Cast : Xi Luhan/Luhan’s Ex Girlfriend
Genre : Hurt/Comfort/Romance
Rated : T
Summary : “
–Luhan-ah, I don’t know what to say to you. I
hope you develop/grow well in Korea, your singing is so great. FIGHTING.
You can surely be famous.”
“Luhan-ssi?” tegur si pria berjas tadi. Luhan tersadar kemudian memutar tubuhnya
kembali berhadapan dengan si pria.
“Maaf,” katanya sambil menunduk.
“tapi sebelumnya, ada
apa?” kata Luhan
lagi, menyadari tidak biasanya si pria bertanya mengenai gadisnya itu. Si pria hanya tersenyum simpul, setelah
menyesap kopi dari cangkir keduanya ia menatap lurus mata Luhan.
“Berapa lama?” tanya si pria lagi dengan nada
ringan tapi membuat Luhan harus menahan kerutan di dahinya.
“Maaf?”
“Sudah berapa lama
kalian berdua?”
ulang si pria, tetap dengan nada ringannya dan senyum simpulnya. Sedikit berdehem sebelum menjawabnya, Luhan
melirik sebentar ke belakangnya. Melirik
gadisnya yang tengah memperhatikannya dan melambaikan tangannya. Hanya membalasnya dengan sebuah senyuman,
Luhan kembali memperhatikan si pria.
“Sekitar 2 tahun,
mungkin. Tapi maaf, ada apa?” tidak bisa dipungkiri juga Luhan
penasaran kenapa pria di hadapannya ini tiba-tiba bertanya mengenai kekasihnya.
Tapi seolah tidak pada dengan wajah bingung
Luhan, si pria melanjutkan pertanyaannya.
“Sudah cukup lama ya?” dengan nada ringan tapi membuat
Luhan bergidik menyadari adanya kejanggalan dalam pertanyaan si pria.
“Ah iya, tapi
sebenarnya ada apa?” tidak
kuasa menahan rasa herannya, Luhan mengulang pertanyaannya. Kini terdengar lebih mendesak.
Lagi-lagi seolah tidak peduli akan keheranan
Luhan, si pria bertanya lagi. Kini arah
pandangannya murni melihat si gadis.
“Dia gadis yang kuat,
kan? Kau tentu bangga dengan gadis
seperti dia.” Mau
tidak mau gadisnya dipuji seperti itu membuat Luhan tanpa sadar menarik kedua
sudut di bibirnya. Ia tersenyum
mengingat bagaimana figur gadis itu.
Keras kepala tapi begitu menyayanginya.
“Tentu saja.” Jawabnya tanpa sadar. Pikirannya sudah sepenuhnya terpusat untuk si
gadis. Bagimana rupanya dan
sifatnya. Ia suka semuanya.
“Dia cantik,” si pria membuka suaranya lagi,
membuat Luhan mengembalikan pikirannya.
Ia lantas tersenyum sopan menanggapi pujian si pria yang lagi-lagi
ditujukan untuk gadisnya. Ah, lagi-lagi
Luhan tersenyum sopan mengingat bagaimana cantiknya gadisnya itu.
“Terimakasih, dia
memang seperti itu,”
Luhan menjawab sambil merapikan rambut kuning bagian depannya.
“tapi sebenarnya bukan
ini, kan? Ada apa?”
Luhan kembali mengulang pertanyaannya.
Jujur saat ini ia begitu curiga dengan maksud pria di hadapannya ini
bertanya mengenai gadisnya. Sebelumnya
tidak pernah pria ini membicarakan hal yang berbau pribadi dengan semua ‘calon
artis’ seperti dirinya.
“Gadis itu..apakah
mengerti bahasa Korea?” si pria tersenyum ketika bertanya yang lagi-lagi bukan seperti harapan
Luhan. Luhan mengerutkan keningnya, ada
apa ini? Kenapa pertanyaannya semakin
aneh?
“Setahuku tidak. Keluarganya belum pernah ke Korea, dan dia
hanya mempunyai teman-teman Cina seperti dia.
Kenapa?” jawab Luhan, nyaris tidak menggunakan kalimat
sopan untuk menjawab pertanyaan si pria.
Terlalu bingung dengan kemana arah pembicaraan ini, Luhan membungkuk
sedikit meminta maaf karena ucapannya barusan.
Si pria nampak seolah tidak memperdulikan hal
itu, dan kembali berucap.
“Kalau begitu kau bisa
mengatakannya sendiri, kan?” tampak belum puas berteka-teki seperti ini, si pria lagi-lagi
melontarkan pertanyaannya yang makin membuat Luhan mengerutkan keningnya.
“Mengatakan apa?”
“Perpisahan
kalian. Seorang calon artis tidak boleh
memiliki kekasih, lagipula kau harus ke Korea.
Tidak mungkin kau membuat gadis seperti dia menunggu selama itu, kan?”
Luhan membulatkan kedua matanya, sial. Apa ini maksud si pria berbicara menggunakan
bahasa Korea dan berbelit-belit seperti ini?
Untuk mengatakan bahwa ia harus berpisah dengan gadisnya? Ini kah maksudnya?
“A..apa maksudnya?” dengan suara serak Luhan menoleh
sedikit ke belakangnya, untuk melihat gadisnya.
Gadisnya tengah menunduk memperhatikan cangkir kopinya, sepertinya mulai
bosan karena Luhan terlalu lama meninggalkannya untuk berbicara dengan pria
berjas itu.
“Kau mengerti maksudku
Luhan-ssi. Kau tidak bisa berhubungan
lagi dengan gadis itu.” si pria mulai mengintimidasi Luhan dengan menatap tajam kedua mata
Luhan, Luhan bergidik menerima tatapan
seperti itu dan mengalihkan pandangannya. Melihat gadisnya yang juga tengah melihat ke
arahnya. Menyadari air muka Luhan yang
menunjukan kekhawatiran si gadis tidak jadi tersenyum dan hanya menunjukan
senyuman keringnya. Luhan mengangguk dan
ikut tersenyum, gadis itu hanya duduk berjarak 3 meja dari mejanya bersama si
pria, tentu ia tidak akan mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka berdua,
kan? Lagipula selama pembicaraan itu
berlangsung mereka menggunakan bahasa Korea.
Semuanya tidak bisa Luhan bayangkan sebelumnya,
yang ia kira bahwa akhir dari perjalanannya menjadi artis sudah ia lewati dan
hanya tinggal selangkah lagi untuk menjadi artis justru terbalik. Ini bukanlah akhir Luhan, ini adalah awal
dari perjalananmu.
“A..apakah harus?” sebenarnya ia sendiri sudah tahu
apa jawaban dari pertanyaannya itu, tapi ia ingin mendengarnya langsung. Dengan suaranya yang serak ia bertanya.
“Harus begitu. Sebenarnya larangan untuk mempunyai pacar itu
tidak sepenuhnya dilarang. Tapi
mengingat dimana kau ingin membangun karirmu sebagai artis dan dimana pacarmu
berada, tentu kau tidak bisa melakukannya Luhan-ssi.” Dengan nada suaranya yang tenang
dan senyum simpulnya, kentara sekali si pria tengah menyelipkan kesan iba dan
menghibur untuk Luhan.
Luhan lagi-lagi menunduk, pikirannya
kacau. Bagaimana bisa ia harus
memutuskan hubungannya dengan gadis yang telah menemaninya selama 2 tahun ia
menjadi trainee di Cina sementara ia
sangat mencintai gadis itu?
“Tentu kau bisa melakukannya
Luhan-ssi.”
Bisa ia dengar kata-kata penghibur –menurutnya
dari mulut si pria, namun ia acuhkan dan masih saja menunduk. Ia tidak bisa. Akan sangat egois jika ia mempertahankan
gadis itu sementara ia harus pergi ke Korea dengan kurun waktu yang ia sendiri
tidak tahu kapan. Tapi jika ia memilih
harus melepaskan gadis itu, tentu keduanya akan sakit. Serba salah.
Ia tidak tahu, ia bingung.
“Bisa..berikan aku
waktu? Aku butuh waktu..” Luhan membuka suaranya setelah
beberapa lama keheningan menyelimuti mereka.
Ia bisa melihat si pria tersenyum menenangkan
–setelah selama pembicaraan berlangsung si pria hanya menunjukan senyum simpul
dan senyum misterius untuknya.
“Tentu, tentu kau
punya waktu Luhan-ssi,”
Luhan sedikit membungkukan punggungnya, menunjukan
kalau ia begitu berterimakasih dengan pemberian waktu tersebut.
“Terimakasih,
tapi..kalau aku tidak bisa. Apa yang
kudapatkan?”
memberanikan diri bertanya seperti itu, si pria yang tadinya ingin beranjak
dari duduknya kembali mengurungkan niatnya.
Tersenyum simpul lagi, seakan menunjukan kepada Luhan bahwa ia sudah
mengetahui jawabannya.
Setelah melihat reaksi Luhan yang semakin kacau
ia memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan meja yang tadinya ia dan Luhan
tempati. “Kembalilah kepadanya dulu, jelaskan baik-baik padanya.”
Setelah berkata seperti itu si pria benar-benar
meninggalkan Luhan yang masih menunduk memperhatikan cangkir kopinya. Tidak, tidak akan ia biarkan gadis itu
menangis karena kepergiannya.
.
Ia tentu bisa melihat, gadisnya itu tengah
berlari ke arahnya dengan senyum cerah yang seperti biasa ia tunjukan
padanya. Kenapa ia suka berlari seperti itu untuk menemuinya? Kalau ia terluka bagaimana? Luhan tersenyum mendengar pikirannya
sendiri, bagaimana bisa ia masih mengkhawatirkan gadis yang sebentar lagi akan
ia sakiti dan tinggalkan? Tidak sampai
beberapa menit lagi, tentu ia bisa melihat air mata dari gadis itu.
“Ada apa?” si gadis bertanya setelah sampai di
kamar apartemennya.
“Jangan berlari
seperti itu lagi. Selain berisik kalau
kau jatuh bagaimana? Bodoh.” Kata Luhan sambil mengacak rambut gadis yang lebih pendek darinya
itu. Si gadis hanya tertawa dan
membiarkan saja Luhan mengacak rambutnya.
“Tidak apa-apa. Nanti kau juga yang akan dimarahi oleh
tetangga kalau akan berisik.” Si gadis menjawabnya dengan tawa
sementara Luhan melayangkan pukulan di bagian belakang kepalanya. “Jangan
sembarangan,”
Si gadis hanya tertawa atas kadar humor rendah
yang dimiliki kekasihnya itu.
“Jangan terlalu serius
seperti itu. Nanti ketika kau sudah
menjadi artis dan kau tetap seperti ini, akan banyak anti fans yang siap untuk
membunuhmu.” Komentar si gadis sementara Luhan tertegun
mendengarnya. Menjadi artis, kelak. Dan harus mengorbankan cintanya. Ini sulit.
Dengan memaksakan senyumnya, Luhan membawa
gadisnya menuju ruang santai dan mendudukan diri disana. Luhan hanya diam memandangi gadisnya yang
sedang sibuk memainkan senar gitarnya dengan nada asal, membuang rasa bosannya
karena Luhan hanya dia untuk memandanginya.
“Jangan terus
melihatku seperti itu.” celetuk gadisnya membuat Luhan
tersentak. Ia tertawa kering sementara
pikirannya tidak lagi disana. Ia sedang
berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyelesaikan hubungannya dengan
gadis itu. Kedua telapak tangannya
dingin serta berkeringat karena memikirkan hal beberapa menit lagi.
“Jangan terlalu
percaya diri, dasar,” balas Luhan dan gadis itu kembali tertawa. Tawa itu, sebentar lagi bukan lagi miliknya. Suara rendah itu sebentar lagi bukanlah suara
rendah yang akan ia dengar setiap hari, sikap keras kepalanya itu sebentar lagi
tidak akan menganggunya lagi. Ia akan
kehilangan gadis itu
“kau..tidak apa-apa
kan kalau kutinggal?” tanya Luhan tanpa sadar, kedua matanya
menatap gadis yang duduk di karpet di bawahnya tapi pandangannya tidak fokus
melihat gadisnya itu. Seakan pikirannya
tidak ada di tempatnya kini berada.
“Ngg? Kau mau kemana? Lapar?”
tidak sadar
dengan arah tujuan dan makna sesungguhnya dari ucapan Luhan barusan, si gadis
hanya melemparkan tatapan mengejek padanya.
Luhan menggumam tidak jelas, namun bisa
didengar oleh gadis itu.
“Apa? Kau bilang apa?”
Luhan kemudian tersadar dari masa transnya dan
memandang lurus lurus gadis di depannya itu.
Menggumam tidak jelas lagi dan mengalihkan pandangannya menuju televisi
yang mati. Apa yang harus
dikatakannya? Seorang gadis, mau ia
sekuat apapun pasti akan sangat sedih jika disuruh untuk berpisah, bukan? Jangankan gadis itu, ia sendiri pun akan
sangat terpukul ketika mengatakan dan melihat reaksi gadis itu padanya. Ia sengaja mengundang gadis itu ke
apartemennya pun untuk mengatakan hal (yang sebelumnya sudah dipersiapkannya,
tapi lidahnya tetap terasa kelu jika disuruh untuk mengucapkannya sekaran)
tersebut.
“Luhan?” gadis itu menyadarkannya lagi. Ah, sudah berapa sering ia menjadi seseorang
yang suka untuk melamun sekarang?
“Ada apa? Kau memikirkan apa? Dan kenapa kau suka sekali menggumamkan
sesuatu yang tidak jelas seperti tadi?” gadisnya
bertanya sambil memindahkan posisinya duduk di samping Luhan. Luhan nampak menghela nafasnya, kalau bukan
sekarang ia mengatakan ini, kapan lagi?
Waktu keberangkatannya sudah dekat.
Memang obsesinya menjadi artis dan menjalani masa training di Korea, tapi tanpa mengorbankan seseorang yang berharga
baginya, kan?
“Luhan?”
sekali lagi menegurnya. Luhan
memutar badannya menghadap gadis itu, mengambil ponselnya dengan cepat dan
menyuruh gadis itu memegang ponselnya dan mengarahkannya pada mereka.
“A..apa?”
gadisnya bertanya heran tapi tetap saja melakukan apa yang disuruh oleh
Luhan. Beberapa mengambil gambar mereka
dengan tangan kanan Luhan merangkul pundaknya.
Tidak tahu apa yang sudah dilakukannya, Luhan malah beranjak dari
posisinya menuju dapur.
“Kubuatkan ramen, ya?”
tawarnya tanpa membalikan badannya sementara ia berjalan sambil memegang
erat ponselnya. Gadisnya yang tidak
mengerti dengan perubahan sikap Luhan hanya mengangguk tanpa suara
memperhatikan Luhan yang sudah tersembunyi menghadap meja dapur. Dan terlonjak beberapa kali karena
suara-suara ribut yang ditimbulkan oleh Luhan.
“Luhan, dia
kenapa?” menggumam pelan tapi tidak memutuskan untuk
menyusul Luhan ke dapur dan malah menyalakan televisi untuk membunuh
kebosanannya.
Sementara Luhan di dapur sekuat tenaga menahan
isakannya keluar dari mulutnya dan menutupinya dengan berlaku kasar dengan
alat-alat di dapurnya. Beberapa kali air
mata menetes dari matanya, mereka memang masih sangat muda dan terlalu labil
akan hal sensitif seperti ini. Tidak ia
pungkiri juga ia tidak mau melakukan ini, tapi demi impiannya menjadi seorang
artis tentu hal seperti ini hanyalah sedikit dari pengorbanan yang harus ia
lakukan untuk menempuh perjalanan menjadi artis, bukan? Luhan tahu betul itu, meski sulit. Tapi setelah dipikir kembali olehnya, akan
lebih sulit bagi mereka jika terus melakukan hubungan sementara ia berada di
Korea dan kekasihnya masih disini.
Sangat sulit.
Baiklah, Luhan memantapkan dirinya. Setelah mereka berdua menghabiskan ramen ini,
ia akan mengatakannya. Meski ia harus
melihat air mata dari gadis itu, tapi ini semua demi kebaikan mereka berdua,
kan?
.
“Sudah jadi? Apa yang terjadi disana tadi?”
gadisnya langsung memberinya rentetan pertanyaan sementara ia meraya ke
sandaran sofa untuk melihat Luhan yang berjalan dari belakangnya sambil membawa
dua mangkuk ramen.
“Tadi? Aku kesal, kenapa tidak ada yang memberi
tahuku bahwa di dapur ini ada kecoa sialan?” jawab
Luhan acuh, tentu saja ia tidak bisa bilang bahwa ia sengaja membuat kebisingan
untuk menutupi dirinya yang sedang menahan isakannya, bukan?
“Kecoa? Tapi tentu makanan ini tidak ada kecoanya,
kan?” dengan nada ringan gadisnya mencoba untuk
mencandainya. Ia menatap lurus lurus
gadisnya itu dan kemudian mencoba untuk tertawa sementara ia mengalihkan
pandangannya dengan menaruh dua mangkuk itu di atas meja rendah miliknya.
“Aaaa, wangi
sekali. Mari makan!” acuh dengan sikap tidak wajar Luhan, gadisnya itu malah meraih sumpitnya
dan segera melahap ramennya. Dan Luhan,
di tempatnya hanya menatap sendu gadisnya.
Sebentar lagi, ia harap waktu berjalan sangat pelan agar ia bisa terus
melihat sikap ceria dan acuh gadisnya itu.
Agar ia mempunyai waktu untuk menyimpan semua memori tentang gadis itu
dalam pikirannya sekarang. Agar ia bisa mempersiapkan dirinya untuk melihat
sorotan mata kebencian dari kedua mata gadisnya itu.
“Kau tidak makan?”
gadisnya menegurnya. Luhan
tersentak dan mengembalikan dirinya untuk menatap fokus gadisnya. Ia menggeleng pelan sebelum menjawab.
“Kupikir, aku tidak
lapar. Kau mau menghabiskan?”
katanya sambil menyodorkan mangkuk ramen miliknya yang sama sekali belum
tersentuh dan menatap sedih mangkuk gadisnya yang sudah bersih. Terlalu lama memikirkan hal menakutkan
baginya membuat dirinya tidak menyadari bahwa gadisnya itu sudah menghabiskan
porsi ramennya.
“Kau tidak lapar? Bagaimana bisa menjadi artis kalau untuk
makan saja kau tidak bisa, hah?” menanggapi seperti itu tapi tetap
meraih mangkuk milik Luhan dan mulai melahapnya lagi. Gembul.
Komentar Luhan dan tersenyum dalam pikirannya.
Ah, berbicara masalah itu. Luhan sudah siap. Semuanya.
.
“Tentu tanpa alasan
kau mengundangku ke apartemenmu, kan?” tanya gadisnya tepat sasaran setelah
ia kembali dari dapur untuk mencuci mangkuk serta peralatan masak yang dipakai
Luhan ketika membuatnya.
Luhan membiarkan saja gadisnya untuk duduk di
sisinya, dan memandang lekat-lekat ke arah televisi yang menyala meski pikirannya
tidak disini.
“Ada apa sih? Ada yang ingin kau bicarakan? Kau sekarang aneh tahu!” sahut gadisnya, lagi-lagi tepat sasaran.
Tapi Luhan masih ingin diam, dan gadisnya itu ikut diam sementara suara
dari televisi yang mendominasi.
“Kau akan kenapa-kenapa
kan kalau kutinggal?” gumam Luhan, tapi sanggup didengar oleh
gadisnya.
“Memang kau mau
kemana, sih? Bukannya kita –maksudku
aku sudah makan siang tadi?” jawab gadisnya. Dan Luhan hanya mendesah diam-diam, kenapa
juga gadisnya ini terlalu tidak peka?
“Aku..sebentar lagi
akan menjalani training menjadi artis,”
“Benarkah? Wah selamat!
Akhirnya mimpimu akan terwujud, ya!”
komentar
gadisnya, dan ia bisa merasakan bahwa gadisnya tengah menggenggam
tangannya. Menyalaminya.
“Kau akan..baik-baik
saja, kan?” tanyanya ragu. Tapi masih tidak berani untuk menatap
gadisnya.
“Tentu saja. Supaya lebih baik lagi, aku akan
sering-sering mengirimu makanan. Supaya
kau tidak kurus seperti ini. Aku akan
datang mengunjungimu dan –“
“Tapi aku tidak akan
di training disini! Aku harus ke Korea!”
seru Luhan cepat dan menghadap gadisnya. Sementara gadisnya hanya menatapnya terkejut
karena suara Luhan yang mendadak meninggi dan kabar mengejutkannya itu. Ke Korea?
Tapi kenapa? Luhan tidak pernah
menceritakan masalah ini sebelumnya. Ia
hanya bilang akan menjalani training di
Korea. Dan apa itu berarti ia harus
berpisah dari Luhan? Itukah sebabnya
Luhan terus bertanya padanya apakah ia akan baik-baik saja ketika ia harus
pergi? Itukah maksud Luhan? Dan kenapa perubahan sikap Luhan hari ini
yang begitu kentara terlihat? Serta
tiba-tiba mengajaknya untuk mengambil gambar mereka berdua? Itukah dibalik sikap Luhan selama ini?
“Ke..kenapa?”
dengan suara serak ia hanya mampu mengeluarkan pertanyaan itu. Entah pertanyaan itu dimaksudkan untuk
menjawab pertanyaan yang mana. Tapi
malah terdengar seperti ia bertanya pada dirinya sendiri.
Sementara Luhan tampak semakin frustasi
mengangkat kepalanya setelah ia membenamkan kepalanya di kedua telapak
tangannya.
“Maaf. Aku tidak bisa bilang sebelumnya. Se..sebenarnya sudah cukup lama aku tahu,
tapi –“
“Kenapa aku tidak
menyadari perubahan sikapmu selama ini Luhan?” dengan
suara lirih gadisnya memotong ucapannya.
Luhan menoleh ke arahnya, sempat tertegun. Tidak ada air mata. Meski raut kesedihan kentara sekali
terlihat. Tidak seperti bayangannya
sebelumnya yang mengira bahwa gadisnya akan langsung histeris dan menangis,
gadisnya hanya menunjukan raut wajah sedih, kecewa dan takut kehilangan.
“Ja..jangan bilang
seperti itu. Aku..yang salah. Aku tidak bisa memutuskannya dengan
cepat. An..antara kau dan..mimpiku,”
menjawab dengan suara yang semakin kecil, Luhan mencoba untuk meraih
telapak tangan gadis itu. Terkepal kuat,
seakan sedang menahan sesuatu.
“Kalaupun aku bisa,
aku tidak ingin berakhir. Maafkan
aku. Maaf. Maaf.”
Melanjutkan
sambil membungkuk di hadapan gadisnya, sementara gadisnya tidak menjawab
apapun. Ia ingin marah, tapi pada
siapa? Ia tidak marah pada Luhan, tidak
akan pernah. Tapi mengingat ia akan
kehilangan Luhan, tentu membuat emosinya memuncak kembali. Ingin menangis, tidak. Hal seperti ini tentu tidak akan membuatnya
harus untuk membuang-buang air matanya, dan terlihat lemah di hadapan
Luhan. Ia bingung, untuk melepaskan atau
memaksa Luhan untuk tetap disisinya.
Suara televisi yang entah kenapa semakin
kencang membuat keduanya semakin larut dalam keheningan. Luhan ingin membuka suaranya lagi, tapi tidak
tahu harus berbuat apa. Ia hanya mencoba
untuk membuka kepalan tangan gadisnya itu untuk menggenggamnya. Pikirannya kacau. Ia siap untuk dibenci, ia siap. Kalau bukan karena mimpinya sejak dulu, ia
tidak mau melepaskan gadisnya dengan cara seperti ini.
Belum lagi untuk menata kembali hatinya serta
menahan dirinya terhadap gadis itu. Tentu
akan sulit. Dan jika ia sudah di Korea
nanti, belum tentu ia bisa menghubungi gadisnya lagi. Kabar yang ia dengar, semua trainee dilarang memiliki alat
komunikasi. Ia tidak mungkin bisa
menghubungi gadis itu lagi. Tapi..jika
gadis itu masih ingin merajut persahabatan dengannya, kalau tidak? Itu ketakutan terbesarnya.
“Aku..mungkin tidak
bisa memaksamu. Tapi aku juga tidak bisa
begitu saja melepaskanmu, aku butuh waktu..”
akhirnya gadisnya membuka suaranya.
Dengan nada tegas, membuat Luhan lagi-lagi tertegun. Tidak ada suara bergetar dan serak menahan
tangis, hanyalah suara tegas yang menandai kalau ia menerima keputusan Luhan
tapi membutuhkan waktu untuk sendiri.
Gadisnya melepaskan genggaman Luhan dan
beranjak, “Aku..terimakasih untuk ramennya.” Ucap gadis itu sebelum memutuskan untuk
pulang dari apartemen Luhan meski Luhan tahu bahwa bukan itu yang ingin
dikatakan gadis itu.
“Aku akan
menghubungimu nanti.” Suara Luhan sempat menghentikan langkah gadis
itu, tapi tanpa berbalik ia mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya
meninggalkan apartemen Luhan.
.
Keduanya berada di bandar udara sekarang, Luhan
berdiri di sisinya sambil melihat ke sekeliling. Melihat banyak trainee seperti dirinya yang juga dipindah menuju Korea. Sementar ia seperti sedang mencari sesuatu di
saku jaketnya dan ketika sudah menemukannya, menyelipkannya di saku jaket milik
Luhan.
Sadar dengan adanya benda baru dalam saku
jaketnya, Luhan menoleh menghadap gadis (yang masih ia anggap kekasihnya
itu. Keduanya sepakat untuk resmi
menyudahi hubungan mereka ketika gadis itu sudah tidak melihat Luhan lagi, saat
Luhan sudah berada di dalam pesawatnya) yang lebih pendek darinya itu.
“Kau menaruh apa?”
bertanya dengan bingung dan mencoba meraih saku jaketnya. Tapi tangan gadis itu mencegahnya dan membuat
Luhan kembali menatapnya.
“Nanti saja di
pesawat. Aku malu kalau kau melihatnya
sekarang.” jawab gadisnya itu, sambil tersenyum ke
arahnya. Mau tidak mau Luhan ikut
tersenyum menanggapinya, tidak. Ia tidak
akan sedih lagi. Ia tahu gadis di
sisinya itu bukanlah gadis yang lemah, sesuai dengan ucapan si pria yang
bertemu dengannya dulu. Ia bangga
dengannya. Gadis itu..
“Ah, kalau kau sudah
debut nanti. Bisa kau pastikan kalau aku
adalah fans nomor satumu Luhan, dan aku akan membeli semua atribut yang
berhubungan denganmu.” Suara gadisnya terdengar lagi.
“Jangan mencoba untuk
menghiburku.” sahut Luhan yang sudah berdiri
menghadap gadisnya. Posisi mereka yang
begitu dekat membuat gadisnya itu diam-diam cemas kalau Luhan bisa mendengar
detak jantungnya yang serasa melompat-lompat.
“Aku tidak mencoba
untuk menghiburmu,” balasnya dengan nada bercanda sambil
menjulurkan lidahnya sementara kedua tangannya sedang merapatkan jaket yang
dikenakan Luhan. Luhan tidak menjawab
dan hanya memandangi gadisnya yang sedang menunduk itu dengan kedua tangannya
menggantung di depan jaketnya.
“Sekarang dingin. Jangan sering sering keluar malam, pakai
jaketmu dan mantelmu jika ingin keluar.
Apalagi saat malam. Latihan terus
kalau kau merasa kedinginan, keringat akan membuatmu merasa sedikit hangat,
tentu. Dan, makan yang banyak. Aku tidak mau melihat tubuh kurusmu itu lagi
saat debut nanti. Mengerti?” ucap gadisnya dengan cepat, tapi Luhan yakin ia bisa mengingat itu
semuanya. Dari seseorang yang sudah
menemani serta mendukungnya menjadi calon artis seperti sekarang.
Luhan mengangguk mengerti. Ia sedikit mendongak ketika pria yang bertemu
dengannya dulu berteriak memanggil calon-calon artis seperti dirinya untuk
segera masuk ke dalam, melakukan check in
setelah itu menaiki pesawat. Ia bisa
merasa bahwa gadisnya semakin erat memegang bagian depan jaketnya, tanpa
isakan. Gadisnya itu sama sekali tidak
menunjukan air mata sejak kali pertama ia mengatakan berita kepindahannya
sampai ia sudah akan benar-benar pergi.
“Aku..tentu akan
sangat merindukanmu, Luhan.” Ucap gadisnya pelan. Luhan mengangguk mengamini. “Kau
pikir hanya kau, hah? Bahkan mungkin aku
beribu kali akan merindukanmu, tahu.” Balas
Luhan, ia mengusap rambut gadisnya itu.
“Sementara aku di
Korea, kau juga jaga kesehatanmu. Jangan
hanya makan ramen,” kata Luhan, dan gadisnya itu hanya tersenyum
menanggapi. Mengangkat kepalanya agar
mata mereka bertemu.
“Aku tahu.” Jawab gadisnya, ah Luhan suka mata itu.
Mata yang selalu menunjukan kejujuran serta kekuatan. Tentu ia akan sangat merindukan gadis itu
terlebih matanya.
“Aku bangga pernah
menjadi pacarmu.” Bisik Luhan dan membuat dirinya mendapat
tubrukan dan pelukan erat dari gadisnya.
Gadisnya mengangguk berkali-kali dalam pelukannya. Sementara ia menaruh kepalanya di bahu gadis
itu. Menyesap wanginya untuk terakhir
kalinya.
“Aku juga. Dan aku akan lebih bangga karena pernah
menjadi pacar Xi Luhan dan artis Xi Luhan.” Ungkap
gadisnya ketika sudah melepaskan pelukannya.
Saling bertatapan dan membiarkan saja keningnya menjadi landasan kecupan
dalam dari Luhan.
“Aku harus pergi
sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal,” kata
Luhan sambil meraih koper di tangan kanan dan kirinya. Gadisnya menggeleng dan membuat Luhan
termenung.
“Katakan padaku sampai
bertemu lagi, jangan selamat tinggal.” Koreksi gadisnya, dan Luhan kemudian
menanggapinya dengan senyum tulus.
“Tentu. Tentu, sampai bertemu lagi.” kata Luhan, sebelum ia benar-benar melangkah mundur. Membiarkan gadisnya melihat dirinya untuk
terakhir kali dan membuatnya bisa melihat senyum tulus dari gadisnya itu.
Keduanya
saling melambai dan Luhan benar-benar menghilang dari pandangannya.
.
Luhan sedikit menggeser duduknya, mencari
posisi yang menurutnya paling nyaman di kursinya. Duduk di sisi jendela memang kesenangannya,
bisa melihat awan-awan di luar sana membuatnya bisa membayangkan bahwa ia bisa
tinggal disana. Menikmati kenyamanan
ketika –mungkin ia berbaring disana.
Luhan terkekeh pelan, dan menyadari bahwa ada sesuatu yang telah
diberikan gadis –mantan gadisnya sebelum ia berangkat tadi.
Ia mencari-cari di kedua saku jaketnya dan
bernafas lega ketika akhirnya ia menemukannya.
Sebuah amplop.
Oh surat, Luhan bisa membaca tulisan di amplop
putih itu. ‘Xi Luhan yang teramat kubanggakan’
Luhan menahan nafasnya ketika ia membuka amplop
tersebut dan ketika tangannya membuka lipatan-lipatan kertas surat di
dalamnya. Tidak tahu, tapi ia bisa
merasakan adanya kasih sayang besar yang tersimpan di dalam surat tersebut.
“Luhan-ah, I don’t
know what to say to you. I hope you
develop/grow well in Korea, your singing is so great. FIGHTING.
You can surely be famous..”
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar