Selasa, 15 Mei 2012

FANFIKSI : LET GO


Cast : Xi Luhan/Luhan’s Ex Girlfriend

Genre : Hurt/Comfort/Romance

Rated : T

Summary : “ –Luhan-ah, I don’t know what to say to you.  I hope you develop/grow well in Korea, your singing is so great.  FIGHTING.  You can surely be famous.”

“Luhan-ssi,  itu pacarmu?” pria muda berjas di hadapan Luhan menunjuk seorang gadis yang sedang memandang keluar jendela dengan secangkir penuh kopi di hadapannya.  Luhan mengikuti arah tunjukan jari si pria di belakangnya, mengamini dengan mengangguk seraya tersenyum masih memandang gadis itu.  Cantik, imut, dan..sedikit tomboy.  Rambut hitam-kecoklatan pendeknya ia ikat sebagian di bagian belakangnya.

“Luhan-ssi?” tegur si pria berjas tadi.  Luhan tersadar kemudian memutar tubuhnya kembali berhadapan dengan si pria.

“Maaf,” katanya sambil menunduk.

“tapi sebelumnya, ada apa?” kata Luhan lagi, menyadari tidak biasanya si pria bertanya mengenai gadisnya itu.  Si pria hanya tersenyum simpul, setelah menyesap kopi dari cangkir keduanya ia menatap lurus mata Luhan.

“Berapa lama?” tanya si pria lagi dengan nada ringan tapi membuat Luhan harus menahan kerutan di dahinya.

“Maaf?”

“Sudah berapa lama kalian berdua?” ulang si pria, tetap dengan nada ringannya dan senyum simpulnya.  Sedikit berdehem sebelum menjawabnya, Luhan melirik sebentar ke belakangnya.  Melirik gadisnya yang tengah memperhatikannya dan melambaikan tangannya.  Hanya membalasnya dengan sebuah senyuman, Luhan kembali memperhatikan si pria.

“Sekitar 2 tahun, mungkin.  Tapi maaf, ada apa?” tidak bisa dipungkiri juga Luhan penasaran kenapa pria di hadapannya ini tiba-tiba bertanya mengenai kekasihnya.
Tapi seolah tidak pada dengan wajah bingung Luhan, si pria melanjutkan pertanyaannya.

“Sudah cukup lama ya?” dengan nada ringan tapi membuat Luhan bergidik menyadari adanya kejanggalan dalam pertanyaan si pria.

“Ah iya, tapi sebenarnya ada apa?” tidak kuasa menahan rasa herannya, Luhan mengulang pertanyaannya.  Kini terdengar lebih mendesak.
Lagi-lagi seolah tidak peduli akan keheranan Luhan, si pria bertanya lagi.  Kini arah pandangannya murni melihat si gadis.

“Dia gadis yang kuat, kan?  Kau tentu bangga dengan gadis seperti dia.” Mau tidak mau gadisnya dipuji seperti itu membuat Luhan tanpa sadar menarik kedua sudut di bibirnya.  Ia tersenyum mengingat bagaimana figur gadis itu.  Keras kepala tapi begitu menyayanginya.

“Tentu saja.” Jawabnya tanpa sadar.  Pikirannya sudah sepenuhnya terpusat untuk si gadis.  Bagimana rupanya dan sifatnya.  Ia suka semuanya.

“Dia cantik,” si pria membuka suaranya lagi, membuat Luhan mengembalikan pikirannya.  Ia lantas tersenyum sopan menanggapi pujian si pria yang lagi-lagi ditujukan untuk gadisnya.  Ah, lagi-lagi Luhan tersenyum sopan mengingat bagaimana cantiknya gadisnya itu.

“Terimakasih, dia memang seperti itu,” Luhan menjawab sambil merapikan rambut kuning bagian depannya.

“tapi sebenarnya bukan ini, kan?  Ada apa?”  Luhan kembali mengulang pertanyaannya.  Jujur saat ini ia begitu curiga dengan maksud pria di hadapannya ini bertanya mengenai gadisnya.  Sebelumnya tidak pernah pria ini membicarakan hal yang berbau pribadi dengan semua ‘calon artis’ seperti dirinya.

“Gadis itu..apakah mengerti bahasa Korea?” si pria tersenyum ketika bertanya yang lagi-lagi bukan seperti harapan Luhan.  Luhan mengerutkan keningnya, ada apa ini?  Kenapa pertanyaannya semakin aneh?

“Setahuku tidak.  Keluarganya belum pernah ke Korea, dan dia hanya mempunyai teman-teman Cina seperti dia.  Kenapa?”  jawab Luhan, nyaris tidak menggunakan kalimat sopan untuk menjawab pertanyaan si pria.  Terlalu bingung dengan kemana arah pembicaraan ini, Luhan membungkuk sedikit meminta maaf karena ucapannya barusan.

Si pria nampak seolah tidak memperdulikan hal itu, dan kembali berucap.
“Kalau begitu kau bisa mengatakannya sendiri, kan?” tampak belum puas berteka-teki seperti ini, si pria lagi-lagi melontarkan pertanyaannya yang makin membuat Luhan mengerutkan keningnya.

“Mengatakan apa?”

“Perpisahan kalian.  Seorang calon artis tidak boleh memiliki kekasih, lagipula kau harus ke Korea.  Tidak mungkin kau membuat gadis seperti dia menunggu selama itu, kan?”
Luhan membulatkan kedua matanya, sial.  Apa ini maksud si pria berbicara menggunakan bahasa Korea dan berbelit-belit seperti ini?  Untuk mengatakan bahwa ia harus berpisah dengan gadisnya?  Ini kah maksudnya?

“A..apa maksudnya?” dengan suara serak Luhan menoleh sedikit ke belakangnya, untuk melihat gadisnya.  Gadisnya tengah menunduk memperhatikan cangkir kopinya, sepertinya mulai bosan karena Luhan terlalu lama meninggalkannya untuk berbicara dengan pria berjas itu.

“Kau mengerti maksudku Luhan-ssi.  Kau tidak bisa berhubungan lagi dengan gadis itu.” si pria mulai mengintimidasi Luhan dengan menatap tajam kedua mata Luhan, Luhan bergidik menerima tatapan  seperti itu dan mengalihkan pandangannya.  Melihat gadisnya yang juga tengah melihat ke arahnya.  Menyadari air muka Luhan yang menunjukan kekhawatiran si gadis tidak jadi tersenyum dan hanya menunjukan senyuman keringnya.  Luhan mengangguk dan ikut tersenyum, gadis itu hanya duduk berjarak 3 meja dari mejanya bersama si pria, tentu ia tidak akan mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka berdua, kan?  Lagipula selama pembicaraan itu berlangsung mereka menggunakan bahasa Korea.

Semuanya tidak bisa Luhan bayangkan sebelumnya, yang ia kira bahwa akhir dari perjalanannya menjadi artis sudah ia lewati dan hanya tinggal selangkah lagi untuk menjadi artis justru terbalik.  Ini bukanlah akhir Luhan, ini adalah awal dari perjalananmu.

“A..apakah harus?” sebenarnya ia sendiri sudah tahu apa jawaban dari pertanyaannya itu, tapi ia ingin mendengarnya langsung.  Dengan suaranya yang serak ia bertanya.

“Harus begitu.  Sebenarnya larangan untuk mempunyai pacar itu tidak sepenuhnya dilarang.  Tapi mengingat dimana kau ingin membangun karirmu sebagai artis dan dimana pacarmu berada, tentu kau tidak bisa melakukannya Luhan-ssi.” Dengan nada suaranya yang tenang dan senyum simpulnya, kentara sekali si pria tengah menyelipkan kesan iba dan menghibur untuk Luhan.

Luhan lagi-lagi menunduk, pikirannya kacau.  Bagaimana bisa ia harus memutuskan hubungannya dengan gadis yang telah menemaninya selama 2 tahun ia menjadi trainee di Cina sementara ia sangat mencintai gadis itu?

“Tentu kau bisa melakukannya Luhan-ssi.”

Bisa ia dengar kata-kata penghibur –menurutnya dari mulut si pria, namun ia acuhkan dan masih saja menunduk.  Ia tidak bisa.  Akan sangat egois jika ia mempertahankan gadis itu sementara ia harus pergi ke Korea dengan kurun waktu yang ia sendiri tidak tahu kapan.  Tapi jika ia memilih harus melepaskan gadis itu, tentu keduanya akan sakit.  Serba salah.  Ia tidak tahu, ia bingung.

“Bisa..berikan aku waktu?  Aku butuh waktu..” Luhan membuka suaranya setelah beberapa lama keheningan menyelimuti mereka.
Ia bisa melihat si pria tersenyum menenangkan –setelah selama pembicaraan berlangsung si pria hanya menunjukan senyum simpul dan senyum misterius untuknya.

“Tentu, tentu kau punya waktu Luhan-ssi,”
Luhan sedikit membungkukan punggungnya, menunjukan kalau ia begitu berterimakasih dengan pemberian waktu tersebut.

“Terimakasih, tapi..kalau aku tidak bisa.  Apa yang kudapatkan?” memberanikan diri bertanya seperti itu, si pria yang tadinya ingin beranjak dari duduknya kembali mengurungkan niatnya.  Tersenyum simpul lagi, seakan menunjukan kepada Luhan bahwa ia sudah mengetahui jawabannya.

Setelah melihat reaksi Luhan yang semakin kacau ia memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan meja yang tadinya ia dan Luhan tempati.  “Kembalilah kepadanya dulu, jelaskan baik-baik padanya.”

Setelah berkata seperti itu si pria benar-benar meninggalkan Luhan yang masih menunduk memperhatikan cangkir kopinya.  Tidak, tidak akan ia biarkan gadis itu menangis karena kepergiannya.

.

Ia tentu bisa melihat, gadisnya itu tengah berlari ke arahnya dengan senyum cerah yang seperti biasa ia tunjukan padanya.  Kenapa ia suka berlari seperti itu untuk menemuinya?  Kalau ia terluka bagaimana?  Luhan tersenyum mendengar pikirannya sendiri, bagaimana bisa ia masih mengkhawatirkan gadis yang sebentar lagi akan ia sakiti dan tinggalkan?  Tidak sampai beberapa menit lagi, tentu ia bisa melihat air mata dari gadis itu.

“Ada apa?” si gadis bertanya setelah sampai di kamar apartemennya.

“Jangan berlari seperti itu lagi.  Selain berisik kalau kau jatuh bagaimana?  Bodoh.”  Kata Luhan sambil mengacak rambut gadis yang lebih pendek darinya itu.  Si gadis hanya tertawa dan membiarkan saja Luhan mengacak rambutnya.

“Tidak apa-apa.  Nanti kau juga yang akan dimarahi oleh tetangga kalau akan berisik.”  Si gadis menjawabnya dengan tawa sementara Luhan melayangkan pukulan di bagian belakang kepalanya.  “Jangan sembarangan,”

Si gadis hanya tertawa atas kadar humor rendah yang dimiliki kekasihnya itu.

“Jangan terlalu serius seperti itu.  Nanti ketika kau sudah menjadi artis dan kau tetap seperti ini, akan banyak anti fans yang siap untuk membunuhmu.”  Komentar si gadis sementara Luhan tertegun mendengarnya.  Menjadi artis, kelak.  Dan harus mengorbankan cintanya.  Ini sulit.

Dengan memaksakan senyumnya, Luhan membawa gadisnya menuju ruang santai dan mendudukan diri disana.  Luhan hanya diam memandangi gadisnya yang sedang sibuk memainkan senar gitarnya dengan nada asal, membuang rasa bosannya karena Luhan hanya dia untuk memandanginya.

“Jangan terus melihatku seperti itu.”  celetuk gadisnya membuat Luhan tersentak.  Ia tertawa kering sementara pikirannya tidak lagi disana.  Ia sedang berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyelesaikan hubungannya dengan gadis itu.  Kedua telapak tangannya dingin serta berkeringat karena memikirkan hal beberapa menit lagi.

“Jangan terlalu percaya diri, dasar,” balas Luhan dan gadis itu kembali tertawa.  Tawa itu, sebentar lagi bukan lagi miliknya.  Suara rendah itu sebentar lagi bukanlah suara rendah yang akan ia dengar setiap hari, sikap keras kepalanya itu sebentar lagi tidak akan menganggunya lagi.  Ia akan kehilangan gadis itu

“kau..tidak apa-apa kan kalau kutinggal?”  tanya Luhan tanpa sadar, kedua matanya menatap gadis yang duduk di karpet di bawahnya tapi pandangannya tidak fokus melihat gadisnya itu.  Seakan pikirannya tidak ada di tempatnya kini berada.

“Ngg?  Kau mau kemana?  Lapar?”  tidak sadar dengan arah tujuan dan makna sesungguhnya dari ucapan Luhan barusan, si gadis hanya melemparkan tatapan mengejek padanya.
Luhan menggumam tidak jelas, namun bisa didengar oleh gadis itu.
“Apa?  Kau bilang apa?”

Luhan kemudian tersadar dari masa transnya dan memandang lurus lurus gadis di depannya itu.  Menggumam tidak jelas lagi dan mengalihkan pandangannya menuju televisi yang mati.  Apa yang harus dikatakannya?  Seorang gadis, mau ia sekuat apapun pasti akan sangat sedih jika disuruh untuk berpisah, bukan?  Jangankan gadis itu, ia sendiri pun akan sangat terpukul ketika mengatakan dan melihat reaksi gadis itu padanya.  Ia sengaja mengundang gadis itu ke apartemennya pun untuk mengatakan hal (yang sebelumnya sudah dipersiapkannya, tapi lidahnya tetap terasa kelu jika disuruh untuk mengucapkannya sekaran) tersebut.

“Luhan?”  gadis itu menyadarkannya lagi.  Ah, sudah berapa sering ia menjadi seseorang yang suka untuk melamun sekarang?

“Ada apa?  Kau memikirkan apa?  Dan kenapa kau suka sekali menggumamkan sesuatu yang tidak jelas seperti tadi?”  gadisnya bertanya sambil memindahkan posisinya duduk di samping Luhan.  Luhan nampak menghela nafasnya, kalau bukan sekarang ia mengatakan ini, kapan lagi?  Waktu keberangkatannya sudah dekat.  Memang obsesinya menjadi artis dan menjalani masa training di Korea, tapi tanpa mengorbankan seseorang yang berharga baginya, kan?

“Luhan?”  sekali lagi menegurnya.  Luhan memutar badannya menghadap gadis itu, mengambil ponselnya dengan cepat dan menyuruh gadis itu memegang ponselnya dan mengarahkannya pada mereka.

“A..apa?”  gadisnya bertanya heran tapi tetap saja melakukan apa yang disuruh oleh Luhan.  Beberapa mengambil gambar mereka dengan tangan kanan Luhan merangkul pundaknya.  Tidak tahu apa yang sudah dilakukannya, Luhan malah beranjak dari posisinya menuju dapur.

“Kubuatkan ramen, ya?”  tawarnya tanpa membalikan badannya sementara ia berjalan sambil memegang erat ponselnya.  Gadisnya yang tidak mengerti dengan perubahan sikap Luhan hanya mengangguk tanpa suara memperhatikan Luhan yang sudah tersembunyi menghadap meja dapur.  Dan terlonjak beberapa kali karena suara-suara ribut yang ditimbulkan oleh Luhan.

“Luhan, dia kenapa?”  menggumam pelan tapi tidak memutuskan untuk menyusul Luhan ke dapur dan malah menyalakan televisi untuk membunuh kebosanannya.

Sementara Luhan di dapur sekuat tenaga menahan isakannya keluar dari mulutnya dan menutupinya dengan berlaku kasar dengan alat-alat di dapurnya.  Beberapa kali air mata menetes dari matanya, mereka memang masih sangat muda dan terlalu labil akan hal sensitif seperti ini.  Tidak ia pungkiri juga ia tidak mau melakukan ini, tapi demi impiannya menjadi seorang artis tentu hal seperti ini hanyalah sedikit dari pengorbanan yang harus ia lakukan untuk menempuh perjalanan menjadi artis, bukan?  Luhan tahu betul itu, meski sulit.  Tapi setelah dipikir kembali olehnya, akan lebih sulit bagi mereka jika terus melakukan hubungan sementara ia berada di Korea dan kekasihnya masih disini.  Sangat sulit.

Baiklah, Luhan memantapkan dirinya.  Setelah mereka berdua menghabiskan ramen ini, ia akan mengatakannya.  Meski ia harus melihat air mata dari gadis itu, tapi ini semua demi kebaikan mereka berdua, kan?

.

“Sudah jadi?  Apa yang terjadi disana tadi?”  gadisnya langsung memberinya rentetan pertanyaan sementara ia meraya ke sandaran sofa untuk melihat Luhan yang berjalan dari belakangnya sambil membawa dua mangkuk ramen.

“Tadi?  Aku kesal, kenapa tidak ada yang memberi tahuku bahwa di dapur ini ada kecoa sialan?”  jawab Luhan acuh, tentu saja ia tidak bisa bilang bahwa ia sengaja membuat kebisingan untuk menutupi dirinya yang sedang menahan isakannya, bukan?

“Kecoa?  Tapi tentu makanan ini tidak ada kecoanya, kan?”  dengan nada ringan gadisnya mencoba untuk mencandainya.  Ia menatap lurus lurus gadisnya itu dan kemudian mencoba untuk tertawa sementara ia mengalihkan pandangannya dengan menaruh dua mangkuk itu di atas meja rendah miliknya.

“Aaaa, wangi sekali.  Mari makan!”  acuh dengan sikap tidak wajar Luhan, gadisnya itu malah meraih sumpitnya dan segera melahap ramennya.  Dan Luhan, di tempatnya hanya menatap sendu gadisnya.  Sebentar lagi, ia harap waktu berjalan sangat pelan agar ia bisa terus melihat sikap ceria dan acuh gadisnya itu.  Agar ia mempunyai waktu untuk menyimpan semua memori tentang gadis itu dalam pikirannya sekarang.  Agar ia bisa mempersiapkan dirinya untuk melihat sorotan mata kebencian dari kedua mata gadisnya itu.

“Kau tidak makan?”  gadisnya menegurnya.  Luhan tersentak dan mengembalikan dirinya untuk menatap fokus gadisnya.  Ia menggeleng pelan sebelum menjawab.

“Kupikir, aku tidak lapar.  Kau mau menghabiskan?”  katanya sambil menyodorkan mangkuk ramen miliknya yang sama sekali belum tersentuh dan menatap sedih mangkuk gadisnya yang sudah bersih.  Terlalu lama memikirkan hal menakutkan baginya membuat dirinya tidak menyadari bahwa gadisnya itu sudah menghabiskan porsi ramennya.

“Kau tidak lapar?  Bagaimana bisa menjadi artis kalau untuk makan saja kau tidak bisa, hah?”  menanggapi seperti itu tapi tetap meraih mangkuk milik Luhan dan mulai melahapnya lagi.  Gembul.  Komentar Luhan dan tersenyum dalam pikirannya.

Ah, berbicara masalah itu.  Luhan sudah siap.  Semuanya.

.


“Tentu tanpa alasan kau mengundangku ke apartemenmu, kan?”  tanya gadisnya tepat sasaran setelah ia kembali dari dapur untuk mencuci mangkuk serta peralatan masak yang dipakai Luhan ketika membuatnya.

Luhan membiarkan saja gadisnya untuk duduk di sisinya, dan memandang lekat-lekat ke arah televisi yang menyala meski pikirannya tidak disini.

“Ada apa sih?  Ada yang ingin kau bicarakan?  Kau sekarang aneh tahu!”  sahut gadisnya, lagi-lagi tepat sasaran.  Tapi Luhan masih ingin diam, dan gadisnya itu ikut diam sementara suara dari televisi yang mendominasi.

“Kau akan kenapa-kenapa kan kalau kutinggal?”  gumam Luhan, tapi sanggup didengar oleh gadisnya.

“Memang kau mau kemana, sih?   Bukannya kita –maksudku aku sudah makan siang tadi?”  jawab gadisnya.  Dan Luhan hanya mendesah diam-diam, kenapa juga gadisnya ini terlalu tidak peka?

“Aku..sebentar lagi akan menjalani training menjadi artis,”

“Benarkah?  Wah selamat!  Akhirnya mimpimu akan terwujud, ya!”  komentar gadisnya, dan ia bisa merasakan bahwa gadisnya tengah menggenggam tangannya.  Menyalaminya.

“Kau akan..baik-baik saja, kan?”  tanyanya ragu.  Tapi masih tidak berani untuk menatap gadisnya.

“Tentu saja.  Supaya lebih baik lagi, aku akan sering-sering mengirimu makanan.  Supaya kau tidak kurus seperti ini.  Aku akan datang mengunjungimu dan –“

“Tapi aku tidak akan di training disini!  Aku harus ke Korea!”  seru Luhan cepat dan menghadap gadisnya.  Sementara gadisnya hanya menatapnya terkejut karena suara Luhan yang mendadak meninggi dan kabar mengejutkannya itu.  Ke Korea?  Tapi kenapa?  Luhan tidak pernah menceritakan masalah ini sebelumnya.  Ia hanya bilang akan menjalani training di Korea.  Dan apa itu berarti ia harus berpisah dari Luhan?  Itukah sebabnya Luhan terus bertanya padanya apakah ia akan baik-baik saja ketika ia harus pergi?  Itukah maksud Luhan?  Dan kenapa perubahan sikap Luhan hari ini yang begitu kentara terlihat?  Serta tiba-tiba mengajaknya untuk mengambil gambar mereka berdua?  Itukah dibalik sikap Luhan selama ini?

“Ke..kenapa?”  dengan suara serak ia hanya mampu mengeluarkan pertanyaan itu.  Entah pertanyaan itu dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan yang mana.  Tapi malah terdengar seperti ia bertanya pada dirinya sendiri.

Sementara Luhan tampak semakin frustasi mengangkat kepalanya setelah ia membenamkan kepalanya di kedua telapak tangannya.
“Maaf.  Aku tidak bisa bilang sebelumnya.  Se..sebenarnya sudah cukup lama aku tahu, tapi –“

“Kenapa aku tidak menyadari perubahan sikapmu selama ini Luhan?”  dengan suara lirih gadisnya memotong ucapannya.  Luhan menoleh ke arahnya, sempat tertegun.  Tidak ada air mata.  Meski raut kesedihan kentara sekali terlihat.  Tidak seperti bayangannya sebelumnya yang mengira bahwa gadisnya akan langsung histeris dan menangis, gadisnya hanya menunjukan raut wajah sedih, kecewa dan takut kehilangan.

“Ja..jangan bilang seperti itu.  Aku..yang salah.  Aku tidak bisa memutuskannya dengan cepat.  An..antara kau dan..mimpiku,”  menjawab dengan suara yang semakin kecil, Luhan mencoba untuk meraih telapak tangan gadis itu.  Terkepal kuat, seakan sedang menahan sesuatu.

“Kalaupun aku bisa, aku tidak ingin berakhir.  Maafkan aku.  Maaf.  Maaf.”  Melanjutkan sambil membungkuk di hadapan gadisnya, sementara gadisnya tidak menjawab apapun.  Ia ingin marah, tapi pada siapa?  Ia tidak marah pada Luhan, tidak akan pernah.  Tapi mengingat ia akan kehilangan Luhan, tentu membuat emosinya memuncak kembali.  Ingin menangis, tidak.  Hal seperti ini tentu tidak akan membuatnya harus untuk membuang-buang air matanya, dan terlihat lemah di hadapan Luhan.  Ia bingung, untuk melepaskan atau memaksa Luhan untuk tetap disisinya.

Suara televisi yang entah kenapa semakin kencang membuat keduanya semakin larut dalam keheningan.  Luhan ingin membuka suaranya lagi, tapi tidak tahu harus berbuat apa.  Ia hanya mencoba untuk membuka kepalan tangan gadisnya itu untuk menggenggamnya.  Pikirannya kacau.  Ia siap untuk dibenci, ia siap.  Kalau bukan karena mimpinya sejak dulu, ia tidak mau melepaskan gadisnya dengan cara seperti ini.

Belum lagi untuk menata kembali hatinya serta menahan dirinya terhadap gadis itu.  Tentu akan sulit.  Dan jika ia sudah di Korea nanti, belum tentu ia bisa menghubungi gadisnya lagi.  Kabar yang ia dengar, semua trainee dilarang memiliki alat komunikasi.  Ia tidak mungkin bisa menghubungi gadis itu lagi.  Tapi..jika gadis itu masih ingin merajut persahabatan dengannya, kalau tidak?  Itu ketakutan terbesarnya.

“Aku..mungkin tidak bisa memaksamu.  Tapi aku juga tidak bisa begitu saja melepaskanmu, aku butuh waktu..”  akhirnya gadisnya membuka suaranya.  Dengan nada tegas, membuat Luhan lagi-lagi tertegun.  Tidak ada suara bergetar dan serak menahan tangis, hanyalah suara tegas yang menandai kalau ia menerima keputusan Luhan tapi membutuhkan waktu untuk sendiri.

Gadisnya melepaskan genggaman Luhan dan beranjak, “Aku..terimakasih untuk ramennya.”  Ucap gadis itu sebelum memutuskan untuk pulang dari apartemen Luhan meski Luhan tahu bahwa bukan itu yang ingin dikatakan gadis itu.

“Aku akan menghubungimu nanti.”  Suara Luhan sempat menghentikan langkah gadis itu, tapi tanpa berbalik ia mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan apartemen Luhan.

.

Keduanya berada di bandar udara sekarang, Luhan berdiri di sisinya sambil melihat ke sekeliling.  Melihat banyak trainee seperti dirinya yang juga dipindah menuju Korea.  Sementar ia seperti sedang mencari sesuatu di saku jaketnya dan ketika sudah menemukannya, menyelipkannya di saku jaket milik Luhan.

Sadar dengan adanya benda baru dalam saku jaketnya, Luhan menoleh menghadap gadis (yang masih ia anggap kekasihnya itu.  Keduanya sepakat untuk resmi menyudahi hubungan mereka ketika gadis itu sudah tidak melihat Luhan lagi, saat Luhan sudah berada di dalam pesawatnya) yang lebih pendek darinya itu.

“Kau menaruh apa?”  bertanya dengan bingung dan mencoba meraih saku jaketnya.  Tapi tangan gadis itu mencegahnya dan membuat Luhan kembali menatapnya.

“Nanti saja di pesawat.  Aku malu kalau kau melihatnya sekarang.”  jawab gadisnya itu, sambil tersenyum ke arahnya.  Mau tidak mau Luhan ikut tersenyum menanggapinya, tidak.  Ia tidak akan sedih lagi.  Ia tahu gadis di sisinya itu bukanlah gadis yang lemah, sesuai dengan ucapan si pria yang bertemu dengannya dulu.  Ia bangga dengannya.  Gadis itu..

“Ah, kalau kau sudah debut nanti.  Bisa kau pastikan kalau aku adalah fans nomor satumu Luhan, dan aku akan membeli semua atribut yang berhubungan denganmu.”  Suara gadisnya terdengar lagi.

“Jangan mencoba untuk menghiburku.”  sahut Luhan yang sudah berdiri menghadap gadisnya.  Posisi mereka yang begitu dekat membuat gadisnya itu diam-diam cemas kalau Luhan bisa mendengar detak jantungnya yang serasa melompat-lompat.

“Aku tidak mencoba untuk menghiburmu,”  balasnya dengan nada bercanda sambil menjulurkan lidahnya sementara kedua tangannya sedang merapatkan jaket yang dikenakan Luhan.  Luhan tidak menjawab dan hanya memandangi gadisnya yang sedang menunduk itu dengan kedua tangannya menggantung di depan jaketnya.

“Sekarang dingin.  Jangan sering sering keluar malam, pakai jaketmu dan mantelmu jika ingin keluar.  Apalagi saat malam.  Latihan terus kalau kau merasa kedinginan, keringat akan membuatmu merasa sedikit hangat, tentu.  Dan, makan yang banyak.  Aku tidak mau melihat tubuh kurusmu itu lagi saat debut nanti.  Mengerti?”  ucap gadisnya dengan cepat, tapi Luhan yakin ia bisa mengingat itu semuanya.  Dari seseorang yang sudah menemani serta mendukungnya menjadi calon artis seperti sekarang.

Luhan mengangguk mengerti.  Ia sedikit mendongak ketika pria yang bertemu dengannya dulu berteriak memanggil calon-calon artis seperti dirinya untuk segera masuk ke dalam, melakukan check in setelah itu menaiki pesawat.  Ia bisa merasa bahwa gadisnya semakin erat memegang bagian depan jaketnya, tanpa isakan.  Gadisnya itu sama sekali tidak menunjukan air mata sejak kali pertama ia mengatakan berita kepindahannya sampai ia sudah akan benar-benar pergi.

“Aku..tentu akan sangat merindukanmu, Luhan.”  Ucap gadisnya pelan.  Luhan mengangguk mengamini.  “Kau pikir hanya kau, hah?  Bahkan mungkin aku beribu kali akan merindukanmu, tahu.”  Balas Luhan, ia mengusap rambut gadisnya itu.

“Sementara aku di Korea, kau juga jaga kesehatanmu.  Jangan hanya makan ramen,”  kata Luhan, dan gadisnya itu hanya tersenyum menanggapi.  Mengangkat kepalanya agar mata mereka bertemu.

“Aku tahu.”  Jawab gadisnya, ah Luhan suka mata itu.  Mata yang selalu menunjukan kejujuran serta kekuatan.  Tentu ia akan sangat merindukan gadis itu terlebih matanya.

“Aku bangga pernah menjadi pacarmu.”  Bisik Luhan dan membuat dirinya mendapat tubrukan dan pelukan erat dari gadisnya.  Gadisnya mengangguk berkali-kali dalam pelukannya.  Sementara ia menaruh kepalanya di bahu gadis itu.  Menyesap wanginya untuk terakhir kalinya.

“Aku juga.  Dan aku akan lebih bangga karena pernah menjadi pacar Xi Luhan dan artis Xi Luhan.”  Ungkap gadisnya ketika sudah melepaskan pelukannya.  Saling bertatapan dan membiarkan saja keningnya menjadi landasan kecupan dalam dari Luhan.

“Aku harus pergi sekarang.  Jaga dirimu baik-baik.  Selamat tinggal,”  kata Luhan sambil meraih koper di tangan kanan dan kirinya.  Gadisnya menggeleng dan membuat Luhan termenung.

“Katakan padaku sampai bertemu lagi, jangan selamat tinggal.”  Koreksi gadisnya, dan Luhan kemudian menanggapinya dengan senyum tulus.

“Tentu.  Tentu, sampai bertemu lagi.”  kata Luhan, sebelum ia benar-benar melangkah mundur.  Membiarkan gadisnya melihat dirinya untuk terakhir kali dan membuatnya bisa melihat senyum tulus dari gadisnya itu.

Keduanya saling melambai dan Luhan benar-benar menghilang dari pandangannya.

.

Luhan sedikit menggeser duduknya, mencari posisi yang menurutnya paling nyaman di kursinya.  Duduk di sisi jendela memang kesenangannya, bisa melihat awan-awan di luar sana membuatnya bisa membayangkan bahwa ia bisa tinggal disana.  Menikmati kenyamanan ketika –mungkin ia berbaring disana.  Luhan terkekeh pelan, dan menyadari bahwa ada sesuatu yang telah diberikan gadis –mantan gadisnya sebelum ia berangkat tadi.

Ia mencari-cari di kedua saku jaketnya dan bernafas lega ketika akhirnya ia menemukannya.

Sebuah amplop.

Oh surat, Luhan bisa membaca tulisan di amplop putih itu.  ‘Xi Luhan yang teramat kubanggakan’

Luhan menahan nafasnya ketika ia membuka amplop tersebut dan ketika tangannya membuka lipatan-lipatan kertas surat di dalamnya.  Tidak tahu, tapi ia bisa merasakan adanya kasih sayang besar yang tersimpan di dalam surat tersebut.

“Luhan-ah, I don’t know what to say to you.  I hope you develop/grow well in Korea, your singing is so great.  FIGHTING.  You can surely be famous..”


END


PS: ahh T____________T  sedih sekali.  Ini katanya beneran kejadian loh.  Ada beredar foto-fotonya Luhan      sama ceweknya.  Cantik loh ceweknya.  Dan suratnya itu memang dikasih sama ceweknya Luhan.  Sumpah sedih plus keren banget!  Katanya putus gara-gara Luhan musti ke Korea, dan ceweknya itu di Cina.  Ah, ga nyangka cerita kayak gini bisa beneran kejadian T__T *alay*  tapi gara-gara itu aku sampe kepikiran dan galau -_-“ trus keinget lagunya Baby Don’t Cry, jangan-jangan selain terinspirasi sama ceritanya Little Mermaid, lagunya itu ditujukan buat Luhan sama ceweknya? *sotoy*  tapi aku memang bikin cerita ini sambil dengerin lagunya, memang bukan full songnya.  Cuma teasernya, tapi itu juga ngena banget feel sama maknanya.  Ah, bacanya mending disaranin sambil dengerin itu lagu atau lagu-lagu sedih yang lain ya.  Aku sih sambil diselingin lagunya Y.O.U – SHINee, trus One –SHINee , Better – SHINee (meski ga nyambung arti lagunya O_o), trus sama Last Gift beserta In My Room – SHINee.  Kalau perlu dengerin juga Quasimodo – SHINee, trus Your Eyes – Super Junior (ini juga sama beda makna tapi melodinya menohok ._.) sama My Memory Piano and Violin version.  Galau maksimal!!  Sorry for any typo, and awkward sentences -________- eh iya, jalan ceritanya sih aku karang-karang sendiri.  Wuehehe xD maaf juga fotonya Luhan sama ceweknya ga aku sertain, fotonya ada di Tab, bukan di laptop ternyata \^^/ annyeong~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar