Jumat, 04 Januari 2013

FANFICTION : TRAIN [2/?]


Ia –penumpang pertama kereta tersebut,berusaha lari dari kehidupannya yang sekarang. Dan memutuskan untuk menjadi penumpang kereta ini pada akhirnya setelah ia berpikir dengan cepat.
Keputusan gila yang pernah ia putuskan –kalau boleh ia ungkapkan,ia lari dari rumahnya,meninggalkan ayahnya yang sedang sakit. Dan setelah ia berada di dalam kereta ini,ia menyesal. Seharusnya ia tidak melakukan itu –dan semuanya sudah dimulai.
Tidak ada yang bisa mengulanginya,ia hanya bisa mengikuti kemauan kereta ini. Kemana pun kereta ini pergi,dan dimana pun ia sampai di tujuannya nanti.
Bersama seorang penumpang baru –Myungsoo,seorang model yang lari dari pekerjaannya karena ulah bosnya yang menginginkannya melakuakan operasi. Hanya karena uang,ia tidak segila itu untuk mendapatkan uang.
Dan berbeda dengan Sulli,ia tidak menyesali keputusannya kabur dari hidupnya yang sekarang.
Apapun yang akan ia temui nanti,ia tidak masalah.
Dan akhirnya datang seorang penumpang baru lainnya,seseorang yang kabur karena ide gilanya. Karena hidupnya,dan karena tekanan yang ia dapatkan.
Dan ia begitu senang ketika bertemu dengan Sulli dan Myungsoo,akhirnya ia tidak sendirian lagi. Kereta gila –yang membuatnya hampir pingsan karena ketakutan.

TRAIN

Cast : Sulli/Infinite
Genre : Fantasy, Friendship
Rated : PG
Disclaimer : I only have the plot, Wings only have the plot. Only the plot!
Summary : “..The train makes new world for them..”

I got the inspiration about this FF after I watched Paradise MV of INFINITE, the train and the members, really –gives me inspiration and little from Christmas Express movie..

 

Keterangan:
§  Sungkyu (INFINITE) 23 tahun
§  Dongwoo (INFINITE) 22 tahun
§  Woohyun (INFINITE) 21 tahun
§  Howon/Hoya (INFINITE) 21 tahun
§  Seungyeol (INFINITE) 21 tahun
§  Myungsoo (INFINITE) 20 tahun
§  Sungjong (INFINITE) 19 tahun
§  Sulli (f(x)) 18 tahun
.

Mereka mendongak melihat penumpang baru itu, sulit untuk mengenalinya. Cukup gelap disini, di tambah penumpang baru itu memakai jaket yang menutupi kepalanya.  Sulli yang pertama membuka mulutnya, ”Penumpang baru?” tanyanya sambil berusaha tersenyum.
Lega –begitu ia melihat penumpang lainnya selain dirinya dan Myungsoo, dan mulai berpikir kalau kereta ini tidak begitu buruk.
“Ya, akhirnya aku bertemu dengan penumpang lain,” jawabnya. Meskipun tidak kelihatan, namun Sulli tahu kalau orang itu sedang tersenyum.
“Kau dari gerbong mana?” tanya Myungsoo lagi.  Ia memandang Sulli sekilas.
“Aku?  Sepertinya 5 gerbong dari sini,” jawabnya orang tersebut sambil menghitung dengan jarinya.
“Berapa banyak gerbong kereta ini?” tanya Sulli sambil terlonjak.
Gila –bayangkan saja, ia sudah mengetahui kalau kereta ini memiliki 8 gerbong yang sama misteriusnya?
“Yah –begitu lah. Hey –meskipun begitu, semua gerbong sama seperti ini. Gelap dan tidak ada penumpang lainnya,”
Kau belum tahu saja gerbong paling ujung disana bagaimana –pikir Sulli, ia sedikit menggelinjang ketika memikirkan hal itu.  Ia tidak mau lagi masuk ke gerbong itu lagi, tidak.mau.
“Kau berlari? Duduklah,” kata Myungsoo sambil menepuk-nepuk sebelah kirinya. Orang itu mengangguk kemudian mendudukan dirinya di sebelah Myungsoo.
Orang tersebut membuka jaketnya dan tersenyum, ”Aku Sungjong,” sapanya sambil mengulurkan tangan kepada Sulli.
Sulli tersenyum, kemudian ia membalas uluran tangan orang tersebut –Sungjong,Sulli,”
Sungjong ikut tersenyum, dan mengulurkan tangannya lagi pada Myungsoo.
“Myungsoo,” jawabnya sambil mengangguk.
“Senang bertemu kalian. Jadi –kalian disini hanya berdua? Tidak ada penumpang lain?” tanya Sungjong pada Sulli.
“Kalau ada penumpang lain, kami lebih memilih untuk bersama mereka ketimbang hanya berdua seperti ini,” jawab Myungsoo sambil memandang keluar jendela.
Penumpang baru –Sungjong menoleh sebentar kearahnya sambil mendengus.
“Eh –ya, seperti yang dikatakan Myungsoo tadi.  Kami hanya berdua,” jawab Sulli gugup, ia tidak mengerti kenapa Myungsoo menjadi dingin seperti ini.
“Apa tidak ada orang lain di gerbong setelah ini?” tanya Sungjong sambil menunjuk pintu gerbong di belakang Sulli.
“Tidak ada, hanya kami –maksudku kita,” jawab Sulli.
Sungjong kemudian menghela nafasnya kecewa, ia pun menyenderkan punggungnya di sebelah Myungsoo,”Begitu kah?”
Sulli mengangguk pelan,”Emm –kau berasal dari mana?” tanya Sulli.
“Aku?  Dari gerbong ke –hey ini gerbong ke berapa?” jawab Sungjong pada Sulli, Sulli mengangkat ketiga jarinya.
“Oh  -kalau begitu gerbong ke 8 –sepertinya,”
“Gadis itu bertanya darimana asalmu, bukan gerbong-gerbong seperti yang kau katakan tadi,” kata Myungsoo.  Sungjong menoleh ke arahnya, dan memandangnya kesal.
Ia menggembungkan pipinya, kemudian memandang Sulli lagi,”Dari pinggiran kota, tenang saja, aku bukan penjahat,” jawab Sungjong sambil tersenyum.
Sulli mengangguk, lalu ia pun menoleh ke arah kanannya.  Memandang ke luar jendela. Ia pun mulai berpikir, apakah penumpang baru ini sama sepertinya dan Myungsoo –walaupun orang itu belum bercerita secara lengkap padanya, ia tahu kalau pemuda itu sedang melarikan diri dari kehidupannya semula.
Ia pun menoleh kembali pada Sungjong yang sedang mengamati jendela di seberang kirinya, menimbang-nimbang, apakah sopan bertanya seperti itu pada orang yang baru pertama kali dikenalnya?
Ia pun menoleh ke arah Myungsoo, meminta pertolongan. Tapi pemuda itu sudah tertidur rupanya, di tandai dengan terdengarnya suara dengkuran kecil darinya dan kepalanya yang menempel di jendela.
Sungjong yang juga menyadarinya menoleh ke arah Myungsoo,”Orang ini tertidur?” tanyanya.
Sulli mengangguk,”Dia belum tidur sejak masuk kemari,”
“Oh –eh, kau penumpang pertama?” tanya Sungjong lagi, sepertinya ia mulai tertarik dengan Sulli.
Sulli mengangguk ragu,”Sepertinya,” jawabnya pelan.
Keduanya kemudian terdiam, Sulli kembali menoleh ke arah jendela, dan Sungjong kembali mengamati jendela di seberangnya.
Sulli pun teringat kembali mengenai pikirannya tadi, apa tidak apa-apa bertanya seperti itu pada Sungjong?  Tetapi jujur saja, ia begitu penasaran.
“Sebelumnya aku minta maaf kalau aku tidak sopan–,“ Sulli menghentikan ucapannya, menunggu Sungjong tertarik dengan ucapannya.
Sungjong pun menoleh padanya dan mengangguk mempersilakan, Sulli pun mengangguk sopan,”Tapi bagaimana caranya kau bisa ada di kereta ini?  Maksudku –kereta ini cukup aneh, ia selalu mengangkut orang-orang yang sedang dalam masalah,” kata Sulli sedikit melirik ke arah Myungsoo, berharap pemuda itu bangun.  Gugup sekali  bertanya hal pribadi jika sendirian seperti ini, meskipun Myungsoo bersikap dingin dan angkuh tetapi cukup membuat Sulli merasa aman dengan sikapnya itu.
“Maksudmu kau dan orang ini juga dalam suatu masalah?” tanya Sungjong balik, tidak seperti yang Sulli bayangkan, Sungjong justru merasa tertarik dengan pertanyaannya dan terlihat antusias.  Kedua matanya berbinar-binar.
Sulli mengangguk pelan,”Yah –kalau kau tidak keberatan, mungkin kau mau menceritakannya padaku?”
Sungjong menatapnya seakan sedang menilai dirinya melewati kedua mata Sulli sejenak ssebelum berbicara,”Baiklah –tapi jangan terkejut jika kau mengetahui hal ini,”
Sulli mengangguk bahkan ia sempat lupa untuk bernapas karena gugup.  Sungjong pun menghela nafasnya kemudian menatap Sulli.
Lee Sungjong, anak laki-laki yang tidak di harapkan di keluarganya.  Terdiri dari 3 kakak laki-laki, dan merupakan anak laki-laki terakhir di garis keturunannya.  Dan sejarahnya, ketika Sungjong di lahirkan, kedua orang tuanya dan seluruh keluarga besarnya mengharapkan bahwa anak terakhir mereka adalah perempuan.  Karena dalam 50 tahun terakhir garis keturunan keluarganya sama sekali tidak memiliki anak perempuan.
Dan meskipun anak perempuan dalam keluarganya masih di anggap lemah, tapi justru perempuan lah yang banyak berperan dalam keluarganya.
Dan lahirnya Lee Sungjong, dengan kulit seputih porselen dan wajah mungilnya membuat mereka menganggap Sungjong adalah bayi perempuan.
Tetapi sayang, keluarganya menemukan hal buruk mengenai dirinya.  Meskipun dengan paras yang cantik sekalipun, Sungjong merupakan anak laki-laki.
Sungjong kecil tumbuh di lingkungan keluarga yang kebanyakan laki-laki, membuatnya sedikit merasakan kerasnya hidup.  Bersama dengan kakak laki-laki dan sepupunya yang juga laki-laki.
Suatu hari Sungjong kecil di ajak ke suatu tempat oleh ibunya,”Kita akan kemana bu?” tanya Sungjong kecil.  Ibunya menoleh ke arahnya, dan tersenyum,”Ke suatu tempat Jongi-ah, kau pasti akan suka,”
Sungjong mengangguk karenanya.  Mereka terus berjalan menjauhi desa mereka, menuju ke kota.
“Apakah kita akan ke kota?” tanya Sungjong lagi.
Ibunya mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.  Dan Sungjong memperhatikan wajah ibunya dari bawah.  Ibunya begitu pucat.  Bahkan ketika cuaca lebih dingin dari ini ibunya tidak pernah sepucat itu.
“Ibu sedang sakit?  Apa kita akan kerumah sakit?” tanya Sungjong.  Kali ini ia hanya penasaran kenapa ibunya begitu pucat –dan begitu dingin.
Ibunya menoleh dan tersenyum sekali lagi padanya,”Tidak, ibu hanya ingin mengajakmu kerumah teman ibu, dan sedikit tidak sabar” jawab ibunya –berusaha setenang mungkin.
Sungjong mengangguk,”Bolehkah jika aku meminta di belikan mainan baru?”
Ibunya terlihat berpikir,”Mainan seperti apa?”
Sungjong juga terlihat berpikir,”Mainan seperti anak laki-laki lainnya,” jawabnya dengan senyum polosnya.
Ibunya terlihat menghela nafas panjang,”Maafkan ibu, tapi sepertinya mainan seperti itu tidak cocok untukmu.  Akan ku belikan mainan yang lebih baik daripada itu,”
Sungjong mengerjapkan matanya, dan tersenyum senang,”Benarkah?  Ada yang lebih baik dari itu?” tanyanya semangat.  Ibunya mengangguk dan tersenyum lagi.
“Baiklah, aku pasti akan menyukainya nanti,”
Sungjong sejenak menghentikan ceritanya dan menatap Sulli dengan sendu,”Kau sudah bisa menangkap isi ceritaku?”
Sulli mengangguk ragu.
“Kau sudah tahu kelanjutannya akan seperti apa?”
Sulli untuk pertama kalinya menggeleng.
“Ingin mendengarkannya sampai selesai?”
Sulli mengangguk kemudian tersadar dan menggeleng,”Aku sudah tahu, kalau kau tidak ingin menceritakannya lagi tidak apa-apa,”
Sungjong tersenyum,”Kau harus mendengarnya sampai selesai, aku sudah bosan menyimpan hal ini sendirian,”
Sulli menatapnya tidak percaya,”Kau –mempercayaiku?”
“Untuk saat ini hanya kau,”
Sulli mengangguk,”Baiklah, terserahmu,”
Sungjong mengangguk dan menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan ceritanya.
“Mulai saat ini kau adalah perempuan Sungjong, pakai saja namamu yang sekarang.  Orang-orang di luar sana tidak ada yang mengenalmu,” ayahnya menatapnya tajam dengan kedua matanya.
Ia memandang ayahnya dari sisi meja satunya dengan bingung, perempuan?
Ia menoleh ke arah ibunya, ibunya hanya memandang sedih ke arahnya dan tersenyum.  Kemudian ia menoleh ke arah kakak-kakaknya, dan semuanya hanya memandangnya dengan tegang.  Begitu pula anggota keluarganya yang lain.
Baiklah, ini tidak masalah –menurutnya.  Kalau ia menjadi perempuan, ia akan mendapatkan mainan yang lebih baik dari mainannya yang dulu.
“Aku akan dapat mainan bagus?” tanya Sungjong.
Seluruh anggota keluarganya memadangnya terkejut, baiklah –Sungjong masih berumur 6 tahun saat itu.
“I-iya, kau akan dapat mainan yang sama seperti yang ibu belikan kemarin.  Bahkan gaun yang ibu tunjukan juga akan segera menjadi milikmu,” jawab ibunya cepat.  Kini ibunya lah yang paling tersiksa, anak bungsunya akan di sabotase pikirannya seumur hidup.
Semuanya seketika tersadar dan ikut tersenyum ke arahnya.
Sungjong memandang mereka semua bergantian sambil tersenyum,”Baiklah!” jawabnya riang.
Ibu Sungjong hampir menangis melihat putranya seperti itu, dan ia segera menghapus air matanya yang hampir merengsek keluar.
“Mulai besok, akan ibu ajarkan bagaimana menjadi perempuan yang pantas,” katanya dengan suara serak.  Sungjong hanya mengangguk tidak peduli dan hanya menyuap menu makan malamnya dengan buru-buru.
Ibunya memandang ayah Sungjong dengan sedih, dan dibalas dengan tatapan sedih juga.  Hari ini mereka telah berdosa, karena tuntutan keluarga, anak bungsu mereka lah yang menjadi sasarannya.
“Sungjong-ah, kau cantik sekali,” puji ibunya ketika selesai mengenakan sebuah terusan selutut berwarna putih pada tubuh Sungjong.
Sungjong memutar tubuhnya di depan cermin sambil tersenyum,”Tapi sepertinya ada yang kurang,”
Ibunya menoleh dari bayangan Sungjong di cermin dan menoleh ke arahnya,”Apa?”
“Rambutku tidak panjang,bu,”
Ibunya nyaris pingsan saat itu juga, anaknya begitu semangat dengan perannya sebagai perempuan, tidak seperti dugaannya dulu.
“Na-nanti akan tumbuh juga, tunggu saja,” kata ibunya, sambil berusaha tersenyum.
“Ja-jadi kau benar-benar menjadi perempuan?” Sulli menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia begitu terkejut ketika menndegar Sungjong menerima saja di jadikan anak perempuan.
“Ini belum selesai, aku tidak sebodoh itu juga.  Saat aku berusia 15 tahun, aku mulai menyadari kalau aku tidak tumbuh seperti remaja perempuan lainnya.  Walaupun suaraku terdengar seperti perempuan, tapi masih banyak yang membuatku ragu tentang diriku sendiri,”
“Kau sempat lupa dengan gender aslimu?” tanya Sulliia ketakutan sekarang.
Sungjong mengangguk.
“Hidup selama lebih dari 11 tahun dengan di perlakukan seperti perempuan benar-benar membuatku tidak tahu tentang genderku sendiri.  Dan ketika aku menjadi anak SMA, tentu saja dengan rok, dan atribut perempuan lainnya.  Aku memberanikan diri untuk masuk ke toilet laki-laki ,itu cukup membuatku takut.  Selama ini aku selalu masuk ke toilet perempuan,”
Sulli menahan nafasnya.  Ia kini merasa takut, jijik, dan entah apa itu. Kenapa ada orang seperti Sungjong di dunia ini?
“Aku menemukan fakta kalau aku sama seperti mereka, seperti laki-laki pada umumnya.  Dan semua memori mengenai genderku yang sebenarnya, ketika aku masih balita, semuanya mengalir begitu saja di benakku.  Itu menyakitkan ,aku ditipu oleh keluargaku sendiri.  Semuanya bercampur aduk, antara merasa malu, jijik, dan marah..semuanya,”
Sungjong menghela nafansya dan memejamkan matanya.
“Jadi –apa yang kau lakukan ketika kau sudah tahu semuanya?  Kau langsung kesini?” tanya Sulli, dan sekarang ia merasa kasihan dengan penumpang baru di hadapannya ini.  Semuanya terlihat jelas dengan bagaimana Sulli menatap Sungjong.
“Tidak, aku berusaha menjadi laki-laki umumnya.  Memakai kembali atribut laki-laki –tentu saja aku mencurinya dari kakak laki-lakiku.  Dan berperilaku seperti laki-laki.  Tentu saja keluargaku marah akan hal itu, mereka memaksaku kembali menjadi seorang gadis manis.  Huh –mereka pikir mereka bisa mengaturku lagi?  Bahkan ibuku juga memaksaku,”
Sulli menggeleng, kemudian meraih tangan kiri Sungjong.
“Lalu?”
“Aku tetap memberontak, sampai aku di paksa untuk benar-benar menjadi perempuan oleh nenekku.  Itu sudah di luar batas kesabaranku, aku kabur dengan menjadi laki-laki.  Dengan mencuri beberapa baju milik kakakku.  Dan akhirnya aku berada disini, bertemu denganmu dan orang ini,” jawab Sungjong sambil tersenyum ke arah Sulli dan sedikit melirik Myungsoo yang tertidur di sebelahnya.
“Kau hebat,” puji Sulli, kedua matanya nyaris mengeluarkan air mata sekarang.  Dan ia bersyukur karena kondisi kereta yang gelap sehingga membuatnya tidak ketahuan sedang menahan tangis.
Sungjong mengangguk sambil tersenyum.
Keduanya saling tersenyum dengan tangan Sulli yang masih menggenggam tangan Sungjong,”Dan semoga kau tidak memperlakukanku seperti perempuan ya?” canda Sungjong, dan membuat Sulli nyaris benar-benar mengeluarkan air matanya.
“Tentu tidak bodoh,” katanya sambil tertawa, ia diam-diam mengelap kedua matanya dengan lengan sweaternya.
Keduanya kini tertawa bersama. Yah –cukup untuk membuat suasana hangat hanya dengan tawa itu.
“A –aaa,” Sulli terhempas ke belakang dan Sungjong serta Myungsoo yang duduk di depannya juga terlempar ke depan.
“Hey –hey,ada apa?” tanya Myungsoo.  Ia terbangun rupanya, kemudian menatap Sulli dan Sulli hanya menggeleng.  Ia juga tidak tahu.
Mendadak hening, dan mereka tahu kereta ini tengah berhenti –tetapi kenapa mendadak seperti ini?  Sebelumnya kereta ini tidak berhenti sekasar itu.
“Akan ada penumpang baru lagi, kah?” tanya Sulli.
Dua orang di depannya hanya menggeleng tidak tahu.
Namun beberapa detik setelah keheningan berlangsung, suasana dingin mendadak merayap di dalam kereta.
Suhu kini mendadak turun, Sulli bisa melihat bahwa kaca-kaca jendela kini berembun karena dinginnya suhu kereta sekarang.
“Apa yang terjadi?” tanya Sungjong.  Uap jelas terlihat dari mulutnya ketika ia berbicara, ia pun mengeratkan mantelnya.
“Ada apa ini?” Myungsoo menoleh ke arah Sulli, ia pun meminta Sungjong untuk minggir dan membiarkannya lewat.  Ia ingin memeriksa kereta ini, apa yang terjadi di luar sana.
Sulli memeluk tubuhnya sendiri, sweaternya sama sekali tidak menolongnya.  Suhu begitu dingin sekarang.
Myungsoo berjalan menuju pintu gerbong selanjutnya, dan membukanya.  Ia berdiri terpaku di sana ,sebelum menoleh ke arah Sulli dan Sungjong yang masih memperhatikannya dari kursi mereka.
“Aku akan memeriksa ke depan, tunggu ya,” kata Myungsoo.  Sungjong mengangguk sementara Sulli hanya terdiam, ia takut.
Perasaannya mengatakan hal tidak mengenakan terjadi di depan sana.
“Hati-hati,” katanya.  Myungsoo mengangguk dan segera melewati pintu di sana, dan menutupnya.
“Aku merasakan hal tidak enak sekarang,” kata Sungjong ketika hanya tinggal mereka berdua disini.
Sulli mengangguk,”Aku juga.  Oh –apa kau merasakan hal misterius ketika berada di kereta ini?” tanya Sulli, mendadak pertanyaan itu muncul begitu saja.
Sungjong mengangguk yakin,”Tentu saja.  Hanya melihat lampunya saja membuatku merinding, tapi mau bagaimana lagi? Keluargaku mengejarku,” jawab Sungjong.
Sulli mengangguk sebentar, kemudian menoleh ke arah jendela yang masih berembun.
Tidak masuk akal, suhu mendadak turun begini.  Ada apa? –pikirnya.  Apa sekarang mereka ada di kutub?  Lucu sekali.  Sulli kemudian mendekatkan dirinya ke jendela dan menyentuhnya.
Dingin sekali, bahkan kaca juga nyaris membeku.
Ia meraba kaca jendela dan mendadak mimik wajahnya menunjukan kengerian,”A-ada apa?” tanya Sungjong takut ketika melihat mimik wajah Sulli.
“Membeku –kereta ini membeku!” seru Sulli.
Ia pun terkejut ketika merasakan telapak tangannya mulai menempel di kaca dan mendadak kaca jendela menjadi membeku, hingga hanya telrihat warna putih pucat.
“A-apa?” Sungjong tersentak kaget dan mendekati jendela.
Ia memegang tangan Sulli yang masih menempel di jendela,”Bantu aku melepaskan!  Tanganku ikut membeku,” pinta Sulli, ia berusaha menarik tangannya namun gagal.
Sungjong pun berdiri di belakang Sulli dan menarik tangan gadis itu,”Aaaa –benar-benar menempel!” seru Sungjong.
Kini kengerian di wajah Sulli semakin terlihat ketika sebuah suara terdengar disana.
“Maaf membuat kalian merasa terganggu, kini saya adalah masinis di kereta ini.  Nama saya Nam Woohyun dan saya bersama kondektur yang juga menjadi awak di kereta ini.  Jangan takut, kondisi suhu sekarang sebentar lagi akan berangsur-angsur menajdi normal.  Dan saya meminta maaf lagi jika selama perjalanan kalian tidak akan merasa nyaman.  Karena ada sedikit gangguan masuk ke kereta ini.  Sekali lagi maaf karena membuat kalian merasa terganggu,” kemudian suara itu hilang bersamaan dengan suhu yang berangur-angsur menjadi hangat kembali.  Namun tetap belum mampu membuat tangan Sulli terlepas.
Keduanya menganga dan menunggu akan adanya pengunguman lagi.
“Kau dengar itu?” tanya Sulli.  Sungjong mengangguk.
“Sudah kuduga kalau kereta ini misterius!” kata Sungjong, ia kembali melihat ke arah tangan Sulli.
“Apa masih belum terlepas?  Suhu sudah mulai membaik sekarang,” tanya Sungjong.
Sulli pun teringat dan mencoba untuk melepaskan tangannya.  Ia menarik tangannya kuat-kuat dan tubuhnya langsung terpental.
“Akhirnya..” desah Sulli lega.  Ia mengibas-ibaskan tangannya dan memegang pergelangan tangannya yang cukup merah karena di tarik oleh Sungjong tadi.
“Hey –apa kau merasa aneh dengan orang tadi?” Sungjong beralih dari melihat speaker yang ada di pojok gerbong dan melihat Sulli.
Sulli menatap Sungjong heran,”Dia bilang ‘kini saya adalah masinis di kereta ini,’ itu berarti sebelumnya bukan dia kan yang menjadi masinis?”
Sulli mengangguk mengerti,”Kau benar, apa yang terjadi dengan masinis yang lama?  Apa terjadi sesuatu?”
“Apa goncangan dan turunnya suhu itu ada hubungannya dengan ini?” Sungjong menatap Sulli horor.
Sulli pun hanya menggeleng,”Kita tunggu saja Myungsoo, siapa tahu dia mendapatkan sedikit petunjuk,” kata Sulli, ia menggosok-gosokan kedua tangannya.
Sungjong mengangguk setuju dan mereka berdua pun kembali terdiam, menunggu Myungsoo.
“Hey-“ panggil Sungjong.
Sulli menoleh padanya,”Apa?”
“Apa menurutmu masinis yang tadi –siapa namanya? Woohyun? Nam Woohyun? Iya –itu dia,apa menurutmu dia orang baik?” tanya Sungjong, ia merapikan mantelnya, dan menatap Sulli lagi.
“Tidak tahu, tapi semoga saja iya,” jawab Sulli, ia tidak begitu memikirkan masinis tersebut.  Ia hanya mengkhawatirkan Myungsoo yang tidak kunjung datang.
“Tch –lama sekali,” sungut Sulli.  Ia menggeser tubuhnya dan berusaha melihat pintu gerbong.
“Myungsoo?  Kau mau mencarinya?”
“He?  Tidak,” jawab Sulli.
“Tunggu disini, akan ku seret dia,” kata Sungjong sambil tersenyum, ia berdiri dan kemudian berjalan menuju pintu.
“Tu –tunggu, aku ikut.  Aku tidak mau sendirian,” kata Sulli, ia menarik ujung mantel Sungjong dan ikut berdiri.
Sungjong tersenyum dan kemudian menarik tangan Sulli agar mendekat.  Tangan Sungjong sudah meraih gagang pintu sebelum pintu mendadak terbuka,”Mau kemana?” tanya orang tersebut.  Dan membuat punggung Sungjong menabrak wajah Sulli.
“Kau mengangetkan kami!” Sungjong berteriak di depan orang tersebut.
“Hey hey –kalian mau kemana?” orang tersebut mengacuhkan Sungjong dan bertanya pada Sulli yang berdiri di belakang punggung Sungjong.
“Kami mau menyusulmu, lama sekali!” Sulli ikut berteriak dan langsung menyeret Myungsoo untuk kembali ke kursi mereka.
“Ah –maaf,” jawab Myungsoo.
“Kalian mendengar suara tadi?” tanyanya lagi.
“Suara masinis itu?” tanya Sungjong.  Dan Myungsoo mengangguk.
“Apa kau melihat orang lain disini?  Awak kereta mungkin?” tanya Sulli, Myungsoo memandang Sulli sebentar kemudian beralih melihat pintu gerbong di depan dan belakang mereka.
Lalu kembali melihat ke arah Sulli (serta Sungjong).
“Tidak ada orang, aku sudah mencari setidaknya melewati 6 gerbong.  Tapi tidak ada siapapun,” jawab Myungsoo.
Dua orang yang begitu menanti kedatangan Myungsoo tersebut langsung tersender lemas,”Sama sekali?”
Myungsoo mengangguk,kemudian berbicara kembali.
“Aku berencana untuk berjalan lebih jauh, tetapi ketika mendengar masinis itu memberitahu kita.  Aku menjadi ragu, kupikir nanti pagi akan lebih baik jika kita bersama-sama menyelidiki,” kata Myungsoo.
Sulli mendesah pelan, ia menyenderkan tubuhnya ke belakang.  Apa lagi sekarang?  Untuk terakhir kali ia menginginkan untuk kembali, untuk tidak masuk ke kereta ini.  Dasar manja, dasar bodoh.  Ia mengumpat di dalam hatinya.  Ia takut sekarang.  Benar-benar takut.  Padahal ia tidak tahu apakah masinis baru bernama Woohyun itu orang baik atau bukan.
Sungjong yang duduk di samping Sulli tidak sengaja meliriknya kemudian –dengan mati-matian mengatur nafasnya sambil menggenggam tangan kanan Sulli.
“Tenang saja.  Ada aku dan Myungsoo,” sahutnya sambil tersenyum pada Sulli dan menunjuk Myungsoo yang duduk di depan mereka menggunakan dagunya.
Dan Myungsoo yang merasa namanya di panggil pun melihatnya, dan ikut tersenyum.
“Iya, kami berdua –walaupun baru mengenalmu, akan menganggapmu seperti adik kami dan melindungimu.  Yah –kau juga teman kami,” Myungsoo tersenyum lebar dan mengusap rambut Sulli. Haa –Sulli mendesah lega kali ini.  Ia tersenyum pada dua pemuda di dekatnya ini.
“Terimakasih,tapi–,”
“Tapi?” tegur Myungsoo.  Ia sedikit memajukan wajahnya, berusaha melihat wajah Sulli.
“Ah, tidak apa-apa.” Sahut Sulli, ia tersenyum lagi.
“Kita tidur?  Kurasa hari ini sudah cukup melelahkan,”
Sungjong mengangguk setuju dengan ucapan Sulli barusan dan kemudian menyenderkan punggungnya ke belakang.
Sulli menoleh sebentar ke arahnya dan tersenyum tipis, ia pun mengalihkan pandangannya lagi, menatap Myungsoo yang juga tersenyum ke arahnya sekilas dan memjamkan matanya.
Well, ia sendirian sekarang.  Entah kenapa rasa kantuk tidak bisa menyentuhnya sekarang.  Berbagai spekulasi dan pikiran mengenai hari ini kini berputar di pikirannya.
Kabur – kereta – masalah – Myungsoo – Sungjong – beku – masinis – Nam Woohyun.  Semuanya berputar di pikiran Sulli, sejak ia berusaha melarikan diri dari ayahnya.  Bertemu dengan dua pemuda yang juga sama sepertinya di dalam kereta misterius ini.  Mendengar suara orang lain –awak kereta yang belum tahu baik atau jahat.  Dan misteri kereta ini.
Ia memejamkan matanya dan memposisikan dirinya mendekat ke jendela, menempelkan kepalanya di sana. Dan melihat keluar –yang juga lebih gelap.
Yang benar saja, ia memang ingin kabur.  Tapi bukan dengan cara seperti ini.  Ia menggumam tidak jelas dan melirik kedua pemuda itu. “Tapi tidak  mungkin juga aku bertemu kalian kalau tidak melalui kereta ini,kan?” ia tersenyum dan kembali menyenderkan kepalanya di jendela.  Ia memejamkan kedua matanya perlahan, tapi tidak berniat untuk tidur.  Hanya mengistirahatkan matanya saja.
Sejenak ia merasa aman, hanya dirinya sendiri.  Jatuh ke dalam dunianya sendiri, perlahan.  Melewati kabut terang berwarna pearl terracotta,  jatuh semakin dalam.  Begitu lembut.  Begitu pelan.  Tapi..silau.  Makin lama makin silau.  Ia menggeser kepalanya, dan cahayanya berasal dari kabut di sekelilingnya.  Silau.  Sangat silau.
Sulli membuka kedua matanya dengan cepat, ia rasa ia ketiduran tadi.  Ia mengusap kedua matanya dan melihat ke sekeliling.  Myungsoo dan Sungjong masih berada di tempat mereka dengan keadaan tidur.  Dan ia mendesah lega, ia pun ingin kembali ke alam mimpinya tapi mengurungkannya ketika ia melihat jendela di sampingnya.
Ada yang berbeda..
Di balik jendela, lebih terang.   Walaupun tidak jelas cahaya darimana dan tidak terlihat apapun dari cahaya itu,  keadaan kereta menjadi lebih terang.  Tapi yang pasti cahaya itu tidak berasal dari dalam kereta, bagus.  Sulli tidak mempermasalahkan itu, toh karena itu keadaan kereta jadi lebih terang.  Ia tersenyum lega, ia harap cahaya ini tidak akan hilang sampai ia bangun nanti.  “Myungsoo dan Sungjong pasti akan senang, oh, ya ampun..” gumamnya ketika matanya hampir menutup.  Tidur sebentar lagi tidak masalah, bukan?
“Kau yakin ada orang lain?”
Sulli langsung membuka kedua matanya, ia mendengar suara seseorang, bukan suara Myungsoo ataupun Sungjong.  Tapi mendengar nada suaranya, ia pikir orang itu tidak hanya satu orang.
“Iya, aku melihat mereka tadi..”
Sulli nyaris menjerit riang sebelum sebuah suara menginterupsi lagi.  “Well, kupikir menjadi masinis tidak buruk..”
Tu –tunggu!  Apa mungkin kereta ini dibajak?!  Bagaimana bisa?!

To be Continued
A/N : Ahh~~~ finally this chapter has ended!!  Yeah!  Kapan aku memposting chapter pertamanya?  Hahaha~  aku sempet stuck trus bingung mau digimanain ini cerita -_____-“  well, maaf typo dan chapter yang aneh -_-a aku bingung, penginnya sih satu chapter setiap member keluar, tapi kalau gitu bakal banyak chapter dong? ;;A;; duh, mau digimanain liat nanti aja deh T^T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar