Senin, 02 Juli 2012

[SCANDAL] WHEN MINHO TOLD EVERYONE ABOUT HIS FEELING


Hanya dengan satu kata, ia bisa mengungkapkan semuanya. Hanya dengan satu tindakan, ia bisa tunjukan semua..
Minho melepaskan topi –samarannya kemudian membuka botol yoghurt dan meminumnya, setelah itu ia meraih saku celana jeansnya dan mengambil ponsel miliknya. Ia mengerutkan keningnya dan setelah itu menyenderkan punggungnya di sofa.

Begitu lemah..

Begitu menyakitkan..


WHEN MINHO TOLD EVERYONE ABOUT HIS FEELING
.


Cast : Minho (SHINee) , Park _____ (YOU)

Genre : Romance, Angst

Rated : T

Summary : “ –Ini sulit kau tahu?”


“Aku tahu ini tidak mudah, tapi untuk kebaikanmu, untuk SHINee, dan untuk gadis itu juga,”

Minho menggeleng lemah ketika ucapan managernya tadi siang kembali mengusik pikirannya.  Ia sudah terlalu sakit, tidak mengertikah orang-orang di sekelilingnya?Minho butuh istirahat, Minho butuh melepaskan penatnya, Minho butuh mengistirahatkan hatinya.Sudah berkali-kali ia melanggar peraturan, seharusnya ia masih bisa bertahan untuk hal sama seperti sekarang.Tapi Minho tetaplah Minho yang lemah.  Setenang apapun itu, ia harus beristirahat.

Begitu rapuh..

Bisa saja Minho hancur dalam sekejap sekarang ini, anggap saja Minho saat ini seperti lapisan es yang begitu tipis.  Bisa pecah dan hancur sekali saja kalau kau sentuh dengan tidak hati-hati.  Ini sulit, tentu saja.
Bahkan untuk seorang leader, memikirkan hal seperti ini mungkin bukan hal mudah.

Minho pun tahu ini sebenarnya adalah salahnya.Ia tahu segala semua konsukuensi yang akan di dapatkannya.
Klise sekali sebenarnya.
Minho berhubungan dengan seseorang yang bukan artis, bukan siapa-siapa. Saat itu adalah konferensi pers mengenai promosi album baru mereka, di tambah dengan fans signing.  Mereka duduk berjajar di suatu meja panjang.  Dan fans mulai mengantri untuk mendapatkan tanda tangan dari mereka.

Setiap acara seperti itu, setiap artis akan di kenakan suatu peraturan dimana mereka tidak boleh menatap mata fans saat mentanda tangani album atau buku yang disodorkan oleh fans.  Well, sekarang peraturan itu sudah tidak dilaksanakan lagi sebenarnya.

Semua berlangsung biasa-biasa saja, ada sesekali fans yang nekat untuk mencubit pipi mereka atau sekedar mengelusnya.  Itu bisa mereka maklumi, kadang seorang artis perlu memberikan hatinya kepada fans untuk hal kecil seperti itu, kan?

Ia –Minho duduk di kursi nomor 2 setelah Key, itu berarti berada dalam posisi kedua untuk memeberikan tanda tangan kepada fans.  Dan saat itu datang seorang gadis, sebenarnya Minho sadar jika gadis itu terus memperhatikannya ketika ia masih menerima tanda tangan dari Key dan ketika ia sendiri sedang mentanda tangani sebuah album dari fangirl lainnya.

Dan ketika sampai gadis itu berada di hadapannya, gadis itu berkata padanya,”Minho-ssi?” Minho hanya tersenyum menanggapi, selain tidak boleh menatap mata fans untuk mencegah terjadinya first sight, ada peraturan lain, dilarang untuk berbicara dengan fans.  Sekali lagi, peraturan itu sebenarnya sudah tidak berlaku lagi.

“Kau tidak mau menjawabku?” Minho mengangguk, dan membuka halaman dimana ada fotonya disana.

“Oh –pasti peraturan itu ya?”

Minho berhenti sebentar, kemudian melirik sekilas, ia dapat melihat bahwa gadis di hadapannya cukup tinggi –walaupun dia hanya melihat bagian bawah tubuh gadis itu.  Pakaian yang dikenakan gadis itu cukup mencolok.  Gadis nyentrik rupanya.  Minho tersenyum lagi.

“Bisa tuliskan namaku?” gadis itu bertanya lagi.  Minho mengangguk, dan akan mulai menuliskan nama gadis itu.

“Kau tidak bertanya siapa namaku?” Minho bisa mengetahui kalau gadis itu tersenyum menyeringai padanya.

“Baiklah, tulis saja Park _____,” Minho mengangguk dan memberikan tanda tangannya.

“Kau masih tidak mau menjawab pertanyaanku?”

Jujur saja, ia ingin bebas sebentar.  Ia ingin mencoba berbicara dengan orang biasa, ia ingin mencoba bertatapan dengan fansnya itu.  Atau ia ingin berkomunikasi dengan fansnya tanpa harus melewati cyworld-nya saja.

“Oh –Tuhan, bisa biarkan orang di depanku ini melihatku barang dua detik saja?” sungut gadis itu.

“Maaf,” ia hanya bisa menggumam seperti itu.  Mungkin tidak di dengar oleh _____, tapi ia harap memang gadis itu tidak mendengarnya.

“Tunggu –tulis disitu –iya disitu,” gadis itu menunjuk sudut bawah bagian fotonya.

Ia menurut dan segera menuliskannya.

“Baiklah –kau tidak mau berbicara denganku karena aku bukan artis, kan?  Kalau begitu aku akan ikut audisi dan lolos –kemudian kau harus berbicara denganku jika aku sudah menjadi trainee atau debut nanti,”

Minho hanya menahan tawanya, Minho berani bertaruh kalau gadis di depannya ini sudah membuang gengsinya dengan berkata seperti itu.

“Kau mau menungguku, kan?”

Gadis polos, pikir Minho.

“Kau hanya diam? Baiklah –kuanggap jawabanmu iya.  Terakhir, saranghae Choi Minho,” kemudian gadis itu bergeser ke hadapan Jonghyun, dan Minho mendapati di hadapannya sudah ada gadis lain.

Minho mulai mentanda tangani album yang di sodorkan gadis lain, namun sebelumnya ia mendongakan kepalanya sedikit, melihat _____.

____ yang menyadari kalau Minho melirik ke arahnya tersenyum padanya, Minho bersumpah, kalau ia lupa bernafas dan hampir jatuh kalau saja ia tidak berkonsentrasi lagi dengan albumnya.

Dan  ia berjanji kepada dirinya sendiri, ia akan menunggu gadis itu menjadi trainee.

Minho memijat keningnya, ia menyadarkan pikirannya sendiri dari ingatannya mengenai gadis itu.  Ia tidak mau sendirian mengahadapi ini, ia ingin gadis itu juga ikut bertanggung jawab.  Ia tidak mau semua yang terjadi di salahkan padanya, ia juga ingin gadis itu di salahkan.

Untuk apa gadis itu berbicara seperti itu padanya?  Membuatnya berjanji pada dirinya sendiri, dan membuat dirinya hampir gila.  Semenjak pertemuannya dahulu, setiap ada fans signing, ____ selalu datang, dan terus berbicara padanya –walaupun tahu kalau Minho tidak akan menjawabnya.

Tapi Minho akui, ia semakin terbiasa dengan kehadiran ____ di setiap acaranya.
Terbiasa dengan obrolan-obrolan singkat gadis itu,dan hanya tersenyum kecil jika sesekali gadis itu mengeluarkan lelucon-lelucon.
Karena terbiasa, Minho pun sudah hafal dengan ____.  Dan selalu menuliskan namanya ketika mentanda tangani apa yang disodorkannya.  Ia rasa member yang lain sudah mengerti, dan sudah memakluminya.

Sampai suatu hari, gadis itu tidak pernah muncul lagi di setiap fans signing atau event lainnya.  Dan sebuah perasaan muncul mengahantam dirinya, ia kecewa.  Kemana gadis itu?  Ia sudah rindu dengan kesentrikan karakternya, atau kelucuannya.  Ia sudah merindukannya.

Kemudian suatu hari ketika ia mengunjungi kantor perusahaan, ia melihat gadis itu berjalan di melewati lobi.  Ia terpana sejenak, ia akan loncat segera jika saja ia tidak ingat ia berada di elevator sekarang.  Beberapa detik ia meyakinkan dirinya sendiri kalau ia memang benar-benar melihat gadis itu- ____.  Sudah berapa lama ia tidak melihat gadis itu?

Dan kini ia melihatnya di kantor perusahaannya.  Di kantor perusahaannya!
Apa benar-benar gadis itu lolos audisi dan menjadi trainee?

Ia segera berlari menuruni elevator, melewati beberap orang di bawahnya.  Dan berlari menuju lobi.  Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobi, dimana?  Ia melihat gadis itu berjalan disini tadi.  Kemudian ia menyadari, gadis itu mungkin ada di ruangan latihan para trainee baru?

Ia berlari kesana.

“Hyung?” Taemin menegurnya.

Ia tersadar kembali, ada apa dengan dirinya hari ini?
Melamun sepanjang hari.

“Jangan melamun, ayo,” Taemin menarik tangannya, oh –ia ingat sekarang.  Hari ini hari ulang tahunnya dan perusahaan merayakannya di kantor perusahaan dengan mengundang beberapa shawol.

“Jangan murung hyung, untuk malam ini jangan biarkan kau murung.  Ceria, oke?” sahut Taemin ketika mereka berjalan menuju kamar.

Minho tersenyum,”Iya, tenang saja,”

***

Minho berada di barisan terakhir dalam rombongan, ia bisa melihat banyak sekali fans berdiri menunggu mereka di luar gedung.  Minho tersenyum pada mereka semua, ia tahu kalau fans yang berdiri di luar gedung merupakan fans yang belum beruntung di undang oleh perusahaan.

Minho dan rekan-rekannya melambai sambil tersenyum,berdesak-desakan.  Ia bisa merasakan kalau beberapa guard menjaga mereka, walaupun begitu ia tetap merasakan sentuhan-sentuhan yang tidak bisa di sembut lembut dari fans.

Beberapa kali syal yang ia kenakan di tarik-tarik ketika berusaha menerobos kerumunan.  Atau telinganya di teriaki oleh teriakan-teriakan histeris yang ingin sekali bertemu dengannya.
Namun ia hanya tersenyum, dan sedikit berlari ketika menyadari kalau ia tinggal sendiri.  Rekan-rekannya sudah medahuluinya masuk kedalam gedung.

“Minho-ya!” Minho menyambut uluran tangan Jonghyun dan membiarkan dirinya ditarik masuk.

“Kau kenapa?” desis Jonghyun.

Minho menggeleng, ia sendiri tidak tahu kenapa dengan dirinya malam ini.

“Aku baik-baik saja,”

“Kalau begitu jangan melamun, apa yang kau lakukan diluar tadi?  Bunuh diri?” desis Jonghyun sambil menarik lengannya agar lebih cepat berjalan.

“Aku tidak melamun,” sanggah Minho.

Jonghyun melirik tajam ke arahnya, kemudian mendengus.

Minho menghela nafasnya,ada apa dengan dirinya?  Mau tidak mau ia akui walaupun ia sedang menyalahkan gadis itu, ia ingin bertemu dengannya malam ini.  Disini, di kantor perusahaan.  Ketika acara ulang tahunnya berlangsung.

Ia ingin berteriak di hadapan gadis itu, berteriak marah, kalau ia tidak mau di salahkan sepenuhnya.  Karena yang memulai ini duluan adalah gadis itu.
Ia ingin memeluk gadis itu, sudah lama ia tidak memeluk atau sekedar bertatap muka dengannya.  Terakhir bertemu minggu kemarin, ia langsung dibawa pergi oleh managernya.  Dan dimulailah petaka baginya.  Ia ingin memberitahukan kepada semua orang disini siapa gadis itu, dan mengenai perasaannya.  Ia ingin berteriak frustasi sekarang.

“Minho!” Minho tersentak mendengar teriakan Jonghyun di sebelahnya.  Ia menoleh lemas ke arah hyungnya.

“Kumohon padamu, hanya tinggal membuka pintu ini.  Maka kau akan dimakan oleh mereka jika kau menunjukan ekspresi mau mati seperti itu.  Jangan melamun, tersenyum,” Jonghyun memandangnya dengan memelas.  Oh –Tuhan, sebegitu frustasi itu, kah ia?

Minho memaksakan kedua sudut bibirnya bergerak ke samping, susah sekali.  Seperti ada adonan masker kering di wajahnya sekarang.

“Iya hyung, kau tidak lihat aku sedang tersenyum?” senyumnya sambil merapikan poni panjangnya.

Jonghyun menghela nafas lega,”Yang lain sudah berada di dalam.  Kita tidak lewat sini, kita lewat belakang,” titah Jonghyun dan menarik lengan Minho lagi dari 2 pintu besar di hadapan mereka.

“Ya,” jawabnya.

Kemudian mereka berjalan dengan terburu-buru.  Minho mengerutkan keningnya.  Kemudian ia berjanji pada dirinya sendiri jika ia melihat gadis itu di dalam sana, maka ia akan mengungkapkan semuanya di dalam.

Terserah jika managernya mengamuk, terserah jika fans akan tidak terima, terserah jika perusahaan akan menghukumnya, terserah jika Onew dan rekan-rekannya kecewa –benarkah?

Ia cukup ragu dengan pikiran terakhirnya, mengenai Onew, mengenai yang lain.  Benarkah ia akan tidak peduli dengan Onew juga teman-temannya?  Dengan Jonghyun?  Dengan Key?  Dan dengan Taemin?

Minho nyaris menabrak tempat sampah besi jika ia tidak menyadarkan dirinya sendiri kalau mereka sudah sampai di pintu belakang.

Jonghyun menoleh padanya,”Siap?”

Minho mengangguk,”Keep smiling, oke?”

Minho mengangguk lagi sambil tersenyum.  Dan sedetik kemudian, Jonghyun membuka pintu tersebut. Kemudian keramaian menyambut mereka.

***


Minho memandang cukup lama ke dalam dua mata kelabu di bawahnya.  Mata yang amat ia rindukan.  Ya Tuhan, ia ingin saja langsung turun ke bawah panggung dan memeluk gadis itu.  Ia tidak mau repot-repot berpikir bagaimana caranya gadis itu –____ bisa masuk ke dalam, walaupun ia tahu kalau ____ tidak mungkin di undang oleh perusahaan.

Apa hubungannya trainee dengan artis macam dia?  Pasti begitu pikir perusahaan.  Namun kemudian ia teringat sesuatu, gadis itu terlalu lincah seperti kucing liar.

Ia memberikan sebuah seringaian kecil padanya kemudian berlalu menuju sebuah meja dengan kue tart dan banyak hadiah.

“Say something bro,” Key menyikutnya sambil menatap ratusan fans di bawah panggung sana.  Minho mengangguk, dan maju selangkah.

“Hey,” sapanya.

Beberapa fans yang menyadari kalau ia akan menyapa mereka mulai menyuruh yang lain diam –termasuk gadis itu.

“Hey, apa kabar semua?” ia berkata canggung.  Keempat rekannya tertawa kecil di belakang.  Mereka menerka-nerka apa yang akan di katakan Flaming Charisma tersebut di hari ulang tahunnya dan tanpa persiapan apapun.  Apapun –termasuk mempersiapkan kalimat sapaan untuk fans.  Akan seru sepertinya –pikir mereka.

“Terimakasih sudah memenuhi permintaan undangan untuk datang kesini, dan repot-repot memberikan hadiah seperti ini untukku.  Sebenarnya aku bingung akan kuapakan hadiah-hadiah ini, mungkin akan kubagikan untuk member yang lain?”

“Yeah –tapi pasti akan ku pakai jika sempat.  Terimakasih sekali lagi.  Walaupun aku tahu, masih banyak fans yang datang walaupun tidak diundang,” Minho melirik kearah gadis itu.  Ia melihat seringaian lebar disana, merasa rupanya –pikirnya.

“Sekali lagi terimakasih, aku hanya bisa mengucapkan itu saja.  Sepertinya cukup ini saja –selamat menikmati acaranya,” Minho menggaruk belakang lehernya dan tersenyum kikuk pada ratusan fans yang berteriak ricuh sambil bertepuk tangan.  Dan berteriak,”Saengil Chukkaeyo Minho-gun!”

Minho membungkuk sopan, dan berjalan mundur ke barisan keempat rekan di belakangnya.

“Cukup keren –kalau boleh kukatakan,” bisik Onew ketika Minho kembali.  Minho tersenyum dan mengangguk.  “Yeah –terimakasih,”

***


Minho tidak melepaskan pandangannya dari seorang gadis yang tengah serius memperhatikan fans yang lain makan malam.  Ia bisa menduga kalau gadis itu sedang dalam program dietnya.  Minho memberanikan diri turun dari panggung dan menghampiri gadis itu.  Mungkin keadaan fans yang sedang asik sendiri dengan makan malamnya tidak akan menyadari kalau ia sedang berusaha mendekati seorang gadis disana.  Ia memberikan tatapan minta izin untuk Onew ketika berjalan melewati kursinya, dan menerima anggukan mengerti dari Onew.

Ia turun dari panggung dengan berhati-hati, jangan sampai fans melihatnya.  Setelah sampai di dekat gadis itu, ia segera menarik lengannya.  Hanya dengan menyentuh lengan gadis itu, ia bisa merasakan kalau kulit tangannya terasa seperti di setrum dan satu lagi, ia lupa untuk bernapas.

“Bernapas Minho-ya,” kata gadis itu sambil menahan tawanya.

Minho menanggapi dengan senyum malu dan masih menariknya dengan cepat.

“Cukup,” kata gadis itu.

Minho menghentikan langkahnya dan menarik tubuh gadis itu agar menghadap tubuhnya.  Suatu perasaan aneh muncul seketika ia melihat kedua mata kelabu itu.  Semua perasaan sakit, lelah, frustasi dan bingung yang sudah di tahannya sejak 2 jam lalu itu segera menyergapnya.  Membuatnya ingin segera berteriak di hadapan gadis itu.

“Maafkan aku,” kata gadis itu pelan sambil menunduk.  Rambut pendek kecoklatannya segera jatuh kedapan wajahnya.

“Maaf sekali lagi, kau boleh berteriak marah di hadapanku sekarang.  Atau membentakku sepuas yang kau mau, atau memarahiku,”

Minho mengerjapkan kedua matanya, tahu darimana gadis ini dengan pikirannya tadi siang?

“Maaf. Setelah ini –ketika acara ini selesai  begitu juga dengan kita.  Aku tidak mau membuatmu kesulitan lagi.  Maaf, mungkin aku juga akan mengundurkan diri menjadi trainee,” tutur gadis ini membuat Minho tambah tercekat.  Apa maksudnya?

Ia menginginkan perpisahan?  Setelah ia tersiksa begitu lama, kini gadis ini akan meninggalkannya?

“Apa maksudmu? Kau ingin pergi dariku?” Minho menahan suaranya agar terdengar tenang –meskipun ia yakin setelah ini ia akan berteriak jika gadis ini berbicara yang aneh-aneh lagi.

“Maaf.  Tapi aku tidak mau menjadi egois kalau membiarkanmu seperti ini terus,”

“Jangan berbicara aneh-aneh, kita bisa hadapi bersama, kan?” Minho masih berusaha menahan suaranya sambil mengepalkan kedua tangannya.

“Tapi perusahaan sudah menegurku, mereka mengancam jika aku masih berhubungan denganmu, maka mereka tidak akan tanggung-tanggung untuk berbuat macam-macam denganmu,” ia mengalihkan pandangannya dari Minho.  Menyembunyikan tatapan matanya.

“Aku tahu kau bohong, iya, kan? Yang diancam dihukum bukan aku, tapi kau!  Iya,kan?” Minho memukul dinding di belakang gadis itu, membuat gadis itu terlonjak.  “Maafkan aku,”

Minho mengatur nafasnya, ya –Tuhan, kali ini Minho sudah gila rupanya.  Ia memegang kepalanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya merengkuh pundak gadis itu

“Maafkan aku, ini salahku,” bisik gadis itu.

“Tidak –tidak, tidak ada yang salah disini.  Yang salah hanyalah situasi yang selalu saja memojokan kita,”

Minho menahan kedua matanya agar tidak mengeluarkan cairan beningya.  Ini sudah melewati batas kemampuannya.  Ini sudah terlalu melelahkan.  Ini menyakitkan.

***


Minho melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan gadis itu ketika mereka sudah berada di pinggir panggung.

“Tunggu disini,” katanya dan mengelus puncak kepalanya.  Cukup ini sudah kelewatan –pikir Minho.
Mungkin sudah saatnya selapis es akan pecah dan hancur, Minho sudah meyakinkan dirinya.  Bahwa ia akan jujur kepada semua orang tentang perasaannya.

Ia melangkahkan kakinya ke meja panjang, tempat ia duduk menikmati makan malamnya tadi.  Keempat rekannya memandangnya bingung.  Mungkin menyadari perubahan air muka Minho yang kelewat kontras.  Ia duduk di samping Onew –di tengah.
“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Onew padanya.  Minho mengacuhkannya dan malah menyalakan mikropon di dekatnya.

“Hey –bisa minta perhatiannya?” Minho memulai percakapannya.  Fans yang menyadari segera diam dan mulai memeperhatikan ketika menyadari ada yang tidak beres dengan sang rapper.

“Bagus, terimakasih,” ia diam sejenak sambil tersenyum kemudian memejamkan kedua matanya dan menghela nafasnya.

“Aku tidak berbasa-basi kali ini..yeah –ada hal penting yang ingin aku bicarakan,”

Keempat rekannya memandangnya tidak percaya, apa maksudnya kali ini?  Onew meraih tangannya dan memandangnya ragu, Minho mengangguk mantap kemudian berbicara kembali.

“Ini mungkin akan mengejutkan kalian, pasti.  Tidak mungkin jika kalian tidak terkejut.  Dan kumohon, jangan membenci orang itu jika aku mengatakan hal ini.  Terserah kalian jika kalian ingin membenciku atau tidak,” ia melirik sebentar ke arah kanannya.  Dimana gadis itu sedang memandangnya takut dari pinggir panggung.

“Aku sudah punya pacar,” katanya mantap.

Mereka semua yang ada disana terkejut, dan hanya bisa diam menunggu apa yang akan di katakan olehnya.

“Sudah 4 bulan, maafkan aku,”

“Kalian boleh membenciku kalau kalian mau.  Tapi kumohon, jangan membencinya,” Minho menatap fans ragu, kedua matanya sayu, ini terlalu berat.  Key yang juga duduk di sampingnya merangkul pundaknya.

“Aku serius, dan bukan hanya sekedar gossip belaka.  Member yang lain, juga managerku sudah mengetahuinya, juga perusahaan,”

“Dan mungkin kalian juga kan tahu siapa gadis itu,”

“Seorang gadis aneh yang mampu membuatku merasakan first sight hanya dengan melihat senyumannya,”

“Mungkin kalian penasaran siapa orangnya, dia ada disini, bersama kalian.  Berpura-pura menjadi fans yang di undang –maksudku berpura-pura diundang.  Dia menyelinap masuk kemari,”

Minho memejamkan matanya lagi, kemudian memandang mereka nanar.  Mereka semua –termasuk managernya menatapnya berang.  Ini sudah mencapai batas kalian tahu?

“Dia ada disana-“ Minho menunjuk pinggir panggung,tempat dimana gadis itu berdiri.

Namun ia tidak mampu menemukannya.  Ia mengedarkan pandangannya menuju kerumuan fans yang sudah merengsek maju dengan teriakan-teriakan marah mereka.

Dimana gadis itu?  Apa maksudnya?  Mempermainkan dirinya?  Mempermalukan dirinya?  Kini ia bisa merasakan kalau gadis itu –disuatu tempat, tertawa karena dirinya.  “Pengecut,” gumam Minho dan seketika tubuhnya ambruk ke atas meja.

Ini sudah cukup.
END

Ini ff taun kapan ya?  Lamaaaaa banget! -______-"  I hope you enjoy it haha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar