Cast : Choi Minho (SHINee) , Park ____
(YOU)
Genre : Romance,Angst
Summary : ____ menyukai Minho semenjak
mereka masih berada di sekolah menengah, impiannya hanya satu. Ingin tahu apa
yang dipikirkan Minho mengenai dirinya.
Kadang ____ ingin sekali tahu apa yang
dipikirkan Minho mengenai dirinya. Ketika ia begitu senang ketika tidak sengaja
mata mereka beradu atau ketika ia begitu cemburu dengan kedekatannya dengan
teman-teman perempuan sekelasnya. Ia hanya ingin tahu saja. Sudah banyak
imajinasi _____ mengenai Minho; seperti mungkin ia menyukainya juga.
Tapi bagaimana ia bisa tahu jika berbicara dengan
Minho saja tidak pernah? Jangankan berbicara, ketika tidak sengaja mata mereka
beradu saja sudah menyebabkan ia pergi begitu saja dan menunjukak mimik wajah
datar.
Apakah Minho juga berlaku sama ketika tidak
sengaja kulit mereka bersentuhan atau ketika tatapan mereka beradu? Apakah
Minho juga merasa cemburu ketika melihatnya berbincang dengan teman-teman
laki-laki di kelasnya. Siapa yang tahu? Dulu mungkin mereka sempat terbuka satu
sama lain, tapi apa sih yang membuat _____ menjadi seperti ini? Seperti takut
sekali ketika Minho berada di dekatnya sedikit saja.
Jika boleh jujur, _____ sendiri juga tidak mau
jauh-jauhan seperti ini dengan Minho. Andaikan Minho juga menunjukkan sedikit
simpati dengan dirinya, mungkin saja _____ tidak akan menjauh seperti ini.
Terlebih ketika ______ mengikuti jejak temannya untuk terlihat ‘berlebihan’
dengan junior mereka.
_____ juga sadar ketika melakukan itu, ia hanya
ingin membuat Minho cemburu –kalaupun memang benar Minho juga menyukainya. Tapi
sampai sekarang; sampai ia sudah lelah berpura-pura ‘heboh’, tidak ada
perubahan dari Minho. Malah ia rasa, mereka semakin menjauh. Minho malah
menghindari dirinya. Dan kalau boleh ia akui, ia ingin sikap Minho padanya itu
sebenarnya adalah kiasan dari sikap cemburu Minho padanya. Tapi kalau bukan,
mungkin sudah saatnya ia menyerah? Lain lagi ceritanya jika memang seperti itu,
dan anggapan dirinya mengenai Minho yang juga menyukainya benar. Ia akan
berusaha mendekati Minho lagi.
Dan sekarang, pikirannya itu masih saja terus
berlanjut. Ia ingin sekali kalau Minho memang benar-benar cemburu atau tidak.
Kadang ia juga bingung dengan Minho, ia begitu terbuka dengan teman-teman
perempuannya. Tapi ketika ia bersama ______, presepsi ______ mengenai Minho
langsung berubah. Laki-laki ini begitu dingin padanya, senyum seperlunya.
Berbicara ketika ditanya –itupun dulu. Sebenarnya apa sih yang ada di pikiran
Minho? Apakah sikap diamnya itu memang menunjukan kalau Minho juga menyukainya?
Sama seperti dirinya yang juga diam ketika di dekat Minho, bersikap angkuh dan
berpura-pura tidak peduli; meskipun sebenarnya ia sangat memperhatikan Minho.
Apa Minho juga seperti dirinya?
Dan jika memang itu terjadi, ia rasa ia sudah
melakukan kesalahan besar. Ia sudah menyakiti Minho. Membuat Minho juga merasa
sakit hati dengan ulahnya, ia tahu Minho bukan tipe laki-laki yang mudah
terbuka dengan orang lain. Mungkin saja sikap diamnya itu menunjukan
kebalikannya. Justru Minho sedang berusaha menahan perasaannya. Mungkin saja,
kan?
Kalau sudah begitu, ia harus apa? Tidak mungkin
ia mendekati Minho dan berusaha mendekatinya lagi dan justru Minho malah
merasakan kebalikannya. Ia ingin menjauhinya.
Ugh –membingungkan.
Kalaupun Minho memang sakit hati, apa perlu ia
yang mulai mengibarkan bendera perdamaian? Bukankah Minho sudah sangat sering
membuatnya sakit hati juga? Pantas saja bukan jika memang Minho sedikit saja
merasakan hal tersebut, ketika ia disakiti? Minho pun tidak menunjukan
perubahan yang positif, malah semakin menjauh.
Jadi wajar saja, kan? Ia akui juga, kalau ini
juga sebagian dari balas dendamnya. Sedikit memberikan Minho pelajaran itu
tidak apa-apa bukan? Untuk saat ini memang ia begitu tenang, tapi apakah ketika
mereka sudah berpisah nanti ia bisa menjamin kalau Minho juga masih
menyukainya? Bisa saja ketika mereka berpisah, detik itu juga Minho membuang
perasaan terhadapnya, bukan? Takut? Tentu saja. Tapi, apakah memang Minho juga
menyukainya? Berkali-kali ia memikirkan itu. Benar tidak sih?
Kalau bisa, ia ingin sekali berteriak di
telinga Minho dan memintanya untuk memberi tahu pikirannya. Tidak peduli jika
itu malah akan membuat usahanya sia-sia atau sebaliknya. Dan jika memang itu
terjadi, hal selanjutnya mudah sekali. Ia hanya perlu mundur teratur dan
berusaha melupakan Minho, kan?
Duh –ia benar-benar kesal sekarang. Kadang
manusia juga bisa kehilangan kesabaran bukan? Menunggu itu bukan perkara
gampang, terlebih hal yang di tunggu itu juga tidak meyakinkan.
Minho – Minho – Minho – Minho – Minho.
Bisa tidak ia hidup tanpa Minho untuk
kedepannya?
Datang darimana juga pikiran seperti itu? Tentu
saja ia bisa hidup tanpa Minho; dengan sedikit kehampaan tentu saja.
Jelas saja begitu, Minho sudah hampir mencuri
seluruh pikiran dan hatinya. Dan tiba-tiba ia harus berpisah dari Minho dengan
ketidak jelasan perasaannya. Sungguh tidak mengenakan. Apa Minho juga
berpikiran hal sama dengan dirinya? Apa ia takut juga? Kalaupun di hari mereka
harus berpisah nanti Minho memberitahukan padanya apa yang ia pikirkan dan ia
rasakan selama ini padanya, toh ia tidak bisa berbuat apa-apa. Minho tetap akan
pergi juga. Membuat suatu hubungan dengan Minho? Ia rasa tidak mungkin, ia
tidak terlalu memikirkan hal seperti itu. Ia hanya ingin tahu pikiran dan
perasaan Minho padanya, itu saja.
Jadi, perlukah ia terus menyimpan perasaan
serta impiannya mengenai Minho tersebut terus menerus? Sampai mereka
benar-benar berpisah nanti?
Sebenarnya ia ingin saja berbagi rasa dengan
Minho, memiliki rasa takut yang sama dan perasaan yang sama. Saling menenangkan
dan membuat janji. Sebenarnya ia ingin, tapi sangat tidak mungkin jika ia
memang mengatakan hal tersebut pada Minho bukan? Akan di cap seperti apa ia
kelak?
Ia membuat Minho sakit hati dan tiba-tiba
datang menginginkan membuat janji dengan dirinya. Oh –lucu sekali. Itupun kalau
Minho juga suka padanya, kalau tidak?
Yah –mungkin memang ia harus menunggu lagi, dan
bersabar tentunya. Toh suatu saat nanti Minho pasti akan memberikan sebuah
penjelasan bukan? Dan sampai pada hari itu, ia akan terus menunggu. Iya,
menunggu dan bersabar, tentu saja itu pasti.
END
old fanfiction -____- baru nemu di laptop >_< better to listen Apple and Cinnamon - Utada Hikaru, meski sama sekali tidak ada hubungannya dengan ff ini -___-"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar