Hanya dengan satu kata, ia bisa mengungkapkan
semuanya. Hanya dengan satu tindakan, ia bisa tunjukan
semua..
Minho melepaskan topi –samarannya kemudian
membuka botol yoghurt dan meminumnya, setelah itu ia meraih saku celana
jeansnya dan mengambil ponsel miliknya. Ia mengerutkan keningnya dan setelah itu
menyenderkan punggungnya di sofa.
Begitu lemah..
Begitu menyakitkan..
.
Cast : Minho (SHINee) , Park _____ (YOU)
Genre : Romance, Angst
Rated : T
Summary : “ –Ini sulit kau tahu?”
“Aku tahu ini tidak mudah, tapi untuk
kebaikanmu, untuk SHINee, dan untuk gadis itu juga,”
Minho menggeleng lemah ketika ucapan managernya
tadi siang kembali mengusik pikirannya. Ia
sudah terlalu sakit, tidak mengertikah orang-orang di sekelilingnya?Minho butuh
istirahat, Minho butuh melepaskan penatnya, Minho butuh mengistirahatkan
hatinya.Sudah berkali-kali ia melanggar peraturan, seharusnya ia masih bisa
bertahan untuk hal sama seperti sekarang.Tapi Minho tetaplah Minho yang lemah. Setenang apapun itu, ia harus beristirahat.
Begitu rapuh..
Bisa saja Minho hancur dalam sekejap sekarang
ini, anggap saja Minho saat ini seperti lapisan es yang begitu tipis. Bisa pecah dan hancur sekali saja kalau kau
sentuh dengan tidak hati-hati. Ini
sulit, tentu saja.
Bahkan untuk seorang leader, memikirkan hal
seperti ini mungkin bukan hal mudah.
Minho pun tahu ini sebenarnya adalah salahnya.Ia
tahu segala semua konsukuensi yang akan di dapatkannya.
Klise sekali sebenarnya.
Minho berhubungan dengan seseorang yang bukan
artis, bukan siapa-siapa. Saat itu adalah konferensi pers mengenai
promosi album baru mereka, di tambah dengan fans
signing. Mereka duduk berjajar di suatu meja panjang. Dan fans mulai mengantri untuk mendapatkan
tanda tangan dari mereka.
Setiap acara seperti itu, setiap artis akan di
kenakan suatu peraturan dimana mereka tidak boleh menatap mata fans saat
mentanda tangani album atau buku yang disodorkan oleh fans. Well, sekarang peraturan itu sudah tidak dilaksanakan lagi sebenarnya.
Semua berlangsung biasa-biasa saja, ada
sesekali fans yang nekat untuk mencubit pipi mereka atau sekedar mengelusnya. Itu bisa mereka maklumi, kadang seorang artis
perlu memberikan hatinya kepada fans untuk hal kecil seperti itu, kan?
Ia –Minho duduk di kursi nomor 2 setelah Key, itu
berarti berada dalam posisi kedua untuk memeberikan tanda tangan kepada fans. Dan saat itu datang seorang gadis, sebenarnya
Minho sadar jika gadis itu terus memperhatikannya ketika ia masih menerima tanda
tangan dari Key dan ketika ia sendiri sedang mentanda tangani sebuah album dari fangirl lainnya.
Dan ketika sampai gadis itu berada di hadapannya, gadis
itu berkata padanya,”Minho-ssi?” Minho hanya tersenyum menanggapi, selain tidak
boleh menatap mata fans untuk mencegah terjadinya first sight, ada peraturan lain, dilarang untuk berbicara dengan
fans. Sekali lagi, peraturan itu sebenarnya sudah tidak berlaku lagi.
“Kau tidak mau menjawabku?” Minho mengangguk, dan membuka halaman dimana ada
fotonya disana.
“Oh –pasti peraturan itu ya?”
Minho berhenti sebentar, kemudian melirik
sekilas, ia dapat melihat bahwa gadis di hadapannya cukup tinggi –walaupun dia
hanya melihat bagian bawah tubuh gadis itu. Pakaian yang dikenakan gadis itu
cukup mencolok. Gadis nyentrik rupanya. Minho tersenyum lagi.
“Bisa tuliskan namaku?” gadis itu bertanya
lagi. Minho mengangguk, dan akan mulai menuliskan nama
gadis itu.
“Kau tidak bertanya siapa namaku?” Minho bisa
mengetahui kalau gadis itu tersenyum menyeringai padanya.
“Baiklah, tulis saja Park _____,” Minho mengangguk dan memberikan tanda
tangannya.
“Kau masih tidak mau menjawab pertanyaanku?”
Jujur saja, ia ingin bebas sebentar. Ia ingin
mencoba berbicara dengan orang biasa, ia ingin mencoba bertatapan dengan fansnya
itu. Atau ia ingin berkomunikasi dengan fansnya tanpa harus melewati cyworld-nya saja.
“Oh –Tuhan, bisa biarkan orang di depanku ini
melihatku barang dua detik saja?” sungut gadis itu.
“Maaf,” ia hanya bisa menggumam seperti itu. Mungkin tidak di dengar oleh _____, tapi ia harap memang gadis itu tidak
mendengarnya.
“Tunggu –tulis disitu –iya disitu,” gadis itu
menunjuk sudut bawah bagian fotonya.
Ia menurut dan segera menuliskannya.
“Baiklah –kau tidak mau berbicara denganku
karena aku bukan artis, kan? Kalau begitu aku akan ikut audisi dan lolos
–kemudian kau harus berbicara denganku jika aku sudah menjadi trainee atau
debut nanti,”
Minho hanya menahan tawanya, Minho berani
bertaruh kalau gadis di depannya ini sudah membuang gengsinya dengan berkata
seperti itu.
“Kau mau menungguku, kan?”
Gadis polos, pikir Minho.
“Kau hanya diam? Baiklah –kuanggap jawabanmu
iya. Terakhir, saranghae Choi Minho,” kemudian gadis itu bergeser ke hadapan
Jonghyun, dan Minho mendapati di hadapannya sudah ada gadis lain.
Minho mulai mentanda tangani album yang di
sodorkan gadis lain, namun sebelumnya ia mendongakan kepalanya sedikit, melihat
_____.
____ yang menyadari kalau Minho melirik ke
arahnya tersenyum padanya, Minho bersumpah, kalau ia lupa bernafas dan hampir
jatuh kalau saja ia tidak berkonsentrasi lagi dengan albumnya.
Dan ia
berjanji kepada dirinya sendiri, ia akan menunggu gadis itu menjadi trainee.
Minho memijat keningnya, ia menyadarkan
pikirannya sendiri dari ingatannya mengenai gadis itu. Ia tidak mau sendirian
mengahadapi ini, ia ingin gadis itu juga ikut bertanggung jawab. Ia tidak mau semua yang terjadi di salahkan
padanya, ia juga ingin gadis itu di salahkan.
Untuk apa gadis itu berbicara seperti itu padanya? Membuatnya berjanji pada dirinya sendiri, dan membuat dirinya hampir gila. Semenjak pertemuannya dahulu, setiap ada fans signing, ____ selalu datang, dan
terus berbicara padanya –walaupun tahu kalau Minho tidak akan menjawabnya.
Tapi Minho akui, ia semakin terbiasa dengan
kehadiran ____ di setiap acaranya.
Terbiasa dengan obrolan-obrolan singkat gadis
itu,dan hanya tersenyum kecil jika sesekali gadis itu mengeluarkan
lelucon-lelucon.
Karena terbiasa, Minho pun sudah hafal dengan ____. Dan selalu menuliskan namanya ketika mentanda tangani apa yang disodorkannya. Ia rasa member yang lain sudah mengerti, dan sudah memakluminya.
Sampai suatu hari, gadis itu tidak pernah muncul
lagi di setiap fans signing atau
event lainnya. Dan sebuah perasaan muncul mengahantam
dirinya, ia kecewa. Kemana gadis itu? Ia sudah rindu dengan kesentrikan
karakternya, atau kelucuannya. Ia sudah merindukannya.
Kemudian suatu hari ketika ia mengunjungi
kantor perusahaan, ia melihat gadis itu berjalan di melewati lobi. Ia terpana sejenak, ia akan loncat segera jika saja ia tidak ingat ia berada di elevator sekarang. Beberapa detik ia
meyakinkan dirinya sendiri kalau ia memang benar-benar melihat gadis itu- ____. Sudah berapa lama ia tidak melihat gadis itu?
Dan kini ia melihatnya di kantor perusahaannya. Di kantor perusahaannya!
Apa benar-benar gadis itu lolos audisi dan
menjadi trainee?
Ia segera berlari menuruni elevator, melewati
beberap orang di bawahnya. Dan berlari menuju lobi. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling
lobi, dimana? Ia melihat gadis itu berjalan disini tadi. Kemudian ia menyadari, gadis itu mungkin ada di
ruangan latihan para trainee baru?
Ia berlari kesana.
“Hyung?” Taemin menegurnya.
Ia tersadar kembali, ada apa dengan dirinya hari
ini?
Melamun sepanjang hari.
“Jangan melamun, ayo,” Taemin menarik
tangannya, oh –ia ingat sekarang. Hari ini hari ulang tahunnya dan perusahaan
merayakannya di kantor perusahaan dengan mengundang beberapa shawol.
“Jangan murung hyung, untuk malam ini jangan
biarkan kau murung. Ceria, oke?” sahut Taemin ketika mereka berjalan menuju
kamar.
Minho tersenyum,”Iya, tenang saja,”
***
Minho berada di barisan terakhir dalam
rombongan, ia bisa melihat banyak sekali fans berdiri menunggu mereka di luar
gedung. Minho tersenyum pada mereka semua, ia tahu kalau fans yang berdiri di
luar gedung merupakan fans yang belum beruntung di undang oleh perusahaan.
Minho dan rekan-rekannya melambai sambil
tersenyum,berdesak-desakan. Ia bisa merasakan kalau beberapa guard menjaga
mereka, walaupun begitu ia tetap merasakan sentuhan-sentuhan yang tidak bisa di
sembut lembut dari fans.
Beberapa kali syal yang ia kenakan di
tarik-tarik ketika berusaha menerobos kerumunan. Atau telinganya di teriaki
oleh teriakan-teriakan histeris yang ingin sekali bertemu dengannya.
Namun ia hanya tersenyum, dan sedikit berlari
ketika menyadari kalau ia tinggal sendiri. Rekan-rekannya sudah medahuluinya
masuk kedalam gedung.
“Minho-ya!” Minho menyambut uluran tangan
Jonghyun dan membiarkan dirinya ditarik masuk.
“Kau kenapa?” desis Jonghyun.
Minho menggeleng, ia sendiri tidak tahu kenapa
dengan dirinya malam ini.
“Aku baik-baik saja,”
“Kalau begitu jangan melamun, apa yang kau
lakukan diluar tadi? Bunuh diri?” desis Jonghyun sambil menarik lengannya agar
lebih cepat berjalan.
“Aku tidak melamun,” sanggah Minho.
Jonghyun melirik tajam ke arahnya, kemudian
mendengus.
Minho menghela nafasnya,ada apa dengan dirinya? Mau tidak mau ia akui walaupun ia sedang
menyalahkan gadis itu, ia ingin bertemu dengannya malam ini. Disini, di kantor
perusahaan. Ketika acara ulang tahunnya berlangsung.
Ia ingin berteriak di hadapan gadis
itu, berteriak marah, kalau ia tidak mau di salahkan sepenuhnya. Karena yang
memulai ini duluan adalah gadis itu.
Ia ingin memeluk gadis itu, sudah lama ia tidak
memeluk atau sekedar bertatap muka dengannya. Terakhir bertemu minggu kemarin, ia
langsung dibawa pergi oleh managernya. Dan dimulailah petaka baginya. Ia ingin memberitahukan kepada semua orang
disini siapa gadis itu, dan mengenai perasaannya. Ia ingin berteriak frustasi sekarang.
“Minho!” Minho tersentak mendengar teriakan
Jonghyun di sebelahnya. Ia menoleh lemas ke arah hyungnya.
“Kumohon padamu, hanya tinggal membuka pintu
ini. Maka kau akan dimakan oleh mereka jika kau menunjukan ekspresi mau mati
seperti itu. Jangan melamun, tersenyum,” Jonghyun memandangnya dengan memelas. Oh –Tuhan, sebegitu frustasi itu, kah ia?
Minho memaksakan kedua sudut bibirnya bergerak
ke samping, susah sekali. Seperti ada adonan masker kering di wajahnya sekarang.
“Iya hyung, kau tidak lihat aku sedang
tersenyum?” senyumnya sambil merapikan poni panjangnya.
Jonghyun menghela nafas lega,”Yang lain sudah
berada di dalam. Kita tidak lewat sini, kita lewat belakang,” titah Jonghyun dan
menarik lengan Minho lagi dari 2 pintu besar di hadapan mereka.
“Ya,” jawabnya.
Kemudian mereka berjalan dengan terburu-buru. Minho mengerutkan keningnya. Kemudian ia berjanji pada dirinya sendiri jika
ia melihat gadis itu di dalam sana, maka ia akan mengungkapkan semuanya di
dalam.
Terserah jika managernya mengamuk, terserah jika
fans akan tidak terima, terserah jika perusahaan akan menghukumnya, terserah jika
Onew dan rekan-rekannya kecewa –benarkah?
Ia cukup ragu dengan pikiran
terakhirnya, mengenai Onew, mengenai yang lain. Benarkah ia akan tidak peduli dengan
Onew juga teman-temannya? Dengan Jonghyun? Dengan Key? Dan dengan Taemin?
Minho nyaris menabrak tempat sampah besi
jika ia tidak menyadarkan dirinya sendiri kalau mereka sudah sampai di pintu
belakang.
Jonghyun menoleh padanya,”Siap?”
Minho mengangguk,”Keep smiling, oke?”
Minho mengangguk lagi sambil tersenyum. Dan
sedetik kemudian, Jonghyun membuka pintu tersebut. Kemudian keramaian menyambut
mereka.
***
Minho memandang cukup lama ke dalam dua mata
kelabu di bawahnya. Mata yang amat ia rindukan. Ya Tuhan, ia ingin
saja langsung turun ke bawah panggung dan memeluk gadis itu. Ia tidak mau repot-repot berpikir bagaimana
caranya gadis itu –____ bisa masuk ke dalam, walaupun ia tahu kalau ____ tidak
mungkin di undang oleh perusahaan.
Apa hubungannya trainee dengan artis macam dia? Pasti begitu pikir perusahaan. Namun kemudian ia teringat sesuatu, gadis itu
terlalu lincah seperti kucing liar.
Ia memberikan sebuah seringaian kecil padanya
kemudian berlalu menuju sebuah meja dengan kue tart dan banyak hadiah.
“Say something bro,” Key menyikutnya sambil
menatap ratusan fans di bawah panggung sana. Minho mengangguk, dan maju selangkah.
“Hey,” sapanya.
Beberapa fans yang menyadari kalau ia akan
menyapa mereka mulai menyuruh yang lain diam –termasuk gadis itu.
“Hey, apa kabar semua?” ia berkata canggung. Keempat rekannya tertawa kecil di belakang. Mereka menerka-nerka apa yang akan
di katakan Flaming Charisma tersebut di hari ulang tahunnya dan tanpa persiapan
apapun. Apapun –termasuk mempersiapkan kalimat sapaan untuk fans. Akan seru
sepertinya –pikir mereka.
“Terimakasih sudah memenuhi permintaan undangan
untuk datang kesini, dan repot-repot memberikan hadiah seperti ini untukku. Sebenarnya aku bingung akan kuapakan hadiah-hadiah ini, mungkin akan kubagikan
untuk member yang lain?”
“Yeah –tapi pasti akan ku pakai jika sempat. Terimakasih sekali lagi. Walaupun aku tahu, masih banyak fans yang datang
walaupun tidak diundang,” Minho melirik kearah gadis itu. Ia melihat seringaian
lebar disana, merasa rupanya –pikirnya.
“Sekali lagi terimakasih, aku hanya bisa
mengucapkan itu saja. Sepertinya cukup ini saja –selamat menikmati acaranya,”
Minho menggaruk belakang lehernya dan tersenyum kikuk pada ratusan fans yang
berteriak ricuh sambil bertepuk tangan. Dan berteriak,”Saengil Chukkaeyo
Minho-gun!”
Minho membungkuk sopan, dan berjalan mundur ke
barisan keempat rekan di belakangnya.
“Cukup keren –kalau boleh kukatakan,” bisik
Onew ketika Minho kembali. Minho tersenyum dan mengangguk. “Yeah –terimakasih,”
***
Minho tidak melepaskan pandangannya dari
seorang gadis yang tengah serius memperhatikan fans yang lain makan malam. Ia
bisa menduga kalau gadis itu sedang dalam program dietnya. Minho memberanikan diri turun dari panggung dan
menghampiri gadis itu. Mungkin keadaan fans yang sedang asik sendiri dengan
makan malamnya tidak akan menyadari kalau ia sedang berusaha mendekati seorang
gadis disana. Ia memberikan tatapan minta izin untuk Onew ketika berjalan melewati
kursinya, dan menerima anggukan mengerti dari Onew.
Ia turun dari panggung dengan
berhati-hati, jangan sampai fans melihatnya. Setelah sampai di dekat gadis itu, ia segera
menarik lengannya. Hanya dengan menyentuh lengan gadis itu, ia bisa
merasakan kalau kulit tangannya terasa seperti di setrum dan satu lagi, ia lupa
untuk bernapas.
“Bernapas Minho-ya,” kata gadis itu sambil
menahan tawanya.
Minho menanggapi dengan senyum malu dan masih
menariknya dengan cepat.
“Cukup,” kata gadis itu.
Minho menghentikan langkahnya dan menarik tubuh
gadis itu agar menghadap tubuhnya. Suatu perasaan aneh muncul seketika ia melihat
kedua mata kelabu itu. Semua perasaan sakit, lelah, frustasi dan bingung
yang sudah di tahannya sejak 2 jam lalu itu segera menyergapnya. Membuatnya ingin segera berteriak di hadapan
gadis itu.
“Maafkan aku,” kata gadis itu pelan sambil
menunduk. Rambut pendek kecoklatannya segera jatuh kedapan wajahnya.
“Maaf sekali lagi, kau boleh berteriak marah di
hadapanku sekarang. Atau membentakku sepuas yang kau mau, atau memarahiku,”
Minho mengerjapkan kedua matanya, tahu darimana
gadis ini dengan pikirannya tadi siang?
“Maaf. Setelah ini –ketika acara ini
selesai begitu juga dengan kita. Aku
tidak mau membuatmu kesulitan lagi. Maaf, mungkin aku juga akan mengundurkan
diri menjadi trainee,” tutur gadis ini membuat Minho tambah tercekat. Apa
maksudnya?
Ia menginginkan perpisahan? Setelah ia tersiksa
begitu lama, kini gadis ini akan meninggalkannya?
“Apa maksudmu? Kau ingin pergi dariku?” Minho
menahan suaranya agar terdengar tenang –meskipun ia yakin setelah ini ia akan
berteriak jika gadis ini berbicara yang aneh-aneh lagi.
“Maaf. Tapi aku tidak mau menjadi egois kalau
membiarkanmu seperti ini terus,”
“Jangan berbicara aneh-aneh, kita bisa hadapi
bersama, kan?” Minho masih berusaha menahan suaranya sambil mengepalkan kedua
tangannya.
“Tapi perusahaan sudah menegurku, mereka
mengancam jika aku masih berhubungan denganmu, maka mereka tidak akan
tanggung-tanggung untuk berbuat macam-macam denganmu,” ia mengalihkan
pandangannya dari Minho. Menyembunyikan tatapan matanya.
“Aku tahu kau bohong, iya, kan? Yang diancam
dihukum bukan aku, tapi kau! Iya,kan?” Minho memukul dinding di belakang gadis
itu, membuat gadis itu terlonjak. “Maafkan aku,”
Minho mengatur nafasnya, ya –Tuhan, kali ini
Minho sudah gila rupanya. Ia memegang kepalanya dengan tangan
kirinya, sementara tangan kanannya merengkuh pundak gadis itu
“Maafkan aku, ini salahku,” bisik gadis itu.
“Tidak –tidak, tidak ada yang salah disini. Yang
salah hanyalah situasi yang selalu saja memojokan kita,”
Minho menahan kedua matanya agar tidak
mengeluarkan cairan beningya. Ini sudah melewati batas kemampuannya. Ini sudah
terlalu melelahkan. Ini menyakitkan.
***
Minho melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan
tangan gadis itu ketika mereka sudah berada di pinggir panggung.
“Tunggu disini,” katanya dan mengelus puncak
kepalanya. Cukup ini sudah kelewatan –pikir Minho.
Mungkin sudah saatnya selapis es akan pecah dan
hancur, Minho sudah meyakinkan dirinya. Bahwa ia akan jujur kepada semua orang
tentang perasaannya.
Ia melangkahkan kakinya ke meja panjang, tempat
ia duduk menikmati makan malamnya tadi. Keempat rekannya memandangnya bingung. Mungkin menyadari perubahan air muka Minho yang kelewat kontras. Ia duduk di samping Onew –di tengah.
“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Onew padanya. Minho mengacuhkannya dan malah menyalakan
mikropon di dekatnya.
“Hey –bisa minta perhatiannya?” Minho memulai
percakapannya. Fans yang menyadari segera diam dan mulai
memeperhatikan ketika menyadari ada yang tidak beres dengan sang rapper.
“Bagus, terimakasih,” ia diam sejenak sambil
tersenyum kemudian memejamkan kedua matanya dan menghela nafasnya.
“Aku tidak berbasa-basi kali ini..yeah –ada hal
penting yang ingin aku bicarakan,”
Keempat rekannya memandangnya tidak percaya, apa
maksudnya kali ini? Onew meraih tangannya dan memandangnya
ragu, Minho mengangguk mantap kemudian berbicara kembali.
“Ini mungkin akan mengejutkan kalian, pasti. Tidak mungkin jika kalian tidak terkejut. Dan kumohon, jangan membenci orang itu
jika aku mengatakan hal ini. Terserah kalian jika kalian ingin membenciku atau
tidak,” ia melirik sebentar ke arah kanannya. Dimana gadis itu sedang
memandangnya takut dari pinggir panggung.
“Aku sudah punya pacar,” katanya mantap.
Mereka semua yang ada disana terkejut, dan hanya
bisa diam menunggu apa yang akan di katakan olehnya.
“Sudah 4 bulan, maafkan aku,”
“Kalian boleh membenciku kalau kalian mau. Tapi
kumohon, jangan membencinya,” Minho menatap fans ragu, kedua matanya sayu, ini
terlalu berat. Key yang juga duduk di sampingnya merangkul
pundaknya.
“Aku serius, dan bukan hanya sekedar gossip
belaka. Member yang lain, juga managerku sudah mengetahuinya, juga perusahaan,”
“Dan mungkin kalian juga kan tahu siapa gadis
itu,”
“Seorang gadis aneh yang mampu membuatku
merasakan first sight hanya dengan
melihat senyumannya,”
“Mungkin kalian penasaran siapa orangnya, dia
ada disini, bersama kalian. Berpura-pura menjadi fans yang di undang –maksudku
berpura-pura diundang. Dia menyelinap masuk kemari,”
Minho memejamkan matanya lagi, kemudian
memandang mereka nanar. Mereka semua –termasuk managernya menatapnya berang. Ini sudah mencapai batas kalian tahu?
“Dia ada disana-“ Minho menunjuk pinggir
panggung,tempat dimana gadis itu berdiri.
Namun ia tidak mampu menemukannya. Ia
mengedarkan pandangannya menuju kerumuan fans yang sudah merengsek maju dengan
teriakan-teriakan marah mereka.
Dimana gadis itu? Apa maksudnya? Mempermainkan
dirinya? Mempermalukan dirinya? Kini ia bisa merasakan kalau gadis itu –disuatu
tempat, tertawa karena dirinya. “Pengecut,” gumam Minho dan seketika tubuhnya
ambruk ke atas meja.
Ini sudah cukup.
END
Ini ff taun kapan ya? Lamaaaaa banget! -______-" I hope you enjoy it haha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar