usah pakai basa basi.  Itu hanya akan membuatku semakin gugup.

“Ayo duduk,” kataku sambil membawa lengannya dan menariknya untuk duduk di sampingku.  Aku memperhatikan dirinya sejenak, manis sekali.  Kenapa memakai kostum seperti itu?  Cantik.

“Apa?”

“Y..ya?” tanyaku, dan memasang senyum tipisku.

“Kau bilang apa tadi?  Kenapa sekarang suka sekali bicara tidak jelas seperti itu, sih?” protesmu, ah lucu sekali.  Kau membuat sudut dengan bibirmu itu, membuatku mengulurkan kedua tanganku dan menarik bibirmu ke samping.  Tidak membuatmu harus mengerucutkan bibirmu seperti itu.

“Jangan pernah menunjukan wajah seperti itu lagi, lebih baik tersenyum seperti ini.” kataku, aw cheesy sekali.

Kau tampak salah tingkah dan menyembunyikan senyum simpulmu, “Jangan bicara macam-macam.” Kau mengingatkanku.  Ah, lucu sekali.

“Jadi, ingin bicara apa?  Kau tepat sekali mengajakku keluar, aku baru saja membeli baju ini.  Lucu tidak?  Tapi rok ini sedikit mengganggu,” katamu sambil menarik ujung bawah rokmu, tidak, sama sekali tidak mengganggu.  Kau cantik sekali.

“Ada apa sampai kau membeli pakaian seperti ini?” tanyaku, sekedar ingin membuat wajahmu kembali memerah.  Kau menoleh padaku sebentar dan kembali melihat ujung rokmu.

“Tidak tahu, tiba-tiba aku ingin saja memiliki baju ini.  Bagus tidak?” jawabmu, ah, tidak usah kau tanya pun kau itu cocok memakai baju apapun.  Aku mengangguk dengan senyumku membuatnya ikut tersenyum dan mengibaskan tangannya di samping lehernya.  Kau kepanasan, eh?

“Tunggu, kenapa mengalihkan pembicaraan?  Kau ingin bicara apa?” tanyamu lagi, tujuan utamaku mengajakmu kesini sampai sempat terlupakan karena melihatmu tampil berbeda seperti ini.  Aku tersenyum kering dan menatap lurus kedepan.  Sepertinya akan dimulai..

“Kau harus bertanggung jawab,” aku menghentikan ucapanku dan melirik ke arahmu.  Kau hanya diam dan menunggu ucapanku selanjutnya.  Tapi ekspresi wajah yang kau lukiskan itu menunjukan kalau kau sudah merasa ketakutan.

“Aku bukanlah tipe laki-laki yang setia, jujur saja.  Kau tahu, kan?” kulihat kau mengangguk pelan dan ragu.

“Tapi kau membuatku selama 3 tahun terus saja melihatmu, aku tidak tahu kenapa.  Bahkan ketika melihat ibuku menanam bunga matahari di halaman seperti sedang melihat cerminan diriku.  Melihat bunga yang selalu mengikuti arah bergerak matahari dan tampak layu ketika malam hari.  Aku seperti melihat refleksi diriku dari bunga itu.  Apa aku menyadari bahwa aku telah menjelma menjadi bunga matahari yang selalu saja melihat ke satu arah, melihat matahari itu sendiri,” aku menghentikan ucapanku dan menunggu reaksimu.  Tapi kau hanya diam dengan kepala menunduk, dan rambutmu itu menutup sisi dimana aku bisa melihat wajahmu.

“Apa kau bisa menebak kenapa aku menganggap diriku seperti bunga matahari?  Dan kenapa aku bisa terus melihat ke arah matahari yang sama dan mengindahkan matahari-matahari yang lain, walaupun tidak kupungkiri aku juga sempat tergoda dengan matahari lainnya.  Kau tahu kenapa?” lanjutku dan malah seperti sedang berbicara pada diriku sendiri.

“Aku..tidak tahu” jawabmu pelan.  Aku tersenyum samar.

“Kau pasti tahu, karena matahari itu adalah kau.  Matahari yang sanggup membuatku terus melihat ke arahnya selama 3 tahun terakhir.  Tidak peduli berapa kali matahari itu terlalu besar memancarkan cahaya yang membuat bunga matahari itu terlalu kepanasan atau ketika sinar matahari itu meredup.  Kau pasti tahu,” tidak kusangka aku bisa mengatakan hal seperti ini dengan lancar, dan santai.  Seperti sudah ku persiapkan sebelumnya, padahal sama sekali tidak terpikirkan untuk berbicara dengan tema Bunga Matahari dan Matahari seperti ini.  Aku menoleh ke arahnya, melihatnya yang sudah duduk tegak dan ikut memandang lurus ke depan.

“Kalau kau merasa kau adalah bunga matahari, apa kau tahu dengan peri hutan yang selalu memperhatikan pemburu hutan dari jauh meski kadang si pemburu berbuat jahat pada hutannya?”
Ah, aku tahu arah pembicaraan ini.  Aku tersenyum getir.

“Tapi tetap saja ketika sekali lagi peri hutan dan pemburu hutan bertemu, si pemburu berusaha mencari maaf dari si peri dan membangun hutan seperti sedia kala, meski kadang peri hutan menunjukan sikap ‘kehutanannya’ pada si pemburu.”

Aku terkekeh kecil, “Begitu juga bunga matahari dan mataharinya, meski kadang sinar matahari dan matahari tidak selalu menunjukan dirinya pada bunga matahari, bunga matahari selalu tahu dimana dan kapan melihat matahari itu lagi.”

Kulihat kau tertawa dengan kedua pipimu memerah, ah kau tersipu dan menutupinya dengan tawamu.
“Aku..menyukaimu.  Tidak –mencintaimu.” Kataku, dan membuatmu menoleh kepadaku.  Lama kita berdua saling terdiam, dan kau tiba-tiba mengacungkan jari kelingkingmu.

“Aku..juga.  Kalau begitu kita buat janji,”

“Untuk saling menyayangi,”

Kau berhenti sejenak untuk melihat kedua mataku, sambil tersenyum kau membiarkan semburat-semburat merah di kedua pipimu menyebar.

Saling melindungi, dan saling mengerti.” Katamu membuatku sedikit terkejut, ini semua persis seperti yang pernah ku bayangkan dulu.  Bagaimana bisa?

Tapi tanpa membuatnya lama menahan kelingkingnya bergantung di udara, aku menyambutnya dengan senyum lebar.

“Satu lagi, untuk saling percaya.”

Kau tersenyum lebar seraya mengangguk dan menggoyang-goyangkan jari kelingkingmu.  Ah, katakan padaku apa itu cinta?


End


PS :  No edited, sorry for awkward sentences .______. romantis ga?  Kurang ya kurang?  Sesuai judulnya, aku bikinnya karena terispirasi lagu What is Love-nya EXO pas nyuci piring O___o well, ini fiksi.  Bukan fanfiksi, jadi aku make castnya boy and girl.  Kalau mau diganti pake nama sendiri pas bacanya juga boleh xD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar