Ia –penumpang pertama kereta tersebut,berusaha
lari dari kehidupannya yang sekarang. Dan memutuskan untuk menjadi penumpang
kereta ini pada akhirnya setelah ia berpikir dengan cepat.
Keputusan gila yang pernah ia putuskan –kalau
boleh ia ungkapkan,ia lari dari rumahnya,meninggalkan ayahnya yang sedang
sakit. Dan setelah ia berada
di dalam kereta ini,ia menyesal. Seharusnya ia tidak melakukan itu –dan
semuanya sudah dimulai.
Tidak ada yang bisa mengulanginya,ia hanya bisa mengikuti kemauan kereta
ini. Kemana pun kereta ini pergi,dan dimana pun ia sampai di tujuannya nanti.
Bersama seorang penumpang baru –Myungsoo,seorang model yang lari dari
pekerjaannya karena ulah bosnya yang menginginkannya melakuakan operasi. Hanya
karena uang,ia tidak segila itu untuk mendapatkan uang.
Dan berbeda dengan Sulli,ia tidak menyesali keputusannya kabur dari
hidupnya yang sekarang.
Apapun yang akan ia temui nanti,ia tidak
masalah.
Dan akhirnya datang seorang penumpang baru lainnya,seseorang yang kabur
karena ide gilanya. Karena hidupnya,dan karena tekanan yang ia dapatkan.
Dan ia begitu senang ketika bertemu dengan Sulli dan Myungsoo,akhirnya ia
tidak sendirian lagi. Kereta
gila –yang membuatnya hampir pingsan karena ketakutan.
TRAIN
Cast : Sulli/Infinite
Genre : Fantasy, Friendship
Rated : PG
Disclaimer : I only have the plot, Wings only
have the plot. Only the plot!
Summary : “..The train makes new world for
them..”
I got the inspiration
about this FF after I watched Paradise MV of INFINITE, the train and the
members, really –gives me inspiration and little from Christmas Express movie..
Keterangan:
§ Sungkyu
(INFINITE) 23 tahun
§ Dongwoo
(INFINITE) 22 tahun
§ Woohyun
(INFINITE) 21 tahun
§ Howon/Hoya
(INFINITE) 21 tahun
§ Seungyeol
(INFINITE) 21 tahun
§ Myungsoo
(INFINITE) 20 tahun
§ Sungjong
(INFINITE) 19 tahun
§ Sulli (f(x))
18 tahun
.
Mereka mendongak melihat penumpang baru itu, sulit untuk
mengenalinya. Cukup gelap disini, di tambah penumpang baru itu memakai
jaket yang menutupi kepalanya. Sulli yang pertama membuka mulutnya, ”Penumpang
baru?” tanyanya sambil berusaha tersenyum.
Lega –begitu ia melihat penumpang lainnya
selain dirinya dan Myungsoo, dan mulai berpikir kalau kereta ini tidak
begitu buruk.
“Ya, akhirnya aku bertemu dengan penumpang lain,” jawabnya. Meskipun tidak
kelihatan, namun Sulli tahu kalau orang itu sedang tersenyum.
“Kau dari gerbong mana?” tanya Myungsoo lagi. Ia memandang Sulli sekilas.
“Aku? Sepertinya 5 gerbong dari sini,” jawabnya
orang tersebut sambil menghitung dengan jarinya.
“Berapa banyak gerbong kereta
ini?” tanya Sulli sambil terlonjak.
Gila –bayangkan saja, ia sudah
mengetahui kalau kereta ini memiliki 8 gerbong yang sama misteriusnya?
“Yah –begitu lah. Hey –meskipun
begitu, semua gerbong sama seperti ini. Gelap dan tidak ada penumpang lainnya,”
Kau belum tahu saja gerbong
paling ujung disana bagaimana –pikir Sulli, ia sedikit menggelinjang ketika
memikirkan hal itu. Ia tidak mau lagi
masuk ke gerbong itu lagi, tidak.mau.
“Kau berlari? Duduklah,” kata
Myungsoo sambil menepuk-nepuk sebelah kirinya. Orang itu mengangguk kemudian
mendudukan dirinya di sebelah Myungsoo.
Orang tersebut membuka jaketnya
dan tersenyum, ”Aku Sungjong,” sapanya sambil mengulurkan tangan kepada Sulli.
Sulli tersenyum, kemudian ia membalas uluran tangan
orang tersebut –Sungjong,”Sulli,”
Sungjong ikut tersenyum, dan
mengulurkan tangannya lagi pada Myungsoo.
“Myungsoo,” jawabnya sambil mengangguk.
“Senang bertemu kalian. Jadi –kalian disini hanya berdua? Tidak ada penumpang lain?” tanya
Sungjong pada Sulli.
“Kalau ada penumpang lain, kami lebih
memilih untuk bersama mereka ketimbang hanya berdua seperti ini,” jawab
Myungsoo sambil memandang keluar jendela.
Penumpang baru –Sungjong menoleh sebentar
kearahnya sambil mendengus.
“Eh –ya, seperti yang dikatakan Myungsoo
tadi. Kami
hanya berdua,” jawab Sulli gugup, ia tidak mengerti kenapa Myungsoo menjadi
dingin seperti ini.
“Apa tidak ada orang lain di
gerbong setelah ini?” tanya Sungjong sambil menunjuk pintu gerbong di belakang
Sulli.
“Tidak ada, hanya kami –maksudku
kita,” jawab Sulli.
Sungjong kemudian menghela
nafasnya kecewa, ia pun menyenderkan punggungnya di sebelah Myungsoo,”Begitu
kah?”
Sulli mengangguk pelan,”Emm –kau berasal dari mana?” tanya Sulli.
“Aku? Dari
gerbong ke –hey ini gerbong ke berapa?” jawab Sungjong pada Sulli, Sulli
mengangkat ketiga jarinya.
“Oh -kalau begitu gerbong ke 8
–sepertinya,”
“Gadis itu bertanya darimana asalmu, bukan gerbong-gerbong seperti yang kau
katakan tadi,” kata Myungsoo. Sungjong menoleh ke arahnya, dan
memandangnya kesal.
Ia menggembungkan pipinya, kemudian
memandang Sulli lagi,”Dari pinggiran kota, tenang saja, aku bukan penjahat,”
jawab Sungjong sambil tersenyum.
Sulli mengangguk, lalu ia pun menoleh ke arah kanannya. Memandang ke luar jendela.
Ia pun mulai berpikir, apakah penumpang baru ini sama sepertinya dan Myungsoo
–walaupun orang itu belum bercerita secara lengkap padanya, ia tahu kalau
pemuda itu sedang melarikan diri dari kehidupannya semula.
Ia pun menoleh kembali pada
Sungjong yang sedang mengamati jendela di seberang kirinya, menimbang-nimbang, apakah
sopan bertanya seperti itu pada orang yang baru pertama kali dikenalnya?
Ia pun menoleh ke arah Myungsoo, meminta
pertolongan. Tapi pemuda itu sudah tertidur rupanya, di tandai dengan terdengarnya suara
dengkuran kecil darinya dan kepalanya yang menempel di jendela.
Sungjong yang juga menyadarinya menoleh ke arah
Myungsoo,”Orang ini tertidur?” tanyanya.
Sulli mengangguk,”Dia belum tidur sejak masuk kemari,”
“Oh –eh, kau penumpang pertama?” tanya Sungjong lagi, sepertinya ia mulai tertarik dengan Sulli.
Sulli mengangguk ragu,”Sepertinya,” jawabnya pelan.
Keduanya kemudian terdiam, Sulli kembali menoleh ke arah jendela, dan Sungjong kembali
mengamati jendela di seberangnya.
Sulli pun teringat kembali mengenai pikirannya tadi, apa tidak apa-apa bertanya seperti itu
pada Sungjong? Tetapi
jujur saja, ia begitu penasaran.
“Sebelumnya aku minta maaf kalau
aku tidak sopan–,“ Sulli menghentikan ucapannya, menunggu Sungjong tertarik
dengan ucapannya.
Sungjong pun menoleh padanya dan
mengangguk mempersilakan, Sulli pun mengangguk sopan,”Tapi bagaimana caranya
kau bisa ada di kereta ini? Maksudku
–kereta ini cukup aneh, ia selalu mengangkut orang-orang yang sedang dalam
masalah,” kata Sulli sedikit melirik ke arah Myungsoo, berharap pemuda itu
bangun. Gugup sekali bertanya hal pribadi jika sendirian seperti
ini, meskipun Myungsoo bersikap dingin dan angkuh tetapi cukup membuat Sulli
merasa aman dengan sikapnya itu.
“Maksudmu kau dan orang ini juga
dalam suatu masalah?” tanya Sungjong balik, tidak seperti yang Sulli bayangkan,
Sungjong justru merasa tertarik dengan pertanyaannya dan terlihat antusias. Kedua matanya berbinar-binar.
Sulli mengangguk pelan,”Yah
–kalau kau tidak keberatan, mungkin kau mau menceritakannya padaku?”
Sungjong menatapnya seakan sedang
menilai dirinya melewati kedua mata Sulli sejenak ssebelum berbicara,”Baiklah
–tapi jangan terkejut jika kau mengetahui hal ini,”
Sulli mengangguk bahkan ia sempat lupa untuk bernapas karena gugup. Sungjong pun menghela
nafasnya kemudian menatap Sulli.
Lee Sungjong, anak laki-laki yang
tidak di harapkan di keluarganya. Terdiri
dari 3 kakak laki-laki, dan merupakan anak laki-laki terakhir di garis
keturunannya. Dan sejarahnya, ketika Sungjong
di lahirkan, kedua orang tuanya dan seluruh keluarga besarnya mengharapkan
bahwa anak terakhir mereka adalah perempuan. Karena dalam 50 tahun terakhir garis keturunan
keluarganya sama sekali tidak memiliki anak perempuan.
Dan meskipun anak perempuan dalam
keluarganya masih di anggap lemah, tapi justru perempuan lah yang banyak
berperan dalam keluarganya.
Dan lahirnya Lee Sungjong, dengan
kulit seputih porselen dan wajah mungilnya membuat mereka menganggap Sungjong
adalah bayi perempuan.
Tetapi sayang, keluarganya
menemukan hal buruk mengenai dirinya. Meskipun
dengan paras yang cantik sekalipun, Sungjong merupakan anak laki-laki.
Sungjong kecil tumbuh di
lingkungan keluarga yang kebanyakan laki-laki, membuatnya sedikit merasakan
kerasnya hidup. Bersama dengan kakak
laki-laki dan sepupunya yang juga laki-laki.
Suatu hari Sungjong kecil di ajak
ke suatu tempat oleh ibunya,”Kita akan kemana bu?” tanya Sungjong kecil. Ibunya menoleh ke arahnya, dan tersenyum,”Ke
suatu tempat Jongi-ah, kau pasti akan suka,”
Sungjong mengangguk karenanya. Mereka terus berjalan menjauhi desa mereka, menuju ke kota.
“Apakah kita akan ke kota?” tanya Sungjong
lagi.
Ibunya mengangguk tanpa menoleh ke arahnya. Dan
Sungjong memperhatikan wajah ibunya dari bawah. Ibunya begitu pucat. Bahkan ketika cuaca lebih dingin dari ini
ibunya tidak pernah sepucat itu.
“Ibu sedang sakit? Apa kita akan kerumah sakit?” tanya Sungjong. Kali
ini ia hanya penasaran kenapa ibunya begitu pucat –dan begitu dingin.
Ibunya menoleh dan tersenyum sekali lagi padanya,”Tidak, ibu hanya ingin
mengajakmu kerumah teman ibu, dan sedikit tidak sabar” jawab ibunya –berusaha setenang mungkin.
Sungjong mengangguk,”Bolehkah jika aku meminta di belikan mainan baru?”
Ibunya terlihat berpikir,”Mainan seperti apa?”
Sungjong juga terlihat berpikir,”Mainan seperti anak laki-laki lainnya,”
jawabnya dengan senyum polosnya.
Ibunya terlihat menghela nafas panjang,”Maafkan ibu, tapi sepertinya mainan seperti itu tidak
cocok untukmu. Akan
ku belikan mainan yang lebih baik daripada itu,”
Sungjong mengerjapkan matanya, dan
tersenyum senang,”Benarkah? Ada yang
lebih baik dari itu?” tanyanya semangat. Ibunya mengangguk dan tersenyum lagi.
“Baiklah, aku pasti akan
menyukainya nanti,”
Sungjong sejenak menghentikan
ceritanya dan menatap Sulli dengan sendu,”Kau sudah bisa menangkap isi
ceritaku?”
Sulli mengangguk ragu.
“Kau sudah tahu kelanjutannya
akan seperti apa?”
Sulli untuk pertama kalinya menggeleng.
“Ingin mendengarkannya sampai selesai?”
Sulli mengangguk kemudian tersadar dan menggeleng,”Aku sudah tahu, kalau kau tidak
ingin menceritakannya lagi tidak apa-apa,”
Sungjong tersenyum,”Kau harus mendengarnya sampai selesai, aku sudah bosan
menyimpan hal ini sendirian,”
Sulli menatapnya tidak percaya,”Kau –mempercayaiku?”
“Untuk saat ini hanya kau,”
Sulli mengangguk,”Baiklah, terserahmu,”
Sungjong mengangguk dan menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan ceritanya.
“Mulai saat ini kau adalah perempuan Sungjong, pakai saja namamu yang sekarang. Orang-orang di luar sana
tidak ada yang mengenalmu,” ayahnya menatapnya tajam dengan kedua matanya.
Ia memandang ayahnya dari sisi meja satunya dengan bingung, perempuan?
Ia menoleh ke arah ibunya, ibunya hanya memandang sedih ke arahnya dan
tersenyum. Kemudian ia menoleh ke arah
kakak-kakaknya, dan semuanya hanya memandangnya dengan tegang. Begitu pula anggota keluarganya yang
lain.
Baiklah, ini tidak masalah –menurutnya. Kalau ia menjadi perempuan, ia akan
mendapatkan mainan yang lebih baik dari mainannya yang dulu.
“Aku akan dapat mainan bagus?” tanya Sungjong.
Seluruh anggota keluarganya memadangnya
terkejut, baiklah –Sungjong masih berumur 6 tahun saat itu.
“I-iya, kau akan dapat mainan yang sama seperti yang ibu belikan kemarin. Bahkan gaun yang ibu tunjukan juga akan segera
menjadi milikmu,” jawab ibunya cepat. Kini ibunya lah yang paling tersiksa, anak
bungsunya akan di sabotase pikirannya seumur hidup.
Semuanya seketika tersadar dan ikut tersenyum ke arahnya.
Sungjong memandang mereka semua bergantian sambil tersenyum,”Baiklah!”
jawabnya riang.
Ibu Sungjong hampir menangis melihat putranya seperti itu, dan ia segera
menghapus air matanya yang hampir merengsek keluar.
“Mulai besok, akan ibu ajarkan bagaimana menjadi perempuan yang pantas,” katanya dengan
suara serak. Sungjong
hanya mengangguk tidak peduli dan hanya menyuap menu makan malamnya dengan buru-buru.
Ibunya memandang ayah Sungjong
dengan sedih, dan dibalas dengan tatapan sedih juga. Hari ini mereka telah berdosa, karena tuntutan
keluarga, anak bungsu mereka lah yang menjadi sasarannya.
“Sungjong-ah, kau cantik sekali,”
puji ibunya ketika selesai mengenakan sebuah terusan selutut berwarna putih
pada tubuh Sungjong.
Sungjong memutar tubuhnya di depan cermin
sambil tersenyum,”Tapi sepertinya ada yang kurang,”
Ibunya menoleh dari bayangan Sungjong di cermin dan menoleh ke
arahnya,”Apa?”
“Rambutku tidak panjang,bu,”
Ibunya nyaris pingsan saat itu juga, anaknya begitu semangat dengan perannya
sebagai perempuan, tidak seperti dugaannya dulu.
“Na-nanti akan tumbuh juga, tunggu saja,” kata ibunya, sambil berusaha tersenyum.
“Ja-jadi kau benar-benar menjadi perempuan?” Sulli menutup mulutnya dengan
kedua tangannya, ia begitu terkejut ketika menndegar Sungjong menerima saja di jadikan anak perempuan.
“Ini belum selesai, aku tidak sebodoh itu juga. Saat aku berusia 15 tahun, aku mulai menyadari
kalau aku tidak tumbuh seperti remaja perempuan lainnya. Walaupun suaraku terdengar seperti
perempuan, tapi masih banyak yang membuatku ragu tentang diriku sendiri,”
“Kau sempat lupa dengan gender aslimu?” tanya Sulli –ia ketakutan sekarang.
Sungjong mengangguk.
“Hidup selama lebih dari 11 tahun dengan di perlakukan seperti perempuan
benar-benar membuatku tidak tahu tentang genderku sendiri. Dan ketika aku menjadi anak SMA, tentu saja
dengan rok, dan atribut perempuan lainnya. Aku memberanikan diri untuk masuk ke
toilet laki-laki ,itu cukup membuatku takut. Selama ini aku selalu masuk ke toilet
perempuan,”
Sulli menahan nafasnya. Ia kini merasa takut, jijik, dan entah apa
itu. Kenapa ada orang seperti Sungjong di dunia ini?
“Aku menemukan fakta kalau aku
sama seperti mereka, seperti laki-laki pada umumnya. Dan semua memori mengenai genderku yang
sebenarnya, ketika aku masih balita, semuanya mengalir begitu saja di benakku. Itu menyakitkan ,aku ditipu oleh keluargaku
sendiri. Semuanya bercampur aduk, antara
merasa malu, jijik, dan marah..semuanya,”
Sungjong menghela nafansya dan
memejamkan matanya.
“Jadi –apa yang kau lakukan
ketika kau sudah tahu semuanya? Kau
langsung kesini?” tanya Sulli, dan sekarang ia
merasa kasihan dengan penumpang baru di hadapannya ini. Semuanya terlihat jelas dengan
bagaimana Sulli menatap Sungjong.
“Tidak, aku berusaha menjadi
laki-laki umumnya. Memakai kembali
atribut laki-laki –tentu saja aku mencurinya dari kakak laki-lakiku. Dan berperilaku seperti laki-laki. Tentu saja keluargaku marah akan hal itu, mereka
memaksaku kembali menjadi seorang gadis manis. Huh –mereka pikir mereka bisa mengaturku lagi?
Bahkan ibuku juga memaksaku,”
Sulli menggeleng, kemudian meraih tangan kiri Sungjong.
“Lalu?”
“Aku tetap memberontak, sampai aku di paksa untuk benar-benar menjadi
perempuan oleh nenekku. Itu sudah di luar batas kesabaranku, aku
kabur dengan menjadi laki-laki. Dengan
mencuri beberapa baju milik kakakku. Dan
akhirnya aku berada disini, bertemu denganmu dan orang ini,” jawab Sungjong
sambil tersenyum ke arah Sulli dan sedikit melirik Myungsoo yang tertidur di
sebelahnya.
“Kau hebat,” puji Sulli, kedua
matanya nyaris mengeluarkan air mata sekarang. Dan ia bersyukur karena kondisi kereta yang
gelap sehingga membuatnya tidak ketahuan sedang menahan tangis.
Sungjong mengangguk sambil
tersenyum.
Keduanya saling tersenyum dengan
tangan Sulli yang masih menggenggam tangan Sungjong,”Dan semoga kau tidak
memperlakukanku seperti perempuan ya?” canda Sungjong, dan membuat Sulli nyaris
benar-benar mengeluarkan air matanya.
“Tentu tidak bodoh,” katanya
sambil tertawa, ia diam-diam mengelap kedua matanya dengan lengan sweaternya.
Keduanya kini tertawa bersama.
Yah –cukup untuk membuat suasana hangat hanya dengan tawa itu.
“A –aaa,” Sulli terhempas ke
belakang dan Sungjong serta Myungsoo yang duduk di depannya juga terlempar ke
depan.
“Hey –hey,ada apa?” tanya Myungsoo. Ia terbangun rupanya,
kemudian menatap Sulli dan Sulli hanya menggeleng. Ia juga tidak tahu.
Mendadak hening, dan mereka tahu kereta ini tengah berhenti –tetapi
kenapa mendadak seperti ini? Sebelumnya kereta ini tidak berhenti
sekasar itu.
“Akan ada penumpang baru lagi,
kah?” tanya Sulli.
Dua orang di depannya hanya
menggeleng tidak tahu.
Namun beberapa detik setelah
keheningan berlangsung, suasana dingin mendadak merayap di dalam kereta.
Suhu kini mendadak turun, Sulli
bisa melihat bahwa kaca-kaca jendela kini berembun karena dinginnya suhu kereta
sekarang.
“Apa yang terjadi?” tanya Sungjong. Uap jelas terlihat dari mulutnya ketika ia
berbicara, ia pun mengeratkan mantelnya.
“Ada apa ini?” Myungsoo menoleh ke arah Sulli, ia pun meminta Sungjong untuk minggir dan
membiarkannya lewat. Ia ingin memeriksa kereta ini, apa yang terjadi di luar sana.
Sulli memeluk tubuhnya sendiri, sweaternya
sama sekali tidak menolongnya. Suhu
begitu dingin sekarang.
Myungsoo berjalan menuju pintu gerbong
selanjutnya, dan membukanya. Ia berdiri terpaku di sana ,sebelum
menoleh ke arah Sulli dan Sungjong yang masih memperhatikannya dari kursi
mereka.
“Aku akan memeriksa ke depan, tunggu ya,” kata Myungsoo. Sungjong mengangguk sementara Sulli hanya
terdiam, ia takut.
Perasaannya mengatakan hal tidak mengenakan terjadi di depan sana.
“Hati-hati,” katanya. Myungsoo
mengangguk dan segera melewati pintu di sana, dan menutupnya.
“Aku merasakan hal tidak enak sekarang,” kata Sungjong ketika hanya tinggal
mereka berdua disini.
Sulli mengangguk,”Aku juga. Oh –apa kau merasakan hal misterius
ketika berada di kereta ini?” tanya Sulli, mendadak pertanyaan itu muncul
begitu saja.
Sungjong mengangguk yakin,”Tentu saja. Hanya melihat lampunya saja membuatku
merinding, tapi mau bagaimana lagi? Keluargaku mengejarku,” jawab Sungjong.
Sulli mengangguk sebentar, kemudian
menoleh ke arah jendela yang masih berembun.
Tidak masuk akal, suhu mendadak turun begini. Ada apa? –pikirnya. Apa
sekarang mereka ada di kutub? Lucu sekali. Sulli kemudian mendekatkan dirinya ke
jendela dan menyentuhnya.
Dingin sekali, bahkan kaca juga nyaris membeku.
Ia meraba kaca jendela dan mendadak mimik wajahnya menunjukan
kengerian,”A-ada apa?” tanya Sungjong takut ketika melihat mimik wajah Sulli.
“Membeku –kereta ini membeku!” seru Sulli.
Ia pun terkejut ketika merasakan telapak tangannya mulai menempel di kaca
dan mendadak kaca jendela menjadi membeku, hingga hanya telrihat warna
putih pucat.
“A-apa?” Sungjong tersentak kaget
dan mendekati jendela.
Ia memegang tangan Sulli yang
masih menempel di jendela,”Bantu aku melepaskan! Tanganku ikut membeku,” pinta Sulli, ia
berusaha menarik tangannya namun gagal.
Sungjong pun berdiri di belakang Sulli dan menarik tangan gadis itu,”Aaaa
–benar-benar menempel!” seru Sungjong.
Kini kengerian di wajah Sulli semakin terlihat ketika sebuah suara
terdengar disana.
“Maaf membuat kalian merasa terganggu, kini saya adalah masinis di kereta ini. Nama saya Nam Woohyun dan
saya bersama kondektur yang juga menjadi awak di kereta ini. Jangan
takut, kondisi suhu sekarang sebentar lagi akan berangsur-angsur menajdi
normal. Dan saya meminta maaf lagi jika
selama perjalanan kalian tidak akan merasa nyaman. Karena ada sedikit gangguan masuk ke kereta
ini. Sekali lagi maaf karena membuat
kalian merasa terganggu,” kemudian suara itu hilang bersamaan dengan suhu yang
berangur-angsur menjadi hangat kembali. Namun
tetap belum mampu membuat tangan Sulli terlepas.
Keduanya menganga dan menunggu
akan adanya pengunguman lagi.
“Kau dengar itu?” tanya Sulli. Sungjong mengangguk.
“Sudah kuduga kalau kereta ini
misterius!” kata Sungjong, ia kembali melihat ke arah tangan Sulli.
“Apa masih belum terlepas? Suhu sudah mulai membaik sekarang,” tanya
Sungjong.
Sulli pun teringat dan mencoba
untuk melepaskan tangannya. Ia menarik
tangannya kuat-kuat dan tubuhnya langsung terpental.
“Akhirnya..” desah Sulli lega. Ia mengibas-ibaskan tangannya dan memegang
pergelangan tangannya yang cukup merah karena di tarik oleh Sungjong tadi.
“Hey –apa kau merasa aneh dengan orang tadi?” Sungjong beralih dari melihat
speaker yang ada di pojok gerbong dan melihat Sulli.
Sulli menatap Sungjong heran,”Dia bilang ‘kini saya adalah masinis di
kereta ini,’ itu berarti sebelumnya bukan dia kan yang menjadi masinis?”
Sulli mengangguk mengerti,”Kau benar, apa yang terjadi dengan masinis yang lama?
Apa terjadi
sesuatu?”
“Apa goncangan dan turunnya suhu
itu ada hubungannya dengan ini?” Sungjong menatap Sulli horor.
Sulli pun hanya menggeleng,”Kita
tunggu saja Myungsoo, siapa tahu dia mendapatkan sedikit petunjuk,” kata Sulli,
ia menggosok-gosokan kedua tangannya.
Sungjong mengangguk setuju dan mereka berdua pun kembali terdiam, menunggu Myungsoo.
“Hey-“ panggil Sungjong.
Sulli menoleh padanya,”Apa?”
“Apa menurutmu masinis yang tadi –siapa namanya? Woohyun? Nam Woohyun? Iya
–itu dia,apa menurutmu dia orang baik?” tanya Sungjong, ia merapikan mantelnya, dan menatap Sulli
lagi.
“Tidak tahu, tapi semoga saja iya,” jawab Sulli, ia tidak begitu memikirkan masinis
tersebut. Ia
hanya mengkhawatirkan Myungsoo yang tidak kunjung datang.
“Tch –lama sekali,” sungut Sulli.
Ia menggeser tubuhnya dan berusaha melihat pintu gerbong.
“Myungsoo? Kau mau mencarinya?”
“He? Tidak,” jawab Sulli.
“Tunggu disini, akan ku seret dia,” kata Sungjong sambil tersenyum, ia berdiri dan kemudian berjalan menuju
pintu.
“Tu –tunggu, aku ikut. Aku tidak mau sendirian,” kata Sulli, ia menarik ujung
mantel Sungjong dan ikut berdiri.
Sungjong tersenyum dan kemudian menarik tangan Sulli agar
mendekat. Tangan Sungjong sudah meraih
gagang pintu sebelum pintu mendadak terbuka,”Mau kemana?” tanya orang tersebut.
Dan membuat punggung Sungjong menabrak wajah Sulli.
“Kau mengangetkan kami!” Sungjong berteriak di depan orang tersebut.
“Hey hey –kalian mau kemana?” orang tersebut mengacuhkan Sungjong dan
bertanya pada Sulli yang berdiri di belakang punggung Sungjong.
“Kami mau menyusulmu, lama sekali!” Sulli ikut berteriak dan langsung
menyeret Myungsoo untuk kembali ke kursi mereka.
“Ah –maaf,” jawab Myungsoo.
“Kalian mendengar suara tadi?” tanyanya
lagi.
“Suara masinis itu?” tanya Sungjong.
Dan
Myungsoo mengangguk.
“Apa
kau melihat orang lain disini? Awak
kereta mungkin?” tanya Sulli, Myungsoo memandang Sulli sebentar kemudian
beralih melihat pintu gerbong di depan dan belakang mereka.
Lalu kembali melihat ke arah Sulli (serta
Sungjong).
“Tidak ada orang, aku sudah mencari setidaknya melewati 6
gerbong. Tapi
tidak ada siapapun,” jawab Myungsoo.
Dua
orang yang begitu menanti kedatangan Myungsoo tersebut langsung tersender
lemas,”Sama sekali?”
Myungsoo mengangguk,kemudian berbicara
kembali.
“Aku berencana untuk berjalan lebih jauh, tetapi ketika
mendengar masinis itu memberitahu kita. Aku menjadi ragu, kupikir nanti pagi
akan lebih baik jika kita bersama-sama menyelidiki,” kata Myungsoo.
Sulli mendesah pelan,
ia menyenderkan tubuhnya ke
belakang. Apa
lagi sekarang? Untuk terakhir kali ia
menginginkan untuk kembali, untuk tidak masuk ke kereta ini. Dasar
manja, dasar bodoh. Ia mengumpat di dalam hatinya. Ia takut sekarang. Benar-benar takut. Padahal ia tidak tahu apakah masinis baru
bernama Woohyun itu orang baik atau bukan.
Sungjong
yang duduk di samping Sulli tidak sengaja meliriknya kemudian –dengan
mati-matian mengatur nafasnya sambil menggenggam tangan kanan Sulli.
“Tenang
saja. Ada aku dan Myungsoo,” sahutnya
sambil tersenyum pada Sulli dan menunjuk Myungsoo yang duduk di depan mereka
menggunakan dagunya.
Dan
Myungsoo yang merasa namanya di panggil pun melihatnya, dan ikut tersenyum.
“Iya, kami berdua –walaupun baru
mengenalmu, akan menganggapmu seperti adik kami dan melindungimu. Yah –kau juga teman kami,” Myungsoo tersenyum
lebar dan mengusap rambut Sulli. Haa –Sulli mendesah lega kali ini. Ia tersenyum pada dua pemuda di dekatnya ini.
“Terimakasih,tapi–,”
“Tapi?” tegur Myungsoo. Ia sedikit memajukan
wajahnya, berusaha melihat wajah Sulli.
“Ah, tidak
apa-apa.” Sahut Sulli, ia tersenyum lagi.
“Kita
tidur? Kurasa hari ini sudah cukup
melelahkan,”
Sungjong
mengangguk setuju dengan ucapan Sulli barusan dan kemudian menyenderkan
punggungnya ke belakang.
Sulli
menoleh sebentar ke arahnya dan tersenyum tipis, ia pun mengalihkan
pandangannya lagi, menatap Myungsoo yang juga tersenyum ke arahnya sekilas dan
memjamkan matanya.
Well, ia sendirian sekarang. Entah kenapa rasa kantuk tidak bisa
menyentuhnya sekarang. Berbagai spekulasi dan pikiran mengenai hari ini kini berputar di
pikirannya.
Kabur – kereta – masalah – Myungsoo –
Sungjong – beku – masinis – Nam Woohyun.
Semuanya berputar di pikiran Sulli, sejak ia berusaha melarikan diri
dari ayahnya. Bertemu dengan dua pemuda yang juga sama
sepertinya di dalam kereta misterius ini. Mendengar suara orang lain –awak kereta yang belum tahu baik atau jahat. Dan misteri kereta ini.
Ia memejamkan matanya dan memposisikan
dirinya mendekat ke jendela, menempelkan kepalanya di sana. Dan melihat keluar
–yang juga lebih gelap.
Yang benar saja, ia memang ingin kabur. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Ia menggumam tidak jelas dan melirik kedua
pemuda itu. “Tapi tidak mungkin juga aku
bertemu kalian kalau tidak melalui kereta ini,kan?” ia tersenyum dan kembali
menyenderkan kepalanya di jendela. Ia memejamkan kedua matanya perlahan,
tapi tidak berniat untuk tidur. Hanya
mengistirahatkan matanya saja.
Sejenak
ia merasa aman, hanya dirinya sendiri. Jatuh ke dalam dunianya sendiri, perlahan. Melewati kabut terang berwarna pearl terracotta,
jatuh semakin dalam. Begitu lembut. Begitu
pelan. Tapi..silau.
Makin lama makin silau. Ia menggeser kepalanya, dan cahayanya berasal
dari kabut di sekelilingnya. Silau. Sangat silau.
Sulli
membuka kedua matanya dengan cepat, ia rasa ia ketiduran tadi. Ia mengusap kedua matanya dan melihat ke
sekeliling. Myungsoo dan Sungjong masih
berada di tempat mereka dengan keadaan tidur. Dan ia mendesah lega, ia pun ingin kembali ke
alam mimpinya tapi mengurungkannya ketika ia melihat jendela di sampingnya.
Ada yang berbeda..
Di balik jendela, lebih terang. Walaupun tidak jelas cahaya darimana
dan tidak terlihat apapun dari cahaya itu, keadaan kereta menjadi lebih terang. Tapi yang pasti cahaya itu tidak berasal dari
dalam kereta, bagus. Sulli tidak
mempermasalahkan itu, toh karena itu keadaan kereta jadi lebih terang. Ia tersenyum lega, ia harap cahaya ini tidak
akan hilang sampai ia bangun nanti.
“Myungsoo dan Sungjong pasti akan senang, oh, ya ampun..” gumamnya
ketika matanya hampir menutup. Tidur
sebentar lagi tidak masalah, bukan?
“Kau
yakin ada orang lain?”
Sulli
langsung membuka kedua matanya, ia mendengar suara seseorang, bukan suara
Myungsoo ataupun Sungjong. Tapi
mendengar nada suaranya, ia pikir orang itu tidak hanya satu orang.
“Iya,
aku melihat mereka tadi..”
Sulli
nyaris menjerit riang sebelum sebuah suara menginterupsi lagi. “Well, kupikir menjadi masinis tidak buruk..”
Tu
–tunggu! Apa mungkin kereta ini
dibajak?! Bagaimana bisa?!
To be Continued
A/N : Ahh~~~ finally this chapter has
ended!! Yeah! Kapan aku memposting chapter pertamanya? Hahaha~
aku sempet stuck trus bingung mau digimanain ini cerita -_____-“ well, maaf typo dan chapter yang aneh -_-a
aku bingung, penginnya sih satu chapter setiap member keluar, tapi kalau gitu
bakal banyak chapter dong? ;;A;; duh, mau digimanain liat nanti aja deh T^T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar